Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Belanja di Elevenia Gratis Voucher 1 juta

Posted by

Bunda...di era teknologi seperti sekarang, banyak sekali kemudahan yang bisa kita dapat, baik dalam hal komunikasi, sosialisasi hingga transaksi. Hanya dengan KLIK dan GESER layar gadget, semua bisa dilakukan dalam hitungan detik. Terutama dalam hal belanja online, banyak sekali pelaku usaha yang menggempur pemasaran via online. Dibalik itu semua, ternyata ada beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab melakukan penipuan. Jadi...kita harus waspada karena banyak “GARONG DIGITAL” yang mengintai "transaksi" kita dan siap menggasak uang yang ada di tabungan. Sebelum jauh, kita ngobrolin belanja online, 


Berikut tips aman belanja online, lakukan tahapannya yaa....





Belanja Online, Ngirits atau Ngorots?

Seperti yang dibilang kawan blogger saya, Mak Irits. Zaman serba mahal kayak gini kita harus pinter ngatur keuangan. Irit atau hemat harusnya jadi kebiasaan. Jangan sampai karena gampangnya belanja, kita "khilaf" kehilangan kendali, eh tau-tau uang di tabungan habis. hihi...#NYESEL nya pasti belakangan. Kalo belanja online pasti kena ongkos kirim kan? nah, jangan sampai ongkir ini jadi hambatan buat ngirits, caranya :

BELANJA BANYAK, kalo beli produk yang ringan, kan diitung barengan, jadi bisa hemat karena barang dihitung per kg, misalnya beli tas berat 750 gram ya tetep dihitung sekilo, jadi mending tambah barang aja.

LIST KEBUTUHAN, meski tadi beli banyak bukan berarti ngorots lho, tetep tahan diri. hunting harga dulu, siapa tahu ada toko online yang harganya lebih murah lagi.

PILIH JASA PENGIRIMAN, Sekali lagi pilih-pilih jasa pengiriman, coba cari toko online yang menyediakan banyak pilihan, bisa JNE, WAHANA, POS, PANDU, CAHAYA dan masih banyak lagi. Pilih yang murah  dan pastinya terpercaya.

Niat Belanja, eh Dapet Voucher Belanja 1 Juta, Mauuuuu??


Waaaah bisa bayangin  kalo dapet voucher 1 juta buat belanja? Owh, buat para ibu rumah tangga seperti saya pasti guling-guling hepi. Hihi....1 juta bisa dapetin  clodi, panci, baju anak, peralatan dapur atau kosmetik?? Tuh kan, pasti heboh kalo ngobrolin belanja. Bicara soal belanja, bunda pernah nggak sih kecewa dengan penjualnya? Kecewa dengan produknya atau kecewa berat karena harganya yang ternyata mahal? 

Nah, kali ini saya mau bagi informasi tentang kejutan dari salah satu toko online atau biasa disebut marketpalce yang keceeee banget, cocok buat bunda yang suka belanja online? Kenapa online? Ya, supaya bunda tetep bisa di rumah sambil jagain anak-anak nggak bakal kena macet dan nggak bikin capek. Barang bisa sampe rumah dianterin pak pos. Tuuuuh....makin penasaran, kan tentang marketplace ini? Mumpung ada promo belanja di elevenia gratis voucher 1 juta.

3 Alasan kenapa marketplace ini disebut ELEVENIA SURGA BELANJA 

 Pertama ; Hemat Bangeeet 


Berbelanjaonline sudah menjadi gaya hidup masa kini. Banyak kemudahan yang bisa kita dapat. Kita tidak perlu antri panjang, berdesak desakan, macet atau kehujanan. Sebelum belanja online di Indonesia, upayakan bunda cari informasi seputar toko online yang diincar. Bisa melalui review temen-temen di blog, sosial media atau nanya temen yang sudah pernah berbelanja. Jangan tergiur iming-iming kata -belanja online gratis, belanja online resmi, atau promo belanja online tanpa ada bukti yang jelas. Nah, Elevenia hadir sebagai marketplace yang menghadirkan sejuta kenyamanan bagi pembeli. Salah satunya, HARGA MURAH.

Denger, kata murah...paling murah...pasti pada tergiur, kan? eits, bisa dicek lho buat bandingin harga dengan toko online lain. ini caranya; 


 Tuuuh kan? asyik banget....kita bisa tahu perbandingan harga. Dan, soal murah...elevenia jagonya ^^

Kedua ; Banjir Voucher

Voucher belanja bisa ditukar dengan produk lho, bun...WOW pasti asyik kan ya, niat belanja eh dapet voucher belanja gratis. Ya, begitulah elevenia, selalu punya kejutan...cek sini ya
Ehmm....pengalaman dulu, saya dapat voucher di Matahari. haduh, capek euy muter sana muter sini....kalo dapet voucher belanja online pasti ga bakal bikin kaki capek, tapi bikin mata pedes, bingung milih.hihi



Ketiga ; Banyak Pilihan Produknya

Jual beli online ada di elevenia Indonesia, kalo bunda punya produk bisa jualin di sana, kalo ingin shopping aja ya bisa langsung belanja ke sana. Produknya buanyaakk banget, super lengkap. Nggak heran kalo marketplace ini punya cara ampuh untuk memanjakan customer yakni dengan adanya elevenia promo. Nah, langkah awal sih bunda lihat produk plus tokonya ya, bagaimana review pembeli yang sudah pernah transaksi, puas atau enggak tentang kualitas produk, pelayanan, packing dan lain-lain. 



