Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Bisnis Makanan Online yang Menjanjikan

Posted by with 2 comments
Bisnis makanan yang menguntungkan- Bisnis yang menjadi referensi bagi siapa saja yang memiliki modal kecil. Menjadi pengusaha sukses tidak hanya bermodalkan uang banyak. bisnis terbaik adalah bisnis yang bisa anda jalankan dengan merintis dari nol atau sedikit modal. Untuk meminimalisir modal, anda bisa mencoba memasarkan produk makanan anda via online sekaligus pelayanan delivery order. Nah, bisnis makanan apa saja yang cocok dijual online? 

1. Camilan

Jangan anggap remeh camilan jadi barang dagangan. Dengan tangan kreatif, anda bisa menjadikan cemilan jadi lumbung uang secara online. banyak kalangan pebisnis yang telah sukses menjual produk camilab misalnya goedangoleholeh.com. Bermula dari lancaranya usaha camilan sistem jual beli secara fisik. goedang oleh oleh ini merambah ke jual beli online. ada juga, toko puding yang menjual online. produk olahan yang kelihatan remeh ternyata bisa dijalankan via online dengan keuntungan yang menjanjikan. 

2. Kue Kering dan cake


Siapa yang tidak tergoda melihat penampakan kue manis si brownis, cupcake, tart dengan ragam bentuk unik, donat dan atau kue kering yang saat lebaran juga diburu banyak orang. Oleh karena itu, jika anda memiliki jaringan pemasaran via offline bisa anda jalankan via online. bisnis kue kering atau cake memiliki potensial yang luar biasa. Contohnya; minilovebites.com. sebuah website yang benar-benar fokus menjual produk cupcake. 

3. Frozen Food

Di era digital seperti sekarang, banyak sebagian karyawan yang lebih memilih makanan cepat saji yang sudah disimpan di lemari es. untuk mengehmat waktu persiapan saraan atau makan malam. anda bisa mengambil peluang iini untuk membuka usaha makanan frozen food via online. Aneka olahan daging, ikan dan sayuran yang dibekukan biasanya dijadikan pilihan ibu-ibu pekerja yang tidak memiliki waktu banyak untuk masak di dapur. Anda bisa memberikan pelayanan delivery order. 

4. Makanan Catering

Anda punya keahlian memasak yang mumpuni? catering dalam julah besar bisa anda jalanan via onlie. mempersiapkan tim memasak, packaging, delivery. untuk memaksimalkan penjualan bisa anda pasarkan melalui media website, iklan, dan media sosial. Tentukan target konsumen anda dan bangun loyalitas karena bisnis catering ini bersifat kontinyuitas. dimana anda akan terus menerima orderan kembali. 

5. Minuman

Saat musim kemarau, anda bisa menjual minuman dengan pemasaran via online. Tentukan dulu minuman apa yang bisa anda buat, pelajari proses pengawetanya yang biasanya harus disesuaikan dengan kemasan. Anda bisa menjual kopi, teh, jus dan minuman khas cokelat. Adapun contoh toko online yang berhasil menjualproduknya melalui online seperti torajakoffie.com. Toko online tersebut menjual aneka jenis kopi kkhas toraja. Ada juga yang menjual es krim seperti deboliva.com bahkan sudah dikembangkan dalam bentuk cafe yang berada di mall-mall. 

Untuk mengembangkan bisnis online anda berkembang lebih cepat, anda harus melakukan persiapan yang matang meski dalam perhitungan modal jauh lebih hemat dari penjualan offline. Anda hanya butuh biaya domain hosting dan biaya iklan di media sosial. Sebelum anda promo pastikan produk anda enak, lezat dan nagih. Dengan begitu, hanya butuh waktu satu bulan anda sudah memiliki banyak pelanggan yang loyal.


3 Ide Bisnis Unik Omset Milyaran yang Jarang Diketahui

Posted by
Ide bisnis unik yang bisa menghasilkan omset milyaran memang jadi inspirasi pengusaha pemula. Hingga detik ini, banyak sekali para pengunjung blog yang berseliweran mencari ide bisnis, peluang usaha yang bisa dilakukan untuk menambah pundi-pundi rupiah. Semua usaha besar yang menghasilkan milyaran rupiah berawal dari usaha kecil, dimulai dari hobi atau ada juga karena faktor paksaan supaya dapur bisa mengepul. Tak jadi soal bagi siapapun, kita semua punya hak untuk sukses. baik menjadi kayryawwan atau pengusaha

Menjadi pengusaha memang harus memiliki mental yang kuat dan tahan banting. Setapak demi setapak proses harus dijalani dimulai dengan perhintungan yang cerdas agar tidak rugi di kemudian hari. mencari ide bisnis unik gampang-gamang susah. Susah ketika anda tidak memiliki keunikan dan gampang kalau anda punya keunikan sesuai passion yang anda. Berikut 3 ide bisnis unik omset milyaran yang jarang diketahui orang; 

1. Keset
Siapa sangka, keset yang biasa ditaruh di depan pintu dan diinjak injak menghasilkan pundi rupiah. Mutiara handicraft yang kini berkibar hingga Australia, China dan Singapura. ratusan ribu keset yang juga dipasarkan di tanah abang dan puluhan ke beberapa mancanegara. Produk tersebut dibuat dengan penuh cinta seorang wanita penyandang cacat. Irma Suryanti yang kini berdomisili di Semarang, Jawa Tengah.



Kini Irma terus melakukan inovasi, membuat ragam keset sebanyak 42 jenis. ada yang bentuk biantang, bunga, elips dan masih banyak lagi. Bahkan, kerajinan lain seperti sapu lidi, sajadah dari tikar pandan. Irma memang sosok yang tidak cengeng, cacat bukan jadi penghalang untuk sukses. 

2. Songkok
BBerdasarkan data PemKab Lamongan, para pengrajin di Lamongan, Jawa Timur telah berhasil membukukan omset hingga Rp16,22 per tahun. Industri ini berkembang di wilaya Kecamatan Turi, Karangbinangun Kalitengah dan Glagah.


Kualitas songkok dari Lamongan tidak diragukan lagi meski tidak memiliki ciri khusus seperti pengarajin dari kota lain.  Motif bordir halus dipadukan beludru yang menambh kesan elegan menjadi keunggulan tersendiri. Omset melesat ketika memasuki bulan Ramadhan. Biasanya, para pekerja yang sebelumnya menjadi petani, mereka berkarya membuat songkok untuk memenuhi permintaan songkok dari luar daerah hingga luar negeri.

3. Kacamata kayu
Inspirasi unik berasal dari mana saja, apa yang kita pakai pun bisa jadi ide bisnis. Ada yang tahu dengan kacamata kayu merk Kallestory? Usaha milik Cliff Yusron asal Jojga ini memang masih terbilang cukup muda, baru 3 tahun. namun berkat kerja keras dan keunikannya Cliff membuat kacamata dari kayu mahagony, rosewood, kemuning, maple, kayu nangka, bambu, glugu, bedaru, zabrawood bahkan bahan campmpuran berupa tanduk sapi atau kerbau. Hm....benar-benar ide bisnis unik yang patut anda coba. Produk yang berpotensi omset milyaran ini menyebar di beberapa kota dan mancanegara.



