Menakar Blueprint Manajemen Keuangan Keluarga dalam Tindakan Nyata

Posted by with 3 comments
Bu Lisa, pasca menikah mulai menyukai dunia barunya, berbelanja. Bisa dibilang, suaminya memang orang berduit dan membebaskan si istri untuk melakukan apapun dengan uang yang diberikan setiap bulannya. Tanda sayang seorang ayah kepada anaknya pun diberikan“NAK, APA YANG KAMU INGINKAN? AYAH AKAN BELIKAN!!  Bak gayung bersambut, berbagai kesediaan fasilitas begitu mudah didapat. Keluarga bu Lisa menjadi keluarga yang hidup bahagia di surga dunia. Ada uang tinggal gesek, belanja apapun bebas sesuka hati. Si anak juga tidak mau kalah dengan ibunya, tiap hari selalu ada barang yang dibeli meski ia sudah punya, seperti boneka, sepatu, baju dan makanan. Semuanya produk berkelas dan berkualitas. Kalau soal harga, mahal tidak jadi soal.

Kondisi yang serba ada memang sangat memanjakan Bu Lisa. Pola gaya hidup yang serba ‘wah’ini ternyata berdampak pada pola makan keluarga. Bu Lisa yang ogah-ogahan masak membuat si anak malas makan, suami juga maunya makan di rumah makan karena Bu Lisa sejak menikah memang jarang masak.  

Waktu bergulir begitu cepat. Kesenangan itu ternyata hanya bertahan selama 10 tahun. Kondisi terbalik 360 derajat pasca suami bu Lisa meninggal dunia di saat usianya masih terbilang muda, usia 38 tahun. Disinyalir, terkena serangan jantung karena sudah memiliki penyakit komplikasi seperti kolesterol tinggi dan darah tinggi.

Usia si anak kini menginjak 10 tahun, hobinya yang suka minta sesuatu tanpa ada kontrol masih begitu melekat. Jika minta sesuatu tidak segera dibelikan, si anak akan merengek bahkan pernah juga sampai mengamuk. Bu Lisa hanya bisa menatap angan kosong, mengeja masa lalu penuh keindahan. Aura optimisme pun mulai pudar karena uang mendiang suaminya juga tidak akan bertahan lama. Ini kisah nyata, bu Lisa merupakan bagian dari keluarga besar kami dari pihak ayah. Saat suami bu Lisa meninggal, saya pun sempat shock. Bagaimana kehidupan bu Lisa kedepan? Kehidupan yang memanjakan bu Lisa begitu cepat berlalu. Sebagai ibu rumah tangga yang ‘hanya’lulusan SMP, bu Lisa tidak bekerja dan tidak ada bisnis yang dibangun. Selama ini hanya mengandalkan gaji suami tanpa punya aset kecuali dua motor dan rumah yang status kepemilikannya milik mertua. 

Masa depan memang penuh misteri, ketidakpastian bisa saja menghantui siapa pun. Oleh karena itu, seharusnya setiap keluarga harus memahami dan melakukan perencanaan keuangan (financial planning).

Merujuk secara teori, apabila memang berniat melakukan perencanaan keuangan, masing-masing individu harus berusaha memenuhi tujuan finansial melalui pengembangan dan implementasi dari sebuah rencana keuangan yang komprehensif. Lantas bagaimana action plan yang jelas dan praktis bisa dilakukan???? Mungkin cerita kehidupan mbak Heni (teman saya) berikut, bisa menginspirasi anda;


Namanya mbak Heni, wanita muda enerjik itu kini masih single tapi sudah memiliki bisnis dan tabungan rumah. Sejak duduk di bangku kuliah, mbak Heni memang sudah mandiri, uang kiriman orang tua selalu dikelola dengan baik. Uang tersebut, disisihkan untuk tabungan. Sedangkan untuk pengeluaran lainnya ia bekerja serabutan dan berjualan seperti jualan pulsa, baju, mengajar privat ke anak-anak SD dan pernah juga kerja paruh waktu. Intinya, dia selalu berfikir bagaimana bisa menambah penghasilan. Mencetak lumbung-lumbung uang yang bisa dilakukan. Pedoman kuat yang ia tularkan ke adik-adik di perkuliahan adalah hidup hemat dan sederhana.