TESTIMONI PELANGGAN ELEVENIA

Karena elevenia merupakan marketplace, tempatnya para penjual dari toko online yang berbeda.  Sebelum belanja, pastikan  membaca review atau ulasan pembeli, testimoni mereka, ya tujuannya digunakan sebagai bahan pertimbangan. apakah toko yang dipilih itu amanah? apakah produknya berkualitas sehingga kepuasan pembeli juga terbukti? apakah pelayanan bagus atau packing nya juga  rapi? semua bisa dibaca di ULASAN pembeli. 

Belanja di app elevenia pakai Gadget 


 Langkah Selanjutnya, Yuk Bikin Akun di Elevenia.......


Yuuuuk Tancep gas Puoool..........berburu Voucher


Happy Shopping All, Tetep Ngirits yaaa (Mak Irits




Inilah Pengisi Suara Masha

Posted by with 24 comments
Masha and The Bear. Film kartun yang disukai kedua anak saya. Nggak bosan lihat kegokilan Masha. Lucu, imut, banyak tingkah dan animasi kartunya keren banget. Bukan hanya anak saya, mungkin banyak penonton lain dari kalangan dewasa yang suka Masha. Saking senengnya, anak perempuan saya punya dua baju bergambar Masha. Hihi...


Penasaran nggak sih, suara siapa dibalik sosok kartun masha yang lucu bin ngegemesin itu? 

Menikmati Speedy Instan Kediri

Posted by
Kangen rasanya berlama-lama didepan laptop yang terkoneksi internet. Meski di rumah punya modem, beda kecepatan kerja jari ini. Di rumah suka nggak fokus. Lihat tepung pengen nge-baking, lihat cucian numpuk tergoda untuk nyuci.

Kelud-kelud Pasir

Posted by
Tiga hari yang lalu, gunung Kelud meletus. Dari baca judulnya, mungkin temen-temen pada bingung, ya? Kok kelud-kelud pasir? Kelud berasal dari bahasa Jawa yang artinya membersihkan. Jadi selama dua hari ini, saya dan para tetangga juga masih sibuk membersihkan pasir kiriman Kelud.

Sehari sebelum meletus, Kelud masih siaga 3. Saat suami ke sana, masih banyak para petani yang bercocok tanam meskipun lokasi desa tersebut hanya berjarak radius 10 m dari puncak Kelud. Belum ada tanda-tanda yang tampak kalau beberapa jam lagi akan meletus. Begitulah kelud, selama 4 kali meletus selalu suka bikin kejutan. Tahun 1901, 1919, 1990 (waktu saya masih kecil, usia 4 tahun) dan kini tahun 2014. Pihak PVMBK sulit memprediksi dengan pasti.

Membangun “Misi” untuk Calon FD

Posted by
Benarkah orang Indonesia saat ini, banyak yang butuh hiburan? Apa mereka merasa stress banget menjalani keseharian? Sampai-sampai jogetan bisa kita temukan di berbagai tempat. Selama dua pekan kemarin, saya dua kali berkesampatan ikut rekreasi, yakni ke Blitar dan Prigen. Acara anak-anak TK, tempat anak saya bersekolah dan kantor suami. Dalam perjalanan menuju ke lokasi, tersaji hidangan ‘joget’ yang lagi hits di televisi atau radio lokal. Goyang ‘oplosan’, liriknya yang ‘ngeres’. Bikin gendang telinga saya bengkak, nggak karuan.


Kasihaaaaan….ooooy! di sini ada anak-anak!

Happy Milad buat KEB yang ke-2

Posted by
Happy Milad, KEB.

Saya gak ngerti mau kasih kado apa buat kamu? Di usiamu yang ke 2 bisa dibilang masih balita kayak putriku. Masih lucu-lucunya, imut dan ‘aktif’. Kalau putriku yang ultah, mungkin kado boneka atau baju unik kan kubelikan. Buku-buku bantal atau mainan untuknya. Kalau untukmu apa ya?

Kumpulan Emak Blogger, sangat bersyukur, saya bisa bergabung denganmu. Dua tahun yang lalu, saya bisa menemukan ‘sinyal’ buat bekal untuk berselancar. Dua tahun itu pula, saya resmi bergabung denganmu meski dengan bekal pas-pasan sebagai seorang blogger. Blog hasil buatan adek dan ngotak-atik sendiri akhirnya bisa saya hadirkan di tengah-tengah kepiawian emak blogger lainnya.

Akhirnya Bisa 'Jebol' Media

Posted by with 18 comments
Semangat Pagi, sobat Bee-Blog, lagi-lagi nggak terasa awal bulan di awal tahun 2014 sudah memasuki pertengahan. Ini awal postingan saya di tahun baru. Tahun yang diyakini banyak orang sebagai permulaan menorehkan sejarah hidup di lembaran yang lebih apik dengan resolusi yang sudah dirancang sedemikian rupa.