Ide bisnis unik omset milyaran terutama di bidang online juga sangat banyak. Kapan-kapan akan dikupas lebih mendalam. Satu hal yang harus dilakukan para pengusaha pemula yang ingin mencoba membangun pundi rupiah adalah mental semangat tidak menyerah karena bisnis itu penuh tantangan. 3 ide bisnis unik omset milyaran yang jarang diketahui diatas adalah contoh sukses pengusaha yang telah menemukan keunikan dari setiap produk yang mereka pasarkan.

Rahasia Doa Untuk Anda yang Sedang Terlilit Hutang

Posted by
Beban hutang seseorang sangat mempengaruhi kondisi psikologi. Semangat beraktivitas bisa terganggu karena kerap dihantui tagihan bulanan. Dalam agama Islam, hutang sudah dibahas secara rinci, hendaknya orang yang memberi pinjaman memberi tenggang waktu pelunasan dan orang yang membebaskan sebagian atau seluruh hutangnya. Dalam hadist shohih telah disebutkan “Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga”. (HR. Ibnu Majah no. 2412) 

Hidup di era modern seperti sekarang, memang penuh tantangan. Gaya hidup kian menggoda, sebenarnya apa yang didapat seseorang telah dicukupkan Alloh rejekinya. Mental ketidakpuasan dan tidak bersyukur menjadi momok dalam diri yang siap menghantui seseorang dan merayu untuk melakukan hutan, sekalipun tidka untuk kebutuhan mendesak hanya sekedar keinginan saja.  Hutang pun kini makin merebak di sekitar kita, mulai dari iming-iming tanpa agunan hingga bunga kecil. Jika seseorang tidak waspada dan tahu dampak buruk dunia akhirat, tentu ini sangat membahayakan diri sendiri dan keluarga. 

Agama Islam telah mengatur semuanya, mengatur tentang hutang piutang beserta adab-adab dan aturan-aturan dalam berhutang. Namun, banyak sekali yang kini mulai meremehkan hutang dengan dalih memiliki gaji tetap. Terlilit hutang adalah hal yang bisa, hutang pertama belum lunas, bertambah hutang kedua, ketiga hingga seterusnya. Hutang hampir menjadi gaya hidup, teori ekonomi orang barat yang mengatakan bahwa hutang adalah daya ungkit. Terkadang ini menjadi pedoman orang kaya yang memiliki banyak perusahaan. 

Rasululloh SAW saja sangat takut berhutang dan khawatir akan menjadi kebiasaan. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:


Jika anda kini tengah terlilit hutang, bacalah doa tersebut setiap saat. dan bertekadlah untuk tidak menambah hutang namun berfikirlah untuk segera melunasinya dengan upaya menambah lumbung penghasilan selain gaji anda. Yakinlah,bahwa usaha anda terlepas dari lilitan hutang akan senantiasa dibantu Alloh SWT dan diberikan kemudahan mendapatkan rejeki yang lebih berkah.



Menakar Blueprint Manajemen Keuangan Keluarga dalam Tindakan Nyata

Posted by with 3 comments
Bu Lisa, pasca menikah mulai menyukai dunia barunya, berbelanja. Bisa dibilang, suaminya memang orang berduit dan membebaskan si istri untuk melakukan apapun dengan uang yang diberikan setiap bulannya. Tanda sayang seorang ayah kepada anaknya pun diberikan“NAK, APA YANG KAMU INGINKAN? AYAH AKAN BELIKAN!!  Bak gayung bersambut, berbagai kesediaan fasilitas begitu mudah didapat. Keluarga bu Lisa menjadi keluarga yang hidup bahagia di surga dunia. Ada uang tinggal gesek, belanja apapun bebas sesuka hati. Si anak juga tidak mau kalah dengan ibunya, tiap hari selalu ada barang yang dibeli meski ia sudah punya, seperti boneka, sepatu, baju dan makanan. Semuanya produk berkelas dan berkualitas. Kalau soal harga, mahal tidak jadi soal.

Kondisi yang serba ada memang sangat memanjakan Bu Lisa. Pola gaya hidup yang serba ‘wah’ini ternyata berdampak pada pola makan keluarga. Bu Lisa yang ogah-ogahan masak membuat si anak malas makan, suami juga maunya makan di rumah makan karena Bu Lisa sejak menikah memang jarang masak.  

Waktu bergulir begitu cepat. Kesenangan itu ternyata hanya bertahan selama 10 tahun. Kondisi terbalik 360 derajat pasca suami bu Lisa meninggal dunia di saat usianya masih terbilang muda, usia 38 tahun. Disinyalir, terkena serangan jantung karena sudah memiliki penyakit komplikasi seperti kolesterol tinggi dan darah tinggi.

Usia si anak kini menginjak 10 tahun, hobinya yang suka minta sesuatu tanpa ada kontrol masih begitu melekat. Jika minta sesuatu tidak segera dibelikan, si anak akan merengek bahkan pernah juga sampai mengamuk. Bu Lisa hanya bisa menatap angan kosong, mengeja masa lalu penuh keindahan. Aura optimisme pun mulai pudar karena uang mendiang suaminya juga tidak akan bertahan lama. Ini kisah nyata, bu Lisa merupakan bagian dari keluarga besar kami dari pihak ayah. Saat suami bu Lisa meninggal, saya pun sempat shock. Bagaimana kehidupan bu Lisa kedepan? Kehidupan yang memanjakan bu Lisa begitu cepat berlalu. Sebagai ibu rumah tangga yang ‘hanya’lulusan SMP, bu Lisa tidak bekerja dan tidak ada bisnis yang dibangun. Selama ini hanya mengandalkan gaji suami tanpa punya aset kecuali dua motor dan rumah yang status kepemilikannya milik mertua. 

Masa depan memang penuh misteri, ketidakpastian bisa saja menghantui siapa pun. Oleh karena itu, seharusnya setiap keluarga harus memahami dan melakukan perencanaan keuangan (financial planning).

Merujuk secara teori, apabila memang berniat melakukan perencanaan keuangan, masing-masing individu harus berusaha memenuhi tujuan finansial melalui pengembangan dan implementasi dari sebuah rencana keuangan yang komprehensif. Lantas bagaimana action plan yang jelas dan praktis bisa dilakukan???? Mungkin cerita kehidupan mbak Heni (teman saya) berikut, bisa menginspirasi anda;


Namanya mbak Heni, wanita muda enerjik itu kini masih single tapi sudah memiliki bisnis dan tabungan rumah. Sejak duduk di bangku kuliah, mbak Heni memang sudah mandiri, uang kiriman orang tua selalu dikelola dengan baik. Uang tersebut, disisihkan untuk tabungan. Sedangkan untuk pengeluaran lainnya ia bekerja serabutan dan berjualan seperti jualan pulsa, baju, mengajar privat ke anak-anak SD dan pernah juga kerja paruh waktu. Intinya, dia selalu berfikir bagaimana bisa menambah penghasilan. Mencetak lumbung-lumbung uang yang bisa dilakukan. Pedoman kuat yang ia tularkan ke adik-adik di perkuliahan adalah hidup hemat dan sederhana.

