Tepis Gaptek dengan Berani Bertanya

Posted by with 25 comments


Malu bertanya sesat di jalan. Pepatah ini ternyata tidak hanya berlaku pada aktivitas offline seperti kita bertanya alamat seseorang. Dalam dunia online, seringkali kita juga diharuskan untuk bertanya pada seseorang. Apalagi hidup di era teknologi yang serba canggih seperti sekarang. Kalau nggak berani nanya, ya sudah ketinggalan informasi baru. Jadinya, kudet (Kurang update deh). Kalau malu-malu tanya, nggak bakal nemu solusi. Dan, ini pernah terjadi pada beberapa fase kehidupan yang saya jalani. Salah satunya, ketika baru melek dunia internet.

Cerita Perjalananku di dunia Internet

Pada tahun 2012, saya belum memiliki akun facebook. Eits, jangankan akun facebook bikin email saja saya tidak bisa. Waktu kuliah, saya selalu minta tolong ke teman untuk keperluan tugas kuliah. Parah banget, kan? Di saat lagi heboh sana sini tentang akun facebook, saya malu, "kok belum punya akun facebook?" yah meski ibu rumah tangga, setidaknya jangan kalah dong dengan teman lainnya yang sudah eksis di dunia maya, pikirku

Hingga suatu ketika, saya minta tolong ke adek yang baru saja lulus kuliah. Dia anak muda yang sudah familiar dengan dunia internet meski dia hanya baru bisa membuat email, blog, akun facebook dan twitter. Cuma butuh beberapa jam, semua selesai dengan mudah tanpa pusing dan ngedumel.  Hehe...

Sudah memiliki beberapa akun tersebut, saya hanya 'bisa' update status sekedarnya tanpa berupaya mengotak-atik setting, karena serba khawatir jika mendadak terjadi perubahan pada akun facebook. Begitu juga dengan blog, nyaris nggak pernah di update karena nggak bisa posting. Hihi...ini bener-benar-benar parah. Lagi-lagi, saya kembali merepotkan adek, minta diajari cara posting, mengatur template, widget dan lainnya.

Melek blogger, melek manfaat googling 

Melihat timeline FB dari teman-teman baru yang asyik nge-blog dan berseliweran menulis tips-tips blogging,saya makin penasaran. Membaca beberapa komentator dari status facebook, ternyata mereka juga pada bingung, dari situlah saya makin percaya diri bahwa saya tidak sendirian.

Banyak teman-teman pemula yang tidak tahu. Itulah perjumpaan saya dengan komunitas emak blogger untuk pertama kali, saya tidak segan berkenalan dengan mereka. Saya add friend dan saling menyapa melalui message facebook. Berbagai tips menulis, blogging dan cara menghasilkan uang dari internet melalui blog juga disampaikan. Di situlah, saya kembali optimis, semacam ada "cahaya"yang berkilauan di mata. Sebagai ibu rumah tangga, kan cocok banget buat hiburan, mengasah skill, dapat uang daripada ngerumpi atau nonton televisi.

Meski dilakukan secara online, saya merasa punya banyak teman dan saudara baru dari berbagai kota. Meski dilakukan di rumah, didepan laptop dengan bantuan jaringan internet "byar pet", pada waktu memang susah menemukan sinyal karena saya tinggal di desa. Jika tidak ada yang saya ketahui, melalui komunitas inilah saya banyak belajar hal baru, biasanya ada kelas online, bincang online dalam forum atau webinar.

Di sela-sela kesibukan saya bersama anak-anak, saya menyisihkan waktu untuk terus meng-upgrade ilmu, Dari sini pula, saya merasa "dekat"dengan google. Sekarang, jika ada yang tidak saya mengerti, saya langsung nyari di google, yah terkadang memang tidak menemukan jawaban, atau jawaban tidak sesuai harapan, barulah saya tanya ke teman facebook atau twitter.