Sensasi Kaya Rasa dari Taste of Asia

Posted by with 5 comments
Seminggu yang lalu saya dapat kiriman sample Indomie rasa baru. Berasa seperti orang penting karena terpilih jadi Privilege khusus, orang pertama yang ngicipi. Seneng karen dapat gratisan. Pas nerima paket agak kaget juga sih, paketannya nggak berupa kardus tapi kotak kayu, jadi kayak kiriman buah githu. Setelah dibuka, wuuuah kerdus mini, cocok buat tempat bumbu di dapur dapat mangkok pula. hehe *dasar emak-emak



Surprise….bungkus indomie agak beda, lebih berkelas, tebel, paduan desain dan warna eye catching. Dari luarnya aja kelihatan ‘elegan’ pasti rasanya juga bakal manjakan lidah.

Jiwa Pahlawanku dan Pertamax Gapai Indonesia Lebih Baik

Posted by with 1 comment
Beberapa bulan terakhir kita dijejali banyaknya berita korupsi. Satu per satu kasus korupsi mulai terkuak. Rakyat pun geram dan malu menyaksikan ‘polah tingkah’ para koruptor yang suka menimbun harta. Entah itu dilakukan seorang pejabat pemerintahan, dosen, hakim, hingga pemuka agama.

Korupsi menjadi penyakit serius yang menggerogoti bangsa ini karena mengakibatkan kesenjangan sosial (gap) yang luar biasa antara pejabat dan rakyatnya. Sang pejabat makin kaya, rakyatnya makin papa.

Pantaskan Diri Miliki Notebook Berkelas

Posted by with 32 comments
Saya berusaha memantaskan diri menjadi sahabat setia Si Acer Slim Aspire E1. Sebuah notebook yang didukung performa Intel® Processor di dalamnya. Kemanapun bisa saya ajak karena bawanya enteng. Eits, saya juga bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya lho. 



Sejak tahun 2005 hingga sekarang, saya menjalin pertemanan dengan PC, laptop, gadget dan terakhir notebook Aspire ONE 722. Saya tak bermaksud ‘selingkuh’, suka ganti dan menaruh cinta ke lain hati. Tapi, memang untuk mengejar produktifitas.

Terima Kasih MaBi

Posted by with No comments

Tidak selamanya berjibaku dengan urusan rumah itu membosankan. Rutinitas yang sama dan dikelilingi wajah itu-itu saja. Suami, Azzam, Nadia. Tanpa saya sadari, ada beberapa momen kebersamaan dengan mereka yang mampu membuat hidup terasa lebih berwarna. Lebih indah dari yang saya kira. 

Sebagai ibu rumah tangga mantan mahasiswa aktif hal ini tentu tidak mudah saya jalani, terkadang letupan penyesalan kerap menghantui, kenapa saya tidak bekerja saja, kenapa saya harus berkiprah di rumah bukan di perbankan sebagaimana jurusan yang saya ambil saat kuliah, kenapa harus begini? Tiap harinya, hanya sibuk urusan dapur dan anak-anak. 

Ah, itu dulu. 

Semenjak tiga bulan program “Momen 15 Menit” digelar oleh Sari Wangi, saya menilai kebersamaan tidak sesederhana dulu. Tawa, canda, obrolan meski hanya sejenak patut saya syukuri. Kehadiran mereka adalah anugerah, sebaik mungkin harus dijaga dengan cinta. Dan ternyata lagi, kebersamaan tidak harus bayar mahal, dari cerita saya dan teman-teman peserta lainnya memiliki kebiasaan berkumpul dengan cara yang unik, hemat, dan menceriakan. 

Kumpul sambil nge-teh. Bagi saya, ini adalah ide brilian untuk menjaga keharmonisan keluarga. Terima kasih MaBi. Meski saya belum berhasil mendapatkan tiket tea camp ke Sari Ater tidak masalah. Saya tetap bahagia, bisa berbagi cerita dengan keluarga lain. Teruslah menginspirasi keluarga Indonesia, supaya kami selalu menyadari bahwa keluarga adalah yang paling utama. Bukan mengutamakan ego, menyisihkan waktu 15 menit, melepas rutinitas sejenak untuk berkumpul. 



Berikut ke-enam cerita yang telah saya submit. Ingin saya abadikan di blog pribadi, satu diantaranya telah diubah ke dalam bentuk komik. *oh, betapa senangnyaaaaa* 





1. Siasati Waktu Jogging Untuk Nge-Teh dan Ngobrol 


Semenjak menikah, saya dan suami sudah punya trik-trik khusus untuk punya waktu kumpul dengan keluarga. Kalau kumpul di rumah itu sudah biasa, tapi kalau jalan-jalan pasti buang uang juga, nggak jadi hemat dong, begitu pikiran kami. Nah, akhirnya kita bikin moment seru yang kami sepakati, murah dan pasti anak-anak senang yaitu JOGGING DI LAPANGAN. 


Tiap hari Minggu, saya bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal sarapan. Tak lupa saya bawa biskuit dan teh hangat ‘Sari wangi’ ditaruh di tremos (meski tiap hari sudah terbiasa minum teh, momentum kumpul kali ini terasa beda). 


