Waspadai Gangguan Kejiwaan Shopaholic

Posted by
Shopaholic merupakan kebiasaan senang berbelanja dan punya ketergantungan membeli barang yang menurutnya bagus. Bagi kalangan urbanis perkotaan, shopaholic ini lebih rentan terjadi karena dipengaruhi nilai penghasilan dan gaya hidup perkotaan. Tidak hanya kaum hawa tapi juga laki-laki. Namun, untuk laki-laki prosentasenya lebih sedikit terlebih jika sudah berkeluarga karena harus memikirkan nafkah untuk anak dan istri.


Shopaholic, bukanlah istilah ilmiah, tetapi lebih merupakan istilah populer yang dikenalkan sophie kinsella dalam novelnya yang berjudul confenssions of a shopaholic. 

Berasal dari kata shop yang artinya belanja dan aholic yang artinya suatu ketergantungan yang disadari ataupun tidak. Menurut Oxfordo Expans, shopaholic adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibeli tidak selalu ia butuhkan. Berbelanja secara umum timbul dari kepribadian masing-masing individu. dan kepribadian sangat dipengaruhi pengasuhan dan lingkungan. 

Pada literatur ilmiah, lebih sering digunakan istilah compulsive buying, mereka lebih memiliki 'kebutuhan' untuk berbelanja dan lebih fokus kepada kegiatan berbelanja. 

Bahaya Tradisi Shopaholic

Budaya senang belanja ini ada unsur pasang gengsi yang tinggi, ingin dilihat paling rupawan, cantik dan disorot. Tahukah anda, kenapa budaya shopaholic ini tumbuh subur di Indonesia? kita lihat saja di Amerika, seseorang dianggap eksis apabila mempunyai karya atau sesuatu yang fenomenal, sehingga untuk mencapai hal itu mereka berlomba lomba mencapainya. akhirnya, mereka menjadi sosok individualis dan tidak peduli sekitarnya.

Di Indonesia, masyarakatnya agamis. tidak memerlukan pujian dari orang lain. dan memilih dekat dengan tuhan. Namun, seiring perubahan zaman, orang Indonesia modern tidak seperti orang Amerika yang individualis namun di sisi lain tidak terlalu agamis. Mereka yang memiliki budaya shopaholic di keluarganya rentan dengan ujian hidup padahal orang sukses dan sehat mampu mengendalikan diri dan tidak mudah terpengaruh lingkungan.

Apakah shopaholic itu gangguan jiwa?

Shopaholic bisa dikatakan normal jika tidak menganggu orang lain dan tidak melebihi kemampuan finansial. namun yang dikhawatirkan jika kebiasaan tersebut bagian dari bipolar. Orang yang menderita bipolar menjadi sosok yang punya sifat aneh yang sulit dimengerti kawan di dunia sosialnya.  Salah satu gejala orang terkena bipolar yaitu senang berbelanja berlebih, melebihi uangnya.

lingkungan yang tidak aware dan mendukung penyembuhan orang-orang yang seperti itu bisa menyebabkan hal-hal fatal. Penderita shopaholic akan lebih ekstrim, membelanjakan uangnya hiangga habis. jika tidak cukup dia akan depresi. 

Wanita jadi sasaran empuk iklan

Tujuan dari iklan bersifat provokatif dan terkesan berlebih karena memiliki tujuan untuk menarik seseorang mencoba produk, Dan, wanita menjadi sasaran empuk sebuah iklan. wanita menjadi prioritas pasar produsen. bagi kebanyakan wanita, anggota tubuh mulai dari ujung kaki hingga rambut semua penting dan butuh perawatan yang baik. dan penampilan juga menentukan kelas mana ia berada. 

Bahasa yang digunakan dalam beriklan biasanya dipilih bahasa yang bisa menyentuh hati wanita yakni dengan menggunakan kata-kata yang tertata rapi dan bisa menyapa hati wanita. misalnya, katak-kata pujian, misalnya "dengan menggunakan produk ini, anda akan tampil cantik, elegan dan cerdas"

Shopaholic bisa dihentikan, Bentengi Keluarga Anda

Bagi sebagian keluarga, berbelanja merupakan bagian dari hobi, dilakukan secara implusif atau tanpa rencana. keinginan membeli karena tergoda diskon atau kemasan yang menarik. tak jarang, ada perasaan menyesal ketika sudah berfikir rasional di kemudian hari. Nah, apa saja yang dibiasakan supaya anda dan keluarga bebas dari virus shopaholic? Berikut 10 tips yang bisa anda coba

1. Berikan pola asuh terbaik untuk putra/i anda di rumah
 Kehidupan glamor yang sering ditayangkan di televisi bisa menjadi racun bagi keluarga, oleh karena itu jadilah teladan yang baik untuk putra/i anda di rumah.

2. Alokasikan pos anggaran belanja sesuai penghasilan bulanan
Belanja untuk kebutuhan pribadi memang ada porsinya sendiri. pastikan anda memperhatikan kebutuhan pos lain seperti mendahulukan cicilan, kebutuhan dapur, tabungan dan investasi jangka panjang lainnya.

3. Membuat daftar Belanja
Sebelum ke pasar atau mall, siapkan daftar belanja anda. Pastikan anda bisa mengendalikan diri saat menemukan produk yang dibanjiri diskon. pertimbangkan manfaat produk tersebut

5. Belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan
Kebutuhan memang barang yang dalam keseharian untuk survive namun keinginnan hanya emosional sesaat, jadi hati-hati ya...tegaskan dalam diri jika memang hanya keinginan sesaat

6. Membatasi uang tunai yang ada di dompet
Bawa uang tunai secukupnya, atau sesuaikan dengan kebutuhan yang sudah terdaftar

7. Menunda kesenangan dengan berhati-hati dalam penggunaan kartu kredit
kemudahan kartu kredit bisa membuat terlena dan memudahkan utang, hanya dengan menggesek barang yang diinginkan bisa langsung dibawa pulang, nyatanya di akhir bulan kita baru merasakan sesak melihat jumlah tagihan yang numpuk.

8. Menghentikan kebiasaan belanja barang yang tidak jelas dan merugikan
Berlatihlah mulai sekarang, jika produk tidka bermanfaat segera beranjaklah dari tempat penjualan tersebut atau ingat-ingat lagi kebutuhan yang sudah terdaftar dalam belanjaan

9. Alihkan pembelian menjadi sesuatu yang produktif atau tahan lama
kepuasan berbelanja memang bisa kita dapat namun untuk jangka panjang kita tidak mendapat apa-apa. anda bisa mengalihkan uang belanja anda ke pembelian emas yang lebih produktif.

10. Tumbuhkan mental sifat baik seperti kemandirian, daya juang, kedermawanan, rendah hati dan bersyukur

Menjadi diri sendiri jauh lebih baik daripada ikut tren atau teman-teman yang hobi berbelanja. ingat, orang yang sukses dan sehat adalah dia yang mampu mengendalikan diri tanpa mengikuti jejak para shopaholic lainnya. Jadilah, manusia yang bermanfaat bagi orang lain, dengan adanya mental sifat baik anda bisa menyisihkan uang belanja ke sedekah sosial, menyalurkan untuk orang yang membutuhkan.


Referensi : disadur dari majalah Kotak Amal Indonesia, bulan Desember 2014