Sensasi Kaya Rasa dari Taste of Asia

Posted by with 5 comments
Seminggu yang lalu saya dapat kiriman sample Indomie rasa baru. Berasa seperti orang penting karena terpilih jadi Privilege khusus, orang pertama yang ngicipi. Seneng karen dapat gratisan. Pas nerima paket agak kaget juga sih, paketannya nggak berupa kardus tapi kotak kayu, jadi kayak kiriman buah githu. Setelah dibuka, wuuuah kerdus mini, cocok buat tempat bumbu di dapur dapat mangkok pula. hehe *dasar emak-emak



Surprise….bungkus indomie agak beda, lebih berkelas, tebel, paduan desain dan warna eye catching. Dari luarnya aja kelihatan ‘elegan’ pasti rasanya juga bakal manjakan lidah.

[Terios 7 Wonders] 7 Friendship Wanna Be…..

Posted by with 2 comments
No love, no friendship can cross the path of our destiny without leaving some mark on it forever. - Francois Mauriac



Cinta dan persahabatan selalu menghiasi jejak destinasi. Tanpa keduanya, kita tidak akan punya kenangan indah dari sebuah perjalanan. Bagi kebanyakan traveler mungkin sudah merasakan sentuhan love and friendship. Makanya, mereka selalu ketagihan untuk melakukan perjalanan lagi, menemukan jejak persahabatan di tempat lain.

Perjalanan jauh tak melulu ditempuh dengan pesawat, bis, kereta api atau kapal laut. Mobil, bisa jadi pilihan tepat lho. Kita bisa berhenti kapan saja sesuka hati, menikmati tantangan baru dan berkesempatan nambah kawan baru. Jadi, jangan hanya membayangkan capeknya berhari-hari di jalanan. Justru di sinilah kita akan merasakan sensasi asyik berpetualang menggunakan mobil.

Sehari Tanpa Gadget : Bikin Kue Cinta untuk Tetangga

Posted by with 3 comments
Terhitung hampir dua tahun saya kenal dunia maya. Bermula dari facebook, twitter kemudian blog. Saya merasakan hidup lebih berwarna. Dari SocMed, saya ketemu teman lama, kenal teman baru, bisa nyari tambahan duit dan mudah meng-upgrade ilmu tentang banyak hal lewat Om Google. Hehe…,

Saking banyaknya kemudahan yang saya dapat dari internet, kadang saya sampai lupa waktu dan lupa kerjaan. Misalnya, si sulung bolos nggak sekolah karena saya ‘asyik’ nge-blog, nggak ada yang ngantar ke sekolah, tiap hari suami saya belikan lauk dari warung karena jarang masak dan si kecil suka rewel karena nggak pernah saya ajak main ***lah, padahal saya ibu rumah tangga kok anggota keluarga masih saja terlantar? ---hohoho, saya ngaku salah

Masuk Neraka Siapa Takut #Melukai Hati Ibu

Posted by with 7 comments
Surga di telapak kaki ibu. Begitulah peribahasa yang menggambarkan betapa mulianya seorang ibu. Mulai dari hamil, melahirkan dan membesarkan anak, ibu punya peran yang luar biasa. Tanpa kelembutan dan kasih sayang ibu, kita tak mungkin bisa seperti sekarang. Saya pun sangat bersyukur memiliki ibu yang kini masih sehat, bugar dan rajin beribadah. 

Jiwa Pahlawanku dan Pertamax Gapai Indonesia Lebih Baik

Posted by with 1 comment
Beberapa bulan terakhir kita dijejali banyaknya berita korupsi. Satu per satu kasus korupsi mulai terkuak. Rakyat pun geram dan malu menyaksikan ‘polah tingkah’ para koruptor yang suka menimbun harta. Entah itu dilakukan seorang pejabat pemerintahan, dosen, hakim, hingga pemuka agama.

Korupsi menjadi penyakit serius yang menggerogoti bangsa ini karena mengakibatkan kesenjangan sosial (gap) yang luar biasa antara pejabat dan rakyatnya. Sang pejabat makin kaya, rakyatnya makin papa.