Kenal dunia internet marketing (Imers) 

Tahun 2014, saya menghadiri sebuah seminar yang diadakan salah satu guru internet marketing di kota Kediri, Jawa Timur. Memiliki basic seorang blogger dan merasa jadi bagian internet junkie, saya kaget bukan kepalang ternyata kita bisa berjualan di internet dengan omset ratusan juta rupiah.

Weiiiii!!!

Selama ini saya "ngumpet" kemana??? user facebook dan blogger abal-abal yang masih setia dengan sebutan newbie. Hihi....

Di sinilah babak baru dimulai, memahami dunia internet marketing (Imers) yang mayoritas dihuni oleh kaum adam. Awalnya saya cuek saja, toh banyak juga emak-emak yang saya jumpai sebelumnya juga mengerti hal-hal berbau html, coding, search engine, SEO dan masih banyak lagi. Namun, karena orientasi tiap orang tenggelam di dunia internet berbeda, ya akhirnya masing-masing mereka memiliki keunikan ilmu yang berbeda pula.

Banyak Komunitas Imers Lebih Didominasi Kaum Adam

Perlahan saya memahami cara kerja toko online, meng-add friend para guru internet marketing yang sering tebar-tebar tips melalui status facebook. Guru internet marketing yang sudah berpenghasilan  ratusan hingga milyar, mereka disebut Mastah. Iya,,, (((( Mastah )))) dan pendatang baru disebut ((((newbie)))

Baiklah, posisi saya sekarang seorang newbie yang masih belajar tentang dunia internet marketing. Ada juga, mastih (guru internet marketing perempuan) yang berpenghasilan banyak duit dari toko online, adsense atau affiliate. Namun, selama perjalanan saya memahami banyak hal, saya lebih terlibat banyak dengan para mastah laki-laki. Hihi....karena di kota saya adanya juga mastah.


Nanya nggak ya? malu ih? Sungkan ah? Ntar dikira cerewet

Masih inget betul, selama 6 bulan pertama, saya pasang muka tebal, nahan malu untuk tanya ini itu melalui message facebook atau japri whatsapp. Ada beberapa dari mereka yang sabar, welcome banget, ada pula yang pelitnya minta ampun bagi ilmu, ada yang bilang saya ini cerewet hingga akhirnya ada yang bilang, saya nih sukanya nanya ini itu tapi nggak pernah praktek. Sama aja!!! Nggak bakal dapet duit!!!

Gpp lah, saya terima "semprotan" mereka.

Dunia internet marketing sangat luas, harus punya mental kuat untuk konsisten dan saya baru menjajaki dunia Imers hanya modal dengkul. Bukan background praktisi komputer atau desainer. Yup, google begitu luas menyajikan banyak ilmu, kepala rasanya mau pecah karena banyaknya ilmu (overload)  apalagi yang membuat diri terus tergoda dengan SS-Screen Shoot earning mereka yang masuk ke rekening mereka.

Sabar!
Sabar!

"Temukan kuncinya," batinku gemuruh, memendam semua rasa galau.  

Pentingnya bertanya,... 


Beberapa mastah emang para om-om ^^

Enam bulan kemudian saya sedikit mengurangi intensites bertanya, lebih banyak praktek. Dan, alhamdulillah sudah sedikit faham lah. Ketika ada hal yang tidak faham, saya diem, dan googline. Nah, uang hasil keuntungan jualan ini kemudian saya jadikan modal untuk membeli domain hosting, ebook, template, atau hal apapun yang menunjang penghasilan naik.

"Beli hosting dimana ya yang bagus?" Ah, kayaknya ini bagus, feeling sendiri
Ada promo kupon salah satu tool untuk mempercepat kerjaan, langsung saya beli.
Berseliweran ebook strategi adsense, saya beli
ih, sepertinya harus stok produk deh, gpp meski modal tinggal sedikit

Tanpa berfikir panjang dan tidak nanya ke beberapa mentor. Saya lakukan semuanya sampai modal benar-benar limited.

