Rona Bahagia di Wajah Warga Desa Tegalwaru

Posted by


Gambar dari sini

Beberapa tahun lalu tidak ada yang istimewa dari desa Tegalwaru. Sebagian perempuan di sana memilih untuk menikah dini dan banyak anak-anak yang putus sekolah. Para pelaku bisnis seakan mati suri karena terkendala modal dan pemasaran. Bermula tahun 2006, desa ini menjelma menjadi lumbung berbagai produksi pertanian serta wirausaha. Ajaib! Apa yang terjadi dengan desa Tegalwaru?



Tak henti-hentinya saya terkagum melihat geliat Tegalwaru saat ini. Ingin rasanya bisa berkunjung ke Tegalwaru menaiki kereta kelinci keliling kampung dengan jalan naik turun. Membayangkan betapa gembiranya kedua kurcil saya, si Zam dan si Nadia menikmati nuansa alam desa yang begitu kental sekaligus menanamkan benih jiwa entrepreneurship. Mengajak para ABG dari desa saya study tour ke Tegalwaru, mengunjungi produk rumahan seperti kerajinan tangan, peternakan, hingga produk tanaman herbal di desa dekat kaki Gunung salak itu. Belum lagi acara outbound yang dikemas pembekalan jiwa social entrepreneur. Pasti ABG dari desa saya sangat antusias.

Saat saya surfing di internet, mencari tahu Tegalwaru. Ada hal yang lebih menakjubkan lagi, Saban bulan, total omset yang diraih para pelaku bisnis UKM di Tegalwaru mencapai Rp 2 Miliar. Woooow, fantastis ya?

Di balik kesuksesan Tegalwaru, ada seseorang yang menggagas ide-ide cermelang untuk memperdayakan warga melalui Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (KWBT), dia adalah Tatiek Kancaniati. Ia layak ditasbihkan sebagai salah satu sosok social entrepreneur


Titiek Kancaniati

Berdasarkan informasi dari majalah, ia mengatakan bahwa desa manapun bisa ‘berdaya’ seperti Tegalwaru, sepanjang ada kemauan dan semangat untuk berubah. Rahasianya, selalu mengasah jiwa entrepreneur secara pribadi dulu kemudian membuka usaha setapak demi setapak ke tangga kesuksesan merangkul warga desa sekitar. Hm, semudah itukah? Apakah mudah ‘mengajak’ warga desa yang kadang alot untuk diajak maju? Bagaimana dengan resikonya? Terlebih warga desa sulit menerima hal baru?

Rendahnya pengetahuan warga desa menjadi salah satu kendala mengapa UKM di desa tidak bisa berjalan cepat, mereka lebih memilih meninggalkan desa. Di desa saya saja misalnya, banyak tetangga yang pergi merantau ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk mengais rejeki meski sebenarnya mereka termasuk orang-orang yang terampil. Tahun 90-an, di desa Kedungsari Tarokan Kediri, tempat saya tinggal dinobatkan sebagai desa gerabah yang sudah dikenal banyak daerah di pulau Jawa. Tapi kini, pengrajin gerabah banyak yang gulung tikar karena anjloknya harga jual dan pemasaran yang sulit.

Saat ini, konsep alternatif untuk memulihkan ekonomi mulai digencarkan, seperti pemberdayaan ekonomi mikro (UKM), pengembangan sumber energi alternatif, penerapan konsep ekonomi kreatif (creative economy) sampai entrepreneurship atau kewirausahaan. Titiek Kancaniati asal Tegalwaru yang kembali pulang kampung berhasil merealisasikan sebuah konsep ekonomi kreatif yang disajikan dengan sangat unik yaitu Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (KWBT).



Sebar benih social entrepreneurship

Memiliki pengalaman dalam kegiatan sosial selama 5 tahun, membuat saya makin faham bahwa sosial tak melulu bicara soal keajaiban berbagi. Sejenak, saya ingin bercerita tentang kegiatan sosial saya.

Tahun 2006, saya mengajak teman-teman kampus yang concern di kegiatan sosial, mendirikan sebuah lembaga pemberdayaan anak jalanan yang bernama Griya Baca. Selama 5 tahun kepengurusan, kami hanya melakukan pendampingan ‘ala kadarnya’. Misalnya, mengajar privat untuk anak jalanan, mengadakan pengajian dan melakukan baksos (bagi sembako gratis). Saat itu, tidak terbesit di benak untuk melakukan aksi giving melalui bisnis. Mungkin karena pengetahuan saya yang minim dan kendala terbaginya waktu kuliah.