Pukul 5.30 kami berangkat. Saya, ayah, Azzam (4 tahun), Nadia (2 tahun) menikmati semburat mentari yang mengiringi langkah kecil kami menuju lapangan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Celotehan anak-anak, sapaan tetangga dan orang yang lalu lalang turut menghangatkan suasana. 


Usai jogging dan senam ringan, anak-anak asyik bermain dengan teman sebaya di lapangan, Saya dan suami ngobrol sebentar sambil nge-teh. Ah, jarang-jarang di rumah kami bisa seperti ini karena kedua balita kami kerap ‘mengganggu’ kebersamaan kami (ya namanya juga masih anak-anak, kan). Jika dihitung-hitung 15 menit kami nge-teh, ada 15 cerita —bahkan lebih– yang bisa kami bicarakan di sini tentang kantor, gaji, perkembangan anak-anak, impian, harapan dan ups…kadang ‘refleks’ nge-gosip loh. Hehehe…(semoga tidak kebablasan—tidak baik). Pulang jogging, suasana hati kami semakin berwarna dan menjalani hari-hari penuh cinta. 









Klik gambar biar jelas 





2. Role Playing 


Saat aku masih kecil, `aku senang bermain ‘pura-pura’. Jadi pedagang, dokter, guru dan masih banyak lagi. Saat kuliah, aku baru tahu kalau permainan tersebut dinamakan Role playing atau metode bermain peran. Kini, permainan ini jadi salah satu kegiatan seru di keluarga kecil kami, mengisi moment kebersamaan aku, suami, Azzam (4,5 tahun) dan Nadia (2 tahun). Bermain peran ditemani teko berisi teh hangat ‘Sari Wangi’, kami berempat siap acting. 


Meski pura-pura alias tidak sungguhan, permainan ini mampu mengasah ketrampilan bicara dan sosial kedua anak kami yang masih kecil. Skenario cerita beragam, interaksi penjual-pembeli, dokter-pasien, pengamen-pengendara dan masih banyak lagi. 


Ehm, ada cerita lucu saat kami melakukan role playing bertema ‘AKU PENGUSAHA”.

Di meja sudah tertata barang dagangan seperti sejumlah buku, pensil, penggaris, dan boneka. “beli apa mbak?” kata Azzam sebagai penjual. Nadia, aku dan ayah jadi pembelinya. Sambil mempromosikan barang dan belajar tawar menawar harga, si Azzam SOK jadi saudagar kaya, ia menaruh pensil di telinga sambil pencet-pencet kalkulator di tangan kirinya. Ehm, kami pun geli melihat gaya-nya. Canda dan tawa pun kerap membuncah saat peran lucu dilakukan Nadia misalnya sebagai pembeli ia sering mengambil barang dagangan tanpa membayar terlebih dahulu. Ulah seperti ini membuat Azzam sebagai penjual bisa marah dan teriak-teriak. 


Hufh…Bisa dibilang, permainan ini cukup menguras energi anak-anak, akhirnya rehat sejenak menikmati teh Sari Wangi dan kue kacang favorit keluarga menjadi pilihan kami. Meski barang berantakan usai bermain, aku dan suami cukup terhibur dan kami semakin merasa dekat dengan anak-anak. Terlebih, dengan Role playing, Azzam dan Nadia bisa mengeksplorasi diri melalui peran yang dimainkannya. Semoga bermanfaat untuk masa depan mereka kelak. Terima kasih Sari Wangi telah menemani kebersamaan kami dalam bermain peran. 


3. Cangkruk di Warung Nasi 


Bagi saya, pagi hari adalah simpul awal dari kehidupan sehari-hari keluarga kecil saya, terutama Azzam (4,5 tahun) dan Nadia (2 tahun). Simpul yang padanya banyak bergantung momen kehidupan mereka selanjutnya. Sejak jadi pengajar di sekolah full day school, saya jarang masak ketika pagi. Waktu pagi habis untuk memandikan anak-anak, bermain, sesekali berberceloteh ria sambil mempersiapkan bekal sekolah si Azzam di PAUD dan Nadia ke Day care. Karena kalau anak-anak dalam keadaan hepi kala pagi, mereka tidak rewel saat berpamitan dengan kami. Saya dan suami memang bekerja dengan ritme yang hampir sama. Berangkat pagi pulang sore. Jadi, anak-anak kami percayakan pada sekolah play group yang terdapat fasilitas day care hingga sore hari.

Untuk sarapan pun saya dan suami lebih mengalah. Jika saya tidak sempat masak. Warung nasi kerap jadi dapur keluarga kami. Salah satunya di warung nasi Mbok Rah, lokasinya hanya 100 meter dari sekolah, tempat saya mengajar. Sebagai guru di sekolah swasta yang menerapkan full day school, saya tidak pusing soal jadwal makan karena di sana sudah disiapkan camilan dan makan siang. Nah, detik-detik sebelum bel masuk berbunyi, kami sekeluarga ‘cangkruk’ di warung nasi Mbok Rah.

Di warung nasi Mbok Rah, kami pilih tempat lesehan. Sambil menikmati nasi pecel sebagai menu favorit. Kami disuguhi teh hangat Sari Wangi. Mbok Rah tahu apa yang kami sukai karena sudah menjadi pelanggannya selama 4 tahun. Saya, Ayah, Azzam dan Nadia suka dengan aroma khas Sari Wangi, tidak menyengat dan tidak getir di lidah. Bagi Mbok Rah pun juga tidak sulit saat menyeduhnya, kan praktis, tinggal celup-celup. Obrolan ringan dengan Mbok Rah seputar keluarga, anak-anak, dan resep masakan mengisi waktu sarapan kami.