Pantaskan Diri Miliki Notebook Berkelas

Posted by with 32 comments
Saya berusaha memantaskan diri menjadi sahabat setia Si Acer Slim Aspire E1. Sebuah notebook yang didukung performa Intel® Processor di dalamnya. Kemanapun bisa saya ajak karena bawanya enteng. Eits, saya juga bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya lho. 



Sejak tahun 2005 hingga sekarang, saya menjalin pertemanan dengan PC, laptop, gadget dan terakhir notebook Aspire ONE 722. Saya tak bermaksud ‘selingkuh’, suka ganti dan menaruh cinta ke lain hati. Tapi, memang untuk mengejar produktifitas.

Burung pipit, penyu dan pohon kelapa

Posted by
Kini, dunia berada dalam genggaman. Awalnya, perkenalan saya dengan Social Media jadi pelipur lara. saya bisa ketemu dengan kawan lama dan punya kawan baru meski tidak tahu dia yang sebenarnya. semakin lama, SocMed jadi pemicu kegalauan. tiap orang posting status lagi berada di luar negeri, mata saya meleleh. "kapan ya aku bisa keliling kemana-mana, nggak hanya dirumah ngurusi cucian dan urusan dapur?".

Alhamdulillah, kegalauan seperti ini terobati dengan membaca dongeng ala Tere Liye yang berjudul Burung pipit, penyu dan pohon kelapa. Selamat Membaca ....


Break Your Routine

Posted by
Source
Potong rutinitasmu! Kalimat motivasi yang juga digagas Yoris Sibastian seorang creative consultant.

Terima Kasih MaBi

Posted by with No comments

Tidak selamanya berjibaku dengan urusan rumah itu membosankan. Rutinitas yang sama dan dikelilingi wajah itu-itu saja. Suami, Azzam, Nadia. Tanpa saya sadari, ada beberapa momen kebersamaan dengan mereka yang mampu membuat hidup terasa lebih berwarna. Lebih indah dari yang saya kira. 

Sebagai ibu rumah tangga mantan mahasiswa aktif hal ini tentu tidak mudah saya jalani, terkadang letupan penyesalan kerap menghantui, kenapa saya tidak bekerja saja, kenapa saya harus berkiprah di rumah bukan di perbankan sebagaimana jurusan yang saya ambil saat kuliah, kenapa harus begini? Tiap harinya, hanya sibuk urusan dapur dan anak-anak. 

Ah, itu dulu. 

Semenjak tiga bulan program “Momen 15 Menit” digelar oleh Sari Wangi, saya menilai kebersamaan tidak sesederhana dulu. Tawa, canda, obrolan meski hanya sejenak patut saya syukuri. Kehadiran mereka adalah anugerah, sebaik mungkin harus dijaga dengan cinta. Dan ternyata lagi, kebersamaan tidak harus bayar mahal, dari cerita saya dan teman-teman peserta lainnya memiliki kebiasaan berkumpul dengan cara yang unik, hemat, dan menceriakan. 

Kumpul sambil nge-teh. Bagi saya, ini adalah ide brilian untuk menjaga keharmonisan keluarga. Terima kasih MaBi. Meski saya belum berhasil mendapatkan tiket tea camp ke Sari Ater tidak masalah. Saya tetap bahagia, bisa berbagi cerita dengan keluarga lain. Teruslah menginspirasi keluarga Indonesia, supaya kami selalu menyadari bahwa keluarga adalah yang paling utama. Bukan mengutamakan ego, menyisihkan waktu 15 menit, melepas rutinitas sejenak untuk berkumpul. 



Berikut ke-enam cerita yang telah saya submit. Ingin saya abadikan di blog pribadi, satu diantaranya telah diubah ke dalam bentuk komik. *oh, betapa senangnyaaaaa* 





1. Siasati Waktu Jogging Untuk Nge-Teh dan Ngobrol 


Semenjak menikah, saya dan suami sudah punya trik-trik khusus untuk punya waktu kumpul dengan keluarga. Kalau kumpul di rumah itu sudah biasa, tapi kalau jalan-jalan pasti buang uang juga, nggak jadi hemat dong, begitu pikiran kami. Nah, akhirnya kita bikin moment seru yang kami sepakati, murah dan pasti anak-anak senang yaitu JOGGING DI LAPANGAN. 


