Jiwa Pahlawanku dan Pertamax Gapai Indonesia Lebih Baik

Posted by with 1 comment
Beberapa bulan terakhir kita dijejali banyaknya berita korupsi. Satu per satu kasus korupsi mulai terkuak. Rakyat pun geram dan malu menyaksikan ‘polah tingkah’ para koruptor yang suka menimbun harta. Entah itu dilakukan seorang pejabat pemerintahan, dosen, hakim, hingga pemuka agama.

Korupsi menjadi penyakit serius yang menggerogoti bangsa ini karena mengakibatkan kesenjangan sosial (gap) yang luar biasa antara pejabat dan rakyatnya. Sang pejabat makin kaya, rakyatnya makin papa.
Jas Merah, Jangan lupakan sejarah 

Jas Merah (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH) yang dulu diajarkan oleh presiden pertama kita, Ir. Soekarno, kini telah ditanggalkan. Sejarah boleh lapuk termakan usia, tapi semangat para pahlawan mengukir sejarah tak boleh kita lupakan.

Sejenak, mari kita tengok sejarah pertempuran pasca kemerdekaan. Meniti kembali perjalanan ‘darah’ para pahlawan yang mati-matian berperang dalam pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yakni ketika tentara Inggris mengeluarkan ultimatum yang berbunyi “semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945”.

Ultimatum ditolak rakyat Indonesia, tentara Inggris pun ‘panas’ kemudian melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Inggris membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat.

Ehm, apa yang dilakukan rakyat Indonesia saat itu?

Mereka maju tak gentar menghadapi serangan, perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Peristiwa heroik ini menjadi pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa.

Saya yakin, masih banyak peristiwa berdarah lainnya yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia. Satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah ‘semangat’ berjuangnya para pahlawan. 
Saat masa penjajahan, rakyat terlantar. Sang pahlawan--Bung Tomo dkk--semangat berjuang

Korupsi, mengingkari nilai perjuangan pahlawan

Salah satu penjajah modern di era reformasi adalah korupsi. Istilah mark up kerap kita dengar di instansi negeri atau swasta manapun. Di mana ada ‘lahan basah’, di situ jadi lahan asyik buat korupsi, siapa yang tidak kuat iman bisa langsung terperosok. Tindakan para koruptor telah melukai hati rakyat. Ini sama halnya dengan mengingkari nilai-nilai perjuangan para pahlawan yang dilandasi oleh rasa kebersamaan, kejujuran dan keikhlasan.

Hal ini yang menggerakkan hati saya untuk turut serta memberantas korupsi dari rumah. Terutama untuk anak-anak saya yang akan menjadi penerus perjuangan pahlawan. Dengan cara, menerapkan nilai kejujuran dalam keseharian.

Pada suatu malam di awal September. Saya tengah asyik menonton program berita yang berkaitan dengan korupsi. Saat itu, Azzam bermain lego di ruang yang sama. Pengulangan kata ‘korupsi’ dari televisi membuat rasa penasaran Azzam muncul.

“Ma, korupsi itu apa? Tanya Azzam, anak sulung saya

Saya diam sejenak. “Korupsi itu mengambil barang yang bukan miliknya, semacam mencuri atau maling, Nak”. Jawab saya dengan bahasa yang paling sederhana.

“Ooohh, berarti kalau aku ngambil uang kembalian belanja tanpa izin ke mama, aku juga korupsi dong? “ Kata Azzam yang berusia 4, 6 tahun

Saya hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala. Untuk menjelaskan hal ini, saya tidak terlalu bertele-tele. Keesokan harinya saya mencari bahan cerita yang berkaitan tentang ‘korupsi’. Cerita anak kali ini, tersimpan nasihat akan pentingnya kejujuran. Saya ceritakan ke Azzam dan adiknya di sela-sela kesibukan mereka belajar. Berharap, bisa menjadi bekal hidup masa depannya.

Tanamkan jiwa pahlawan dalam diri


Arus globalisasi yang menggempur Indonesia mengundang ‘penjajah’ baru selain korupsi. Melalui aspek ekonomi, negara lain gencar menyerang Indonesia dengan produk-produk mereka. Produk dalam negeri jadi ‘mati’. Apalagi, semakin banyaknya perusahaan asing yang berdiri di Indonesia, mereka jadi atasan, rakyat Indonesia jadi bawahan. Tidak heran, jika aktivitas impor lebih banyak ketimbang ekspor.

