Sinyal Kemandirian Bangsa dari Cyber Village dan Digital Society

Posted by with No comments
Tema :
Dampak tarif telekomunikasi yang murah terhadap upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia
                                                       (Kategori Umum)

Pada tanggal 10 Agustus 2013, puluhan mahasiswa asing penerima Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) dari Direktorat Diplomasi Publik Kementrian Luar Negeri RI mendatangi Bumi Blambangan, Banyuwangi. Mereka berasal dari 12 negara yakni Amerika Serikat, Nauru, Polandia, Maroko, Kroasia, Tonga, Yunani, Papua Nugini, Fiji, Australia, Filipina, dan perwakilan Indonesia. Bagaimana mereka bisa kenal dengan kabupaten Banyuwangi?
Usut punya usut, mereka mengetahui potensi Banyuwangi dari informasi di internet tentang sejumlah tempat wisata di Jawa Timur. Dari hasil browsing mereka tertarik dengan Triangle Diamond Banyuwangi yakni Gunung Ijen, Pantai Sukamade dan Pantai Plengkung.

Saat berkunjung ke kawah Ijen, mereka sangat terpikat dengan ekosistem wisata dan kekayaan seni budaya suku Osing. Tari jejer gandrung dan seblang olehsari telah berhasil menghipnotis para mahasiswa seni ini, menikmati alunan musik gandrung yang energik, mengibaskan sampur yang terlingkar di leher sesekali senyuman merekah saat mengikuti gerakan tari.

Para mahasiswa dari berbagai profesi, mulai pelukis, fotografer, hingga jurnalis yang peduli terhadap kebudayaan dan kesenian lokal juga terkesan dengan keramahan warga Osing dan kekhasan rasa kopi asal Banyuwangi. Janandrew B.Denila, mahasiswa asal Filipina sempat melukis maestro kopi Banyuwangi, Setiawan Subekti yang sedang menikmati secangkir kopi. (disadur dari berita Jawa Pos, 14 Agustus 2013 yang berjudul Tradisi Osing Pikat Mahasiswa Asing)



Tulisan diatas adalah sepenggal informasi tentang Banyuwangi yang saat ini tengah gencar melakukan branding melalui media internet. Pesatnya kemajuan teknologi membuka peluang besar dalam menarik kunjungan para wisatawan ke Banyuwangi, terutama wisatawan dari mancanegara. Berkat tersedianya akses internet gratis pula, warga Banyuwangi mulai mengenal manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kedepannya, PemKab Banyuwangi sangat berharap kualitas hidup masyarakat bisa lebih meningkat.

Sekilas tentang Banyuwangi

Pernah dengar makanan Bagiak? Makanan ini menjadi camilan khas Banyuwangi yang sering dijadikan buah tangan para wisatawan. Banyuwangi dikenal dengan pemandangan alam yang terhampar dari barat ke timur. Di sana, ada pegunungan hingga hutan yang sangat asri, terdapat Kawah Ijen di bagian barat Banyuwangi dan Taman Nasional Meru Betiri yang terkenal dengan satwa uniknya seperti Harimau Jawa dan penyu.

Secara geografis, Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur bahkan di pulau Jawa. Luasnya 5.782,50 km^2. Wilayahnya cukup beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan. Salah satunya kawah ijen yang sering disambangi para pecinta travel petualang. Di bagian selatan terdapat pantai Sukamade yang merupakan kawasan pengembangan penyu. Dan di bagian timur Banyuwangi terdapat pantai penghasil ikan terbesar di Jawa Timur (Muncar). Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung paling timur Pulau Jawa berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Selat Bali di tumir, Pelabuhan Ketapang yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pelabuhan Gilimanuk di Bali.

Spirit Banyuwangi Sebarkan Virus Teknologi Informasi

Semenjak lima tahun terakhir saya bisa mengunjungi Banyuwangi meski hanya setahun sekali, saat mudik lebaran. Suami asli orang Banyuwangi, satu hal yang suka jika ke Banyuwangi adalah bisa berwisata. Di sana banyak obyek wisata berskala internasional, sebut saja Pantai Plengkung, surga para perselancar yang tinggi ombaknya bisa mencapai 6 meter. Ada juga Pantai Pulau merah bagi perselancar pemula atau amatiran, tinggi ombak hanya 2 meter. Kawah Ijen dengan nuansa pegunungan yang sejuk dan Taman Nasional Alas Purwo. Obyek wisata tersebut dikenal dengan sebutan Triangle Diamonds. Berkat dukungan geografis, pemerintah Banyuwangi mengusung konsep Ekowisata yang tetap mempertahankan kultur budaya dan kealamiannya.