Tiap hari Minggu, saya bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal sarapan. Tak lupa saya bawa biskuit dan teh hangat ‘Sari wangi’ ditaruh di tremos (meski tiap hari sudah terbiasa minum teh, momentum kumpul kali ini terasa beda). 


Pukul 5.30 kami berangkat. Saya, ayah, Azzam (4 tahun), Nadia (2 tahun) menikmati semburat mentari yang mengiringi langkah kecil kami menuju lapangan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Celotehan anak-anak, sapaan tetangga dan orang yang lalu lalang turut menghangatkan suasana. 


Usai jogging dan senam ringan, anak-anak asyik bermain dengan teman sebaya di lapangan, Saya dan suami ngobrol sebentar sambil nge-teh. Ah, jarang-jarang di rumah kami bisa seperti ini karena kedua balita kami kerap ‘mengganggu’ kebersamaan kami (ya namanya juga masih anak-anak, kan). Jika dihitung-hitung 15 menit kami nge-teh, ada 15 cerita —bahkan lebih– yang bisa kami bicarakan di sini tentang kantor, gaji, perkembangan anak-anak, impian, harapan dan ups…kadang ‘refleks’ nge-gosip loh. Hehehe…(semoga tidak kebablasan—tidak baik). Pulang jogging, suasana hati kami semakin berwarna dan menjalani hari-hari penuh cinta. 









Klik gambar biar jelas 





2. Role Playing 


Saat aku masih kecil, `aku senang bermain ‘pura-pura’. Jadi pedagang, dokter, guru dan masih banyak lagi. Saat kuliah, aku baru tahu kalau permainan tersebut dinamakan Role playing atau metode bermain peran. Kini, permainan ini jadi salah satu kegiatan seru di keluarga kecil kami, mengisi moment kebersamaan aku, suami, Azzam (4,5 tahun) dan Nadia (2 tahun). Bermain peran ditemani teko berisi teh hangat ‘Sari Wangi’, kami berempat siap acting. 


Meski pura-pura alias tidak sungguhan, permainan ini mampu mengasah ketrampilan bicara dan sosial kedua anak kami yang masih kecil. Skenario cerita beragam, interaksi penjual-pembeli, dokter-pasien, pengamen-pengendara dan masih banyak lagi. 


Ehm, ada cerita lucu saat kami melakukan role playing bertema ‘AKU PENGUSAHA”.

Di meja sudah tertata barang dagangan seperti sejumlah buku, pensil, penggaris, dan boneka. “beli apa mbak?” kata Azzam sebagai penjual. Nadia, aku dan ayah jadi pembelinya. Sambil mempromosikan barang dan belajar tawar menawar harga, si Azzam SOK jadi saudagar kaya, ia menaruh pensil di telinga sambil pencet-pencet kalkulator di tangan kirinya. Ehm, kami pun geli melihat gaya-nya. Canda dan tawa pun kerap membuncah saat peran lucu dilakukan Nadia misalnya sebagai pembeli ia sering mengambil barang dagangan tanpa membayar terlebih dahulu. Ulah seperti ini membuat Azzam sebagai penjual bisa marah dan teriak-teriak. 


Hufh…Bisa dibilang, permainan ini cukup menguras energi anak-anak, akhirnya rehat sejenak menikmati teh Sari Wangi dan kue kacang favorit keluarga menjadi pilihan kami. Meski barang berantakan usai bermain, aku dan suami cukup terhibur dan kami semakin merasa dekat dengan anak-anak. Terlebih, dengan Role playing, Azzam dan Nadia bisa mengeksplorasi diri melalui peran yang dimainkannya. Semoga bermanfaat untuk masa depan mereka kelak. Terima kasih Sari Wangi telah menemani kebersamaan kami dalam bermain peran. 


3. Cangkruk di Warung Nasi 


Bagi saya, pagi hari adalah simpul awal dari kehidupan sehari-hari keluarga kecil saya, terutama Azzam (4,5 tahun) dan Nadia (2 tahun). Simpul yang padanya banyak bergantung momen kehidupan mereka selanjutnya. Sejak jadi pengajar di sekolah full day school, saya jarang masak ketika pagi. Waktu pagi habis untuk memandikan anak-anak, bermain, sesekali berberceloteh ria sambil mempersiapkan bekal sekolah si Azzam di PAUD dan Nadia ke Day care. Karena kalau anak-anak dalam keadaan hepi kala pagi, mereka tidak rewel saat berpamitan dengan kami. Saya dan suami memang bekerja dengan ritme yang hampir sama. Berangkat pagi pulang sore. Jadi, anak-anak kami percayakan pada sekolah play group yang terdapat fasilitas day care hingga sore hari.

