Dicari : Pemimpin Muda Berakhlak Mulia

Posted by
"Baca ini, nak!” Laki-laki tua itu menyodorkan sebuah surat kabar yang bertruliskan :
“Rakyat Indonesia perlu keterladanan yang baik,” ujar Yudhoyono dalam pidato pelantikan anggota kabinet Indonesia Bersatu di Istana Negara pada hari kamis 21 Oktober 2004 (Republika 22/10/2006)
Mata Nauval (bukan nama sebenarnya) tertuju pada sebuah kolom yang bertajuk “Presiden Seru Menterinya untuk Jadi Teladan”. Sebelum menuju baris yang dimaksud ayahnya, ia memincingkan kedua kelopak mata. Apa maksud Ayah? Batinnya 

Pak Rizal, ayahnya ingin memancing pendapat Nauval tentang tulisan itu. Meskipun gelar mahasiswa baru ia sandang satu bulan yang lalu, ia ingin menunjukan bahwa sikap kritisnya sudah tertanam dalam jiwa mudanya. Iapun tenggelam dalam baris-baris kata. 
“aku mengerti, yah. Mengapa ayah tidak mau dicalonkan jadi kepala desa, satu tahun yang lalu” angguknya faham

“Meskipun banyak sekali dari berbagai pihak yang mendukung ayah. Tapi, ayah belum siap untuk menjadi kepala desa. Kamu tahu sendiri, kan? Bagaimana administrasi dan manajerial perangkat desa selama ini” jelas Pak Rizal pada Nauval 

Nauval hanya mengerutkan kening, seolah-olah ribuan ton zat kecemasan menggurat kulit-kulitnya. Ia berfikir, lantas sampai kapan kepengurusan yang tidak bertanggung jawab itu menyebar virus keresahan di desa ini? Tapi, pertanyaan itu ia simpan rapi di batok kepalanya. Ia tidak ingin memberi komentar apapun atas alasan ayahnya. 
“Semoga Pak.Bambang bisa jadi suri tauladan bagi masyarakat Indonesia, ya?” Ujar ayahnya sesekali menahan kacamatanya yang hampir jatuh

Perkataan ayahnya terdengar nyaring di telinga Nauval. Sebuah do’a yang teruntai dari mulut rakyat ini menunjukkan adanya titik pengharapan bangsa menuju ranah perbaikan, pikirnya

******


Saya mencoba mendeteksi zat kecemasan yang membanjiri pikiran Nauval tentang lingkup Leadership (Kepemimpinan). Pendapat pak Rizal tentang ketidaksiapan beliau untuk menjadi seorang pemimpin dapat dikategorikan masalah klasik. Memang benar, keteladanan menduduki posisi tertinggi saat menjadi pemimpin. Karena pada dasarnya, pengendalian kekuasaan yang berada dalam organisasi apapun selalu berada di tangan seorang pemimpin. Tak salah, bila saya mengolah sebuah kredo yang menyatakan ‘pemimpin bagaikan cermin’. Bayangan yang berada dikaca itu adalah anggotanya atau rakyatnya. Inilah, yang disebut dengan hukum pantulan. Berkas sinar datang dan pantul berada pada bidang yang sama dengan garis normal permukaan. Dengan kata lain, sudut datang sama dengan sudut pantul. 

Bisa diambil contoh, bila kita berdiri di depan cermin, akan tampak wajah kita dan berbagai benda di sekitar dan belakang kita. Wajah dan benda-benda itu akan tampak di depan kita. Tetapi, tidak demikian. Apa yang kita lihat di cermin adalah bayangan. Menurut model berkas, cermin datar (yaitu, cermin rata) menunjukkan bagaimana bayangan di bentuk oleh cermin. 

Dalam posisi yang demikian, pemimpin seperti cermin maksudnya?. Seorang pemimpin dituntut untuk membentuk bayangan -- adanya hubungan timbal-balik dalam mem-proses. Hal ini senada dengan, Trerry dan Frankin (1982) yang mendefinisikan bahwa kepemimpinan merupakan hubungan seorang (pemimpin) mempengaruhi orang lain untuk mau bekerja sama melaksanakan tugas-tugas yang saling berkaitan guna mencapai tujuan yang diinginkan pemimpin atau kelompok. 

Menurut hemat saya, Nauval dalam cerita di atas sangat menyesali keadaan, ketika ayahnya menolak menjadi kepala desa karena ketidaksiapannya membentuk bayangan warga desa. Hal ini merupakan cambuk bagi Nauval untuk memahami arti sebuah keteladanan. ‘Ketidaksiapan’ bukanlah alasan logis bila sudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Justru, ketidaksiapannya itu akan berangsur-angsur pulih ditengah- tengah menjelajahi suatu kepengurusan.

Empat tahun silam, ketika itu saya masih duduk di kelas dua Aliyah sederajat dengan kelas dua SMA. Masih terekam di benak saya, betapa pentingnya berkecimpung di sebuah organisasi. Namun, pemahaman itu baru saya mengerti ketika saya harus menyesali sebuah tindakan konyol yang saya lakukan yaitu mundur dari pertarungan sebelum mencoba untuk bergelut sampai titik penghabisan. Saat itu, saya bersama teman-teman lainnya yang ditunjuk sebagai kandidat ketua organisasi intra yang berada di sekolah itu tengah mengikuti sebuah training kepemimpinan. 