Selama kuliah, ia sudah memiliki sebuah sepeda motor dari hasil jerih payahnya sendiri. Kebiasaan yang baik dalam mengelola cashflow dia lakukan. Usai kuliah, dia merintis sebuah usaha apotik dari modal tabungan dan menyewa ruko murah di tepi jalan. Selama ia berjualan, ia melakukannya sendiri tanpa karyawan. Setahun usaha berjalan, apotik makin ramai pelanggan. Mbak Heni pun, mulai fokus mengelola keuangan, memiliki karyawan dan menyisihkan laba untuk tabungan rumah. Di sela-sela waktu kosong, mbak Heni juga mengajar di beberapa tempat. Lima tahun berjalan, omset apotik mencapai puluhan juta, sebuah rumah kecil di perumahan dekat lokasi apotik sudah mampu dimiliki meski dilakukan dengan cara mengangsur setiap bulan. Langkah sederhana yang dilakukan mbak Heni sebenarnya bisa diterapkan siapa pun. Mbak heni bisa bijak dan disiplin dalam mengelola arus kas (cashflow). Aliran uang itu mengalir, seperti ini; 


Mendapatkan uang - Menyimpan uang - Mengembangkan- Mengeluarkan secara teratur


Ehm, benar juga ya apa kata mutiara finansial, “Orang kaya adalah yang mau menunda kesenangan sesaat untuk kesenangan masa depan”
Dua cerita yang saya sampaikan diatas, tentang bu Lisa dan Mbak Heni tentunya  sering terjadi di seluruh keluarga lapisan masyarakat. Dan, ternyata tingkat pengetahuan seseorang sangat berpengaruh pada kebijakan mengelola keuangan keluarga.  

5 Rahasia Sukses Mengatur Keuangan Keluarga


Seringkali kita mendengar teori menabung namun faktanya tetap saja terjadi kebocoran sana sini. Semacam ada daya tarik menarik antara keinginan dan kebutuhan. Jika kita lihat contoh dari kehidupan mbak Heni memang membutuhkan tekad dan komitmen untuk bisa konsisten. Harus bisa menahan diri untuk hemat belanja ketika ada banjir diskon, menahan diri untuk tidak menggesek debet meski di tabungan ada uang simpanan seperti yang dilakukan bu Lisa. Sekaligus, menahan diri untuk tidak memiliki credit card begitu halnya dengan utang bank. Ada beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan dalam mengelola keuangan keluarga, antara lain;
1. Menabung minimal 10% diawal bulan

Ketika mendapatkan gaji diawal, bisa menyisihkan 10% untuk tabungan merupakan awal yang baik. Anggap saja uang itu hangus. Atau dimasukkan ke dead account yang telah diblokir untuk beberapa jangka waktu tertentu. Jangan mengingat uang yang ada dalam tabungan ini. 
2. Utamakan membayar cicilan hutang (jika ada) 

Anda wajib membayar cicilan kepada pihak lain, apakah dari bank dan institusi finansial lainnya karena bagaimanapun juga reputasi anda dilihat dari kedisiplinan membayar cicilan tiap bulan. 
3. Alokasikan dana untuk berzakat dan membayar pajak. 

Sebagai muslim, membayar zakat adalah kewajiban dan salah satu bukti syukur atas rezeki yang diterima dari Sang Maha Pemberi. Sebagai warna negara yang baik, membayar pajak pun merupakan kewajiban dan juga sebagai wujud kecintaan kita pada bangsa. 

4. Belajar menjadi investor kecil-kecilan 

Banyak keluarga yang hanya fokus pada pendapatan. Gaji bulanan yang didapat tiap awal bulan dikuras habis untuk pengeluaran. Kita lupa bahwa ada aktivitas investasi yang bisa digunakan sebagai sumber pendapatan keluarga. Dan, bila kita rajin melakukan aktivitas investasi, sebenarnya sudah bisa menutupi pengeluaran bulanan bahkan mendapatkan lebih. Nah, masalahnya???? Gimana kalau gaji bulanan masih kecil. Ya, kita bisa ‘belajar’ investasi kecil-kecilan dari sekarang. Contohnya;
- Investasi emas, biasanya ada program investasi emas dengan cicilan murah. Kalau bisa jangka waktunya jangan terlalu lama karena akan berpengaruh terhadap biaya margin yang tinggi.

- Reksadana, caranya cukup membuka rekening awal sekitar 1 jutaan maka selanjutnya bisa investasi rutin mulai dari 300-ribuan. Anda bisa meng-autodebet tabungan secara rutin tiap bulan. Jadi pelan-pelan anda bisa mengubah perilaku menabung beralih ke reksadana.

Jika anda sudah mulai terlatih dengan investasi kecil-kecilan dan penghasilan anda sudah merangkak naik, anda bisa mengikuti investasi sebuah perusahaan yang menyediakan program pengelolaan kekayaan seperti PT Sun Life. Finansial Indonesia (Sun Life) yang merupakan bagian dari Sun Life Financial, salah satu organisasi keuangan terkemuka di dunia.

Adapun beberapa program proteksi dan investasi yang disediakan PT Sun Life seperti;
Sun FortunerLink,
Brilliance® Fortune,
Brilliance® Sejahtera,
Brilliance® One Protection Plus.
 Informasi lebih lanjut, silahkan klik sini

Kini, investasi sudah menjadi bagian dari gaya hidup untuk mencapai masa depan yang berkualitas. untuk itu sebelum menentukan investasi mana yang tepat, anda memerlukan strategi, perhitungan dan pemilihan produk supaya investasi tersebut dapat memenuhi prioritas tujuan keuangan dan kebutuhan anda.
5. Menciptakan lumbung penghasilan baru

Semakin banyaknya sumber penghasilan tentu memudahkan anda untuk melakukan investasi dan mempersiapkan masa depan dengan baik. Anda sudah mulai memikirkan kebutuhan sekolah anak, harga kebutuhan pokok semakin naik dan kebutuhan ‘gaya hidup’yakng bisa menopang produktivitas. Di era teknologi seperti sekarang, anda bisa mencari usaha sampingan dari bisnis online yang bisa dikerjakan di rumah dan dipantau melalui smartphone seperti membuka toko online, menjadi kontributor website freelance, adsense publisher, affiliate dan masih banyak lagi. Anda bisa membaca postingan saya tentang Cara Menghasilkan Uang dari Internet Melalui Optimasi Media Sosial. Secara offline pun, anda juga bisa menambah penghasilan seperti jadi broker atau makelar produk tertentu. 