Pernah suatu ketika Azzam berseloroh,

“Bunda, kayak mbok Rah itu loh pinter masak, pagi hari sudah bisa masakin menu banyak kayak gini!”

“Hahahaha….” semua pembeli di warung sontak ketawa bersamaan.

Saya. Saya hanya tersenyum simpul. *sebel juga sih. Lucunya lagi, Nadia memanggil mbok Rah dengan sebutan eyang. Mbok Rah semakin akrab dengan kami. Apalagi, ayah suka godain rasa masakan, “waduh, mbok….kok asin banget sambel pecelnya” Kata ayah sambil menjulurkan lidah. Mbok Rah bingung, “ah…masa sih, nggak kok”.

Sekali di icip, asin. Lama-lama kok enak juga ya, udah nggak berasa asinnya, mbok!” Tambah Ayah

Tuh, ayah suka godain Mbok Rah deh, kata Azzam. Kegokilan Azzam, Nadia dan ayah jadi perekat keluarga kami dengan mbok Rah. Kedekatan kami dengan mbok Rah bukan sebatas penjual dan pembeli saja tapi sudah seperti keluarga. Tiap lebaran, kami sempatkan bersilaturahmi ke rumah beliau. Meski hanya berkisar 15 menit, sarapan pecel dan nge-teh ala Sari Wangi di warung nasi Mbok Rah selalu menelurkan cerita. 


4. Grojokan 


Azzam (4,5 tahun) dan Nadia (2 tahun) sangat suka bermain air. Kalau sudah ketemu air, mereka pasti betah berlama-lama. Terlebih, saat grojokan, bermain air plus mandi dengan selang yang ditaruh di ranting pohon rambutan. Dari bahasa Jawa, grojokan berarti aliran air besar dan deras. 


Pukul 06.00 pagi, saya dan suami bergegas menuju halaman rumah. Saya bertugas menyapu halaman sedangkan ayah menyiram tanaman. Nah, karena jarak antara kran air dan tanaman lumayan jauh, selang panjang pun jadi pilihan. Ternyata, selang inilah yang menarik perhatian Azzam dan Nadia. Bukannya malah membantu, mereka asyik bermain air. Bagi Azzam, semprotan air yang keluar dari selang ini mirip peluru keluar dari senapan. Duuuaarr…..”teriak ayah ‘menembak’ Azzam seperti pemburu tengah beraksi mengincar buruan. Cipratan air mengenai baju Azzam, Azzam pun berlari mencari tempat persembunyian. Hehe, lucunya ia sembunyi di balik pohon sambil cekikian, geli menahan tawa. Saya, ayah dan Nadia ikut tertawa terbahak-bahak, ikut berlari mencari buruan. Kebersamaan pagi menjadi momen spesial sebelum kami berangkat kerja. Di temani empat cangkir teh hangat Sari Wangi dan pisang goreng yang sudah saya siapkan di meja teras. 


Adiknya, Nadia juga kerap memancing keceriaan. Misalnya, saat membantu menyiram tanaman ia ikut menyanyikan lagu ‘lihat kebunku, penuh dengan bunga……dst’ meski artikulasi bahasanya belum jelas. Bagi kami, ini adalah saat tepat untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada tanaman dan lingkungan. Bumi dengan segala keindahan isinya dianugerahkan Tuhan untuk manusia maka kecintaan anak pada lingkungan itu harus ditumbuhkan sejak dini. 


Celotehan mereka tentang tanaman pun mengalir, “kasihan ya, tanaman kok disuapi kotoran sapi, kenapa tidak diberi nasi saja biar cepet gede?” pertanyaan itu terlontar ketika ayah memberikan pupuk kandang pada tanaman. Ayah pun menjelaskan dengan bahasa sederhana. 


Belum lagi, Nadia yang sering mengulang pertanyaan serupa, “apa ini?” meski sudah dijawab, ia kembali bertanya “apa ini”? bahkan sampai 10 kali pertanyaan, “apa ini?” kami pun tidak bosan hingga akhirnya kami keluarkan senjata ampuh kami yakni menggelitiki perut kecil Nadia. Kalau ia sudah ketawa, pertanyaan akan ia hentikan. Sontak, kami juga ikut ketawa. Aaaah, banyak Kejutan ‘cerdas’ Azzam dan Nadia yang dapat kami saksikan saat berkumpul bersama. 


Grojokan berlangsung ketika kegiatan menyiram tanaman sudah beres. Biasanya ayah meletakkan selang di ranting rambutan kemudian menyalakan kran. Dan……byuuuuur! Air tumpah dari atas, Azzam dan Nadia lompat jumpalitan dengan riang di bawah pohon rambutan, balon renang bergambar spiderman sudah terlingkar di pinggang keduanya. 


Grojokan tidak terlalu lama, kami langsung memandikan mereka karena khawatir anak-anak masuk angin, minum teh hangat Sari Wangi jadi penghangat tubuh mereka. Usai grojokan, kami merasa semakin dekat, berkat Sari Wangi pula cinta kami semakin hangat. Sehangat mentari pagi menemani kami saat grojokan. 