Satu hal lagi yang kini menarik perhatian saya dari Banyuwangi adalah semangat pemkab Banyuwangi dalam meningkatkan kualitas hidup warganya melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Seperti yang kita ketahui, memasuki trend globalisasi seperti sekarang, kebutuhan informasi menjadi kebutuhan ‘primer’ bagi siapapun, baik secara personal, organisasi, kelembagaan, daerah ataupun negara. Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, pemerintah kebupaten Banyuwangi terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya peran komunikasi dan informasi. Pengenalan terhadap teknologi informasi tidak bisa dilakukan secara singkat namun haruslah berkesinambungan agar masyarakat tahu manfaat penggunaannya, mengerti pekembangan teknologi sekaligus dapat digunakan pula sebagai sumber informasi dan inspirasi.

Pada tanggal 22-28 September 2010, puluhan staf perangkat desa, kecamatan serta masyarakat dari berbagai elemen mengikuti Pelatihan Pengenalan Teknologi Informasi di ruang pelatihan Telencenter Asriloka Desa Sumber asri Kecamatan Purwoharjo. Dalam pelatihan ini, mereka dikenalkan tentang tata cara penggunaan perangkat teknologi informasi serta pengoperasian beberapa Aplikasi dasar untuk perkantoran. Peserta pelatihan diajak untuk mencari informasi di internet yang berkaitan dengan Industri Pertanian, Pendidikan, Pariwisata, dunia Usaha Kecil Menengah, dan mengenai Peternakan. Tak ketinggalan juga materi pembuatan E-Mail dan chatting untuk berkomunikasi dengan sesama pengguna internet.

Dari informasi yang saya dapat, perkembangan teknologi di kabupaten Banyuwangi terus mengalami peningkatan. Pada tanggal 31 Mei 2011, desa pelosok yakni desa Kaligondo Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi ditetapkan oleh Bupati Banyuwangi sebagai Percontohan Desa berbasis Teknologi Informasi (Cyber Village). Memang dari sekian banyak desa, hanya Desa Kaligondo yang sudah berhasil memanfaatkan Teknologi Informasi untuk pelayanan Publik. Fasilitas Internet gratis dan hotspot juga tersedia, dengan kelengkapan 10 unit PC, 1 server dan 1 LCD monitor besar. Pelayanan mulai tingkat dusun sudah berbasis internet, sehingga percepatan pelayanan dapat dicapai. Masyarakat yang menginginkan informasi terkait data desa, juga dilayani dengan website desa. Ingin tahu tentang desa Kaligondo? Silahkan anda klik (www.kaligondo.banyuwangikab.go.id)

Untuk tingkatan wilayah desa, sungguh merupakan satu kemajuan yang perlu mendapatkan apresiasi mengingat Pemerintahan Desa rata-rata masih berkutat dengan pola pelayanan manual. Wong ndeso pun tak gaptek lagi

Rangkaian Agenda B-DISO
Tidak berhenti sampai di situ, saat saya melewati jalan raya, terdapat plang yang bertuliskan program Banyuwangi Digital Society (B-DISO), dengan rangkaian kegiatan sosialisasi sebelum acara launching digelar. Ternyata, pemkab Banyuwangi kembali membuat gebrakan baru dalam memberikan edukasi tentang pentingnya melek teknologi yakni Program B-DISO.
Warga Banyuwangi bisa menikmati WiFi gratis
B-DISO mendapat sambutan hangat dari warga Banyuwangi, terbukti saat grand launching, pada tanggal 9 Maret 2013 di GOR Tawangalun disambut antusias para undangan, acara tersebut ditandai dengan pengukuhan relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Jawa Timur dan juga akses kolosal 3.000 client dari pelajar SLTA untuk memposting harapan dan ungkapan cinta mereka terhadap Banyuwangi. Yang lebih spesial lagi, acara tersebut dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Tifatul Sembiring. Beliau yakin, efek digital sangat dahsyat untuk peningkatan pelayanan publik dan memacu kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Dengan adanya dukungan dari perusahaan telekomunikasi, program B-DISO akan memproyeksikan pengadaan 10 ribu titik wireless fidelity (WiFi) gratis di seantero Banyuwangi sedangkan pada acara launching, sudah diresmikan pengadaan 1100 titik WiFi gratis di beberapa sekolah, rumah makan ataupun tempat tertentu. Hal ini menjadi awal dari target hingga tahun 2014. Dengan adanya ribuan WiFi yang sudah tersebar, Banyuwangi telah menjadi kabupaten pertama di Jawa Timur yang menyandang Kota Digital Society.