Sebuah tamparan hebat bagi saya, ketika dijelaskan bahwa kepemimpinan sangat memerlukan unsur keteladanan. Secara tidak langsung, kriteria ‘baik’ dalam wajah pemilihan organisasi waktu itu haruslah menduduki tempat teratas. Namun, dibarengi potensi-potensi yang lainnya. Bahkan, seorang siswa dituntut untuk menjadi sample bagi yang lainnya bukan hanya skill ataupun kecakapan dalam berbicara di depan umum saja. Berkaitan dengan cara berfikir saya yang carut-marut akhirnya saya keluar dari arena orasi kandidat sebelum orasi dimulai.

Bukankah pengalaman ini selaras dengan tindakan pak. Rizal? 

Lambat laun, tindakan konyol inilah sangat saya sesalkan. Karena kesempatan untuk memimpin terbuang sia-sia. Dan, ini untuk yang pertama dan terakhir kali saya menghindar dari ranah pembelajaran untuk menjadi seorang pemimpin. Dan itu jangan sampai terulang lagi untuk yang kedua kalinya. Karena tujuan Tuhan menciptakan manusia tidak lain adalah untuk memimpin. Meskipun, ada kalanya dalam sebuah kepemimpinan itu menyimpan jutaan resiko yang akan hadir. Saya teringat pameo Soe Hok Gie yang sangat gigih berbunyi saya ingat situasi sulit daripada orang-orang idealis (seperti saya??) yang barangkali harus bertempur dua front melawan lingkungannya sendiri dan melawan musuh-musuhnya di luar hidupnya adalah kesepian yang abadi. 

Cerminpun dalam membentuk bayangan tak memilah. Semua benda yang berada di depannya akan dibentuk olehnya. Itulah prinsip yang seharusnya dipakai para pemimpin Indonesia. Beda halnya dengan realitas, kebanyakan mereka berlomba menduduki kursi utama sekedar bermain politik dan mengejar profit dalam jangka pendek. Bukankah hal ini dapat merugikan rakyat? Justru, kerugian inilah bukti dari ketidakmampuan seorang pemimpin dalam membentuk bayangan. Lagi-lagi, keteladanan menjadi prioritas dalam pemilihan pemimpin. Tak pelak, bagi Nauval dan saya sebagai para tunas-tunas bangsa lainnya yang berjiwa muda menjadi harapan bangsa untuk melanjutkan estafet perjuangan demi kesejahteraan rakyat.

Saat ini, Indonesia telah kehilangan daya mudanya. Padahal, jika Indonesia tanpa daya muda berarti Indonesia yang menyangkal jati dirinya. Nyaris tak terbayangkan, bagaimana Indonesia bisa merdeka tanpa dipelopori pergerakan kaum muda. Terbukti dalam Kompas (20/8/2005): Performa Indonesia setelah 60 tahun merdeka dilukiskan secara tragis oleh karikatur yang tua-renta, membungkuk, tuna daya, di bawah impitan krisis dan kanker ganas korupsi. 

Kejiwaan untuk Membentuk Bayangan

Jiwa-jiwa tenang yang terbentuk adalah keberhasilan cermin yang membentuk. Masih terkenang di benak saya. Sjahrir, ia memimpin Pendidikan Nasional Indonesia pada usia 22 tahun. Tan Malaka, Ia telah menjadi pemimpin Partai Komunis pada usia 24 tahun. Ir.Soekarno, ia mendirikan dan memimpin Partai Nasional Indonesia pada usia 26 tahun.. Mohammad Roem, ia telah menjadi ketua Lajnah Tandfiziyah Barisan Penyadar PSII pada usia 29 tahun. 

Mengapa pada usia belia, para founding father telah memegang kendali kepemimpinan politik? Kejarangan orang berpendidikan tinggi di masa itu, yang memahami gramatika gerakan politik modern, menjadi salah satu alasan yang menempatkan mereka dalam posisi terhormat.

Fiedler (1967) mendefinisikan pemimpin dengan pengertian “seseorang yang berada dalam kelompok, sebagai pemberi tugas atau sebagai pengarah dan mengkoordinasikan kegiatan kelompok yang relevan, serta sebagai penanggung jawab utama”. Lebih dari sekedar kriteria usia, kaum muda dianggap lebih mampu merefleksikan sikap-kejiwaan. Baik itu yang sisi intelektualitas ataupun emosional mereka. Meskipun, terkadang sikap idealis itu masih bersarang tapi sikap itu akan hilang perlahan-lahan bila dibarengi manajemen sumber daya manusianya yang menunjang. Secara global dan paling mendasar, sifat-sifat dan ciri dari kepemimpinan yang sukses itu dapat dijelaskan sebagai berikut : 

a. Watak dan kepribadian yang terpuji.
b. Keinginan melayani bawahan.
c. Memahami kondisi lingkungan.
d. Intelegensi yang tinggi
e. Berorientasi kedepan.
f. Sikap terbuka dan lugas.
g. Adil, jujur, benar, ikhlas, tegas, pemurah, alim, merendah dan ramah.

