Trauma Healing For Kelud (Part 1)

Posted by
Kota Kediri Jawa Timur di tahun 2014 makin dikenal banyak orang. Kabar apa yang bikin cetar akhir-akhir ini? apalagi kalau bukan tentang erupsi Kelud. Di tahun 2007, sebenarnya Kelud mau ‘lairan’ juga lho. Jauh-jauh hari, pengungsi sudah diboyong ke sana sini. Tapi, nyatanya nggak jadi erupsi. Erupsi tahun ini punya kenangan sendiri bagi saya, sebuah pengalaman yang nggak akan pernah terlupakan, bersama kawan maya yang care banget terhadap misi kemanusiaan.

Awalnya, program ini hanya sekedar memberikan bantuan masker dan logistik kepada para pengungsi Kelud. Bertajuk “Sejuta Masker untuk Kelud”. Penggalangan dana yang digawangi teman-teman IIDN ini merangkul semua anggota untuk berbagi. Mb Sri Rahayu sebagai koordinator, aktif online ngajak teman-teman untuk berbagi. Sebagai orang Kediri, saya ingin bergabung di tim.


Melalui chatting inbox FB, satu per satu mulai tertarik untuk bergabung. Obrolan makin ramai saat dimasuki orang-orang non IIDN (bukan anggota) yang udah malang melintang ke berbagai daerah bencana. Ide bantuan pun juga makin beragam, termasuk adanya program Trauma Healing (penyembuhan dari rasa traumatik). Saya baru ‘ngeh’ kalau pengungsi atau korban bencana itu butuh hiburan?

Untuk Kali ini sasaran kita adalah anak-anak. Hiburannya apa saja? Bisa dongeng, nge-games bareng, mewarnai, menggambar, main sulapan dan masih banyak lagi.

Kegiatan seperti ini tentu tidak asing bagi saya yang pernah jadi relawan di lembaga pemberdayaan anak jalanan di Kota Malang.

DEAL, Aksi diadakan hari Ahad 23 Februari 2014. Diprediksikan para pengungsi sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. Jadi, kita langsung ke Te Ka Pe saja, lokasi bisa di balai desa atau sekolah terdekat. Berdasarkan Info dari Kenzie Moms (rumahnya lumayan dekat dengan Kelud) Sepawon dianggap paling strategis, kawasan perkebunan.

Obrolan makin panas di hari Jum’at karena udah jelas siapa saja yang bakal gabung. Terpilihlah Teh Rochma Firdaus asal Bandung sebagai coordinator lapang, Teh Ega asal Bandung juga, mb Maya Sukma asal Jakarta, Mb Joyce, Kenzie Moms dan saya (ketiganya dari Kediri). Hari Ahad, mb Sri Rahayu ada rencana nyusul (mungkin saja bawa pasukan lainnya). Temen-temen lain banyak yang nggak ikut karena berhalangan, ya nggak apa lah, cukup doa dan sedikit ‘uluran tangan’ untuk para pengungsi.

Eng….Ing…Eng…
Rochma-Maya-Ega

Tiga bidadari dijemput Trio Kwek Kwek pada hari Sabtu (22 Feb 2014). Kita berenam nggak ada yang kenal, kenalnya ya lewat chatting, berbekal nomor hape dan akun FB, kita dipertemukan di stasiun. Jam 5 pagi, Kenzie Mooms udah jemput. Prekdiksi kita mb Joyce bakal datang lebih awal karena rumahnya dekat dengan stasiun. Ketimbang rumah saya ujung Barat dan mb Kenzie ujung Timur.

Awal ketemu mereka, lumayan kaget ya. kocak bener tuh orang kota metropolitan. Nggak butuh waktu lama untuk menyatukan hati, setengah jam kita ngakak terus kagak ada endingnya. Hihi….

Sambil nunggu mb Joyce ambil helm dan nganter ibunya. Kita nunggu ada sejam. *IIIIsshh….kita yang jauh malah nunggu yang deket L

Tak apalah kita sabar nunggu. Makasih banget buat mb Joyce, tanpa dirimu, salah satu dari kita tentu harus ada yang naik ojeg.

