KETIKA MAS GAGAH PERGI (2016) REVIEW : Cermin Pemuda Harapan Bangsa

Posted by with 6 comments
Usia remaja merupakan titik rawan dari proses pencarian jati diri. Muda tak melulu bicara kebebasan berekspresi, tidak juga hanya bicara soal kembang cinta pada lawan jenis. Saat muda inilah, seharusnya menjadi momen paling tepat membawa perubahan yang lebih baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat sekitar dan bangsa. 

Saat ini, film Indonesia kategori remaja yang menyuguhkan karakter cerdas anak muda sangatlah terbatas. Tema yang diangkat hanya seputar cinta monyet, gaul, romantisme dan mistis. Makin ke sini, sepertinya penonton juga mulai jenuh dan khawatir bagaimana generasi masa depan jika tiap hari dijejali film tidak bermutu.

Keresahan mulai terjawab dengan adanya film layar lebar hasil adaptasi dari sebuah novel populer. Setelah Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta,  Negeri 5 Menara, 5 cm, Ketika Cinta Bertasbih dan awal tahun 2016 ini, telah hadir film Ketika Mas Gagah Pergi yang mengajak anak muda dan keluarga Indonesia berubah ke arah yang lebih baik. Sejak tahun 1997, novellet legendaris karya Helvi Tiana Rosa "Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) sudah ramai diperbincangkan. Menunggu masa penantian lebih dari 20 tahun untuk difilmkan dengan menggandeng sutradara Firmansyah, diproduksi oleh PT Indobroadcast & Aksi Cepat Tanggap (ACT).



Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) bermula dari sebuah cerita pendek ini menceritakan tentang persaudaraan kakak beradik yang begitu akrab. Mas Gagah (Hamas Syahid) dan Adik Gita (Aquino Umar). Sejak kecil mereka selalu bersama, belajar atau bermain. Mas Gagah adalah sosok anak muda yang tampan, cerdas, baik, peduli dan penyayang. Gita selalu mengidolakan mas Gagah, apalagi semenjak kepergian sang Ayah, mas Gagah lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Bagi Gita, menjalani hari-hari tanpa mas Gagah sangat tidak menyenangkan. Ditinggal mas Gagah selama 2 bulan ke Ternate untuk menyelesaikan tugas skripsi di sana, Gita merasa kesepian. Usai kepulangan mas Gagah dari Ternate, Gita merasa ada kejanggalan pada diri mas Gagah. Mas Gagah berubah, tidak seperti dulu. Gita tidak mau menerima perubahan mas Gagah yang begitu drastis.



Di Ternate, Mas Gagah bertemu dengan sosok kyai Gufron yang mengenalkannya pada kemuliaan Islam. Mas Gagah pulang dengan semangat baru menjadi lebih baik. Mas Gagah menerapkan aturan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seiring dengan perubahan itu, banyak ujian yang datang, orang-orang yang dicintainya menghindar tanpa alasan. Termasuk Gita, yang sangat membenci perubahan mas Gagah. Kebaikan yang mas Gagah lakukan seakan tak dihargai.

Bersama teman-teman kampus, Mas Gagah berkontribusi membangun masyarakat dengan mendirikan rumah Cinta, rumah singgah penuh buku   di pinggiran Jakarta. Sosok pemuda keren lain dimunculkan pada sosok Yudi (Masaji Wijayanto) yang ramah, sederhana, peduli. Muda, berkhidmat. Muda peduli tak memandang golongan atau agama tertentu.

Sebagai anak ustazd, Yudi memilih menyampaikan kebenaran (berdakwah) seperti pengamen dari satu bus ke bus yang lain tanpa menerima uang sepeser pun. Yudi kerap membantu orang lain yang tidak ia kenal, kadang di jalan, terminal, tempat keramaian dan  dilakukan secara spontanitas. Ternyata, perjumpaan Gita pada Yudi di bus membawa sepercik makna kehidupan. Gita seperti menemukan cahaya, jawaban atas segala kegalauannya.


Muda identik dengan kesenangan atau huru hara, tidak tampak dalam film ini. Nilai keislaman yang disampaikan membaur dalam norma keseharian. Pemikiran khalayak tentang Islam dari sisi eksklusif atau fanatik terjawab sudah. Bahwa, ajaran dalam Islam yang sesuai Al Qurán dan As Sunnah itu penuh kedamaian dan cinta pada sesama. Adapun ciri khusus seperti; berjilbab, tidak bersalaman dengan lawan jenis, atau berjenggot bukanlah lambang seorang teroris yang kerap mencuat di permukaan. Dalam adegan film, hal tersebut dipaparkan begitu jelas bahwa semata menjadi bukti cinta pada Alloh dan rasulnya.