Begitu halnya dengan penjajahan dari kebudayaan, budaya barat jadi kiblat para generasi muda, budaya ketimuran ‘khas’ Indonesia diabaikan begitu saja, dengan alasan ‘nggak gaul’. Lihat saja, boyband asal Korea Selatan yang bikin para remaja ‘lupa diri’. Euforia K-Pop masih terasa begitu kental. Ikut pakai kostum ala Korsel, kursus bahasa KorSel semakin digandrungi, efek ‘latah’ operasi plastik artis Korea juga sudah menggaung di negara kita.

Penjajahan seperti ini mungkin tak terasa menyakitkan secara fisik. Tapi dampaknya sangat buruk untuk mempertahankan kemerdekaan karena jiwa nasionalisme yang kian lama kian terkikis.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Kita harus mengangkat martabat bangsa dengan menanamkan jiwa pahlawan dalam diri. Pahlawan saat ini bukanlah pahlawan yang membawa senjata dan bambu runcing seperti Bung Tomo dan para pemuda lain saat menghadapi penjajah Jepang, Belanda dan Inggris. Namun, pahlawan yang berkontribusi pada bangsa, sesuai peran dan kemampuan yang dimiliki.

Menurut KBBI, pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Seorang pahlawan sejati tidak butuh pengakuan, dari siapapun. Bahkan, seorang pahlawan tidak akan merasa dirinya pahlawan karena dia berjuang dengan niat yang ikhlas demi terwujudnya cita-cita bersama, bukan untuk sebuah pengakuan atau sebutan pahlawan.

Sejatinya, kita semua adalah pahlawan. Tanpa berharap disebut pahlawan kita bisa memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia yang lebih baik.

Saya pun berupaya mengimplementasi jiwa pahlawan ini dalam kehidupan sehari-hari. 

1. Peran sebagai Ibu

Saat ini, saya tak ingin kehilangan momen berharga bersama kedua anak saya yang masih balita, Azzam (4 tahun) dan Nadia (2 tahun). Sejak dini, saya tanamkan karakter pada mereka akan pentingnya keikhlasan, kejujuran, kerja keras dan menstimulasi potensi sesuai usianya. Saya yakin, kedekatan ibu kepada anak memainkan peran penting bagi perkembangan dan pertumbuhan anak, yang kemudian menjadi generasi penerus bangsa.

2. Peran sebagai Istri

Dalam keluarga istri berperan penting dalam mengatur keuangan dan kerumahtanggaan. Jika ada yang berpendapat, suami korupsi karena istri yang tidak bisa mengatur keuangan. Mungkin saja, ada benarnya. Suami korupsi karena istri yang senang shopping. Untuk itu, dalam keluarga saya, hidup sederhana tetap kami utamakan. Urusan uang dan lainnya saya tetap komunikasikan dengan suami.

3. Peran sebagai guru

Menjadi guru freelance di SMP swasta merupakan kesempatan berharga yang tidak boleh saya sia-siakan. Melalui peran ini, saya bisa menyuntikkan semangat siswa untuk terus berprestasi sesuai kemampuan. Bagi saya, pelajaran sejarah bukan hanya sebagai alat ukur suatu nilai akademik namun bisa jadi sarana mengubah nasib Indonesia yang lebih baik.

4. Peran sebagai blogger

Bergabung dalam KEB (Komunitas Emak Blogger) jadi peluang dalam memperjuangkan eksistensi Indonesia di kancah global. Memanfaatkan internet untuk hal-hal positif juga merupakan senjata pengganti bambu runcing di era digital seperti sekarang ini.

5. Peran sebagai pengusaha

Memiliki usaha ala gerobakan jadi langkah kongkrit saya untuk mengurangi jumlah pengangguran. Meski sekarang baru memiliki dua karyawan, saya senang bisa membantu orang lain. Harapannya usaha ini akan terus berkembang. Jika pemerintah masih ‘sibuk’ mengurusi kerumahtanggaan negara, tanpa menunggu, kita pun bisa melakukan langkah kecil untuk perubahan yang ada di sekitar kita.

Bagaimana dengan anda?

Melanjutkan tongkat estafet para pahlawan tak melulu bicara politik dan kekuasaan. Di bidang apapun, asal mampu mengangkat martabat bangsa di kancah internasional jadi langkah nyata melanjutkan perjuangan pahlawan seperti halnya pertamina dengan mengusung produk unggulannya, Pertamax.