5. Panggung Gembira 


Panggung gembira merupakan ajang ekspresi di keluarga kecil kami. Saya, suami, Azzam (4,6 tahun) dan Nadia (2 tahun) bebas mengekspresikan diri. Boleh menyanyi, menari, menjadi model, bercerita dengan alat peraga, bermain peran atau menjadi instruktur senam. Pukul 19.30 WIB, usai menemani Azzam belajar. Kami siap beraksi di tempat yang kami sebut panggung. Tempatnya sederhana dan sering berpindah-pindah, kadang di atas karpet, kasur, teras atau di atas meja berukuran 2,5m x 1,5m x 1m yang ada di dapur (meja jadul……hehe). 


Jika anak-anak sedang mood menyanyi, ayah mengambil alat musik ala kadarnya dari dapur seperti galon air kosong, kaleng susu yang tidak terpakai, botol berisi beras dan kemoceng (untuk klotekan–memukul galon). 


Saat ayah menjadi MC, Azzam pertama kali masuk panggung menyanyikan lagu, “Balonku Ada Lima” lengkap dengan klotekan (penggunaan alat musik). Kemudian, saya dan Nadia sebagai penonton. Ekspresi ‘lepas’ saat ada di panggung, membuat saya dan suami terkagum-kagum. Azzam tampil percaya diri dan semangat sesekali Nadia menyusul kakak ikut menyanyi, terkadang saya sibuk mengabadikan momen seperti ini dengan kamera saku. 


Ditemani empat cangkir teh hangat Sari Wangi, acara semakin rame dan meriah. Bahkan, karena kehausan, Azzam kerap turun panggung hanya sekedar menyeruput teh. Saya sangat bersyukur, bisa ngobrol dengan ayah sambil melihat keceriaan anak-anak, semua ini mampu melenyapkan rasa capek dan jenuh menjalani rutinitas. 


Beda cerita ketika anak-anak pengen menari, berbekal kuda lumping mini plus pecut, Azzam beraksi tanpa jeda seiring alunan musik Reog jaranan yang kami putar dari hape. Tak lupa saya melilitkan selendang ke pinggang Nadia. Di tengah krisisnya program anak di televisi, kami berupaya mengenalkan mereka dengan ragam kesenian lain. Terutama, dari warisan seni budaya leluhur seperti lagu daerah ‘gundul pacul’, lagu anak atau lagu nasionalis ‘Maju Tak Gentar’ yang kini jarang didengar anak-anak. Dari lagu tersebut pula, kami sisipkan nasihat pada mereka. 


Di panggung gembira anak-anak memang lebih banyak bergerak. Jika sudah capek menari, mereka merengek-rengek, meminta ayah untuk jongkok. Dan, horeee…..ayah, jadi kuda lumpingnya. Mereka saling berebut naik ke punggung ayah. 


Masih banyak lagi cerita seru lainnya saat menikmati kebersamaan di panggung gembira. Ketika Ayah menjadi instruktur senam, ekspresi saya bercerita menggunakan wayang Pandawa, tarian Nadia yang bikin kami cekikian, dan lagu ‘Nina Bobok’ yang mampu menerbangkan anak-anak ke pulau impian saat manggung di atas kasur. Meski hanya berkisar 15 menit, panggung gembira akan terus kami hadirkan di tengah-tengah keluarga kami karena memiliki waktu bersama keluarga ditemani empat cangkir teh Sari Wangi adalah momen yang sangat berharga. 


6. Sema’an 

Padatnya jadwal kerja bukan jadi kendala keluarga kecil kami, untuk bisa menikmati kebersamaan. Salah satunya dengan mengisi kegiatan ibadah bersama-sama. Usai melaksanakan sholat maghrib berjama’ah dari mushola dekat rumah, kami sekeluarga menuju ruang keluarga dan mengambil Al-Qur’an untuk melakukan sema’an (kegiatan simak-menyimak). Kata ‘Sema’an’ berasal dari bahasa Arab Sami’a-Yasma’u, yang artinya mendengar. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Simaan” atau “Simak”, dan dalam bahasa Jawa disebut “Sema’an”. 


Azzam (4,5 tahun), si sulung yang masih belajar huruf hijaiyah (Buku Iqra’) juga tidak mau ketinggalan. Saya, ayah, Azzam dan Nadia (2 tahun) pun segera membuat lingkaran kecil. Tanpa gadget di tangan dan nyala tv, suasana sangat tenang. Semua mendapat giliran mengaji kecuali Nadia, saya dan suami bertugas menyimak, gunanya untuk membetulkan bacaan Al-Qur’an. Giliran Si Azzam membaca Buku Iqra’, ayah yang menyimak. Biasanya, saya membuat teh Sari Wangi untuk disajikan saat Sema’an. Selain penyajiannya yang cepat dan praktis (celup), ayah dan anak-anak sangat suka aroma wanginya. 


Minum teh hangat usai mengaji sangat menyegarkan tenggorokan, itulah mengapa sejak saya kecil, minuman teh tidak pernah ketinggalan menemani kegiatan sema’an di beberapa mushola desa. 