Karena film ini benar-benar dilakukan gotong royong para fans novel KMGP. Dalam proses pembuatanya melibatkan orang-orang yang memiliki visi sama, tak heran jika naskah skenario hampir sesuai dengan konten dari sumber asli. KMGP berani menawarkan premis cerita bernafaskan islami yang tidak biasa. Sebagai bentuk upaya membangkitkan semangat anak muda untuk fokus pada hal-hal kebaikan. Begitu juga mengajak kaum muda muslim untuk konsisten terhadap aturan syariat Islam. Semua tercermin jelas pada perilaku beberapa tokoh KMGP, Firmansyah sebagai sutradara berhasil mensinergikan semuanya.


Pesan-pesan yang ditulis Helvy Tiana Rosa dalam novelnya nyaris tersampaikan semua dalam film ini. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Dialog simbolik agama, penggalan ayat suci Al qurán juga diselipkan dalam adegan. Citra penampilan "kuno" seorang muslim berhasil dikemas apik dengan gaya modernitas anak muda yang santun. Kepedulian anak muda pada sesama seakan menunjukkan bahwa sejatinya begitulah karakter anak muda Indonesia.

Empat pemain utama dalam film ini terbilang baru menjajaki dunia acting. Hasil selektif melalui audisi ternyata tidak begitu mengecewakan. Meski didukung 30 aktris papan atas, sepertinya film ini kurang begitu "greget"secara totalitas. Ada beberapa adegan yang sangat 'kaku', Misalnya, tidak terlihat ikatan secara emosional antara anak dan mama (Wulan Gurtino). Sepak terjang Wulan dalam dunia acting tentu sudah tidak diragukan lagi namun dalam film ini, Wulan seperti sosok yang sangat asing. Mungkin saja karena memang tidak ada sentuhan fisik, Mas Gagah (Hamas Syahid) kurang begitu menghayati perannya sebagai anak.


Dalam dialog, Mas Gagah dan Yudi tidak ada keraguan menyampaikan landasan agama, mereka tegas dan begitu meyakinkan. Jika biasanya dalam film layar lebar sisi romantisme remaja menjadi bumbu utama. Justru di KMGP, sisi kemanusiaan anak muda menjadi bumbu sedap yang diracik begitu sedap. Terlebih, sisi kemanusiaan pada konflik Palestina yang sampai sekarang masih terjadi. Film ini mengingatkan kita pada jasa Palestina yang telah berkontribusi dalam meraih kemerdekaan.

Titik konflik pada KMGP versi pertama ini kurang begitu tampak seutuhnya karena sekedar konflik keluarga antara kakak adik. Selebihnya, pada KMGP 2 akan banyak pesan kehidupan yang bermanfaat untuk keluarga Indonesia dan anak-anak muda.

Salah satu pesan mas Gagah adalah “Jika kita tidak setuju dengan suatu kebaikan yang belum kita pahami, cobalah untuk bisa menghargainya." 

Film  KMGP merupakan film idealis buah karya Helvi Tiana Rosa yang dikemas realistis dengan dunia anak muda masa kini. Bagi yang belum nonton,  buruan beli tiket di bioskop kesayangan anda.



Ingin tahu seputar KMGP?
Kunjungi >> web FLP: www.flp.or.id dan web KMGP: www.kmgpthemovie.com

6 komentar:

  1. Mas gagaaaah tunggu aku yah, aku mau ke bioskop dulu buat nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahaha....nunggu movie ke 2 yang lanjutannya kakak, sibuk jalan2 terus sih :p

      Hapus
  2. Mas Gagahku.. aku udah nonton juga..hehehe..

    Keren mbak reviewnya...penjelasan pesannya nyampe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih atas kunjungannya, ga sabar nunggu movie ke 2

      Hapus
  3. Saya juga termasuk ketinggalan neh... belum nonton secara langsung. Maka, makasih banyak ya, Mbak, atas resensinya ini :)

    BalasHapus
  4. Ini rame banget di socmed tapi aku jarang banget nonton film

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.