Masalah yang selalu muncul dalam keluarga biasanya seputar keuangan, bisa kekurangan uang atau kelebihan. Jika poin 1-4 sudah berjalan sesuai pos masing-masing anda bisa menikmati pengeluaran lainnya seperti belanja, rekreasi, beli baju baru dan lainnya. Mudah, bukan? Mengelola keuangan secara profesioanl tidak harus menunggu kaya dan berpenghasilan besar, justru berlatih sejak dini mulai dari penghasilan kecil akan mengasah kejelian kita supaya tidak terjadi kebocoran. Jika manajemen keuangan keluarga mampu dikelola dengan baik, akan mudah dipraktekkan dalam mengelola keuangan perusahaan atau bisnis yang anda kelola.

Masa depan penuh misteri dan ketidakpastian. Maka, mulai sekarang mari kita persiapkan dengan cara mengelola keuangan dengan bijak untuk masa depan cerah dan bahagia. 


Referensi : www.myfamilyaccounting.wordpress.com


Berikut kami sajikan dalam video "5 Rahasia Sukses Mengatur Keuangan Keluarga"





Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog SUN ANUGERAH CARAKA 2015 




11 Ide Bisnis Rumahan untuk Ibu Rumah Tangga

Posted by with 6 comments
Di era teknologi seperti sekarang, keputusan menjadi ibu rumah tangga dan ingin mandiri dari rumah sangat mungkin dilakukan. Memaksimalkan semua jenis usaha apapun hanya dari rumah bermodalkan jaringan internet. Berikut 11 ide bisnis rumahan yang bisa dikerjakan di rumah sambil menemani anak bermain atau beresin rumah. 




1. Reseller produk orang lain
Bisnis online saat ini tengah booming. Salah satunya menjadi reseller, jika anda tidak siap modal untuk memulai bisnis, anda bisa menjadi reseller terlebih dahulu produk orang lain. Maksimalkan gadget anda, pasang aplikasi sosial media seperti facebook, whatsapp, BB, LINE, Twitter, Instagram dan lainnya. Lakukan promosi dan ambil keuntungan anda dari selisih harga jual. Contoh produknya; baju, tas, hijab, aksesoris, peralatan dapur dan masih banyak lagi 

2. Makanan anak sehat
Kegiatan yang dekat dengan ibu sehari-hari adalah memasak dan menemani anak. Manfaatkan peluang anda, racik resep sehat anda dan cobalah menawarkan ke teman atau tetangga anda. Jika ada yang tertarik segera lakukan inovasi dan pengembangan bisnis. Contoh produknya; bubur sehat, camilan sehat, snack sehat dan lain-lain. Anda bisa mengembangkan ke beberapa jenis makanan atau kue untuk orang dewasa. 


3. Produk hasil jahitan

Apakah anda suka menjahit? Fokuskan pada satu produk saja yang unik dan limited edition. Ciptakan kreativitas yang memberikan manfaat bagi orang lain.  Contoh produknya; Tas imoet sekolah, mukena lucu, sabuk bonceng anak, baju anak lucu dan masih banyak lagi

4. Kerajinan tangan

Aksesoris menjadi bagian dari fashion saat ini. Pelengkap pernak pernik perempuan yang kerap diburu. Mulai dari harga sedang hingga menengah, bisnis aksesoris tidak ada matinya. Tangkap peluang ini, contoh produknya; bros, kalung gelang dari batok kelapa, cincin perak yang unik, baju batik bola, dan blankon.

5. Kosmetik 

Perempuan selalu dekat dengan kosmetik. Perawatan wajah maupun tubuh jadi bagian untuk mempercantik diri. Manfaatkan peluang ini, anda bisa membuka salon kecantikan di rumah atau menjual produk kecantikan dengan cara reseller. 

6. Les privat
Menjadi guru kini tidak harus keluar rumah. Anda bisa membuka kursus privat yang menerima murid dan diajari di rumah. Ehm, menyenangkan bukan? Putra/i anda pun akan ikut belajar dengan murid anda di rumah 

7. Penulis

Menjadi penulis saat ini juga menjanjikan. Mempunyai bakat menulis tidak hanya bisa disalurkan melalui buku namun bisa menjadi seorang freelance atau blogger. Banyak blogger wanita yang kini berkembang dari rumah dan memiliki penghasilan fantastis. Anda bisa bergabung dengan komunitas emak blogger, blogger perempuan, blogger muslimah dan masih banyak lagi

8. Ulang tahun anak

Berbagai pernak pernik ulang tahun bisa anda buat dan dijual. Mulai dari tas souvenir lucu, bingkisan, jasa shooting dan masih banyak lagi. Biasanya pembelian customer selalu dalam jumlah banyak. Laba “faktor kali”ini bisa jadi lumbung rekening anda.

9. Tutor

Anda bisa menjadi tutor spesial bagi mereka yang membutuhkan skill khusus seperti menjadi tutor musik, tutor tari tradisional, tutor akuntasi, tutor bahasa inggris, tutor matematika dan masih banyak lagi. 

10. Jasa Konsultan
Tidak sekedar menjual sebuah produk hasil menjahit. Anda pun bisa merangkap menjadi seorang konsultan. Ketrampilan merancang busana yang lagi tren dan lebih inovatif biasanya menjadi daya tarik tersendiri bagi orang lain. Langkah awal, silahkan rancang baju terbaik untuk putri anak dan promosikan dengan sistem Pre Order, jadi anda hanya membuat ketika ada pemesanan sesuai rancangan yang diminati customer. 

11. Dekorator interior

Suka beres rumah, suka merubah posisi perabotan rumah supaya tidak jenuh. Hm, hobi mendekorassi rumah juga bisa jadi peluang bisnis. Tidak semua orang memiliki kemampuan ini, makanya ini kesempatan besar jika anda memiliki latar belakang sebagai desainer interior. 


Sebenarnya masih banyak lagi peluang bisnis bagi ibu rumah tangga. Yang bisa dikerjakan di rumah dengan hasil fantastis. 11 ide bisnis rumahan diatas bisa anda pilih salah satu sesuai hobi anda. Manfaatkan peluang dan inovasi melalui teknologi. Jadiii, jangan sampai gaptek ya meski kesehariannya di rumah. 



Berikut kami sajikan video 11 Ide Bisnis Rumahan Ibu Rumah Tangga di Era Teknologi Informasi
Selamat menikmati ^^





7 Kiat Memanfaatkan THR Tanpa Khawatir Kenaikan Harga

Posted by with No comments
Memanfaatkan THR perlu dilakukan selama menjelang lebaran dan pasca lebaran. Perencanaan  Tunjangan  Hari Raya (THR)  yang baik akan menuai manfaat dan menekan tingkat komsutif anda selama lebaran.  Berikut  7 Tips yang bisa anda lakukan dalam memanfaatkan THR;



1.       Buatlah Daftar Keinginan dan Kebutuhan

Anda perlu membuat list keinginan dan kebutuhan supaya anda dapat memangkas keinginan yang masih bisa dipenuhi pasca lebaran. Sehingga THR anda dapat dimanfaatkan secara optimal

Rona Bahagia di Wajah Warga Desa Tegalwaru

Posted by


Gambar dari sini

Beberapa tahun lalu tidak ada yang istimewa dari desa Tegalwaru. Sebagian perempuan di sana memilih untuk menikah dini dan banyak anak-anak yang putus sekolah. Para pelaku bisnis seakan mati suri karena terkendala modal dan pemasaran. Bermula tahun 2006, desa ini menjelma menjadi lumbung berbagai produksi pertanian serta wirausaha. Ajaib! Apa yang terjadi dengan desa Tegalwaru?