Sema’an di keluarga kecil kami tidak sekedar menyimak bacaan namun juga diselingi cerita hikmah yang tertuang dalam kitab suci kami (Al-Qur’an). Cerita favorit Azzam dan Nadia adalah cerita ikan Paus dan Penyelamat Nabi Yunus, sebuah cerita yang mengandung pesan tauhid, keteguhan, kesabaran, keberanian, kasih sayang, serta nilai luhur lainnya. Dengan alat peraga boneka Paus, kami hanyut dalam kebersamaan, terasa begitu dekat. 


Sema’an merupakan salah satu cara kami untuk menumbuhkan cinta anak-anak pada Tuhan sekaligus memberikan keteladanan. Jika kami ingin mengajari mereka tentang akibat perbuatan jahat, kami bercerita tentang tipu daya Nabi Adam as, kisah Fir’aun dan kisah Ashabul Fill (pasukan bergajah). Begitu halnya dengan budi pekerti saat menuntut ilmu dan menghormati guru, kami bercerita kisah Nabi Musa as dengan Nabi Khidir as yang bisa dijadikan teladan. 


Ehm, di lain kesempatan sema’an, kami mengajak anak-anak ke dunia petualangan dengan membawa misi besar, semua ada dalam kisah Nabi Yunus as., mukjizat-mukjizat Nabi Musa ketika melawan Fir’aun, kisah Nabi ‘Isa, kisah sapi betina, unta Nabi Shaleh, serta kisah Ashabul Kahfi tentu sangat menarik bagi mereka. 


Oh ya, cerita yang kerap diulang si ayah adalah tentang kepatuhan dan bakti kepada orangtua, kisah Nabi Ibrahim as. dengan ayahnya, kisah Nabi Ibrahim dengan Nabi Isma’il soal mimpi-mimpinya, serta kisah Nabi Nuh as. dengan putranya yang durhaka. 


Semua nilai kehidupan telah diajarkan di kitab suci. Penting sekali untuk bekal anak-anak kelak. Karena kedua anak kami masih balita, kegiatan ini kadang tak berjalan mulus, lingkaran kecil kami jadi amburadul ketika Azzam dan Nadia tengah memperebutkan mainan, buku Iqra’, teh atau snack. Berlari, teriak histeris, canda dan tawa kerap jadi penghangat suasana sema’an. Melalui sema’an ditemani teh Sari Wangi, kami berharap semoga menjadi momen kebersamaan yang bermanfaat untuk masa depan mereka. 




Seru-seruan Pakai Slim Aspire E1

Posted by with 11 comments

Klik gambar biar jelas *tahu nih kok kecil banget nongol di laman

Jeng Kelin : “Apa sih yang bikin wajah loe ‘mendung’ githu, jutek banget?”

Mang Kelan : “Kerja!!!”

Jeng Kelin : “emang kenapa dengan kerjaan loe, santai aja bro! nikmati kepenatan saat kerja, nggak usah terlalu stres mikirin ruwetnya kejaran deadline. Take easy.

Mang Kelan : “Heh! Gimana nggak jutek, kerjaan gue kan kerjaan otak bukan otot, gue musti mikir dan kepala sering nyut-nyut kalau pas laptop gue ngadat!”

Jeng Kelin : “Oooh, itu masalahnya….tenang, bro! mending sedekahin aja laptopnya terus segera beli netbook Slim Aspire E1. Produk terbaru dari Acer yang bisa jamin, loe bakal hepi kerja, asyik juga buat bermain bareng keluarga loe”

Mang Kelan :“Slim Aspire E1? Boleh juga dicoba, jelasin dong keistimewaannya!” 


*****************

Berkat Notebook Slim, Si Emak Makin Keren dan Powerfull

Posted by
Maaf, sudah penuh!”…..

 Tiga tahun yang lalu, tulisan tersebut sering saya temukan di pintu masuk beberapa warnet yang hendak saya kunjungi. Nggak hanya mahasiswa yang doyan berlama-lama di warnet, ibu rumah tangga kayak saya juga rela muter-muter ke pinggiran kota mencari warnet yang kosong. Untuk apa? Mencari informasi aneka resep, sekedar menyapa teman dunia maya via fb dan twitter serta mantengin ‘gosip’ artis dan politik ter up-date.

Itu dulu, sekarang warnet malah sepi pengunjung. Banyak warnet yang gulung tikar karena serangan notebook murah dan internet gratis yang bisa ditemukan di beberapa titik lokasi. Misalnya, café, perpustakaan kota, rumah sakit, sekolah, kampus dan tempat strategis lainnya. Saya pun lebih memilih membeli notebook karena pengen yang simple dan praktis, gampang dibawa ke mana aja *termasuk nyari WiFi gratisan. hehehe... 


Pyramid Excellent Notebook for EBA (Emak Blogger Aktif)

Posted by with 14 comments
Notebook, jadi salah satu soulmate terbaik emak blogger saat mobile. Nggak heran kalau kemana-mana bawaannya tas ransel yang isinya perangkat teknologi misalnya kamera, notebook, tablet atau smartphone. Rasanya rugi banget kalau ada momen penting yang terlewatkan untuk ditulis, kemudian di-share ke blogger lainnya.

