Masuk Neraka Siapa Takut #Melukai Hati Ibu

Posted by with 7 comments
Surga di telapak kaki ibu. Begitulah peribahasa yang menggambarkan betapa mulianya seorang ibu. Mulai dari hamil, melahirkan dan membesarkan anak, ibu punya peran yang luar biasa. Tanpa kelembutan dan kasih sayang ibu, kita tak mungkin bisa seperti sekarang. Saya pun sangat bersyukur memiliki ibu yang kini masih sehat, bugar dan rajin beribadah. 


Tahun 2008, tahun yang mencatat sejarah kehidupan baru saya, menikah. Bagi seorang anak perempuan status saya pun berubah ‘milik’ suami. Bukan milik orang tua lagi. Sejak itulah hubungan saya dengan ibu mulai merenggang. Saya pun harus pintar menyimpan privasi keluarga kecil saya meski saat itu saya masih serumah dengan orang tua karena tempat kerja suami dekat dengan rumah orang tua saya. Jauh dari rumah mertua.

Setahun lamanya, saya serumah dengan orang tua. Anda mungkin bisa membayangkan betapa tidak nyamannya ada dua kepala rumah tangga dalam satu atap? Itu yang saya rasakan. Saya pun mengusulkan ke suami untuk mencari kontrakan (saat itu, uang kami memang belum cukup untuk membeli rumah). Bermula dari sini lah, saya selalu merasa ‘sensitif’ ketika berbicara dengan ibu.

Dia bukan ibuku yang dulu, begitulah perasaan saya menilai.

Ibu : eh, temanmu yang namanya Joko sekarang sudah jadi PNS loh!

Saya : benerkah? Wah, Alhamdulillah ya *kaget

Ibu : nasib anak itu memang baik

Saya membatin, apa ibu bermaksud membandingkan nasib saya dengan orang lain? Saya langsung meninggalkan ibu di meja makan. Nyesek dengerin ‘ocehan’ yang nggak jelas.

Bukan kali ini saja saya diajak ngobrol ngalor ngidul tak terarah. Endingnya, perbandingan nasib. Hiks, Saat ngerasa, udah jutek banget. Entah sadar atau tidak, saya bilang ke ibu “bu, ntar kalau saya jadi orang kaya, saya bakal ganti biaya hidup selama setahun pasca nikah!”

Pembicaraan itu nggak saya sampaikan sambil pasang muka garang tapi dengan halus sesekali kedua tangan saya sibuk mencuci piring. Saat itu, respon ibu biasa saja. Usai masak, ternyata ibu menangis di samping ayah. Saat itu saya nggak faham, nggak merasa bersalah sedikit pun. Singkat cerita, saya dipanggil ayah ke ruang tamu. Saya benar-benar bingung.

Tangan saya gemeteran, badan panas dingin. Suara parau ayah memecah keheninganp malam itu. ibu tak terlihat sejak sore tadi, entah di kamar atau di kamar atas.

“Jangan kau ulangi perkataan buruk pada ibumu!” jelas ayah.

Otak saya berusaha mengingat, apa yang sudah saya katakan pada ibu? Di dapur? Ataukah tadi malam saat nonton tivi bareng? Ah, saya lupa dan tidak faham apa maksud ayah. Ayah pun menjelaskan asal-usul kenapa ibu menangis.. Astagfirullah, saya telah melukai hati ibu. Perkataan yang keluar dari mulut saya tadi tentang mengganti biaya hidup seorang anak kepada orang tua.

Lisan, kendaraan menuju neraka

. Saat berhadapan dengan ayah, saya hanya menutup mulut rapat-rapat. tidak ada satu kata pun yang keluar karena sangat takut jika ada kata yang salah ucap.

Ayah menjelaskan dengan gamblang. Kata beliau, sampai kapan pun jasa orangtua tak ada dapat tergantikan. Meski, anak itu membayar dengan milyaran rupiah.

“Meski sudah nikah, jika orang tua membantu itu tidak masalah kecuali kami tidak mampu” imbuhnya lagi

Saya tersungkur di kaki ayah, meminta maaf atas perkataan yang telah saya ucapkan. Setelah itu, saya ke kamar ibu dan meminta maaf. Di balik selimut, ibu masih terisak.

“Ya Allah, anak macam apa saya ini? belum punya apa-apa sudah berlagak jadi orang kaya? Mau gantiin biaya ke hidup pula? Makanya, rizqi makin seret, mungkin saja karena ‘durhaka’ sama orang tua, terutama pada ibu! Celotehan batin saya.

Sejak itu, saya terus beristigfar. Menjaga lisan ternyata lebih sulit dari pada memasak (loh, nggak nyambung ya?hehe karena saya nggak bisa masak). Seperti pepatah bilang, Mulutmu adalah harimaumu. Bisa menerkam siapa saja. Bukan hanya lisan, tanpa disadari, semua anggota tubuh punya peran jadi kendaraan kita menuju neraka jahannam.