Saya masih ingat bagaimana rasanya menenteng proposal kegiatan GRIYA BACA ke dinas sosial setempat, hm…bangga! Selain menjadi tangan kanan dinas sosial, saya jadi banyak kenalan, kerap diliput oleh media lokal dan disanjung banyak dosen. Hehe…

Kini, saya sangat menyesal, kenapa saya baru menyadari betapa pentingnya pemberdayaan ekonomi. Dulu, tidak ada perputaran uang, kami lebih suka ‘mengemis’ ke donator dan pemerintah. Meski sesekali pernah ada pelatihan wirausaha, ibu-ibu anak jalanan dilatih mengolah kedelai menjadi tempe. Mungkin karena kurang professional dalam mengelola, kegiatan tersebut jalan di tempat, hanya berjalan satu bulan. Mereka lebih senang mengamen daripada berjualan. Nasib Griya Baca saat ini pun amburadul sejak pergantian pengurus, visi kemanusiaan yang tidak diimbangi dengan inovasi bisnis ternyata tidak bisa awet hitungan puluhan tahun.

Dalam hal ini, saya menyadari bagaimana masalah sosial dapat berkesinambungan dan berdampak besar jika dikelola layaknya bisnis. Kita bisa menyebutnya, social entrepreneurship seperti duel inovasi Bill Gates dan kemurahan hati Bunda Teresa. Ada jiwa kewirausahaan dan jiwa sosial. Tidak akan ada lagi hubungan dengan pemerintah soal pendanaan, yang ada hanyalah terwujudnya kemandirian masyararakat, semisal Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (KWBT). Saatnya menebar benih social entrepreneur di berbagai pelosok daerah.

Tanam kebaikan petik kesuksesan

Mari menilik kembali geliat Tegalwaru.

Dahulu, menanamkan konsep KWBT kepada warga tegalwaru bukan persoalan gampang. Namun, tekad Tatiek untuk merubah desanya menjadi lebih baik sangatlah kuat. Ia punya bekal entrepreneurship dipersiapkan sejak kuliah untuk melakukan aksi giving sebesar-besarnya melalui bisnis. Ia yakin, jika pemberdayaan ekonomi di desanya diberdayakan akan ada perputaran uang yang dihasilkan dan membuat masyarakat lebih mandiri.

Awal keberanian Tatiek memberikan pelatihan ketrampilan seperti daur ulang kertas, mute akril, sulam pita, pernak pernik terigu dan lainnya ternyata disambut antusias warga Tegalwaru. Pelan tapi pasti, pelatihan serupa pun akhirnya dilakukan tiap bulan. Impiannya membangun desa menyingkirkan ‘kerikil’ penghalang misi misalnya fitnah dari sebagian warga yang beranggapan bahwa Tatiek memanfaatkan program untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.

Secara perlahan, Tatiek terus melibatkan mereka dalam setiap kegiatan sehingga masyarakat sangat terbuka. Antara lain, tukang ojek membantu pasang banner, hansip desa membantu memarkirkan mobil pungunjung dan pemilik warung nasu membantu menyiapkan makan siang. Selain terlibatnya warga, dukungan juga datang dari aparat pemerintah, mulai dari lurah sampai camat.

Tanpa memprioritaskan laba, Tatiek terus berupaya memperdayakan masyarakat Tegalwaru hingga promosi KWBT benar-benar digencarkan. Mulai dari gethuk tular, membuat pamflet sederhana, memiliki akun di facebook dan web KBWT.

Butuh waktu satu tahun, tangan dingin Titek merubah wajah tegalwaru menuai sukses. Sebagai pengelola, ia mendapat keuntungan dari event, para UKM mendapat fee (tiket) dari setiap pengunjung. Adapun transaksi hasil penjualan produk penuh milik UKM. Setiap UKM mendapat perolehan penjualan minimal Rp 700 ribu hingga 2 juta. Hm….asyik kan? warga lebih berdaya….