Untuk sarapan pun saya dan suami lebih mengalah. Jika saya tidak sempat masak. Warung nasi kerap jadi dapur keluarga kami. Salah satunya di warung nasi Mbok Rah, lokasinya hanya 100 meter dari sekolah, tempat saya mengajar. Sebagai guru di sekolah swasta yang menerapkan full day school, saya tidak pusing soal jadwal makan karena di sana sudah disiapkan camilan dan makan siang. Nah, detik-detik sebelum bel masuk berbunyi, kami sekeluarga ‘cangkruk’ di warung nasi Mbok Rah.

Di warung nasi Mbok Rah, kami pilih tempat lesehan. Sambil menikmati nasi pecel sebagai menu favorit. Kami disuguhi teh hangat Sari Wangi. Mbok Rah tahu apa yang kami sukai karena sudah menjadi pelanggannya selama 4 tahun. Saya, Ayah, Azzam dan Nadia suka dengan aroma khas Sari Wangi, tidak menyengat dan tidak getir di lidah. Bagi Mbok Rah pun juga tidak sulit saat menyeduhnya, kan praktis, tinggal celup-celup. Obrolan ringan dengan Mbok Rah seputar keluarga, anak-anak, dan resep masakan mengisi waktu sarapan kami.

Pernah suatu ketika Azzam berseloroh,

“Bunda, kayak mbok Rah itu loh pinter masak, pagi hari sudah bisa masakin menu banyak kayak gini!”

“Hahahaha….” semua pembeli di warung sontak ketawa bersamaan.

Saya. Saya hanya tersenyum simpul. *sebel juga sih. Lucunya lagi, Nadia memanggil mbok Rah dengan sebutan eyang. Mbok Rah semakin akrab dengan kami. Apalagi, ayah suka godain rasa masakan, “waduh, mbok….kok asin banget sambel pecelnya” Kata ayah sambil menjulurkan lidah. Mbok Rah bingung, “ah…masa sih, nggak kok”.

Sekali di icip, asin. Lama-lama kok enak juga ya, udah nggak berasa asinnya, mbok!” Tambah Ayah

Tuh, ayah suka godain Mbok Rah deh, kata Azzam. Kegokilan Azzam, Nadia dan ayah jadi perekat keluarga kami dengan mbok Rah. Kedekatan kami dengan mbok Rah bukan sebatas penjual dan pembeli saja tapi sudah seperti keluarga. Tiap lebaran, kami sempatkan bersilaturahmi ke rumah beliau. Meski hanya berkisar 15 menit, sarapan pecel dan nge-teh ala Sari Wangi di warung nasi Mbok Rah selalu menelurkan cerita. 


4. Grojokan 


Azzam (4,5 tahun) dan Nadia (2 tahun) sangat suka bermain air. Kalau sudah ketemu air, mereka pasti betah berlama-lama. Terlebih, saat grojokan, bermain air plus mandi dengan selang yang ditaruh di ranting pohon rambutan. Dari bahasa Jawa, grojokan berarti aliran air besar dan deras. 


Pukul 06.00 pagi, saya dan suami bergegas menuju halaman rumah. Saya bertugas menyapu halaman sedangkan ayah menyiram tanaman. Nah, karena jarak antara kran air dan tanaman lumayan jauh, selang panjang pun jadi pilihan. Ternyata, selang inilah yang menarik perhatian Azzam dan Nadia. Bukannya malah membantu, mereka asyik bermain air. Bagi Azzam, semprotan air yang keluar dari selang ini mirip peluru keluar dari senapan. Duuuaarr…..”teriak ayah ‘menembak’ Azzam seperti pemburu tengah beraksi mengincar buruan. Cipratan air mengenai baju Azzam, Azzam pun berlari mencari tempat persembunyian. Hehe, lucunya ia sembunyi di balik pohon sambil cekikian, geli menahan tawa. Saya, ayah dan Nadia ikut tertawa terbahak-bahak, ikut berlari mencari buruan. Kebersamaan pagi menjadi momen spesial sebelum kami berangkat kerja. Di temani empat cangkir teh hangat Sari Wangi dan pisang goreng yang sudah saya siapkan di meja teras. 