Pertamax, mengangkat martabat bangsa 



Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, produk asing yang masuk ke dalam negeri merupakan penjajah. Jadi, untuk melawannya ya dengan menggunakan produk dalam negeri, salah satunya pertamax. Bahan bakar ramah lingkungan yang mampu bersaing ditingkat Internasional.

Melalui Pertamax, apa yang diperjuangkan untuk Indonesia?

Peduli lingkungan : Pertamax merupakan BBM yang ramah lingkungan karena terbuat dari bahan berkualitas dan teruji dilengkapi penggunaan EcoSave Technology. Selain bebas timbal, pembakaran pertamax juga lebih baik. Sehingga turut mengurangi polutan berbahaya seperti gas racun Carbon Monoksida (CO).

Mengurangi beban pemerintah : keberadaan pertamax sangat membantu pihak pemerintah dalam mengurangi subsidi Premium. Pemerintah membayar subsidi pada setiap liter premium, sedangkan pertama adalah BBM non subsidi. Sehingga, alokasi subsidi bisa dialihkan untuk pendidikan atau kesehatan masyarakat.


Paket ‘hemat’ BBM : mesin kendaraan masyarakat Indonesia lebih awet jika menggunakan pertamax. Kita pun bisa menghemat biaya perawatan mesin di bengkel. Hemat bukan berarti murah, secara nominal memang harga pertamax lebih mahal dari premium namun ini sebanding dengan kebaikan pertamax. 


Membantu paru-paru kota : mendukung penjualan pertamax yang ramah lingkungan, pihak pertamina membantu paru-paru kota dengan menjadikan SPBU yang Green di seluruh Indonesia. Suasana kota akan lebih asri lagi.

Menyelamatkan bumi : mendukung kampanye anti global warming dan climate yang kini meresahkan dunia.


Menggunakan Pertamax = melanjutkan perjuangan para pahlawan

Dengan menggunakan pertamax berarti kita bertekad melanjutkan perjuangan para pahlawan. Semakin banyak yang menggunakan pertamax, semakin banyak pula ‘pahlawan’ yang menjunjung tinggi nasionalisme. Adapun beberapa ide terkait pertamax dalam menumbuhkan jiwa kepahlawanan masyarakat Indonesia antara lain;

1. Pertamina mengkampanyekan penggunaan pertamax yang menyasar segmen anak muda. Misalnya dengan membagikan stiker penggunaan pertamax yang bertuliskan ‘Keren pake Pertamax’. Stikernya pun harus unik dan kreatif, harapannya, menggunakan pertamax menjadi bagian dari gaya hidup anak muda Indonesia. Ide kreatif bisa didapat dari para follower melalui #apaidemu, para follower memang banyak dari anak muda.

2. Pertamina mendukung penuh gerakan anti korupsi melalui buku, film dokumenter, atau multimedia tentang dampak buruk korupsi bagi diri sendiri dan masa depan bangsa.


3. Menggalakkan kembali Jas Merah (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH) melalui program film, lagu, kartun animasi yang menyasar siswa SD, SMP, SMA. Tentunya dibuat edukatif, kreatif dan tidak membosankan.

4. CSR Pertamina membentuk gerakan cinta Indonesia melalui penggunaan pertamax terdiri dari komunitas anak muda, ibu rumah tangga, penjabat hingga pengusaha. Karena, memakai produk dalam negeri adalah cara kita melawan ‘penjajah’ saat ini.

5. Pertamina mengkampanyekan manfaat penggunaan pertamax untuk mencegah kerusakan lingkungan. Penggunaan pertamax turut berkontribusi dalam ketersediaan alam untuk generasi bangsa di masa depan.


Sampai kapanpun, semangat juang pahlawan terdahulu harus tetap kita tanamkan dalam jiwa. Seorang pahlawan yang berjuang dengan niat ikhlas demi terwujudnya cita-cita bersama. Seperti halnya pertamax, mampu mengangkat martabat bangsa di tingkat internasional, membawa Indonesia mendunia. Semoga pahlawan handal lahir di setiap generasinya sehingga Indonesia terus menjadi lebih baik lagi di masa depan.



Referensi :
1. Sejarah 10 November 1945 
3. Foto masa penjajahan, klik sini  
2. Pertamina 




Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog #apaidemu Pertamax 
bulan November 2013







1 komentar:

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.