Akhirnya Bisa 'Jebol' Media

Posted by with 18 comments
Semangat Pagi, sobat Bee-Blog, lagi-lagi nggak terasa awal bulan di awal tahun 2014 sudah memasuki pertengahan. Ini awal postingan saya di tahun baru. Tahun yang diyakini banyak orang sebagai permulaan menorehkan sejarah hidup di lembaran yang lebih apik dengan resolusi yang sudah dirancang sedemikian rupa.

Di tahun 2014 ini pula, saya rada nggak percaya bisa nembusin media. sejak dua tahun lalu, saya coba mengirimkan artikel ke beberapa media. hasilnya, nihil. Namun, Januari 2014, majalah muslimah UMMI 'bersedia' memajang tulisan beserta foto saya di rubrik nuansa wanita. Alhamdulillaaaaaah *saat nerima telpon dari redaksi, saya langsung sujud syukur, nggak percaya, kayak mimpi ......---pake cubit pipi sendiri loh



Bagi yang belum sempet membaca, ini dia tulisannya, tarrrraaaaaa.....(Judul tetap, isinya hanya beberapa kalimat yang diedit


Galau karena SocMed

Ditengah kesibukan kami bekerja, saya dan suami tetap menyempatkan waktu untuk ngobrol. Entah itu direncanakan dengan keluar jalan-jalan atau sembari melakukan aktivitas lain. Keingintahuan saya atau suami tentang aktivitas masing-masing memancing komunikasi kami berdua.

“Wuih, Dek…sekarang Reno sudah ke New Zealand, lho!” Kata suami, jari telunjuknya sibuk menyentuh layar HP Android

Rupanya suami lagi asyik chatting dengan teman kuliah dulu. Sejak memiliki HP android, suami memang sering menceritakan kabar terkini para sohib lamanya. Fasilitas whatsapp jadi pilihan favorit untuk mengikuti perkembangan berita teman lamanya. Reno, mungkin satu diantara teman suami yang bernasib baik. Istrinya seorang dokter, tiap kali update status pasti mengundang decak kagum. Semisal, Zew Zealand I’m Coming, di pesawat ternyata nggak boleh foto-foto, atau serunya liburan ke Gunung Bromo.

Entah kenapa, tiba-tiba mata saya merembes ketika mendengar cerita ‘wah’ dari teman lama suami.

“Maafkan aku, ya Mas. Aku belum bisa mandiri, jika aku sudah punya penghasilan tetap, aku pasti akan mengizinkanmu berpetualang seperti Reno” bisik saya dalam hati
Sebagai ibu rumah tangga, terkadang saya merasa rendah diri. Meski, sebenarnya suami tidak pernah menuntut saya bekerja di luar rumah. Suami lebih senang jika saya di rumah mengasuh anak dan menyibukkan diri di depan laptop.
Semakin sering baca status di facebook, twitter, instagram saya merasa semakin galau. Menjalani hari tanpa syukur, menggerutu, kenapa begini, kenapa saya nggak seberuntung dia.
Suatu hari, saya membaca time line di akun kicauan twitter teman lama saya, Aisya tengah melanjutkan S3 di Bandung. Saya pun membatin, “Ya Allah, jika suamiku orang kaya pasti dia bisa membiayai kuliahku, aku ingin kuliah lagi…..”.
Entahlah, berapa ratus kata pengandaian sering saya lafalkan usai membaca status teman-teman? Lagi-lagi saya dibuat galau.
Lama-lama saya tidak tahan dengan kondisi hati yang kerap labil gara-gara baca status di SocMed.
Akhirnya, saya mencoba membicarakan hal ini dengan suami. Meski terkesan sepele, bagi saya komunikasi adalah cara terbaik untuk mencurahkan kondisi hati supaya tidak memperkeruh pikiran.
“Mas, merasa aneh nggak kalau selesai baca status temen lamamu? Tanya saya saat ngobrol sebelum tidur. Suami tampak bingung, “maksudmu?”
“Andai aku seorang dokter, hidupmu enak ya mas. Engkau bisa seperti Reno meski kerjaannya serabutan, tetep bisa jalan-jalan” saya mulai terisak
“Oh, itu tho?” dengan santainya suami menjawab,

