Inspirasi dari Teater Keliling

Posted by
Usai melihat tayangan Kick Andy tanggal 27 September 2013 yang bertajuk Cinta Indonesia, saya merasa takjub sekaligus menyadari betapa ‘kurangnya’ kontribusi saya pada Indonesia. Tidak perlu menjangkau skala internasional, untuk lingkungan hingga keluarga pun masih jauh dari nilai plus. Sebagai ibu urmah tangga yang lulusan Sarjana merasa tidak berguna. Eh, belum ada ukuran standar ya. Atau, mendapatkan materi untuk keluarga menjadi tolak ukur?

Bukan. Bukan ini maksudnya, tentu lebih pada karya yang bisa kita hasilkan. Lebih dari sekedar masak, mencuci, nyapu atau ngepel.

Dari ketiga tamu yang hadir, terdapat Founder Teater Keliling, Rudolf Puspa. Beliau telah puluhan tahun menghidupkan teater keliling secara door to door. Dari kisahnya, banyak pelajar merasa jenuh saat belajar di dalam kelas. Ada pula pelajar yang pemalu alias tidak percaya diri. Berkat latihan teater semua berubah. Teater mampu melahirkan sosok yang unik, lebih percaya diri dan tahu who is he? *ini penilaianku loh!

Saat para pelajar ‘muak’ dengan pelajaran Sejarah, sebenarnya kisah perjuangan para pahlawan bisa dikemass dengan apik melalui teater. Penjiwaan, penghayatan dan artikulasi dilatih lepas di lapangan terbuka, bukan di kelas. Ehm, sebagai guru Bahasa Indonesia saya merinding. Dengan suara saya yang lembut (lebay ^_^) apa bisa seperti pak Rudolf Puspa ataupun istrinya?

Suara lembut? Ya, saya akui itu, saat saya bicara dengan volume suara 70% pasti ada saja siswa yang ngobrol, tidak memperhatikan kecuali kalau saya sudah merasa melepas nada mayor 100%. Jadi, kayak teriak, baru deh siswa pada focus lihatin saya. Hufh… maklumlah saya memang bukan orang pendidikan cuma punya sedikit perhatian dengan pendidikan dan kepenulisan. Padahal, kalau disuruh milih, nulis atau ngajar. Saya mending milih nulis, tak perlu ngotot untuk bicara ataupun menguasai kelas.

Eh, kembali ke teater tadi ya. setelah melihat adegan yang dibawakan anggota teater keliling bertajuk Jas Merah dalam acara Kick Andy. Lagi-lagi, terpesona dengan cara mereka mengekspresikan diri, sesuai dengan peran yang mereka bawakan. Dari usia, masih cukup muda. Saat itu, yang ada dibenak saya adalah murid-muridku, kapan bisa seperti mereka? Dengan cara apa saya bisa membawa mereka lebih serius untuk belajar drama? Pasalnya, empat kali pertemuan di kelas VIII hanya dua siswa yang menurut saya lumayan okey yakni Reza dan Yoma. (andai saja si Yoma betah di Gontor, pasti dia akan mendapatkan ‘ilmu teater’ lebih bagus lagi). Semoga mereka jadi contoh baik buat temen-temen lainnya sekaligus jadi bibit-bibit siswa yang berprestasi dalam dunia seni dan bahasa.