Hati-hati Memberi Kemudahan Fasilitas untuk Anak

Posted by
Judul dalam postingan ini merupakan sepenggal pesan yang disampaikan Abah Ihsan sebagai pembicara Seminar Auladi parenting school yang kemarin saya ikuti. Betapa banyak para orangtua yang mudah memberikan fasilitas kepada anaknya, dengan alasan sederhana. Mereka tidak menginginkan anaknya hidup susah seperti kehidupan orangtua. Namun, faktanya, anak malah tumbuh menjadi anak yang manja dan ‘bermasalah’. 


Sabtu, 12 Desember 2015, Seminar Parenting school skala nasional yang dilaksanakan pertama kali oleh yayasan Bina Insani Kediri bekerjasama dengan Auladi Parenting School membawa pesan penting pada orangtua. Saya evaluasi diri, betapa kriteria saya dan suami masih jauh dari orangtua ‘B-E-T-U-L-A-N’. Karena belum ada bekal yang cukup, kami jadi orangtua K-E-B-E-T-U-L-A-N. 

Yahudi, memberikan pelatihan parenting selama 6 bulan kepada calon orangtua. Umat Katolik juga memiliki program yang sama. Di Malaysia, bisa melangsungkan pernikahan jika sudah memiliki sertifikat pelatihan parenting. Indonesia, bagaimana? Nyaris tidak ada program seperti itu dari pemerintah. Atas latar belakang tersebut, ustad Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari mendirikan Auladi Parenting School yang fokus menjadi sekolah untuk orangtua. Karena orangtua harus meng-upgrade ilmu terus menerus. Menjadi orangtua membutuhkan skill yang baik untuk bisa menakhlukkan anak. 

Banyak buku parenting yang sudah beliau tulis, salahsatunya “Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shalih?”. Pengalaman beliau mengisi di 5 negara dan beberapa perusahaan besar membuktikan bahwa pelatihan ini didesain sangat dinamis sesuai perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Bagaimana kita menjadi orangtua yang bisa mendidik sesuai zaman anak karena sebelum anak terpengaruh dengan teknologi, anak harus dipengaruhi orangtua dengan cara menjadi sahabat anak bukan bos anak. 

Menjadi Sahabat Anak atau BOS Anak? 

Tema dalam seminar parenting kali ini adalah “menjadi sahabat anak atau bos anak”? Dalam menjalani kehidupan sehari-hari ada kalanya orangtua tidak sadar diri bahwa kebersamaan bersama anak ternyata bukan sepenuhnya menjadi sahabat anak. 

Coba saja anda amati, 

Apakah anda menemani anak saat mereka bermain dan belajar secara focus tanpa gadget ditangan?

Apakah anda, wahai ayah, pernah mengajak bersepeda bareng dengan anak?

Apakah anda, wahai bunda, sudah membacakan dongeng tanpa gadget? 

Apakah orangtua, sudah bisa melerai anak ketika bertengkar tanpa teriakan? Tanpa hentakan? Tanpa pukulan atau cubitan?

Apakah anak anda suka bercerita soal pertemanan, pelajaran sekolah atau cerita apapun tentang aktivitasnya sehari-hari?

Yang dimaksud dengan BOS Anak adalah ketika orangtua menganggap anak hanyalah sebagai investasi yang kedepannya anda berharap “return”dari hasil jerih payah anda mendidik ketika kecil. Menurut, abah Ihsan, anak adalah anugerah bukan investasi. Tanpa anak, orangtua bukanlah apa-apa. Tanpa anak, orangtua tidak punya gairah bekerja. Tanpa anak, orangtua juga tidak punya kesempatan untuk belajar dewasa melewati rintangan dalam hidup. 

Dalam sebuah hadist Muslim 4803 Dijelaskan bahwa, "

Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yg akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yg dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? 

