Jembatani e-Learning dengan Program Suka Baca

Posted by with 4 comments
Zaman sekarang, sekolah mana yang tidak ingin melihat anak didik beserta guru, melek perkembangan teknologi? Salah satunya di sekolah SMP Swasta, tempat saya mengajar. Di usianya yang baru menginjak 3 tahun, saya beserta guru lainnya gencar melakukan promosi tentang adanya penerapan program e-learning dalam segala aktivitas pembelajaran di sekolah. Tertulis jelas di brosur sekolah kami One Child One Laptop, harapan nantinya siswa yang akan bersekolah di SMP Islam swasta ini mendapatkan fasilitas laptop untuk menunjang kegiatan belajar yang dilakukan tanpa handbook.

Menarik, bukan?

Tanpa buku, guru harus bisa mengajar. Sebelum masuk kelas, guru dituntut kreatif dalam menyampaikan bahan ajar. Jadi, tidak ada buku di tangan siswa, hanya laptop menyala di depan siswa. Beberapa Buku Sekolah Elektronik (BSE) kami unduh dari http://bse.kemdikbud.go.id/, siswa juga kami intruksikan untuk mengunduhnya. Sebelum jauh memahami program e-learning, saya akui, pemahaman saya beserta guru lainnya agak terkesan sok-sok an. Siswa SMP yang baru lulus dari SD, mengalami metamorfosa sistem belajar terlalu dini. Jika sebelumnya, saat duduk di bangku SD, guru menerangkan di papan tulis dan siswa mencatat ke dalam buku catatan. Di SMP ini, teknologi LCD mereka dapati untuk penjelasan multimedia. Di sinilah, kami mencoba berperan dalam era digital.

Perjalanan dua tahun, sekolah ini menerapkan pembelajaran tanpa buku. Ada beberapa guru, yang tidak betah dengan cara belajar seperti ini, guru tersebut mempersilahkan siswa membeli buku di luar sekolah. Kegalauan pun hadir di benak guru yang lain, secanggih apapun teknologi jika sumber daya manusia belum siap, saya yakin aktivitas pembelajaran akan sangat terganggu. Padahal, ini masih dalam metode penjelasan materi? Belum masuk ke beberapa platform e-learning sederhana yang bertujuan untuk memfasilitasi kebutuhan guru dan siswa dalam proses pembelajaran, melakukan sharing resources, learning activities seperti diskusi, chat dan test.

Hasil rapat kami beberapa bulan lalu menjawab kegelisahan tiap guru. Ternyata, tidak semua siswa benar-benar memperhatikan penjelasan guru ketika di kelas. Saat guru menerangkan, ada siswa yang kecolongan bermain game, ngotak-ngatik blog (karena tersedia Wifi gratis), ada pula siswa yang asyik nonton video. Laptop yang ada ditangan mereka jadi ‘mainan’ baru di kelas. Beberapa siswa pun sulit fokus terhadap penjelasan guru meski sudah ada LCD di depan para siswa. Tentu, ini jadi PR besar untuk kami dan bagi sekolah mana pun yang turut andil dalam menyukseskan program belajar melalui teknologi terutama e-learning. Sebagai penggerak motor teknologi, seberapa siapkah SDM yang terlibat menerima teknologi? Jika siap, sejauh mana persiapan infrastruktur yang sudah direncanakan?

Memahami Karakter Siswa Digital


Anak-anak yang lahir pada tahun 1990-an disebut sebagai generasi internet (digital natives). Sebagaimana disebutkan oleh Bayne dan Ross (2007), digital natives juga sering dipadankan dengan istilah digital generation, net generation, technological generation, atau millenials. Lantas, sebagai orang tua atau guru disebut apakah kita?

Kita adalah digital immigrants, yakni mereka yang telah mengadopsi dan menggunakan internet dan teknologi terkait, tetapi lahir sebelum kemunculan era digital. Digital immigrants belajar bagaimana membuat serta menggunakan e-mail dan jejaring sosial. Namun, proses itu semua berlangsung "terlambat" dibandingkan digital natives, yang mengenyam teknologi tersebut sejak masih usia SD, bahkan sejak lahir.