Dari pemaparan bupati Banyuwangi saat me-launching program ini, B-DISO tidak hanya akan memberikan kemudahan bagi masyarakat terhadap jaringan internet yang lebih luas dan mudah namun secara khusus dapat bermanfaat bagi efisiensi kerja di birokrasi melalui sistem e-office. Beberapa pemanfaataan internet tersebut antara lain;

1. Peluncuran Layanan E-office
Layanan e-office memungkinkan segala proses surat menyurat di tidak lagi dilakukan secara manual, tapi bisa dengan IT tentunya lebih cepat dari manual. Sebaliknya kalau masih telat, melalui e – office ini akan diketahui dimana prosesnya

2. Peluncuran Layanan e-health
Program ini menjadi jembatan layanan langsung kepada masyarakat. Seperti Jamkesda dan Jamkesmas yang dilakukan dengan cepat secara online. Layanan kesehatan di RSUD maupun Puskesmas bisa diakses secara online oleh Dinas Kesehatan

3. Peluncuran Layanan e-education
Program ini memungkinkan dinas pendidikan dapat memantau kinerja tiap sekolah dan kepala sekolah secara online.

4. Peluncuran Layanan Zakat online
Melalui e-zakat, warga cukup membayar zakat melalui perbankan. Seluruh transaksi dan pelaporan bisa dipantau melalui situs Web. Transaksi zakat cukup ditransfer melalui ATM (anjungan tunai mandiri)

Wow, sangat fantastis, bukan? Benar-benar akan terwujud smart city di Banyuwangi.

Dari beberapa program yang telah digelontorkan pemkab Banyuwangi, kita bisa melihat bahwa saat ini keberadaan akses internet bukan hanya bagian dari life style namun menjadi kebutuhan mutlak sebagai upaya meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, virus informasi teknologi harus terus disebar, sebagaimana Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga sudah menyiapkan sejumlah tenaga harian lepas di seluruh kecamatan untuk mendukung transfer pengetahuan warga sampai ke desa-desa. Para tenaga harian yang disebut Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Adakah program seperti ini di daerah anda?

Cyber Village dan Digital Society : Tingkatkan kualitas hidup masyarakat dan pertumbuhan ekonomi
Kemajuan Indonesia sejatinya adalah representasi kemajuan daerah. Karena itu sumberdaya manusia (SDM) daerah harus dimajukan untuk mendukung kemajuan daerah, kata bapak Anas, selaku Bupati Banyuwangi saat menghadiri Kongres Diaspora Indonesia.

Dari pengamatan saya secara kasat mata, Banyuwangi memang tampak beda jika dibandingkan dengan empat tahun silam, saat pertama kali saya menginjakkan kaki ke Banyuwangi. Misalnya, Taman Makam Pahlawan (TMP) yang terlihat gelap, kumuh, dan banyaknya pedagang liar. Kini, berubah terlihat berbeda, TMP tidak tampak angker. TMP atau dikenal dengan lokasi Sayu Wiwit, jadi tempat yang asri, rapi dan terdapat WiFi di gazibu. Lain lagi dengan masjid Baiturrahman, masjid Agung di Banyuwangi yang kini sudah selesai direnovasi terlihat lebih hidup. Terdapat pelayanan informasi bagi ummat Islam di Banyuwangi yakni adanya media elektronik seperti radio Baiturrahman FM dan TV Baiturrahman. Perbedaan lainnya adalah bandara Blimbing Sari yang sudah beroperasi, hal ini tentu sangat memudahkan saya mempersingkat perjalanan dari Kediri ke Banyuwangi .

Belakangan ini, pemanfaatan TIK menjadi kendaraan untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat Indonesia. Bahkan, pada tahun 2011-2025 pendayagunaan TIK akan terus dikembangkan sebagai salah satu langkah kongkrit dari program Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yakni program utama Pemerintah yang bertujuan untuk mendorong pemerataan dan pertumbuhan ekonomi di 6 koridor di seluruh wilayah Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, Papua-Kepulauan Maluku), mengingat selama ini pembangunan ekonomi terutama hanya dipusatkan di Pulau Jawa. Sudah saatnya TIK dimanfaatkan untuk aktivitas produktif yang bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi bukan hanya pada tataran basic service.