' Lalu Abu Hurairah berkata; 'Apabila kalian mau, maka bacalah firman Allah yg berbunyi: '…tetaplah atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.' (QS. Ar Ruum (30): 30). Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Alaa Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, & telah menceritakan kepada kami 'Abd bin Humaid; telah mengabarkan kepada kami 'Abdurrazzaq keduanya dari Ma'mar dari Az Zuhri dgn sanad ini & dia berkata; 'Sebagaimana hewan ternak melahirkan anaknya. -tanpa menyebutkan cacat.- [HR. Muslim No.4803].

 Seringkali, orangtua menuntut banyak hal dari anak seperti; 

1. Anak harus jujur!

2. Anak harus pintar!

3. Anak harus patuh!

4. Anak harus kreatif!

5. Anak harus mandiri!

Coba kita evaluasi, dengan cara yang seperti apa kita bisa membuat anak memenuhi kriteria diatas? Apakah hanya dengan keteladanan?

Teladan saja tidak cukup!!! T.I.D.A.K C.U.K.U.P

Apakah dengan memberikan fasilitas kemudahan? dibelikan gadget dengan alasan anak supaya pintar?

Mmberi kemudahan fasilitas, juga awal dari kehancuran anak. Mereka dilahirkan dengan membawa karakter positif, menyukai tantangan. Jika anda memberi kemudahan pada anak itu artinya mematikan banyak potensi dan kreativitas mereka. 

Orang tua harus memahami skill menakhlukkan anak. Lima tuntutan diatas yang kerap jadi target orangtua untuk mengunggulkan anaknya dimata oranglain tentu akan berakhir dengan miris. Karena anak tidak akan bahagia meski ia sukses. Target besar yang seharusnya jadi tolak ukur adalah menjadikan anak shalih, bermanfaat bagi orang banyak.

Oleh karena itu, membutuhkan komitmen ayah bunda untuk membimbing putra/I nya dengan ilmu,  menanamkan kebiasaan yang baik dan konsisten. Sebelum anak usia 12 tahun, upayakan untuk terus dekat dengan anak. Karena setelah itu, anak akan mencari jati dirinya sendiri. Besar harapan, ketika kedekatan orangtua dengan anak sudah terbangun. Godaan apapun ketika dewasa tidak akan mudah terpengaruh apalagi era teknologi semakin canggih. 

Lantas, apa yang harus dilakukan orangtua?


Sediakan WAKTU 1821

Sesibuk apapun anda bekerja. Pasti memiliki waktu untuk keluarga. Jangan sampai anda membawa pekerjaan ke rumah. Maksimalkan untuk bercengkrama dengan anak tanpa gadget. Manfaatkan kebersamaan anak dengan bercerita, belajar, bermain. Silahkan berkreatifitas dan jadwalkan sesuai kesepakatan anak. 

JADILAH TEMAT CURHAT 

Ketika anak masih kecil terbiasa bercerita tentang aktivitasnya,  ini peluang anda untuk dekat dengan anak. Dengarkan celotehan mereka dengan sabar. Dan, buat diskusi atau obrolan hangat dengan mereka. 

 ####

Ah, masih banyak sebenarnya yang ingin saya ceritakan selain kesimpulan diatas. Tentang….tentang cara penyampaian yang khas gaya abah Ihsan. Apa adanya, sesekali meniru gaya imoet anak-anak kita yang kerap hadir di dekat kita. Celoteh anak seputar pertanyaan ganda yang tiada henti. Polah tingkah anak yang gokil banget dan obrolan hangat suami istri yang membuat saya cekikian karena obrolan mesra itu pernah hadir di rumah kami.

BAITI JANNATI…

Anak-anak adalah anugerah. Di rumah sekarang, mari ayah bunda persiapkan konsep pendidikan beserta SOP (Standar Operasional Prosedur) secara matang dan konsisten. 

Jika ingin tahu seputar auladi parenting school silahkan mampir ke www.auladi.net