Pemimpin adalah sosok manusia dihormati, ia senantiasa memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan sosok yang memberi perintah. Itulah sebabnya, hukum pantulan masih tetap berlaku dalam memimpin begitu juga dengan rumus kepemimpinan yang mengatakan bahwa : 

E = MC2

Empowerment = Motivation + Capability + Capacity
Pemberdayaan = Motivasi + Kecakapan + Kemampuan
_ Motivasi adalah keinginan untuk menerapkan apa yang sudah kita ketahui.

_ Capability (Kecakapan) adalah keterampilan untuk melakukan sesuatu dengan benar (efisiensi)

_ Capacity (Kemampuan) adalah kesanggupan untuk melakukan hal yang benar (efektif)

Berbagai Pelatihan tentang kepemimpinan mulai menjamur, berbagai metode baik struktur maupun teori organisasi sudah lama dipelajari. Akan tetapi, masih saja nihil. Bahkan, setelah beberapa dekade Indonesia merdeka, ketidakstabilan sirkulasi kepemimpinan mulai terjadi. Lihat saja!!! Kita belum pernah mengalami dan mengerti bagaimana memutar roda kepemimpinan tanpa krisis dan keributan. Karenanya, bisa dimengerti jika, dalam menyelesaikan perkara ini nanti, akan terjadi tarik-menarik yang seru antara berbagai kekuatan strata yang berada di Indonesia. Seperti yang sudah kita alami, kalau hal demikian terjadi, satu, atau semua, kekuatan dari berbagai aspek yang bersaing itu akan mencari "kaki" ke bawah, ke kalangan pemuda. 

Dicari : Pemimpin Muda Berakhlak Mulia

Guna menerapkan Hukum Pantulan pada sebuah cermin, dalam proses pembentukkan bayangan pada rakyat, Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin muda yang memiliki moralitas tinggi sebagai pembentuk bayangan. Sungguh, Indonesia sangat merindukan pemuda-pemuda Indonesia bangkit meniti perubahan bangsa yang telah sekian lama jatuh bangun. Kerinduan Indonesia akan pemimpin yang senantiasa melayani rakyat bisa dikatakan jarang. 

Kini, jiwa-jiwa muda kami berontak melanglangbuana untuk mendapatkan tempat yang layak yakni sebuah wadah untuk menyalurkan inspirasi dan potensi guna merubah kondisi bangsa yang tengah sekarat. Namun, di mana lagi kita dapat menemukan wajah-wajah pemimpin yang menyimpan serat-serat keteladanan? Di Kelas? Organisasi? Desa? Ataukah Pemerintah? Sampai kapan Indonesia yang terkenal dengan kekayaan alamnya miskin moralitas? Albert Einstein mengingatkan “ Kita harus waspada, agar tidak menjadikan intelektual sebagai dewa kita. Ia tentu saja memiliki kekuatan otot, tetapi bukan kepribadian. Ia tidak bisa memimpin, ia hanya bisa melayani”

Ketidakberdayaan seorang pemimpin dalam mengelola tanggung jawab sangat dipengaruhi kadar kepribadian yang ia miliki. Akhir-akhir ini, pelbagai problematika selalu menghantui bangsa. Telah sekian banyak potret kepemimpinan yang selalu gagal karena ketidaksiapan mereka dalam proses pembentukan bayangan. Dengan tulisan ini, saya ingin menyapa bapak dan ibu yang duduk di suatu lembaga kepengurusan. Entah itu, kelurahan, kabupaten ataupun di pemerintahan. Yang saya usung sebagai pahlawan bangsa penjaga gawang kemakmuran rakyat. 

Mari kita berlomba-lomba menjadi cermin yang berkualitas untuk membentuk bayangan yang berkualitas pula. Saya yakin, semua penghuni bangsa tercinta ini sudah bosan atas apa yang telah terjadi. Sungguh, kami sudah capek. Sebenarnya, kelelahan kami telah sampai pada puncak titik jenuh yang paling ujung. Namun, kami membungkam, karena kepalsuan akhlak para pemimpin yang tidak bertanggung jawab itu mengunci rapat-rapat mulut kami. Sehingga, untuk berbicara sepatah dua patahpun kami tak sanggup. Saudara-saudaraku yang masih berjiwa muda! Ketika kita merasa muda, seharusnya rasa tanggung jawab untuk mengelola hasil perjuangan para pahlawan itu masih melekat. Meskipun terkadang, kita masih saja meragukan kemampuan. Tapi, jangan coba-coba menjadi pengecut seperti cerita pak.Rizal !!! Saat ini, Indonesia merindukan pemimpin Muda beraklak mulia yang mampu menjadi cermin berkualitas hingga terbentuk bayangan yang berkualitas pula, karena hukum pantulan masih berlaku dalam ranah kepemimpinan.


Esai Menpora tahun 2006