Hingga sampailah, pada titik jenuh...
Saya tidak menemukan solusi bahkan nyasar sampai kemana-mana, fokus yang tidak menentu.

Kini, saya menyadari bahwa bertanya apa yang memang tidak faham itu penting, daripada nyasar menghasilkan banyak modal. Asal tahu diri, intensitas bertanya harus diimbangi dengan praktek.

Andai Komunitas Belajar Internet Marketing Memiliki fitur hastag #AskIM seperti #AskBNI 

Hingga detik ini, perjalananku di dunia Imers masih misteri. Ribuan pertanyaan yang membuat saya penasaran harus mengulik jawaban sendiri dengan modal googling. Sesekali, harus memberanikan diri bertanya pada seseorang yang lebih meski kebanyakan orang imers itu laki-laki.

Ah, pasti sangat menyenangkan jika ada komunitas belajar Internet Marketing yang memiliki fasilitas untuk member bertanya seperti Bank Negara Indonesia yang menyediakan twitter @BNI46 dengan hastag #AskBNI.

Apa itu #AskBNI???

#AskBNI merupakan sebuah layanan yang diluncurkan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk berupa twitter @BNI46 dengan hastag. #AskBNI sebagai pusat informasi seputar BNI. Tanpa perlu ribet menjelaskan pertanyaan karena hanya kirim DM dan ketik hastag sesuai kata kunci, masalah akan terjawab.


Era digital seperti sekarang pengguna sosial memang cenderung menyukai hal-hal yang praktis dan cepat.  #AskBNI menjadi solusi digital bagi nasabah perbankan terutama kaum muda yang kesehariannya akrab dengan sosial media. Pemahaman tentang pelayanan BNI semua bisa terjawab dengan menuliskan beberapa keyword yang ingin diketahui.

Kemudahan dari #AskBNI ini sangat banyak, kita tidak perlu lagi repot ke kantor bank untuk menanyakan banyak keluhan, tidak pula menunggu waktu lama seperti kita menelpon CS Perbankan. Nah, berikut langka-langkah teknis untuk menikmati fitur #AskBNI



Bagaimana Cara Daftarnya?

1 >> Follow Twitter @BNI46  
2 >> Berikut ini balasannya : 


3. Lanjutkan dengan pertanyaan sesuai kebutuhan

Kirim DM ke @BNI46:
ketik #AskBNI [spasi] #Keyword

Ketik #AskBNI #Taplus

#KartuHilang
#BukuHilang
#DebitOnline
#Taplus
#TarifATM
#Passport
#BlokirATM

Gampang banget, kan? Nggak perlu lagi malu untuk bertanya, toh tinggal ketak ketik aja melalui smartphone.  Jika hal tersebut menjadi kebiasaan, ketika kita tidak mengerti suatu hal secara refleks ,bertanya itu akan jadi kebutuhan . jadi, jangan malu bertanya ya supaya tidak tersesat dii jalan.


Nggak Malu Nanya, Solusi Bagi Seseorang yang Gagap Teknologi 

Tidak ada salahnya kita mengobati rasa penasaran kita terhadap sesuatu hal dengan bertanya pada orang lain. Tanpa rasa malu untuk bertanya. Perjalanan saya di dunia online sejak tahun 2012 modal gaptek ternyata tidak jadi kendala untuk maju dan mengerti banyak hal. Saya bersyukur bertemu dengan teman-teman di media sosial yang bersedia menjawab "kebingungan"saya.

Gagap teknologi kini tidak lagi jadi momok yang menakutkan. Saya berusaha menepis gaptek dengan berani bertanya. Kalau pun tidak ada jawaban yang memuaskan, tinggal "googling" saja dan berusaha mencoba sendiri, belajar secara otodidak.