Cyber Village (desa dunia maya), desa berbasis teknologi informasi yang berada di Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi menjadi langkah awal pemerintah Banyuwangi dalam mengedukasi warganya. Melalui teknologi informasi, warga desa lebih gampang memasarkan pelbagai potensinya, mulai dari budaya sampai sumber daya alamnya. Di Desa Kaligondo dikenal dengan produk pertaniannya selain tanaman pangan, juga berkembang tanaman hortikultura seperti coklat, kopi, lombok, dan sebagainya. Kemampuan perangkat desanya dalam mengelola dan mengembangkan teknologi informasi juga tidak diragukan. Terbukti dari hasil bantuan jaringan internet tahun 2007 setiap satu kecamatan dan satu desa, hanya Desa Kaligondo yang masih eksis sampai sekarang. Karena itulah, Pemkab Banyuwangi melakukan gebrakan dengan membuat pilot project (percontohan) desa berbasis teknologi informasi.

Coba kita bayangkan, bagaimana jika seluruh desa yang ada di pelosok Banyuwangi juga menjadi cyber village seperti Desa Kaligondo?

Kini, saatnya Indonesia kembali ‘membangun’ secara serius potensi yang ada di desa berbasis teknologi informasi. Seperti negara lain, Thailand mengusung kredo OTOP. One Tambun One Product. Potensi-potensi desa, terutama pertaniannya, dipetakan dan didukung pengembangannya oleh pemerintah melalui keterlibatan langsung Raja sekaligus Permaisuri di sana. India mengembangkan kluster-kluster industry desa berdasar potensi kulturnya. Yang paling hebat adalah China. Desa telah lama didesain menjadi ruang industri terbuka dengan melibatkan keuletan kerja masyarakatnya. Hal serupa pernah diangkat Basofi Sudirman, kala itu Gubernur Jawa Timur (1993-1998), dengan mengusung konsep One Village One Product.(Jawa Pos, 16/9/2011). Tidak bisa terbantahkan, percepatan pertumbuhan ekonomi suatu daerah sangat dipengaruhi kualitas masyarakat yang ada di desa.
Banyuwangi Digital Sociaty (B-DISO) hadir membawa harapan baru sebagai ‘digital friendly’ karena dinilai memiliki propek pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Masyarakat Banyuwangi mampu memanfaatkan peluang yang ada melalui ketersediaan akses internet (WiFi) yang telah tersebar di beberapa titik. Semua masyarakat punya kesempatan yang sama untuk bisa membuka pintu global menuju internasional.

Menurut paparan Deni (warga Banyuwangi) yang saat itu tengah menikmati WiFi gratis di lokasi Sayu Wiwit (depan kantor bupati Banyuwangi), WiFi gratis berhasil menarik perhatian para pemuda terutama para pelajar dan mahasiswa. Lokasi ini hampir tidak pernah sepi dari pengunjung. Akses internet gratis dimanfaatkan untuk kebutuhan yang beragam seperti menyelesaikan tugas sekolah, bisnis, sekedar aktif di media sosial bahkan ada juga relawan TIK yang meng-update website tertentu. Ternyata, di sini merupakan lokasi favorit untuk ‘cangkruk’ para pemuda Banyuwangi. 

Para pemuda asyik diskusi di Sayu Wiwit sambil ngenet

Adanya infrastruktur teknologi yang memadai, diharapkan pertumbuhan ekonomi Banyuwangi semakin cepat. Dilansir dari data Bank Indonesia menyebutkan pada tahun 2012, simpanan masyarakat (dana pihak ketiga/DPK) di perbankan Banyuwangi meningkat sekitar 23,5 persen menjadi Rp 4,2 triliun dan tingkat pertumbuhan simpanan masyarakat melampaui pertumbuhan rata-rata seluruh Jatim yang hanya 16 persen. Sementara untuk penyaluran kredit meningkat sekitar 18,5 persen menjadi Rp 5,7 triliun pada 2012 dan lebih tinggi dari sejumlah kota/kabupaten lain di Jati.
Foto dipinjam dari sini
Dengan pemanfaatan teknologi informasi pula, potensi pariwisata Banyuwangi gencar dikenalkan melalui internet seperti pantai Plengkung, Penangkaran Penyu di Sukamade dan Kawah Ijen. Jangkauan tanpa batas dari akses internet yang mendunia terbukti akan mendongkrak peningkatan kunjungan wisatawan lokal maupun asing (baca kembali infromasi diatas “Tradisi Osing Pikat Mahasiswa Asing).
Bertambahnya kuantitas wisatawan yang datang ke Banyuwangi diprediksi dapat menambah kontribusi PAD, Pendapatan Asli Daerah tidak hanya berasal dari pajak kendaraan bermotor tapi juga dengan menggalakkan potensi wisata dan budaya yang tidak akan habis.