Adiknya, Nadia juga kerap memancing keceriaan. Misalnya, saat membantu menyiram tanaman ia ikut menyanyikan lagu ‘lihat kebunku, penuh dengan bunga……dst’ meski artikulasi bahasanya belum jelas. Bagi kami, ini adalah saat tepat untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada tanaman dan lingkungan. Bumi dengan segala keindahan isinya dianugerahkan Tuhan untuk manusia maka kecintaan anak pada lingkungan itu harus ditumbuhkan sejak dini. 


Celotehan mereka tentang tanaman pun mengalir, “kasihan ya, tanaman kok disuapi kotoran sapi, kenapa tidak diberi nasi saja biar cepet gede?” pertanyaan itu terlontar ketika ayah memberikan pupuk kandang pada tanaman. Ayah pun menjelaskan dengan bahasa sederhana. 


Belum lagi, Nadia yang sering mengulang pertanyaan serupa, “apa ini?” meski sudah dijawab, ia kembali bertanya “apa ini”? bahkan sampai 10 kali pertanyaan, “apa ini?” kami pun tidak bosan hingga akhirnya kami keluarkan senjata ampuh kami yakni menggelitiki perut kecil Nadia. Kalau ia sudah ketawa, pertanyaan akan ia hentikan. Sontak, kami juga ikut ketawa. Aaaah, banyak Kejutan ‘cerdas’ Azzam dan Nadia yang dapat kami saksikan saat berkumpul bersama. 


Grojokan berlangsung ketika kegiatan menyiram tanaman sudah beres. Biasanya ayah meletakkan selang di ranting rambutan kemudian menyalakan kran. Dan……byuuuuur! Air tumpah dari atas, Azzam dan Nadia lompat jumpalitan dengan riang di bawah pohon rambutan, balon renang bergambar spiderman sudah terlingkar di pinggang keduanya. 


Grojokan tidak terlalu lama, kami langsung memandikan mereka karena khawatir anak-anak masuk angin, minum teh hangat Sari Wangi jadi penghangat tubuh mereka. Usai grojokan, kami merasa semakin dekat, berkat Sari Wangi pula cinta kami semakin hangat. Sehangat mentari pagi menemani kami saat grojokan. 


5. Panggung Gembira 


Panggung gembira merupakan ajang ekspresi di keluarga kecil kami. Saya, suami, Azzam (4,6 tahun) dan Nadia (2 tahun) bebas mengekspresikan diri. Boleh menyanyi, menari, menjadi model, bercerita dengan alat peraga, bermain peran atau menjadi instruktur senam. Pukul 19.30 WIB, usai menemani Azzam belajar. Kami siap beraksi di tempat yang kami sebut panggung. Tempatnya sederhana dan sering berpindah-pindah, kadang di atas karpet, kasur, teras atau di atas meja berukuran 2,5m x 1,5m x 1m yang ada di dapur (meja jadul……hehe). 


Jika anak-anak sedang mood menyanyi, ayah mengambil alat musik ala kadarnya dari dapur seperti galon air kosong, kaleng susu yang tidak terpakai, botol berisi beras dan kemoceng (untuk klotekan–memukul galon). 


Saat ayah menjadi MC, Azzam pertama kali masuk panggung menyanyikan lagu, “Balonku Ada Lima” lengkap dengan klotekan (penggunaan alat musik). Kemudian, saya dan Nadia sebagai penonton. Ekspresi ‘lepas’ saat ada di panggung, membuat saya dan suami terkagum-kagum. Azzam tampil percaya diri dan semangat sesekali Nadia menyusul kakak ikut menyanyi, terkadang saya sibuk mengabadikan momen seperti ini dengan kamera saku. 


Ditemani empat cangkir teh hangat Sari Wangi, acara semakin rame dan meriah. Bahkan, karena kehausan, Azzam kerap turun panggung hanya sekedar menyeruput teh. Saya sangat bersyukur, bisa ngobrol dengan ayah sambil melihat keceriaan anak-anak, semua ini mampu melenyapkan rasa capek dan jenuh menjalani rutinitas. 


