Launching Taman Baca yang Mengesankan

Posted by
Meski saya sudah berpengalaman 5 tahun sebagai pekerja sosial, tetap saja ada rasa ‘khawatir’ yang menggelayut ketika merintis sebuah paguyupan sederhana, seperti taman baca ‘KITA’ yang kemarin di-launching.


Saya dan suami menyusun agenda buka bersama dan nonton film pake LCD. Senang melihat anak-anak tetangga yang berjumlah 50 anak berkumpul. Mereka antusias, mungkin baru pertama kali nonton ‘layar tancap’ di era teknologi.  WOW, ‘sesuatu’ banget bagi anak desa. 






Tanggal 10 Juli 2013 pukul 16.00 WIB, semua undangan hadir tepat waktu. Bertepatan puasa pertama dan ini jadi pengalaman pertama bagi adik-adik dapat undangan BuBer. Biasanya kan, undangan ultah? Satu per satu mereka duduk, menatap tembok yang sudah penuh dengan gambar bergerak. Film Ice Age Four, Kungfu panda, Taare Zaameen Par menyambut kedatangan mereka. Saya pun masih direpotkan dengan bingkisan BuBer yang hendak dibagikan. Maklumlah masih punya 2 balita, ternyata ART sendirian nggak bisa ngatasi.

Akhirnya, saya bagi tugas dengan beberapa adik-adik yang sudah duduk di bangku SMP untuk jadi pembawa acara dan tilawah. Saya dan suami yang ngasih sambutan dan doa. 

LCD, kami matikan. Ana (Kelas IX SMPN 1 GROGOL) siap dengan gayanya yang lumayan tegang karena nggak pernah tampil di depan umum. 



Afif (adik saya) mulutnya komat-kamit menghafal ayat Al-Qur’an—ya jelas lah, dia kan sudah hafal 3 juz??---


Berlanjut ke acara Sambutan, saya yang ngisi, awalnya grogi karena sudah lama banget tidak bicara di depan publik, tapi kali ini bahasanya santai, bahasa khas anak-anak bercampur bahasa Jawa Ngoko. Kesempatan ini saya bicara tentang taman baca, tujuan adanya taman baca, manfaat kalau gabung jadi member dan acara lain selain membaca. Semua tampak semangat, eh tapi kenapa ya kalau denger acara soal membaca seperti tantang baca, bedah buku, mereka kelihatan nggak bergairah, tapi saat saya bilang "akan ada acara futsal,semua bersorak * hadeeew tantangan nih


Langsung cerita selanjutnya aja ya, sekarang giliran suami tampil bertugas jadi pemandu senam otak.

  

Wah, adek-adek  disuruh berdiri dan mengikuti gaya mentor yang ada di layar tembok. Mulai dari keseimbangan jempol-kelingking, tangan pegang hidung-pegang kuping, tepuk punggung tangan dan gerakan memutar tangan ke depan belakang. Payah memang, saya pun masih belum bisa, adek-adek malah riuh karena gerakannya ngasal. *denger lagunya aja udah seneng


Tepat pukul 17.30,, detik-detik menjelang berbuka. Tanpa harus menunggu lama, tak terasa waktu berbuka sudah datang sendiri begitu cepat. Biasanya, anak-anak kalau puasa agak rewel, menunggu jarum jam berputar pelan. Kali ini, karena mereka happy, nggak terasa  tiba-tiba adzan. 

Takjil siap disantap.. Diawali dengan doa berbuka bersama-sama mereka menyeruput es cincau yang dibuat dengan tergesa. Ya…tergesa, karena beberapa penjual sayur tidak punya dagangan kelapa. Akhirnya, kelapa dapat saya beli dari kampung sebelah. 



Walaupun namanya buka bersama, kotak nasi kuning yang telah saya persiapkan wajib dimakan di rumah, supaya mereka bisa segera melaksanakan sholat magrib tepat waktu dan sholat tarawih pun tidak terlambat. 

Plooong… lega rasanya!

Azzam, sulungku serius melakukan senam otak, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk anak saya juga
Rencana yang akhir-akhir membuat kepala saya penat. Pasalnya, saya begitu khawatir tentang masa depan taman baca ini, jika saya tidak berada di desa ini lagi, apakah taman baca ini masih bisa bertahan? tapi, saya pun menepis kegalauan dengan tujuan sederhna yakni membuat tempat alternatif bagi anak laki-laki khususnya selain hiburan pemancingan abu-abu, jaraknya hanya 100 meter dari rumah saya, tempat tersebut sangat mengkhawatirkan karena dijadikan tempat bermain bilyard dan judi, pernah digerebek polisi tapi masih saja beroperasi lagi. anak laki-laki di sini sudah kenal rokok dan judi, bahaya kan?

Sungguh, saya tidak ingin paguyupan yang telah saya rintis suatu saat layu. Layaknya perusahaan atau organisasi, saya dan tim (suami, adik, dan anak SMP-SMA) bersatu, merajut kejelasan visi, target dan harapan pada generasi, untuk apa taman baca ini ada di desa Kedungsari, yang tidak lain hanya untuk kemajuan dan kesejahteraan warga Kedungsari. Juga untuk masa depan bangsa Indonesia.



Sekali lagi, terima kasih saya haturkan kepada sponsor (CAPCIN WOW) ataupun secara personal (bu Nia atas peminjaman LCD yang mendadak, mb Haya-Mb Dewi-Mb Henny yang telah menyumbangkan bukunya dan adek-adek yang sudah datang ke acara) semuanya telah berpartisipasi menyukseskan acara, kami faham, tanpa dukungan teman-teman, kegiataan sosial seperti ini tidak bisa berjalan lancar.  Semoga Bermanfaat dan sampai ketemu lagi di event seru lainnya...