Di sekolah saya, tidak semua siswa bisa sebut digital natives. Karena, mereka berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang berbeda. Ada yang sudah akrab dengan teknologi, ada yang baru kenal bahkan ada juga yang tidak mau tahu dengan perkembangan teknologi.


Guru harus telaten mengenalkan siswa yang belum 'akrab' dengan teknologi

Keakraban mereka dengan teknologi sangat dipengaruhi kebiasaan mereka di rumah. Sebut saja, Bunga, salah satu siswa saya. Ia anak orang kaya, nenteng Ipad sudah jadi hobi tersendiri. Berselancar di dunia maya bagian dari gaya hidup di keluarganya, termasuk kakak kandung Bunga yang kini duduk di bangku SMA. Namun sebaliknya, siswa saya yang bernama Rima. Lahir di keluarga sederhana. Pertama kali ia memegang komputer atau laptop ya baru disekolahan. Ia pun merasa kesulitan mengikuti pembelajaran di kelas. Karena membutuhkan waktu untuk mengenalkan Rima memahami prosedur penggunaan internet, mulai dari masuk ke browser hingga memproduksi pesan di dalamnya. Sepertinya, jadi indikasi bahwa tidak semua siswa ‘siap’ menerima program e-learning.

Sejatinya, teknologi diciptakan untuk membantu para guru menyampaikan bahan ajarnya yang membuat para siswa mendapatkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Itulah yang disebut PAIKEM.

Untuk bisa mencapai hasil maksimal, siswa memang harus dipersiapkan secara matang sebelum ‘mengajak’ mereka menikmati berbagai kemudahan belajar melalui teknologi. Jangan sampai dengan adanya teknologi, siswa malah semakin ‘bodoh’.

Masih ingatkah contoh kasus dua beberapa bulan lalu? Dua orang pelajar SMP yang terlibat perkelahian di kelasnya. Melalui handphone atau ponsel kejadian itu dapat direkam oleh temannya, dan kemudian disebarkan oleh yang merekam ke berbagai kalangan termasuk youtube. Ketika film itu sampai kepada wartawan, jadilah kejadian itu sebuah berita besar dan berujung kepada pencitraan sekolah itu di masyarakat. belum lagi, kasus mesum atau hal seronoh yang dengan mudahnya meluas hanya ketikan jemari siswa kita.
 
Digital natives atau siswa kita saat ini kebanyakan aktif di beberapa sosial media seperti facebook, twitter, blog, instagram dan masih banyak lagi. Era selfie atau narsisme lebih booming ketimbang ragam aktivitas pembelajaran teknologi di kalangan remaja, mereka lebih ‘puas’ meng-update foto ketimbang meng-update ‘ilmu’ baru. Tugas penting bagi seorang guru adalah memahami karakter siswa digital dan berlanjut menciptakan digital natives yang kreatif melalui teknologi.

Tingkatkan Kesadaran Kolektif (Suka Baca) Melalui Teknologi

Buku adalah jendela dunia. Istilah ini mungkin sedikit bergeser jika kita korelasikan dengan adanya kemudahan teknologi sekarang. Lebih tepatnya, internet adalah jendela dunia. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan para guru dan orang tua. Tidak hanya di sekolah, di rumah, siswa dengan mudahnya dan kapan saja bisa berselancar di dunia maya. Siswa tidak perlu menghabiskan waktu untuk membaca hanya sekedar mencari sumber referensi tugas sekolah, cukup dengan bantuan Si Google, dapat hitungan detik, siswa dapat banyak sumber referensi.

Padahal, tak bisa dipungkiri, membaca sangat penting untuk membentuk pola pikir siswa sehingga dapat berimbas pada pembentukan sumber daya manusia yang handal dan siap bersaing di kancah dunia internasional. Siapa yang banyak membaca, ilmu pengetahuannya semakin luas dan sebaliknya, siapa yang malas membaca, ilmu pengetahuannya akan sempit.

