Si Pengobar Spirit itu Telah Tiada

Posted by
Mudrika Ilma


Rabu, 13 Mei 2014 kau telah berpulang. Aku ngerti kabar itu di hari Kamis. Baca status berseliweran bela sungkawa atas kepergianmu. Aku masih belum percaya, Mud. Apa berita ini beneran? Aku pun menemukan kronologi kejadian detik-detik kepergianmu. Allah lebih menyayangimu, Mud. Allah tidak ingin kau merasakan sakit yang bisa saja kambuh di lain waktu.

Di sini, kucoba memutar rekaman jejak pertemuan kita, Mud. Betapa bahagianya aku bisa berkawan dekat denganmu. Betapa Sedihnya, saat kau pergi terlebih dulu selama-lamanya sebelum kita bisa jalan bareng ke Luar Negeri (seperti mimpi lama kita saat kuliah)

Siti Mudrika Ilma, nama yang baru kutemukan di asrama dan kelas BAHASA ARAB di tahun 2005, tepatnya di kampus UIN Malang. Kamu itu orangnya cubby banget ya, bawaanmu yang selalu ceria, pipi tembem dan gak gampang marah. Hihi…*aku kangeeeen, mata ini udah lebab kayak ditonjok, seharian nangis usai denger kabar kepergianmu*

Mud panggilan unik yang sengaja diberikan untukmu karena Imoet alias Cimud. Meski ada yang manggil Ika atau Mudrik. Aku lebih suka Cimud. Lebih akrab aja. Sekali-dua kali ketemu, kita ngerasa cocok, Mud. Kita sama-sama punya semangat belajar, rasa penasaran kita berada di level yang sama, kita punya spirit menapaki tangga untuk meraih mimpi.

English Club, di sinilah kita mulai. Atas inisiatifmu dan kawan-kawan. Kita bikin club untuk belajar bahasa Inggris. Untuk menunjang kemampuan bahasa Inggris kita. aku, kamu, Nanang, Dhuroh, Cak Wahid, Cak Rozi berada dalam lingkaran ini. kita sering debat, sharing dengan bahasa inggris. Teman sekelas kita pada ngiri liatin kita saat kita kumpul di saat jam kosong, saat kita kumpul mpe malem usai intensif Bahasa Arab. Ngirriiii….liat kita pinter cas cis cus (meski aku ga pinter2 amat).hihihi….asal semangat.

Tinta Langit, dari lingkaran sastra ini pula kita merajut impian menjadi penulis. Menorehkan keabadian lewat tulisan, mencicipi karya sastra bersama Zizi yang udah ‘tenar’ kala itu. bersamamu aku selalu ceria, Mud. Meski kita ga punya computer atau laptop kita bareng nge-kopi di rental yang sama. Duduk di computer yang berdekatan. Kita berkompetisi jika ada lomba nulis. Masih inget ga, Mud? Aku menang lomba nulis di UB, aku dapat piala dan uang, terus saat aku pulang aku diarak kayak menang lomba event gede ajah!

Aku makin PeDe bersamamu. Kamu ga pernah menjatuhkan kawan, kau terus memberikan spirit yang tak pernah henti baik prestasi akademik atau non akademik.

Setahun perjalanan suka dan duka bersamamu ternyata harus terpisah oleh keegoisanku semata. Karena aku pindah jurusan ke manajamen.

Aku tau, mungkin kamu kecewa.. tapi entahlah, saat itu keputusan udah bulat karena pikiran sempitku dulu. Aku menyerah dengan keadaan, merasa tak mampu membagi waktu untuk urusan belajar dan menjadi seorang aktivis (hihihi…..ngopeni anak jalanan). Kalau bahasa inggris, aku harus belajar lebih serius, kalau manajemen sambil lalu pasti bisa karena hubunganku saat itu juga urusan birokrat dan komunikasi. Ehm, aslinya sih aku masih cinta sama English Club. Cinta Tinta Langit.

Di jurusan yang baru, aku merasa garing. Teman yang disebut akhwat ternyata nggak ‘seperti’ dirimu. Mereka pada pelit bin jaim. Aaaarrrgh….sudahlah! aku lebih suka dengan kawan lama, kawan yang dekaaat saat pandangan pertama.

Kita berpisah sementara waktu , Mud dan lupa mengirim kabar. Sibuk dengan urusan masing-masing.

Tahun 2008, aku menikah. Guaya sih…menikah belum lulus kuliah. Yeeeaaah, nggak tahu juga kenapa takdirku begitu. Jalani ajah toh sekarang udah beranak dua dan sukses jadi emak rumahan. Saat menikah, kau yang hadir sebelum pernikahan. Kawan baru tidak ada yang hadir. Bener, Mud. Aku ngga habis pikir mereka yang katanya sering membawa dalil ‘mencintai saudaranya karena Allah’ tapi ngga segesit dirimu. Kau jarang bertuah tapi kau selalu memberikan support dengan gayamu yang kocak dan ceria.

Mungkin kau cemas, gimana masa depanku nanti kalau menikah di saat suami belum mapan. Tapiii….selang setahun usai kau mendengar kabar suamiku ketrima PNS, kau terlihat legaaa. Dua tahun yang lalu ya kita ketemuan di rumah Banyuwangi. Aku udah bawa si sulung, kau masih menikmati masa single-mu. Menikmati masa mudamu dengan jam terbang yang bagiku sangat melelahkan., atau, jangan-jangan kau sampai lupa dengan kesehatanmu? Apa kau mulai diet, Mud? Seiring badanmu makin hari makin melar. Waktu kita jalan bareng, dulu nggak seperti itu lho?

Maret 2014, saat Kelud bergejolak. Kau mengirim kabar akan melangsungkan pernikahan. Aku udah nge-list agenda akan datang meski jauh ke Banyuwangi. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain. Aku gabung dengan Tim Healing untuk Kelud. Selama beberapa minggu aku lupa kalau kau sudah menikah. Insya Allah, lebaran aku akan kasih kado buatmu, pikirku.

Mei 2014, kematian adalah rahasia Allah. baru dua bulan melepaskan masa lajang. Tanpa ada firasat apapun, kau berpulang tanpa pamit. Janji dan mimpi-mimpi kita akan jadi kenangan semu. Tapi inilah dunia, semuanya semu.

Mud, sungguh aku bahagia bisa kenal dengan kawan yang bawaannya ceria dan happy, senyummu pernah mengukir sejarah dalam hidupku yang tidak akan pernah aku lupa. Semoga kita bisa berkumpul di akhirat nanti bersama orang-orang shalih. Love you, Mud. Aku akan selalu merindukanmu. Lebaran nanti, aku akan berkunjung di ‘rumah baru’ mu Insya Allah.



Kediri, 15 Mei 2014