Selama kuliah, ia sudah memiliki sebuah sepeda motor dari hasil jerih payahnya sendiri. Kebiasaan yang baik dalam mengelola cashflow dia lakukan. Usai kuliah, dia merintis sebuah usaha apotik dari modal tabungan dan menyewa ruko murah di tepi jalan. Selama ia berjualan, ia melakukannya sendiri tanpa karyawan. Setahun usaha berjalan, apotik makin ramai pelanggan. Mbak Heni pun, mulai fokus mengelola keuangan, memiliki karyawan dan menyisihkan laba untuk tabungan rumah. Di sela-sela waktu kosong, mbak Heni juga mengajar di beberapa tempat. Lima tahun berjalan, omset apotik mencapai puluhan juta, sebuah rumah kecil di perumahan dekat lokasi apotik sudah mampu dimiliki meski dilakukan dengan cara mengangsur setiap bulan. Langkah sederhana yang dilakukan mbak Heni sebenarnya bisa diterapkan siapa pun. Mbak heni bisa bijak dan disiplin dalam mengelola arus kas (cashflow). Aliran uang itu mengalir, seperti ini; 


Mendapatkan uang - Menyimpan uang - Mengembangkan- Mengeluarkan secara teratur


Ehm, benar juga ya apa kata mutiara finansial, “Orang kaya adalah yang mau menunda kesenangan sesaat untuk kesenangan masa depan”
Dua cerita yang saya sampaikan diatas, tentang bu Lisa dan Mbak Heni tentunya  sering terjadi di seluruh keluarga lapisan masyarakat. Dan, ternyata tingkat pengetahuan seseorang sangat berpengaruh pada kebijakan mengelola keuangan keluarga.  

5 Rahasia Sukses Mengatur Keuangan Keluarga


Seringkali kita mendengar teori menabung namun faktanya tetap saja terjadi kebocoran sana sini. Semacam ada daya tarik menarik antara keinginan dan kebutuhan. Jika kita lihat contoh dari kehidupan mbak Heni memang membutuhkan tekad dan komitmen untuk bisa konsisten. Harus bisa menahan diri untuk hemat belanja ketika ada banjir diskon, menahan diri untuk tidak menggesek debet meski di tabungan ada uang simpanan seperti yang dilakukan bu Lisa. Sekaligus, menahan diri untuk tidak memiliki credit card begitu halnya dengan utang bank. Ada beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan dalam mengelola keuangan keluarga, antara lain;
1. Menabung minimal 10% diawal bulan

Ketika mendapatkan gaji diawal, bisa menyisihkan 10% untuk tabungan merupakan awal yang baik. Anggap saja uang itu hangus. Atau dimasukkan ke dead account yang telah diblokir untuk beberapa jangka waktu tertentu. Jangan mengingat uang yang ada dalam tabungan ini. 
2. Utamakan membayar cicilan hutang (jika ada) 

Anda wajib membayar cicilan kepada pihak lain, apakah dari bank dan institusi finansial lainnya karena bagaimanapun juga reputasi anda dilihat dari kedisiplinan membayar cicilan tiap bulan. 
3. Alokasikan dana untuk berzakat dan membayar pajak. 

Sebagai muslim, membayar zakat adalah kewajiban dan salah satu bukti syukur atas rezeki yang diterima dari Sang Maha Pemberi. Sebagai warna negara yang baik, membayar pajak pun merupakan kewajiban dan juga sebagai wujud kecintaan kita pada bangsa. 

4. Belajar menjadi investor kecil-kecilan 

Banyak keluarga yang hanya fokus pada pendapatan. Gaji bulanan yang didapat tiap awal bulan dikuras habis untuk pengeluaran. Kita lupa bahwa ada aktivitas investasi yang bisa digunakan sebagai sumber pendapatan keluarga. Dan, bila kita rajin melakukan aktivitas investasi, sebenarnya sudah bisa menutupi pengeluaran bulanan bahkan mendapatkan lebih. Nah, masalahnya???? Gimana kalau gaji bulanan masih kecil. Ya, kita bisa ‘belajar’ investasi kecil-kecilan dari sekarang. Contohnya;
- Investasi emas, biasanya ada program investasi emas dengan cicilan murah. Kalau bisa jangka waktunya jangan terlalu lama karena akan berpengaruh terhadap biaya margin yang tinggi.