Dari Asy Sya’bi dari Anas bin Malik Radhiyallaahu’anhu , ia berkata: Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau tersenyum dan bertanya : Tahukah kalian apa yang membuatku tersenyum? Ia berkata: Kami menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu.

Beliau bersabda: Aku menertawakan percakapan seorang hamba dengan Rabbnya. Ia berkata: ‘Wahai Rabb, bukankah Engkau telah menghindarkanku dari kelaliman? Dia menjawab: Ya.

Ia berkata: Sesungguhnya aku tidak mengizinkan jiwaku kecuali untuk menjadi saksi atas diriku sendiri. Beliau meneruskan: Diapun berkata: Kalau begitu pada hari ini cukuplah jiwamu yang menjadi saksi atas dirimu (QS: Al Israa`: 16)

dan juga para malaikat yang mulia yang mencacat amalanmu menjadi para saksi. Beliau meneruskan: Lalu dibungkamlah mulutnya dan dikatakan kepada anggota badannya: Bicaralah.

Maka anggota badannya pun mengungkap semua amal perbuatan yang dilakukannya. Beliau meneruskan : Kemudian dilepaskanlah antara ia dan ucapannya hingga ia berkata (kepada anggota badannya sendiri): Celakalah kalian, bukankah aku dulu membelamu?
(Shahih Muslim 2969-17)*sumber dari sini

Sobat, dari hadits diatas sudah sangat jelas menunjukkan bahwa semua anggota tubuh kita nantilah yang akan menjadi saksi kita diakhirat. oleh karena itu tidaklah bisa dibohongi pengadilan di sana,,,

Jaga hatimu agar terjaga lisanmu!



Nabi mengingatkan kita bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang bila ia baik, maka seluruh kediriannya akan baik, dan bila ia rusak, maka seluruh kediriannya akan rusak, yaitu hati. 
Akibat bagi orang yang tidak mampu menjaga mulutnya adalah menjadi penghuni Neraka. Penegasan Nabi ini membuktikan adanya kaitan yang erat antara perkataan dan keimanan. Perkataan yang baik jelas mencerminkan iman yang tebal. Sebaliknya, dengan iman yang kuat, seseorang tak akan membiarkan mulutnya untuk berkata-kata kotor.

Hanya, iman akan menyelamatkan seseorang, maka mulut juga akan menyelamatkannya. Begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, menjaga mulut berarti juga menjaga keimanan. Dan karena iman itu merupakan suatu keyakinan dalam hati, maka hati juga harus diperhatikan.

Semua anggota tubuh memiliki kontrol yakni hati. Siapa saja yang menjaga hatinya dengan baik, semua anggota tubuh akan bisa terkontrol dengan baik pula. Saya intropeksi diri usai mengeluarkan kata-kata yang telah melukai hati ibu. Beberapa bulan terakhir pasca nikah, saya memang kerap berfikir negative terhadap ibu. Titik sensitivitas akan meledak kapan saja. Yang mengkhawatirkan lagi adalah meledak di saat yang kurang tepat. Na’udhubillah

Memperkaya hati dengan ilmu dan ibadah, berfikir positif jadi langkah saya untuk menjaga semua anggota tubuh. Karena mereka bisa mengantarkan kita ke neraka.
Hati-hati ya, sobat! Semoga hari-hari kita dihiasi dengan akhlaq yang terpuji.

7 komentar:

  1. aduuuh mak..baca tulisan ini jadi jleeb..merasa banyak dosaa..sadar tidak sadar sering kejadian ya mak..semoga kita selalu ingaaat dan saling mengingatkan...thanks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin, kebanyak nggak sadar mak. lebih miris lagi para remaja sekarang (yang lagi heboh di fb kmrn), ngomongnya suka ngelantuuur, dia mungkin nggak sadar kalau lisan juga harus dijaga.

      Hapus
  2. Hati/kalbu yang selalu tersambung kepada Alloh, Insya Alloh akan dijagaNya.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah, terimakasih ya sudah berkenan berpartisipasi,
    artikel sudah resmi terdaftar sebagai peserta,
    salam santun dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama pak, semoga menginspirasi pembaca :)
      Salam santun dari Kediri

      Hapus
  4. semoga saja saya tidak akan pernah melukai Hati Ibu saya. aamiin. Seandainya bisa Tuhan itu 2 maka Ibulah yang menurut saya bisa dijadikan sebagai Tuhan yang ke 2..., Namun Allah itu Esa dan Tiada Tuhan selain Allah S.W.T. Kunjungan perdana sekaligus Follow Blognya agar bisa terjalin lebih erat silaturahmi...jika ada waktu bisa jalan jalan ke sebelah juga dan follback jika berkenan...terimakasih....

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.