Our business is making Social Value
(Yuswohadi—Mitra Pengelola Inventure)



Agar social entrepreneur kokoh berkembang

Untuk mengatasi masalah sosial di Indonesia, dibutuhkan banyak program kewirausahaan sosial. Para pelaku bisnis diharapkan kepeduliaannya untuk aktif di bidang ini karena tidak bisa semata-mata mengandalkan pemerintah. Dan, para pebisnis punya entry point yang lebih bagus dibanding entitas lain. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi pelaku bisnis yang berminat di bidang social entrepreneur, antara lain;

Pertama; pelaku bisnis hendaknya menyesuaikan dengan latar belakang, kompetensi dan minatnya. Misal, dimulai dari lingkup kegiatan pengelolaan sampah, teknologi tepat guna, lingkungan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan hingga pendidikan.

Kedua; Pelaku bisnis sebaiknya mengetahui kebutuhan lingkungan setempat, titik masalah masyarakat (yang menjadi targetnya) tidak mengandalkan pikirannya sendiri atau merasa tahu. Kita bisa ambil contoh Tegalwaru, Tatiek sebagai pemerhati sosial melakukan pengamatan terlebih dahulu, bersandar dari hasil studi Social entrepreneur Leader dan pemetaan potensi sosial ekonomi, tegalwaru memiliki potensi ekonomi yang cukup menarik. Masyarakatnya cekatan hingga mampu menciptakan produk unggulan yang beragam. Hanya saja terkendala modal dan pemasaran. Melalui KWBT ini, Tatiek memberikan jasa training usaha berbasis home industry sekaligus menjadi sarana marketing kreatif dalam menawarkan sistem keagenan serta pemasaran produk lokal.

Ketiga; Social entrepreneur bukan sekedar menciptakan laba tetapi bagaimana mengajak orang memberikan kontribusi pada perbaikan kehidupan masyarakat. Jadi, lebih hati-hati karena harus dijaga perimbangannya yakni tujuan finansia dan non finansial. Profit dan benefit. Dengan adanya profit program kewirausaahaan akan berkelanjutan. Kalau hanya sosial, kecenderungannya tidak berkelanjutan (mungkin bisa belajar dari cerita saya saat mengelola GRIYA BACA-Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan).

Keempat; Program social entrepreneur harus dikemas dengan program yang mengikuti perkembangan zaman

Kelima; Dalam hal pengemasan dan sosialisasi. Lebih bagus, menggaet tokoh terkenal di lingkungan masyarakat tersebut. Biasanya akan punya dampak pada orang yang ingin mengikuti atau meniru. Jadi butuh motivator, pattern, model sekaligus vendor dari kegiatan social entrepreneurship.

Keenam; Supaya terhindari dari konflik agar program berjalan stabil, perlu membuat standard operating procedure (SOP) sebagai aturan main di antara para pemangku kepentingan. Butuh orang yang bertanggung jawab sebagai bendahara. Sekaligus, melakukan pembukuan.

Rhenald Kasali, pengelola rumah perubahan mewanti wanti para penggiat program social entrepreneurship bahwa bisnis sosial terkadang lebih indah di atas kertas daripada realitasnya karena ini lebih berat daripada bisnis biasa. Sosial bukan bantuan sosial. Memberi agar mereka berdaya, bermodal. Bukan seperti pemerintah, memberi saja. Apalagi masyarakat di desa sering menolak karena terbiasa ‘dimanja’ negara.

Mbak Tatiek (pelopor KWBT) adalah social entrepreneur idola saya. Sebagai perempuan dan tinggal di desa, saya punya impian yang sama merubah wajah desa Kedungsari menjadi lebih berwarna, mandiri secara finansial seperti desa Tegalwaru. Saya membayangkan, senyum bahagianya para tetangga saya seperti warga Tegalwaru saat kebanjiran pengunjung KWBT!

Pelan tapi pasti, saya mengumpulkan bekal menuju kesana. Kenapa pelan? Saya menggarisbawahi kata-kata pak Rhenald Kasali, “Selesaikan dengan kebutuhan hidup karena bisnis sosial membangun masyarakat, bukan mencari keuntungan sendiri”. 


Referensi :
1.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis/13/06/23/motvmg-tegal-waru-kampung-usaha-beromzet-rp-22-miliar  
2. Majalah SWA 23 Januari -  Februari 2014 


Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba menulis #PSBloggerAward @PSFoundation