Survey: Charge of Positive Energy

Selama di perjalanan, saya kerap menggurutu karena lokasinya jauh, merasa lamaaa…nggak sampai-sampai tempat tujuan. Meski orang Kediri saya kan nggak pernah mbolang sendirian pake motor. Tapi, capek yang kurasa terobati lihat wajah temen2 dari Bandung dan Jakarta, gimana mereka? Pasti lebih capek! Pikiran numpuk ninggalin anak dan kerjaan demi kegiatan semacam ini.
foto pinjam mb Sri Rahayu
Usai istirahat di rumah mb kenzie. Kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi TH besok, tepatnya di daerah Sepawon (saya juga baru pertama kali naik ke gunung nih). Cuacanya nggak begitu panas, adem kayak Batu Malang. Gundukan pasir kerap kita jumpai di pinggiran jalan raya dan halaman rumah. Hamparan sawah yang tak lagi hijau, tanaman yang gagal panen, bunga yang tak lagi mekar. Serba putih dan butiran debu asyik berterbangan. Pengendara berlalu lalang pelan, pandangan kerap kabur karena debu berhamburan. 
rumah yang belum diperbaiki, kebanyakan di daerah Puncu
Ah, kembali mengulang rasa yang telah lama kurindu. Mengejar senyum orang-orang yang tengah berduka. Ini bukan tugas kantor atau kerjaan guru di luar sekolah, tapi ini murni kemanusiaan. Mewakili teman-teman yang jauh di daerah seberang, sedikit menyalurkan bantuan sebagai bukti persaudaraan. Dan, bukan hanya kita saja. Saya lihat sendiri, truk-truk dan mobil mewah blusukan ke desa-desa menuju posko atau ke rumah warga memberikan bantuan. 


Teriknya siang, tak bikin kami lelah. Meski ada sebagian dari kami, mb Rochma dan mb Ega yang menahan kantuk luar biasa karena malamnya di kereta nggak bisa tidur, harus nyelesaikan jahit puluhan boneka jari.

Sampailah kami di rumah pak Samolo, beliau merupakan bagian keamanan di desa Sepawon. Prolog disampaikan teh Rochma, permohonan izin sekaligus meminta bantuan untuk mengumpulkan adik-adik besok. Beliau, mengapreasiasi kedatangan kami. “selama ini belum pernah ada mbak bantuan seperti ini, bagus itu!” ujau pak Samolo

Hah, kami kompak tersenyum. Seneng banget ya, Kami langsung menuju sekolah terdekat, rencananya akan digunakan untuk lokasi TH Besok, kalau udah tutup, balai desa atau lapangan sebagai tempat alternatif lain.

Nah, ketemulah kami berenam dengan kepala sekolah dan guru lainnya yang masih ada di kantor (kebetulan barusan selesai rapat sih). Para guru sedikit kecewa karena kita pemberitahuannya ndadak. Coba kalau datangnya pagi, pasti masih bisa ketemu para siswa. kami juga sadar kalau survey-nya ndadak banget padahal pak Kepsek seneeeeng dengan adanya acara seperti ini. tapi, apa dikata, kalau nanti yang ikut sedikit karena rumah siswa dan guru jauh dari sekolahan. 
Yang ganteng hanya Pak Samolo :)

“yaa, sebelumnya kami mohon maaf pak, kalau mendadak. Saya juga baru nyampek di stasiun tadi pagi. seadanya saja besok, biar nanti dikoordinir pak Samolo yang sudah tahu anak-anak sini” Jelas Mb Rochma

“Oke, eeehm…misalnya hari Senin saja gimana, pas itu waktunya, saya senang ada acara begini” Tawar Pak Kepsek

Kami saling lempar pandangan, gimanaaaa??

Karena udah jelas schedule-nya. Ya, kami menolak. Karena hari Ahad mb Sri Rahayu dkk akan datang. Kalau Senin, pasti pada repot. Sebelum pulang, pak Kep Sek sempet nyatet nomornya Mb Rochma. Siapa tahu, kalau ada perlu apa githu, mb Rochma dkk diundang buat menghibur anak-anak. Hehe

Dari lokasi pertama, kita menuju lokasi kedua. Eh, sebelumnya kita foto-foto dulu. Ada yang unik, SD Sepawon 1 ini diapit dua tempat ibadah yang berbeda. Gereja yang besar dan Masjid yang lumayan besar juga. Saya jadi ingat kisah di Ambon, gimana toleransi antar umat beragama begitu kentara, mirip banget di sini. Banyak adik-adik yang berjilbab saat sekolah, ibu-ibu guru juga. Mungkin saja saat pelajaran PPKN, guru akan mudah menjelaskan apa itu toleransi karena perbedaan mereka sangat akrab dengan keseharian.

Lokasi ke dua, SD Sepawon 3 yang ada di dusun Badek. Kali ini, negonya nggak terlalu rumit. Karena sesuai rencana awal tadi. Sebisanya aja, adik-adik yang ada disekitar sekolah. Kebetulan, Ibu guru yang bawa kunci juga dekat rumahnya.

So, let’s prepare for TH Tomorrow. Ciyyaaah….

*tuh, sebelum pulang ke rumah mb Kenzie, narsis dulu. (kayaknya sih, bapak ibu guru, dan pak Somolo bingung ya liat kita-kita, kok gaya fotooo meluu, buat apaan sih, ehm…kasih tau gak ya kalau kita lagi pada demam Selfie. hihihi)


Trauma Healing For Kelud (Part 2) baca di sini