Beda cerita ketika anak-anak pengen menari, berbekal kuda lumping mini plus pecut, Azzam beraksi tanpa jeda seiring alunan musik Reog jaranan yang kami putar dari hape. Tak lupa saya melilitkan selendang ke pinggang Nadia. Di tengah krisisnya program anak di televisi, kami berupaya mengenalkan mereka dengan ragam kesenian lain. Terutama, dari warisan seni budaya leluhur seperti lagu daerah ‘gundul pacul’, lagu anak atau lagu nasionalis ‘Maju Tak Gentar’ yang kini jarang didengar anak-anak. Dari lagu tersebut pula, kami sisipkan nasihat pada mereka. 


Di panggung gembira anak-anak memang lebih banyak bergerak. Jika sudah capek menari, mereka merengek-rengek, meminta ayah untuk jongkok. Dan, horeee…..ayah, jadi kuda lumpingnya. Mereka saling berebut naik ke punggung ayah. 


Masih banyak lagi cerita seru lainnya saat menikmati kebersamaan di panggung gembira. Ketika Ayah menjadi instruktur senam, ekspresi saya bercerita menggunakan wayang Pandawa, tarian Nadia yang bikin kami cekikian, dan lagu ‘Nina Bobok’ yang mampu menerbangkan anak-anak ke pulau impian saat manggung di atas kasur. Meski hanya berkisar 15 menit, panggung gembira akan terus kami hadirkan di tengah-tengah keluarga kami karena memiliki waktu bersama keluarga ditemani empat cangkir teh Sari Wangi adalah momen yang sangat berharga. 


6. Sema’an 

Padatnya jadwal kerja bukan jadi kendala keluarga kecil kami, untuk bisa menikmati kebersamaan. Salah satunya dengan mengisi kegiatan ibadah bersama-sama. Usai melaksanakan sholat maghrib berjama’ah dari mushola dekat rumah, kami sekeluarga menuju ruang keluarga dan mengambil Al-Qur’an untuk melakukan sema’an (kegiatan simak-menyimak). Kata ‘Sema’an’ berasal dari bahasa Arab Sami’a-Yasma’u, yang artinya mendengar. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Simaan” atau “Simak”, dan dalam bahasa Jawa disebut “Sema’an”. 


Azzam (4,5 tahun), si sulung yang masih belajar huruf hijaiyah (Buku Iqra’) juga tidak mau ketinggalan. Saya, ayah, Azzam dan Nadia (2 tahun) pun segera membuat lingkaran kecil. Tanpa gadget di tangan dan nyala tv, suasana sangat tenang. Semua mendapat giliran mengaji kecuali Nadia, saya dan suami bertugas menyimak, gunanya untuk membetulkan bacaan Al-Qur’an. Giliran Si Azzam membaca Buku Iqra’, ayah yang menyimak. Biasanya, saya membuat teh Sari Wangi untuk disajikan saat Sema’an. Selain penyajiannya yang cepat dan praktis (celup), ayah dan anak-anak sangat suka aroma wanginya. 


Minum teh hangat usai mengaji sangat menyegarkan tenggorokan, itulah mengapa sejak saya kecil, minuman teh tidak pernah ketinggalan menemani kegiatan sema’an di beberapa mushola desa. 


Sema’an di keluarga kecil kami tidak sekedar menyimak bacaan namun juga diselingi cerita hikmah yang tertuang dalam kitab suci kami (Al-Qur’an). Cerita favorit Azzam dan Nadia adalah cerita ikan Paus dan Penyelamat Nabi Yunus, sebuah cerita yang mengandung pesan tauhid, keteguhan, kesabaran, keberanian, kasih sayang, serta nilai luhur lainnya. Dengan alat peraga boneka Paus, kami hanyut dalam kebersamaan, terasa begitu dekat. 


Sema’an merupakan salah satu cara kami untuk menumbuhkan cinta anak-anak pada Tuhan sekaligus memberikan keteladanan. Jika kami ingin mengajari mereka tentang akibat perbuatan jahat, kami bercerita tentang tipu daya Nabi Adam as, kisah Fir’aun dan kisah Ashabul Fill (pasukan bergajah). Begitu halnya dengan budi pekerti saat menuntut ilmu dan menghormati guru, kami bercerita kisah Nabi Musa as dengan Nabi Khidir as yang bisa dijadikan teladan. 