Jadi, jangan sampai dengan adanya teknologi, minat baca siswa kita menurun. Justru dengan teknologi-lah, kita jadikan alat untuk meningkatkan budaya membaca. Terlebih, membaca di ruang cyber mengajak siswa kita lebih peka pada kondisi kekinian. Bukan hanya guru yang berperan aktif dalam hal ini, untuk menyukseskan program e-learning di berbagai sekolah membutuhkan ‘kekompakan’ berbagai pihak, antara lain :

1. Pemerintah

Indonesia sudah memiliki Undang-Undang tentang Perpustakaan yaitu UU no. 43/2007. Diantara isinya yang terpenting adalah tentang kewajiban pemerintah menggalakkan promosi gemar membaca dengan memanfaatkan perpustakaan. Dalam tataran praktis, hal ini memang gampang-gampang susah. Butuh konsistensi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah dalam ‘menghidupkan’ perpustakaan di seluruh pelosok nusantara.

2. Penyedia layanan seluler, salah satunya XL yang jangkauannya terbesar se-Asia Pasifik.

Sejak tahun 2011, XL menghadirkan layanan XL Baca yakni layanan baca untuk pelanggan XL secara eksklusif di tablet Huawei Ideos S7. 
 
Bagi pengguna XL yang memiliki tablet Huawei Ideos S7 sudah menikmati layanan ini
Sudah saatnya, XL kembali bergerilya mendukung aktif kebiasaan suka baca pada siswa yang memungkinkan mereka bisa mendownload gratis buku digital berkualitas, apalagi siswa sekarang sudah lihai mengunduh banyak hal melalui Google Play Store untuk Android.

3. Guru

Saat ini para pengembang web di Indonesia berlomba-lomba untuk membangun platform e-learning berbahasa Indonesia. Paltform e-learning semakin hari semakin berkembang. Jadi pihak guru, harus mengenal dan mempelajari fitur yang didukungnya. Menurut saya, guru tidak perlu terburu-buru menerapkan semua e-learning, apalagi jika mengajar siswa SMP. Ambil contoh satu saja, platform e-learning misalnya Goesmart, sebuah platform yang menawarkan social network learning, di mana para anggota dari berbagai sekolah dari berbagai provinsi di Indonesia bisa saling berbagi mata pelajaran dengan cara mengunggah, melihat, serta mengunduhnya. Platform ini dapat dimanfaatkan secara gratis. Maksimalkan sampai siswa benar-benar menikmati suguhan ilmu dan pertemanan postitif di dunia maya.
Goesmart, salah satu platform e-learning yang mudah diaplikasikan

4. Orang tua
Selain menciptakan kebiasaan ‘suka baca’ dari lingkungan keluarga, orang tua zaman sekarang juga dituntut ‘belajar’ lagi tentang perkembangan teknologi, setidaknya ini menjadi bekal dalam mendampingi putra-putrinya belajar. Apalagi, kini ada beberapa platform e-learning yang memfasilitasi kebutuhan orang tua dalam memantau perkembangan akademis anaknya di sekolah, bahkan untuk berinteraksi (berkomunikasi) dengan para pengajarnya. Misalnya https://www.edmodo.com/ terdapat fitur untuk orang tua (I’m Parent).
Orang tua bisa berperan aktif melalui platform e-learning, misalnya melalui edmodo.com

Bicara soal e-learning, bahasan ini hanya secuil dari banyaknya kemudahan belajar antara guru dan siswa melalui teknologi. Menjadikan suka baca bagian dari life style siswa, guru dan orang tua merupakan jembatan awal yang harus dibangun kokoh guna menghubungkan mereka pada dunia maya supaya tidak salah jalur, namun justru membawa manfaat untuk masa depan bangsa.


Referensi :

1. http://amiroh.web.id/

2. http://www.xl.co.id/id/fitur-digital/xl-baca

3. http://www.goesmart.com/

4. Digital natives, Majalah UMMI tahun 2011


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Pendidikan XL 2013


4 komentar:

  1. betull.. harus ada partisipasi dari berbagai pihak... :)

    BalasHapus
  2. Dan kontinyu mbaa, miris lihat siswa yg ngga suka baca tulis, keliatan linglung. hehehe

    BalasHapus
  3. Linglung saat berhadapan dengan internet,

    BalasHapus
  4. setuju dengan program suka baca :)

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.