Spionase Bisnis

Posted by with 4 comments
Beberapa hari yang lalu saya dan suami meeting, pertemuan yang dibuat formal padahal tempatnya di ruang keluarga (sambil lihat tivi juga). Hihi… tak apalah, namanya juga pembisnis pemula yang lagi ngorek keberuntungan di usaha UKM (Usaha Kecil Menengah). Mengapa saya lebih tertarik di jalur ini? karena modal usaha kecil, melibatkan banyak pekerja, bisa mengurangi jumlah pengangguran, meski skala usaha kecil saya berharap suatu saat omsetnya bisa mencapai milyaran. Aamiiiin (pengen banget nih bisa naik haji bareng orang tua)

Postingan lusa kemarin, saya pernah menulis soal ‘sabar’ dalam bisnis. Maksudnya, kalau memang pilih bisnis, jangan keburu akhiri bisnis. Sekecil apapun itu, jalani dulu saja. Biasanya umur bisnis yang bisa dikatakan bagus minimal tiga bulan. Jika dalam tiga bulan tersebut laba sudah kentara, siapin strategi marketing lainnya. Nah, kalau sudah lebih tiga bulan, misalnya setahun. Coba lirik bisnis lain, yang bisa kamu lakukan kemudian terapkan ilmu spionase bisnis.

Future or Present?

Posted by with 3 comments
Kali ini bukan bicara soal grammar, future tense atau present tense. 

Pilih mana mikir future atau present? Keduanya merupakan tipe tipikal manusia menurut pemikiran Philip Zimbardo yang tertulis di bukunya The Secret Power of Time. Manusia yang bertipe future cenderung cemas dan lebih memikirkan kondisi masa depannya. Berbeda dengan manusia yang memiliki tipe present, ia menjalani hari-hari dengan santai tanpa memikirkan masa depan. Ia sudah merasa bahagia dengan apa yang dia peroleh.



Rupiah Lemah, Sektor Riil 'Meratap'

Posted by with 3 comments
Baru kali ini nulis dengan tema yang lumayan berat. Kenapa sih rupiah melemah?Pasar Modal terguncang? Ehm, pertanyaan ini merupakan pucuk dari ‘mau dibawa kemana ekonomi Indonesia’? sebenarnya hampir sama dengan kasus ‘krisis’ pada tahun 2008, yang namanya memakai sistem kapitalis mungkin saja beberapa tahun lagi juga akan mengulang sejarah. Setahu saya, banyak pihak yang memprediksi kondisi ini dikarenakan masalah eksternal yakni kondisi pasar. Gilaaa…kurs tengah Bank Indonesia sudah mencapai Rp. 10.500,- per dollar AS.

Awas, Iming-Iming BEP pada Waralaba

Posted by with 2 comments
YES! Bismillah...Tinggal action.
Saat uang muka untuk booth Cappucino Cam caw WOW udah diberikan. Ada info baru dari Koran, kalau hari ini bakalan ada seminar gratis tentang JARI HITUNG CEPAT INDONESIA (JHCI).  Cara hitung cepat, matematika jadi mudah. Srruuff….ngiler bisnis apa pula?? Apalagi saya nggak bisa matematika pengen bisa ngajarin anak-anak tetangga.

Okey…., kami pun berangkat jam 8 pagi. Anak-anak seperti biasa dititipkan ke eyang. Sampai di hotel Salmaa jam 9, kami dibuat kaget. Ternyata acara sudah mulai daaaaan peserta hanya sepuluh orang. Itu artinya bisnis ini kayaknya akan mekar. Ehhh…tapi tunggu dulu ya kan belum masuk materi. Bisa-bisa ini bohongan??

Nyalakan Terus Semangat Wirausaha-mu

Posted by
Memulai wirausaha yang tersistem, waralaba masih menjadi alternatif  pilihan saya dan suami. Bergabung dengan TDA (Tangan Di Atas) Kediri adalah langkah awal untuk terus menjaga ‘semangat berwirausaha’ meski sebagai PNS, ya bisnis harus punya dong, supaya uang abu-abu bisa ditepis jauh-jauh, ya kan? kalo udah mandiri, PNS ditinggalin..ya gimana lagi saya sebagai istri juga belum punya penghasilan tetap (lho katanya calon womenpreneur??). eit iya ya… 

Minggu 7 April 2013, Suami ikut acara pesta wirausaha TDA di Malang. Dari ceritanya emang acara seru banget, menghadirkan para milyader. Ini nih yang kadang bikin geregetan plus gak sabaran pengen punya penghasilan gede. Padahal banyak factor X yang bisa mempengaruhi keberhasilan.

Raih Masa Depan Berkah Dengan Asuransi Syariah

Posted by
 ‘Nak, Masa depan itu tak pasti!’  
Dibalik ketidakpastian itu, kita harus berani bermimpi, berencana dan berdoa
Begitulah pesan Ayah, saat saya masih duduk dibangku SMP.

Dari tahun ke tahun, kehidupan berjalan begitu dinamis, disertai pesatnya kemajuan teknologi kini telah mempengaruhi tren kebutuhan kehidupan sosial kita sekarang, salah satunya adalah kebutuhan asuransi. Mengapa?

Ikuti ‘gaya’ bisnisku, padukan dengan kreativitasmu!

Posted by
              

            Nggak ada modal –uang- bukan menjadi kendala untuk memulai bisnis, baik secara offline ataupun online. Berikut bisnis yang bisa aku lakukan saat si modal tak kunjung datang. *Ada beberapa yang aku tulis sesuai dengan pengalaman.

TDA Kediri : Aku, satu-satunya peserta wanita

Posted by with 3 comments
               Nekat, mungkin kata ini yang pas buatku saat itu. Jujur, baru sekali gabung di komunitas bisnis skala nasional, aku cukup berbangga dan kadang ragu juga menghantui pikiran. Bagaimana tidak, dari 30 peserta aku satu-satunya wanita. Ciyee….ciyee…ciyee..

Saat Memilih

Posted by
Fajar perlahan-lahan mulai menampakkan diri. Rutinitas harian akan segera dibuka, suami ke kantor dan aku? Bersih-bersih rumah, memasak, mencuci, nonton tivi dan hal lainnya yang biasa dilakukan seorang ibu rumah tangga. Kebetulan karena aku hamil muda, jadi tak banyak yang bisa kulakukan selain beristirahat. Pagi itu, aku harus segera belanja sayur untuk dimasak, terutama sarapan karena pukul 06.30 suami harus berangkat “keliling” mengambil tagihan para nasabah yang kemarin sempat tertunda. 