Ehm, di lain kesempatan sema’an, kami mengajak anak-anak ke dunia petualangan dengan membawa misi besar, semua ada dalam kisah Nabi Yunus as., mukjizat-mukjizat Nabi Musa ketika melawan Fir’aun, kisah Nabi ‘Isa, kisah sapi betina, unta Nabi Shaleh, serta kisah Ashabul Kahfi tentu sangat menarik bagi mereka. 


Oh ya, cerita yang kerap diulang si ayah adalah tentang kepatuhan dan bakti kepada orangtua, kisah Nabi Ibrahim as. dengan ayahnya, kisah Nabi Ibrahim dengan Nabi Isma’il soal mimpi-mimpinya, serta kisah Nabi Nuh as. dengan putranya yang durhaka. 


Semua nilai kehidupan telah diajarkan di kitab suci. Penting sekali untuk bekal anak-anak kelak. Karena kedua anak kami masih balita, kegiatan ini kadang tak berjalan mulus, lingkaran kecil kami jadi amburadul ketika Azzam dan Nadia tengah memperebutkan mainan, buku Iqra’, teh atau snack. Berlari, teriak histeris, canda dan tawa kerap jadi penghangat suasana sema’an. Melalui sema’an ditemani teh Sari Wangi, kami berharap semoga menjadi momen kebersamaan yang bermanfaat untuk masa depan mereka. 




ABG YAHUT PUNYA 7 ICON

Posted by with 10 comments
Hellooo…para ABG yang lagi kesepiaaaan, sering ngerasa mellow mellow galau? Atau sekarang lagi hepi barusan ketemu si merpati? *halllaaaah

Apa kabar? Masih tetep semangat, kan? Ya iyalah lha wong masih muda. Masih enerjik githu. judul postingan di atas ngga ada kaitannya dengan girlband tenar, loh. Eh..eh..eh…jangan keburu ditutup ye. Saya Cuma pengen sharing aja soal ABG. Yeee, Anak Baru Gede. Loe ngerasa, gede nggak? Kalau nggak silahkan close aja lamannya. Kalau loe ngerasa ABG Gaul, baca sampe habis ya tulisan ini. *dikit kok

Seru-seruan Pakai Slim Aspire E1

Posted by with 11 comments

Klik gambar biar jelas *tahu nih kok kecil banget nongol di laman

Jeng Kelin : “Apa sih yang bikin wajah loe ‘mendung’ githu, jutek banget?”

Mang Kelan : “Kerja!!!”

Jeng Kelin : “emang kenapa dengan kerjaan loe, santai aja bro! nikmati kepenatan saat kerja, nggak usah terlalu stres mikirin ruwetnya kejaran deadline. Take easy.

Mang Kelan : “Heh! Gimana nggak jutek, kerjaan gue kan kerjaan otak bukan otot, gue musti mikir dan kepala sering nyut-nyut kalau pas laptop gue ngadat!”

Jeng Kelin : “Oooh, itu masalahnya….tenang, bro! mending sedekahin aja laptopnya terus segera beli netbook Slim Aspire E1. Produk terbaru dari Acer yang bisa jamin, loe bakal hepi kerja, asyik juga buat bermain bareng keluarga loe”

Mang Kelan :“Slim Aspire E1? Boleh juga dicoba, jelasin dong keistimewaannya!” 


*****************

Momen Muharram dan Kue Buatanku

Posted by with No comments
Setelah seminggu capek urusan dapur, kembali ke laptop pagi ini. Punya gawe bagi-bagi kotak nasi untuk 50 tetangga bikin tubuh tepar deh. Pasalnya, semua jenis kue ngoyo saya yang masak plus praktekin ilmu bakery nya meski baru mengenal mixer, jenis tepung, oven, loyang dan alat-alat masak kue lainnya.


Walhasil, sukses, bro! dibantu budhe dan ibu. Semua bisa tertawa lepas karena saya bisa buat kue yang nggak ngecewain mereka. Niat praktek, tapi cocok dan cantik untuk isi kotak jajan. Ada kue kering moon & stars, Malvinas, dan lumpur yang dibikin gede, kayak kue yang dijual di toko itu loh.