Time is money. Peribahasa ini jadi pelecut para emak yang bener-bener pengen memanfaatkan waktu. Produktif saat ngeblog, produktif pula ngurus rumah tangga. Seringkali, si emak yang doyan ngeblog jumpalitan nggak karuan karena dikejar deadline, waktu 24 jam berasa sejam. Belum lagi, secara bersamaan anak-anak minta ditemeni belajar atau harus mijitin ayah, karena capek pulang kerja. Hahaha….*seharusnya ayah bisa ngerti-lah kerjaan emak yang doyan nongkrong di depan PC. 



LG G2, Smartphone Ajib nan Ergonomis

Posted by with No comments
Smartphone, sekarang jadi salah satu barang yang diincar banyak orang. Tidak bisa dipungkiri, produk teknologi canggih yang satu ini memang turut andil dalam memudahkan pekerjaan kita. Terutama untuk komunikasi dan internet misalnya Call, SMS, browsing, Jejaring Sosial, Email, Messenger atau chatting, Webcam, dan Video Call.

Sinyal Kemandirian Bangsa dari Cyber Village dan Digital Society

Posted by with No comments
Tema :
Dampak tarif telekomunikasi yang murah terhadap upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia
                                                       (Kategori Umum)

Pada tanggal 10 Agustus 2013, puluhan mahasiswa asing penerima Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) dari Direktorat Diplomasi Publik Kementrian Luar Negeri RI mendatangi Bumi Blambangan, Banyuwangi. Mereka berasal dari 12 negara yakni Amerika Serikat, Nauru, Polandia, Maroko, Kroasia, Tonga, Yunani, Papua Nugini, Fiji, Australia, Filipina, dan perwakilan Indonesia. Bagaimana mereka bisa kenal dengan kabupaten Banyuwangi?

Lomba Plorotan Pring

Posted by with 4 comments
Selain Upacara, tak lengkap rasanya merayakan HUT RI tanpa ada perlombaan. Lomba panjat pinang, balap karung, lomba kelereng, atau lomba makan krupuk. Terkadang, saya berfikir, bagaimana asal-usul lomba semacam itu bisa menjadi tradisi? 

Nyaris hampir di seluruh nusantara ada perlombaan tersebut. Terutama di desa, beda halnya dengan kota biasanya perayaan dilaksanakan lebih WAH, barankali memang ditunjang pendanaan yang cukup, misalnya, karnaval, konser atau pameran. Apapun itu, semua perayaan memiliki tujuan yang sama yakni memperingati hari kemerdekaan. 

Pesan Orang Tua dan Pertamax, “Teruslah Menebar Manfaat!”

Posted by with 1 comment
Saat menulis postingan ini, listrik dalam kondisi padam, untungnya baterai laptop masih full. Jadi, masih bisa lanjut nulisnya. Dalam kegelapan, saya hanya ditemani lampu hape yang memberikan penerangan, beda dengan zaman saya masih kecil, ibu selalu menyalakan dimar (lampu dari minyak tanah). Tiba-tiba saja, memoriku terlempar jauh belasan tahun lalu, ketika listrik padam begini, saya, bapak dan adik biasanya memilih bercengkrama di teras rumah menikmati padhang bulan.

Teknologi, Wujudkan ‘Passion’ Menuju Desa Cyber

Posted by with 1 comment
--Orang desa harus melek teknologi!--

Kalimat ini jadi pelecut bagi saya yang kini berdomisili di desa. Hidup di desa jauh dari sarana prasarana yang bisa menunjang passion saya. Passion yang sudah bisa saya ‘tebak’ sejak duduk dibangku sekolah dasar yakni menulis dan bisnis. Buku pelajaran saya penuh dengan curhatan, tiap jam istirahat saya mengeluarkan snack yang saya beli dari pasar dijual ke teman-teman. Karena suka menulis, saya pun kerap mencari sahabat pena, alamatnya, saya dapat dari majalah Bobo dan Mentari. Kalau urusan jualan, hasil laba yang saya dapat, jadi tambahan uang saku.


Menulis dan bisnis. Awalnya hanya suka, tapi lama-lama kedua aktivitas ini bikin saya ketagihan. Sampai  beranjak remaja, saya masih saja melakukannya tanpa arahan yang jelas dari orang-orang terdekat. Bahkan kedua orang tua juga ‘cuek’, asal anaknya naik kelas dan dapat rangking, itu sudah cukup.

Maknai Hidup dengan Musik

Posted by with 1 comment
Saat saya nongkrong di counter lagi pilih-pilih hape. Saya amati banyak pengunjung yang keluar masuk bergantian bukan untuk beli pulsa atau hape. Eh ternyata, pada ‘minta’ file musik ditaruh di hape. Yup, tinggal copy-paste, sebelum pergi mereka bayar, sebagai tanda terima kasih. Entahlah berapa nominalnya, saya tidak tahu. Ada yang bilang seikhlasnya.

Ooohh….seikhlasnya??? *bukankah ini sama saja dengan bajakan?

Waaah, gimana denganmu?  kalau suka barang bajakan, kayaknya jiwa nasionalis kamu juga diragukan nih?  Kalau saya lebih memilih beli kaset asli dong, bisa awet bertahun-tahun, VCD nggak gampang rusak pula.