Pekerjaan suamiku adalah seorang Account Officer di sebuah bank perkreditan rakyat milik swasta. Aku termasuk salah satu orang yang berbahagia ketika suami diterima kerja di sini meski gaji sangat pas-pasan untuk kebutuhan harian. Maklum, tinggal di kota kebutuhan pokok pun tak ada yang murah. 

Mendapat pekerjaan yang layak tentu dambaan semua laki-laki. Terlebih suamiku yang baru saja menikah dan kini aku telah hamil, tentu membutuhkan persiapan finansial yang cukup banyak. Sebelum mendapat pekerjaan ini, suamiku memiliki kegemaran mencari lowongan pekerjaan di koran-koran. Membuat surat lamaran serta mengkoleksi segala macam piagam ataupun penghargaan semasa kuliah. Kemudian, mengirimkan ke berbagai perusahaan swasta tingkat lokal hingga nasional.  
Hujan rintik-rintik mulai turun. Tipis seperti kabut, dan ritmis seperti selendang penari. Angin terasa berdesau lebih keras. Langit semakin kelam. Ini memang sudah malam, tetapi bahkan malam pun seharusnya mengenal langit cerah. Kali ini, tidak. Tak satupun bintang yang tampak. Bulan pun tertutup awan pekat. 

“Mas, aku ingin berwirausaha,” ujarku membuka pembicaraan di saat menyantap makan malam.

“Usaha apa? Gajiku sudah cukup untuk makan sehari-hari, kan?”

“Cukup tapi nggak bisa lebih, Mas,” kataku berkilah.

Suamiku membisu sambil menikmati santapan malam lauk tempe penyet buatanku. Begitulah ia, tak pernah tergerak untuk membahas planning usaha. Pernikahan kami baru berjalan enam bulan, dan masih sedikit karakternya yang bisa kupahami. Setahuku dia hanya mementingkan karier dan pengalaman kerja. Berbeda denganku, yang terkadang semangat berwirausaha terus berapi-api. Tapi aku tak bisa berbuat banyak, karena kondisiku yang memang butuh banyak istirahat. Aku sedang hamil dan kalaupun langsung mengambil karyawan, menggaji pakai apa? Pikirku. 

Seperti halnya suamiku yang selalu berkata...

“Usaha pake modal apa?” 

“Kalau rugi siapa yang nanggung?”

“Aku sibuk ngantor, berangkat pagi pulang sore,”

Tak pernah ada kesimpulan dari pertengkaran demi pertengkaran kami. Diskusi yang kami lakukan di jam makan malam ini tak membuahkan hasil apapun. 

Namun tekadku untuk berwirausaha masih sangat besar. Diam-diam aku mulai mencoba usaha sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil. Aku membuat agar-agar yang kujual tiap pagi di toko-toko terdekat, menjual kerupuk yang bahan mentahnya kubeli dari pasar, juga menjajakan kaos kaki pada beberapa teman dekat.

Hasil penjualanku lumayan, tapi karena kurang maksimal tanpa ada yang membantu, usaha kecil-kecilanku hanya bertahan tak lebih dari dua minggu.

“Mas, bagaimana kalau menitipkan dagangan kerupuk ke warung-warung setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor? Hasilnya pasti lumayan untuk menambah uang belanja,” usulku.

Dengan dingin, suamiku menjawab singkat, “aku sibuk!”

Aku menghela nafas, dan berusaha tetap positive thinking. Jika suamiku tidak ingin membantuku sekarang, aku akan berusaha mengubah mindset-nya tentang wirausaha. Aku mulai bercerita tentang profil orang-orang sukses. Tak jarang kusodorkan buku-buku tentang “Bahagia Dengan Berwirausaha.”

Aku sungguh berharap suamiku memiliki jiwa wirausaha. Karena menurutku, dengan jiwa wirausahalah pekerjaan apapun akan menghasilkan “upah” yang lebih – baik materi maupun non-materi. Bisa dibilang, upah non-materi itu berupa kemampuan lebih untuk bersedekah dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

*** 
Berbagai cara sudah kulalui untuk meminta persetujuan beriwirausaha dari suami, tapi nihil. Aku suntuk. Sejak mahasiswa aku termasuk orang yang gila kegiatan. Keinginan mencari kesibukan dengan berwirausaha tak pernah di”amin”i oleh suami. Sementara aku semakin jenuh, dan pengeluaran kami terus bertambah. Lalu sebuah keputusan kuambil. Aku mencari lowongan kerja sebagai guru. Pikirku, selain bisa menambah penghasilan, mengajar bisa menjadi kegiatan yang mengalihkan kebosananku sebagai ibu rumah tangga biasa.

Entah kabar gembira atau tidak, satu bulan kemudian aku diterima sebagai guru SD di sebuah sekolah swasta. Aku senang dan bersemangat sekali ketika berkenalan dengan banyak teman baru di sekolah, mendapatkan banyak kegiatan, dan bertemu dengan muridku. Tapi, aku juga sedih ketika aku sudah tidak bisa memasak untuk suamiku menjelang berangkat kerja. Aku dan suamiku begitu sibuk, ditambah usia kandunganku yang berumur 2 bulan membuatku tidak boleh terlalu kelelahan. 

Sejak hari itu warung-warung terdekat kami sulap menjadi dapur yang kami kunjungi setiap hari. Tak ada pilihan lain selain makan di sana. Tidak gratis. Gaji bulanan kami harus disisihkan untuk mengisi perut lapar kami, sampai membayar laundry baju setiap ada kegiatan di sekolah. Maklum, sekolah swasta yang menerapkan full day school benar-benar mandiri dalam manajemennya. Tak ayal, rapat-rapat dadakan pun bisa mulai pukul 14.00 sampai dengan 16.00.
Namun semuanya kulalui dengan gembira. Aku begitu mencintai pekerjaanku, karena dari sini aku belajar banyak hal: melatih komunikasi dan menjalin relasi. Apalagi di samping mengajar, aku juga membangun bisnis sambilan dan bisnis MLM. 

Sayangnya dewi fortuna tak kunjung datang. Aku belum memiliki “keyakinan” untuk fokus pada salah satu bisnis. Yang ada selama ini hanya main-main, coba-coba tanpa disertai keseriusan. Di rumah pun aku harus mengerjakan RPP – soal-soal ujian siswa yang dibuat oleh gurunya sendiri. Jadwal yang benar-benar padat dan waktu yang tersita habis untuk bekerja membuat bisnisku tak terurus.


Suara klakson motor SUPRA X suamiku terdengar dari dalam rumah, membuatku bersiap membukakan pintu. Menjelang sore hari, pertigaan jalan sebelum gang rumah kontrakan kecilku sangat ramai. Banyak para karyawan pabrik rokok yang hiruk pikuk turun dari mobil antar jemput. Rata-rata tetangga kami adalah karyawan seperti suamiku. Berangkat pagi, pulang sore. Tak hanya para pria saja yang bekerja. Istri-istri mereka juga bekerja. Mereka sangat sibuk. Bahkan ada juga seorang ibu yang rela menitipkan anaknya ke orang yang dipercaya seperti nenek atau pembantu yang digaji setiap bulan karena tak bisa mendengarkan.