KETIKA MAS GAGAH PERGI (2016) REVIEW : Cermin Pemuda Harapan Bangsa

Posted by with 6 comments
Usia remaja merupakan titik rawan dari proses pencarian jati diri. Muda tak melulu bicara kebebasan berekspresi, tidak juga hanya bicara soal kembang cinta pada lawan jenis. Saat muda inilah, seharusnya menjadi momen paling tepat membawa perubahan yang lebih baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat sekitar dan bangsa. 

Saat ini, film Indonesia kategori remaja yang menyuguhkan karakter cerdas anak muda sangatlah terbatas. Tema yang diangkat hanya seputar cinta monyet, gaul, romantisme dan mistis. Makin ke sini, sepertinya penonton juga mulai jenuh dan khawatir bagaimana generasi masa depan jika tiap hari dijejali film tidak bermutu.

Keresahan mulai terjawab dengan adanya film layar lebar hasil adaptasi dari sebuah novel populer. Setelah Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta,  Negeri 5 Menara, 5 cm, Ketika Cinta Bertasbih dan awal tahun 2016 ini, telah hadir film Ketika Mas Gagah Pergi yang mengajak anak muda dan keluarga Indonesia berubah ke arah yang lebih baik. Sejak tahun 1997, novellet legendaris karya Helvi Tiana Rosa "Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) sudah ramai diperbincangkan. Menunggu masa penantian lebih dari 20 tahun untuk difilmkan dengan menggandeng sutradara Firmansyah, diproduksi oleh PT Indobroadcast & Aksi Cepat Tanggap (ACT).



Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) bermula dari sebuah cerita pendek ini menceritakan tentang persaudaraan kakak beradik yang begitu akrab. Mas Gagah (Hamas Syahid) dan Adik Gita (Aquino Umar). Sejak kecil mereka selalu bersama, belajar atau bermain. Mas Gagah adalah sosok anak muda yang tampan, cerdas, baik, peduli dan penyayang. Gita selalu mengidolakan mas Gagah, apalagi semenjak kepergian sang Ayah, mas Gagah lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Bagi Gita, menjalani hari-hari tanpa mas Gagah sangat tidak menyenangkan. Ditinggal mas Gagah selama 2 bulan ke Ternate untuk menyelesaikan tugas skripsi di sana, Gita merasa kesepian. Usai kepulangan mas Gagah dari Ternate, Gita merasa ada kejanggalan pada diri mas Gagah. Mas Gagah berubah, tidak seperti dulu. Gita tidak mau menerima perubahan mas Gagah yang begitu drastis.



Di Ternate, Mas Gagah bertemu dengan sosok kyai Gufron yang mengenalkannya pada kemuliaan Islam. Mas Gagah pulang dengan semangat baru menjadi lebih baik. Mas Gagah menerapkan aturan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seiring dengan perubahan itu, banyak ujian yang datang, orang-orang yang dicintainya menghindar tanpa alasan. Termasuk Gita, yang sangat membenci perubahan mas Gagah. Kebaikan yang mas Gagah lakukan seakan tak dihargai.

Bersama teman-teman kampus, Mas Gagah berkontribusi membangun masyarakat dengan mendirikan rumah Cinta, rumah singgah penuh buku   di pinggiran Jakarta. Sosok pemuda keren lain dimunculkan pada sosok Yudi (Masaji Wijayanto) yang ramah, sederhana, peduli. Muda, berkhidmat. Muda peduli tak memandang golongan atau agama tertentu.

Sebagai anak ustazd, Yudi memilih menyampaikan kebenaran (berdakwah) seperti pengamen dari satu bus ke bus yang lain tanpa menerima uang sepeser pun. Yudi kerap membantu orang lain yang tidak ia kenal, kadang di jalan, terminal, tempat keramaian dan  dilakukan secara spontanitas. Ternyata, perjumpaan Gita pada Yudi di bus membawa sepercik makna kehidupan. Gita seperti menemukan cahaya, jawaban atas segala kegalauannya.