Indonesia bangsa yang besar karena mempunyai 17.507 pulau, 525 suku bangsa, dan 250 bahasa daerah dengan 250 juta penduduknya. Indonesia sangat kaya budaya adhi luhung. Dengan sentuhan kreativitas dan inovasi, hal ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Terlebih bila pemanfaatan TIK dilakukan secara maksimal, produktivitas nasional terutama pada sektor riil pasti bisa ditingkatkan.

Menapaki Tangga Kemandirian Bangsa


Siapapun kita pasti bangga menjadi warga Indonesia, bangsa kaya ‘gemah ripah loh jinawi’. Semua persyaratan menjadi bangsa mandiri dan unggul sudah tersedia. Tanah subur membentang luas, hutan tropis, kaya akan hasil laut, adat istiadat dan kebudayaan yang beragam hingga ratusan warisan leluhur ditinggalkan untuk kita. Dengan pemanfaatan TIK, kita bisa menapaki tangga menuju kemandirian bangsa dan berdaya saing. Bukan hanya tugas pemerintah saja namun juga individu, kelembagaan, komunitas ataupun perusahaan swasta.

Posisi Indonesia dalam pemanfaatan TIK (internet) menurut data persaingan global berbasis TIK yang bersumber dari internetworldstats.com berada di posisi ke-5, setelah China (384jt), Jepang (96jt), India (81jt), Korea Selatan (37,5jt) dan Indonesia (30jt). Adapun penetrasi penggunanya adalah sebesar 12.3%, sedangkan Per Capita GDP sebesar US $2,858,000. Pengguna Facebook per tanggal 31 Agustus 2010 sebanyak 27,338,560 dengan penetrasi 11.3%, posisi ini menempati peringkat ke-2 dunia setelah Amerika Serikat.

Tak heran jika saat ini kebutuhan akses informasi ke seluruh desa di tanah air terus diupayakan agar tercukupi. Melalui program “Indonesia Connected” yang sudah diemplementasikan di berbagai desa, pemerintah menargetkan program “Indonesia Broadband” terealisasi pada tahun 2016. Jika semua provinsi sudah terlayani akan berlanjut pada program “Indonesia Digital” pada tahun 2018.

Sebenarnya, program Cyber Village dan Digital Society di Banyuwangi dapat dijadikan pilot project bagi kota-kota lain. Program ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui penetrasi internet. Diliris dari hasil riset, peningkatan penetrasi internet sebesar 10 persen disebuah daerah mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38 persen. Seharusnya tiap daerah memiliki program unggulan berkaitan dengan teknologi Seperti halnya ICT (Information and Communication Technology) milik PemKab Banyuwangi, dengan menggandeng perusahaan telekomunikasi (PT.Telkom) semua program bisa terealisasi dan tersampaikan pada masyarakat lokal.

Apakah untuk memajukan daerahnya pemerintah setempat bisa bergerak sendiri? Jawabnya, TIDAK BISA!

Semua program pemerintah pusat dan daerah harus terintegrasi dengan beberapa pihak eksternal seperti perusahaan telekomunikasi, akademisi, praktisi teknologi informasi ataupun warga lokal. Adapun beberapa kontribusi yang dapat diberikan oleh masing-masing pihak antara lain;
1. Peran perusahaan telekomunikasi
Perusahaan telekomunikasi dari pemerintah dan swasta harus semakin gencar meningkatkan kualitas baik jasa ataupun konten, giat memberikan tarif yang murah dan pelayanan terpadu di sejumlah daerah. Serius memanfaatkan infrastruktur, salah satunya BTS (Base Transceiver Station) yang berfungsi menjembatani perangkat komunikasi pengguna dengan jaringan menuju jaringan lain atau memberikan kontribusi broadband.

Menurut World Bank, kontribusi broadband pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih besar dibandingkan dengan layanan telekomunikasi lainnya seperti fixed, mobile, atau internet. Dari setiap 10% peningkatan penetrasi broadband, perekonomian diyakini akan tumbuh 1,3%. Seiring dengan itu, Broadband nirkabel dan sektor industri Indonesia yang terkait diprediksi memiliki potensi untuk menghasilkan US$ 9,01 miliar atau sekitar 1,68 persen PDB Indonesia pada tahun 2015.