Aku miris mengetahui kenyataan itu, tapi aku memahami kebutuhan hidup yang semakin banyak. Pasti tak akan cukup jika hanya menggantungkan pendapatan dari suami. 

Begitu juga dengan diriku. Sebenarnya aku juga tak ingin tinggal diam di rumah saja. Aku ingin membantu suami mencari penghasilan tambahan. Tapi bukan dengan bekerja, melainkan dengan berwirausaha. Aku bisa menjalankan usahaku di rumah sambil tetap bisa mencuci baju, memasak, dan pekerjaan rumah lainnya. Aku pasti memiliki waktu yang fleksibel. 

Namun, apalah daya kalau belum ada “restu” dari suami. Keinginanku pun tak mungkin terwujud. Apalagi tanpa kerjasama, kemungkinan usahaku hanya bertahan beberapa minggu saja seperti halnya pengalaman yang pernah kulakukan. 

Kusambut suami di depan pintu, mengulas senyum dan mencium punggung tangannya. “Apa pekerjaan hari ini sudah beres, Mas? Haruskah keluar lagi?” tanyaku.

“Ndak, Dek ... Sudah selesai. Tadi para nasabah ada di rumah, jadi tak perlu keluar lagi,” jawab suamiku.

Aku gembira. Aku jadi punya waktu seharian untuk bercerita tentang kegiatanku di kantor dan rumah. Tak setiap hari kami punya quality time untuk sekadar bercerita. Kalau sedang tidak mujur, suamiku harus pulang larut malam karena harus menghadapi nasabah “nakal”. Pernah juga ketika jalan-jalan di luar jam kantor, aku diajak menemani suami ke rumah nasabah. Tapi semua memang harus dijalani dengan sabar, karena bagaimanapun juga mencari uang sangat sulit, harus telaten dalam segala hal baik bekerja maupun berwirausaha. Lalu kusadar, berwirausaha bukan hanya siap untung saja, tapi juga harus siap rugi. 

“Dek, tadi aku survey nasabah, punya usaha sayuran mentah yang transaksi keuangannya pakai komputerisasi. Keren, ya?” cerita suamiku saat menggantungkan seragam yang dipakainya.

“Hei ... sejak kapan suamiku mengajakku bicara tentang usaha?” batinku. 

“Tuh, kan! Itulah inovasi. Usaha kecil-kecilan pun akan menjadi besar asal tekun dan terus berusaha untuk maju. Pokoknya nggak rugilah kalau kita mau mulai, Mas.” 

“Iya ... Iya ... Tapi timing-nya belum tepat, Dek. Kandunganmu semakin besar. Kamu perlu banyak istirahat setelah mengajar. Aku kerja dari pagi hingga sore. Aku tak bisa berbuat banyak. Waktuku habis di jalan dan di kantor,” tukasnya. Lagi-lagi suamiku berkilah dengan bermacam alasan.

“Aku akan mengundurkan diri, Mas,” ujarku berseloroh.

“Baguslah. Aku juga tidak setuju kamu kerja di luar, terlebih dengan usia kandungan yang hampir sembilan bulan itu.”

Aku menghela nafas, membayangkan diriku yang sebentar lagi menjadi pengangguran dan hanya di rumah saja. Tapi aku juga tidak boleh egois. Calon bayi dalam rahimku yang sebentar lagi akan lahir membutuhkan perhatian ekstraku. Aku pun mengalah dan mengundurkan diri tepat dua minggu sebelum HPL. Semua “kenangan” saat bekerja dulu, mendapat gaji, bonus dan lain-lain terbayang di wajah. 

Huft ...

Tak banyak yang bisa kulakukan. Mengawali usaha juga sangat sulit bagiku. Suamiku yang kuminta menitipkan kerupuk ke toko atau warung saja tidak mau. 

“Yang namanya sukses itu mulai dari nol! Nggak langsung kaya dan punya karyawan!” seruku berseloroh. 

Sepertinya aku harus mencari celah dengan gaya komunikasi yang baik supaya suamiku mengamini semua keinginanku, yah, minimal mau diajak kerjasama membantuku.

“Begini, Mas, sudah seminggu ini aku mengambil dagangan berupa brownies cokelat dan ternyata laku sekali. Hanya dititipkan di satu tempat semuanya habis dalam tiga hari, bahkan ada yang sehari langsung habis. Bagaimana kalau itu kita tempatkan di beberapa tempat?” jelasku bersemangat.

“Memang untungnya berapa?” tanyanya tertarik. 

“Nggak perlu modal, Mas. Cukup ambil barang per kotak harga Rp 800, dijual ke warung Rp 900, sedangkan harga jual ke konsumen Rp 1.000. Nah, satu wadah ada 20 potong. Jadi untung kita Rp 2.000 per kotak. Kalau Mas bersedia bawa ke beberapa tempat maka untungnya lebih banyak. Lumayan, kan?” jawabku antusias.

Namun tak ada komentar lanjutan. 

***

Tiga hari suamiku mengikuti pelatihan di Bandung, sedangkan aku di rumah memikirkan wirausaha dan pekerjaan rumah tangga. Iya, hanya bisa memikirkannya saja. Mau usaha apa? Modalnya bagaimana? Bagaimana menjalankannya dengan kondisi seperti ini? 

Aku banyak membaca buku-buku tentang wirausaha, dan menemukan pernyataan dari bagian “Kebanyakan Akademisi Berpikir Pesimis”.

… dosen mengatakan di era globalisasi, persaingan semakin ketat dan sumber daya semakin terbatas. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri, memperbaiki kualitas SDM, bla … bla … bla ...

Kalimat singkat itu mengetuk hatiku. Aku sadar diri. Apa aku dan suamiku termasuk kategori pesimis? Sepertinya, otak kananku sulit diasah untuk lebih kreatif mencari solusi. Maklumlah, aku baru saja menyandang gelar sarjana dan baru memasuki dunia nyata. Seharusnya, tekanan hidup melatihku dan suami untuk bisa menjadi orang yang tangguh dan kesulitan ekonomi mendidik kami untuk berkarya. 

Tapi … ah, sudahlah …

Aku kadang merasa capek sendiri memikirkan wirausaha. Aku lebih suka langsung menjalaninya. Istilah kerennya: just do it! Not just thinking about it. Urusan masalah yang muncul biarlah kupikirkan sambil menjalani usaha. Yang penting ada pemasukan dan pengeluaran yang bisa kuhitung setiap hari.

Bukannya seperti sekarang ini, yang cuma bisa memikirkan jenis usaha dan tak segera beraksi. Kami memang pasangan muda yang masih memiliki idealisme tinggi tentang impian dan kesuksesan. Aku ingin sukses sebagai seorang enterpreneur, sedangkan suamiku ingin sukses dengan jenjang karir yang cepat di perusahaan tempatnya bekerja, entah sebagai direktur atau komisaris. Capek deeeh. Menjelang tidur, kuputar lagu dari komputer usang yang masih setia menemaniku sejak masuk kuliah hingga sekarang. 