Muda identik dengan kesenangan atau huru hara, tidak tampak dalam film ini. Nilai keislaman yang disampaikan membaur dalam norma keseharian. Pemikiran khalayak tentang Islam dari sisi eksklusif atau fanatik terjawab sudah. Bahwa, ajaran dalam Islam yang sesuai Al Qurán dan As Sunnah itu penuh kedamaian dan cinta pada sesama. Adapun ciri khusus seperti; berjilbab, tidak bersalaman dengan lawan jenis, atau berjenggot bukanlah lambang seorang teroris yang kerap mencuat di permukaan. Dalam adegan film, hal tersebut dipaparkan begitu jelas bahwa semata menjadi bukti cinta pada Alloh dan rasulnya.

Karena film ini benar-benar dilakukan gotong royong para fans novel KMGP. Dalam proses pembuatanya melibatkan orang-orang yang memiliki visi sama, tak heran jika naskah skenario hampir sesuai dengan konten dari sumber asli. KMGP berani menawarkan premis cerita bernafaskan islami yang tidak biasa. Sebagai bentuk upaya membangkitkan semangat anak muda untuk fokus pada hal-hal kebaikan. Begitu juga mengajak kaum muda muslim untuk konsisten terhadap aturan syariat Islam. Semua tercermin jelas pada perilaku beberapa tokoh KMGP, Firmansyah sebagai sutradara berhasil mensinergikan semuanya.


Pesan-pesan yang ditulis Helvy Tiana Rosa dalam novelnya nyaris tersampaikan semua dalam film ini. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Dialog simbolik agama, penggalan ayat suci Al qurán juga diselipkan dalam adegan. Citra penampilan "kuno" seorang muslim berhasil dikemas apik dengan gaya modernitas anak muda yang santun. Kepedulian anak muda pada sesama seakan menunjukkan bahwa sejatinya begitulah karakter anak muda Indonesia.

Empat pemain utama dalam film ini terbilang baru menjajaki dunia acting. Hasil selektif melalui audisi ternyata tidak begitu mengecewakan. Meski didukung 30 aktris papan atas, sepertinya film ini kurang begitu "greget"secara totalitas. Ada beberapa adegan yang sangat 'kaku', Misalnya, tidak terlihat ikatan secara emosional antara anak dan mama (Wulan Gurtino). Sepak terjang Wulan dalam dunia acting tentu sudah tidak diragukan lagi namun dalam film ini, Wulan seperti sosok yang sangat asing. Mungkin saja karena memang tidak ada sentuhan fisik, Mas Gagah (Hamas Syahid) kurang begitu menghayati perannya sebagai anak.


Dalam dialog, Mas Gagah dan Yudi tidak ada keraguan menyampaikan landasan agama, mereka tegas dan begitu meyakinkan. Jika biasanya dalam film layar lebar sisi romantisme remaja menjadi bumbu utama. Justru di KMGP, sisi kemanusiaan anak muda menjadi bumbu sedap yang diracik begitu sedap. Terlebih, sisi kemanusiaan pada konflik Palestina yang sampai sekarang masih terjadi. Film ini mengingatkan kita pada jasa Palestina yang telah berkontribusi dalam meraih kemerdekaan.

Titik konflik pada KMGP versi pertama ini kurang begitu tampak seutuhnya karena sekedar konflik keluarga antara kakak adik. Selebihnya, pada KMGP 2 akan banyak pesan kehidupan yang bermanfaat untuk keluarga Indonesia dan anak-anak muda.

Salah satu pesan mas Gagah adalah “Jika kita tidak setuju dengan suatu kebaikan yang belum kita pahami, cobalah untuk bisa menghargainya." 

Film  KMGP merupakan film idealis buah karya Helvi Tiana Rosa yang dikemas realistis dengan dunia anak muda masa kini. Bagi yang belum nonton,  buruan beli tiket di bioskop kesayangan anda.



Ingin tahu seputar KMGP?
Kunjungi >> web FLP: www.flp.or.id dan web KMGP: www.kmgpthemovie.com