- Reksadana, caranya cukup membuka rekening awal sekitar 1 jutaan maka selanjutnya bisa investasi rutin mulai dari 300-ribuan. Anda bisa meng-autodebet tabungan secara rutin tiap bulan. Jadi pelan-pelan anda bisa mengubah perilaku menabung beralih ke reksadana.

Jika anda sudah mulai terlatih dengan investasi kecil-kecilan dan penghasilan anda sudah merangkak naik, anda bisa mengikuti investasi sebuah perusahaan yang menyediakan program pengelolaan kekayaan seperti PT Sun Life. Finansial Indonesia (Sun Life) yang merupakan bagian dari Sun Life Financial, salah satu organisasi keuangan terkemuka di dunia.

Adapun beberapa program proteksi dan investasi yang disediakan PT Sun Life seperti;
Sun FortunerLink,
Brilliance® Fortune,
Brilliance® Sejahtera,
Brilliance® One Protection Plus.
 Informasi lebih lanjut, silahkan klik sini

Kini, investasi sudah menjadi bagian dari gaya hidup untuk mencapai masa depan yang berkualitas. untuk itu sebelum menentukan investasi mana yang tepat, anda memerlukan strategi, perhitungan dan pemilihan produk supaya investasi tersebut dapat memenuhi prioritas tujuan keuangan dan kebutuhan anda.
5. Menciptakan lumbung penghasilan baru

Semakin banyaknya sumber penghasilan tentu memudahkan anda untuk melakukan investasi dan mempersiapkan masa depan dengan baik. Anda sudah mulai memikirkan kebutuhan sekolah anak, harga kebutuhan pokok semakin naik dan kebutuhan ‘gaya hidup’yakng bisa menopang produktivitas. Di era teknologi seperti sekarang, anda bisa mencari usaha sampingan dari bisnis online yang bisa dikerjakan di rumah dan dipantau melalui smartphone seperti membuka toko online, menjadi kontributor website freelance, adsense publisher, affiliate dan masih banyak lagi. Anda bisa membaca postingan saya tentang Cara Menghasilkan Uang dari Internet Melalui Optimasi Media Sosial. Secara offline pun, anda juga bisa menambah penghasilan seperti jadi broker atau makelar produk tertentu. 

Masalah yang selalu muncul dalam keluarga biasanya seputar keuangan, bisa kekurangan uang atau kelebihan. Jika poin 1-4 sudah berjalan sesuai pos masing-masing anda bisa menikmati pengeluaran lainnya seperti belanja, rekreasi, beli baju baru dan lainnya. Mudah, bukan? Mengelola keuangan secara profesioanl tidak harus menunggu kaya dan berpenghasilan besar, justru berlatih sejak dini mulai dari penghasilan kecil akan mengasah kejelian kita supaya tidak terjadi kebocoran. Jika manajemen keuangan keluarga mampu dikelola dengan baik, akan mudah dipraktekkan dalam mengelola keuangan perusahaan atau bisnis yang anda kelola.

Masa depan penuh misteri dan ketidakpastian. Maka, mulai sekarang mari kita persiapkan dengan cara mengelola keuangan dengan bijak untuk masa depan cerah dan bahagia. 


Referensi : www.myfamilyaccounting.wordpress.com


Berikut kami sajikan dalam video "5 Rahasia Sukses Mengatur Keuangan Keluarga"





Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog SUN ANUGERAH CARAKA 2015 




3 komentar:

  1. Iya setuju sekali, sedari dini kita harus pandai mengelola uang ya,,
    Bu lisa mirip sekali ceritanya dengan kisah saudara saya, suaminya meninggal di usia muda dan saudara saya sama sekali tidak punya tabungan untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya..

    BalasHapus
  2. Mau usaha kuliner kamu makin cepat dikenal? Coba deh kamu gunakan packaging makanan Greenpack. Yakni packaging makanan yang terbuat dari kertas foodgrade aman untuk makanan serta ramah terhadap lingkungan. Lebih lengkap tentang Greenpack dapat Anda temukan di sini http://www.greenpack.co.id/

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.