Sejak mengikuti pelatihan, suamiku sering bercerita tentang kinerja bank pengkreditan cabang Kota Malang tempatnya bekerja. Sisi finansial maupun SDM mengalami penurunan. Padahal suamiku bekerja bukan semata-mata karena materi tapi juga karena profesionalisme yang harus dijaga secara konsisten. Ternyata, pelatihan di Bandung itu adalah evaluasi dari kinerja seluruh cabang yang ada di Indonesia. 

Suami mulai jenuh, karena manajernya sendiri tidak terlalu serius bekerja. Tiap hari kerjaannya hanya online, tidak pernah kerja lapangan. Hasilnya, si manajer buta tentang kondisi lapangan maupun perkembangan setoran nasabah. 

Suamiku tak tahan dan memutuskan resign sebulan kemudian. Aku yang dimintai suamiku pertimbangan juga bingung. Kami tak memiliki aset apapun. Uang bulanan yang pas-pasan dan modal usaha yang nyaris nol membuatku ragu. Namun, tekad resign sudah tak bisa ditawar lagi. Suami tidak ingin waktunya habis untuk perusahaan yang kembang kempis pemasukannya. 
“Aku akan mencari pekerjaan lain,” ujar suami.

“Bagaimana jika sambil menunggu panggilan kerja, kita nyoba usaha kecil-kecilan?” usulku sembari menghiburnya.

Ada keraguan yang tersirat di wajahnya, namun akhirnya ia menganggukkan kepala. Paling tidak, aku sudah menapakkan langkah awal mengejar impianku. 

Ia setuju, namun aura pesimis menggelayut di raut wajahnya. Aku berusaha memotivasinya. Sebagai Account Officer, ia menyadari kalau banyak dari nasabahnya yang sukses dengan wirausaha. Ketika survey kelayakan nasabah melakukan pinjaman, suamiku juga yang melakukannya. Aku yakin, sebenarnya mindset suamiku untuk menjadi seorang wirausahawan sudah terbentuk. 

Lalu hari itu tiba Hari pengunduran diri suamiku. Tak ada pesangon yang ia dapat karena memang kondisi finansial kantor sedang ruwet. 

Aku berusaha memutar otak untuk membuat dapurku tetap mengepul dengan membuat kue-kue kering dan kerupuk. Kami juga melakoni uji coba pembuatan susu kedelai yang bisa dititipkan ke warung-warung dengan sistem konsinyasi. Di awal penjualan tentu tidak seberuntung dengan produk yang sudah bermerek. 


Tapi kami punya kuncinya: kesabaran dan ketelatenan. Bahkan untuk menghemat, kami harus rela makan dengan lauk tahu, tempe, dan kerupuk. Jelas berbeda sekali dengan ketika suamiku masih bekerja dulu. Aku bisa belanja ayam atau ikan laut sebagai menu yang paling spesial tiap minggunya. 

Dua bulan usaha kami berjalan, dan tiba-tiba suamiku kembali mencari kerja sambilan. Ternyata suamiku tak bisa hidup tanpa pekerjaan kantoran. Keluar dari zona nyaman itu sangat sulit kami lakoni. Terbayang kerja kantoran dengan gaji bulanan, insentif dan bonus mingguan. Aku mengagumi para pengusaha-pengusaha yang telah sukses mendirikan perusahaan. Dengan kreativitas, kesabaran dan ketelatenan, mereka mampu melewati masa-masa sulit di masa-masa awal berwirausaha. Dengan kondisi menjelang persalinan, aku tak mampu memberikan solusi apa-apa karena kebutuhan finansial yang juga sangat membengkak.

“Dek, untuk menambah modal aku ingin pinjam uang ke saudara. Bagaimana menurutmu?” tanya suamiku sepulang kerja. Sudah satu minggu ini ia menjadi sales furniture. 

“Boleh juga!” sahutku kegirangan. Aku terlalu sibuk dengan adonan kue dan tak begitu mempedulikan kalimat-kalimat selanjutnya. Mendengar uang pinjaman itu sudah membuatku kegirangan membayangkan stok bahan kue yang banyak, alat masak yang memadai untuk menunjang penjualan lebih meningkat.

Enam bulan adalah masa-masa memilih bagi kami – sebagai calon pengusaha atau pekerja kantoran yang terjamin kebutuhan hidup setiap bulannya. Uang pinjaman yang harus kami angsur tiap minggu – walaupun sedikit, tetap membuat kami tercekik. Pengeluaran yang carut marut membuat kami kelabakan. Keuangan pribadi dan hasil usaha tak tertata dengan rapi. Akhirnya, laba penjualan tak sesuai dengan harapan. Suami harus memenuhi target penjualan tempat ia bekerja dan usaha pribadi telah tergeser. Hingga detik ini tak ada perkembangan, dan kami belum bisa menggaji karyawan. Ternyata semua teori kesuksesan berwirausaha yang pernah kubaca kadang tidak sesuai dengan kenyataan. 


“Aku akan mengembangkan usaha kita, Dek,” ucap suamiku dengan suara parau. 

“Aku siap mas. Fokus itu sangat penting!” tegasku.

Dari sederet pengalaman wirausaha yang kami bangun, sepertinya kami melewatkan sesuatu, yaitu “guru bisnis”. Iya, sosok calon pengusaha akan selalu ditempa berbagai ujian untuk menjadi tangguh. Butuh tempat untuk sharing dan relasi yang lebih banyak. Calon pengusaha butuh wawasan luas untuk menjadikan produknya lebih inovatif dari tahun ke tahun. 

Akupun memilih mempersiapkan persalinan di rumah ibu mertua dan suami mencari komunitas bisnis, semoga dengan komunitas ini kami menemukan “solusi” untuk selalu konsisten di jalan ini. Tak tergiur lagi oleh zona nyaman, gaji bulanan, insentif dan bonus mingguan. Karena kami yakin, menjadi pengusaha akan selalu bisa mendapatkan “upah” lebih dari itu semua. Kali ini, tak ada lagi keraguan seperti yang sebelumnya! 

“Oh, ya, Mas, bagaimana kalau anak kita nanti diberi nama Zona Entreprise?” usulku riang. 

“Loh, kalau perempuan?” 
“Zenny Entreprise, intinya sama semoga menjadi pengusaha yang profesional.”

Mendengar jawaban polosku, suamiku tertawa menggelengkan kepala. Lambat laun, tercium bau gosong dari pintu dapur. Aku lupa! Ternyata adonan cake jagung pesanan Bu Eky untuk ulang tahun anaknya sudah kumasukkan oven. Dengan tergopoh-gopoh kuberjalan cepat menuju oven. Ini masih awal. Jalan kesuksesanku masihlah sangat panjang. 

* Tulisan ini telah dibukukan dalam buku antologi Bye-bye Office tahun 2012