Dalam hal ini, kita bisa berkaca pada perusahaan raksasa yang memiliki semangat membangun infrastruktur demi membuka akses internet di negara berkembang, dia adalah CEO Facebook Inc Mark Zuckerberg berambisi membuka akses internet ke lebih dari empat miliar warga dunia yang hingga kini tidak memilikinya. Ambisi pemuda 29 tahun itu sudah diwujudkan dengan membentuk kelompok internet.org yang beranggotakan enam perusahaan raksasa di pasar mobile dan sektor teknologi lainnya. Mereka adalah Samsung Electronics Co, Qualcomm Inc, Ericsson, Nokia Corp, Media Tec Inc, dan Opera Software ASA. Kelompok tersebut bertekad membuat akses internet di negara berkembang lebih terjangkau, pihak Facebook telah menggelontorkan sekitar USD 1 miliar (sekitar Rp 10 triliun) untuk membangun infrastruktur demi membuka akses internet di negara berkembang. Saatnya perusahaan telekomunikasi yang ada di Indonesia juga merealisasikan langkah yang sama.

2. Peran akademisi dan praktisi

Kegiatan bagi relawan TIK telah digulirkan di sejumlah daerah yang melibatkan warga masyarakat baik dari akademisi atau praktisi teknologi informasi berasaskan sukarela, terbuka dan kapabilitas. Meski ‘tidak digaji’ harapannya seluruh relawan bersedia mengerahkan sebagian waktu dan kemampuannya untuk mengatasi kesenjangan digital di daerah, pedesaan, perkotaan dan kawasan perbatasan Indonesia.

3. Peran Individu (warga lokal)

Anda pengguna handphone, meski sekedar digunakan mengirim pesan atau menerima telepon?
Anda menggunakan smartphone untuk beraktivitas di dunia maya terutama aktif di media sosial?
Anda seorang blogger, seringkali memanfaatkannya untuk berbisnis atau personal branding? Jika iya, anda bisa memberikan kontribusi dengan berbagi pengetahuan tentang pemanfaatan TIK pada saudara atau teman anda yang masih ‘gaptek’. Dengan cara sederhana ini, anda telah berkontribusi untuk bangsa.

Menapaki tangga kemandirian bangsa Indonesia memang penuh onak dan duri. Tiap satu tangga pun terkadang membutuhkan perjuangan panjang. Kini, saatnya kita bersama menapaki ‘tangga’ tersebut dengan mengembangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Cyber Village dan Digital Society di Banyuwangi merupakan sinyal menuju kemandirian Indonesia dari ujung timur pulau Jawa yang memancarkan branding ke kancah dunia.

Sebuah transformasi global network hadir di Banyuwangi untuk mengubah prespektif daerah ke visi global. Makin banyak daerah merealisasikan langkah yang sama, makin dekat menuju kemandirian bangsa karena tercipta sumberdaya manusia berkualitas dari seluruh pelosok nusantara.




DAFTAR PUSTAKA

Berita tentang Mark Zuckerberg, Internet Untuk Semua, Jawa Pos 23 Agustus 2013

Habibah, Nurul. Desa Cyber, Selangkah Lebih Maju
http://www.academia.edu/4189071/Desa_Cyber_Selangkah_Lebih_Maju_Tema

Kabar Banyuwangi
www.banyuwangikab.go.id
Munir. Pemanfaatan TIK Dalam Pembangunan Karakter Bangsa Yang Mandiri Dan Berdaya Saing.
http://munir.staf.upi.edu/2010/11/20/pemanfaatan-tik-dalam-pembangunan-karakter-bangsa-yang-mandiri-dan-berdaya-saing/

Pemerintah targetkan ‘Indonesia Broadband’ Terealisasi Tahun 2016, Harian Kompas 09 November 2011
http://tekno.kompas.com/read/2011/11/09/20480094/pemerintah.targetkan.quotindonesia.broadbandquot.terealisasi.2016

Sekilas tentang Banyuwangi
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyuwangi

Wawancara dengan Deni (warga Banyuwangi) di Sayu Wiwit, kabupaten Banyuwangi pada tanggal 07 Agustus 2013 pukul 11.00 WIB




Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis XL Award 2013

0 add comment:

Posting Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.