Tiba-tiba ia diam sejenak kemudian berkata “kalau aku yang jadi dokter, pasti hidupmu juga enak dek ya, nggak perlu nyuci baju, masak, dan mengasuh anak-anak. Kan, dari gaji dokter, kita bisa menggunakan jasa ART? Kamu bisa kuliah lagi, seperti Aisya teman lamamu itu.
Kami terdiam, menatap langit-langit rumah yang tampak bulan separoh dari genteng kaca. saya menggemgam erat telapak tangan suami, “maafkan, aku mas!”
Suami juga meminta maaf. Loh, kok jadi speechless begini hanya karena status SocMed? Kami berdua saling pandang, tersenyum kemudian mengucap Astagfirullah bersamaan. Galau, mungkin yang kami berdua rasakan. Galau akan kehidupan padahal selama lima tahun menjalani rumah tangga, tidak sedikit pun kami berandai-andai, kami menjalani hari dengan penuh semangat, menapaki tangga impian keluarga. Setahun belakang, seiring alat komunikasi semakin canggih, pertemuan kami dengan kawan lama di dunia maya jadi pemicu ‘kagalauan’ dalam rumah tangga. 
Dari obrolan ini, kami membuat kesepakatan untuk tidak menceritakan hal-hal yang memancing ‘kecemburuan’. Akhirnya,  kami berusaha memaksimalkan banyak akun Social Media untuk memasarkan produk usaha kami, belajar hal-hal baru, dan pastinya menjalin silaturahim. Galau, bisa kami tepis dengan obrolan positif bukan dengan kabar terkini  status teman-teman di Social Media.

Bagi temen-temen yang kepengen juga tulisan plus fotonya nampang dimajalah, nggak ada salahnya coba kirim tulisan ke sini
kru_ummi@yahoo.com
Semoga bermanfaat ya ^^

18 komentar:

  1. Lebih tepat lagi kalau sosmed itu memotivasi, ini lhooo aq bisa gini caranya gini, wah ...dijamin no.galau ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahaya juga tuh miss, dikirain kita-kita pamer. Iiiiih....*pernah denger sih

      Hapus
  2. Dulu aku paling suka membaca rubrik 'Dunia Wanita' Majalah Ummi.
    mau coba kirim aaaah
    TFS ya mak ;)

    BalasHapus
  3. Selamat mbk...tembus juga.alhdulilahhh.....sya kpn ya??bikin galau nih..heloh hehe

    BalasHapus
  4. ahhh mau coba kirim juga ahhhh

    mak ini diterbitkan nya kapan?? kalau januari, kalau bisa emak terbitkan di Blognya bulan februari atau setelahnya. Karena kan UMMI majalan bulanan bukan harian. JAdi kalau udah gak beredar baru deh posting versi lengkap nya. CMIW ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, mak Hana...udah diingetin. langsung saya draft dulu. skg udah februari. baru nge-publish lagi

      Hapus
  5. Selamat ya mbaak Nurul... hehehe begitulah romantika kehidupan. Full dramatis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang baca tulisanku banyak yang manggut2. sama galau-nya *tsaaaaahh

      Hapus
  6. Selamat ya mba Nurul..awal yang baik di 2014

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mb Ety. karena semangatmu juga :)

      Hapus
  7. selamat mbaak, AKu kemaren kok ngga ditelpon ya, cuma di email

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sampek urusan foto juga di hubungi terus mak, mungkin karena hasil fotoku jelek. hihihi

      Hapus
  8. Berapa halaman ya, Mbak ? Pengen juga kirim tulisan :)
    Aulia

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma 500 kata kok jeng, nggak sampek satu halaman

      Hapus
  9. wah keren ini nyonya bambang ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi....curhatan seperti ini buat latihan nulis, pak. meski anggapan orang lain terkesan Lebayyy...:(

      Hapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.