Teknologi, Wujudkan ‘Passion’ Menuju Desa Cyber

Posted by with 1 comment
--Orang desa harus melek teknologi!--

Kalimat ini jadi pelecut bagi saya yang kini berdomisili di desa. Hidup di desa jauh dari sarana prasarana yang bisa menunjang passion saya. Passion yang sudah bisa saya ‘tebak’ sejak duduk dibangku sekolah dasar yakni menulis dan bisnis. Buku pelajaran saya penuh dengan curhatan, tiap jam istirahat saya mengeluarkan snack yang saya beli dari pasar dijual ke teman-teman. Karena suka menulis, saya pun kerap mencari sahabat pena, alamatnya, saya dapat dari majalah Bobo dan Mentari. Kalau urusan jualan, hasil laba yang saya dapat, jadi tambahan uang saku.


Menulis dan bisnis. Awalnya hanya suka, tapi lama-lama kedua aktivitas ini bikin saya ketagihan. Sampai  beranjak remaja, saya masih saja melakukannya tanpa arahan yang jelas dari orang-orang terdekat. Bahkan kedua orang tua juga ‘cuek’, asal anaknya naik kelas dan dapat rangking, itu sudah cukup.



Hingga suatu ketika saya mengenal sebuah perangkat komputer. Hati saya berbunga-bunga menemukan alat ajaib yang bisa menunjang aktivitas menulis, meski saya harus pinjam ke paman, kebetulan beliau seorang guru. Akhirnya, saya pun rajin mengirimkan cerpen ke beberapa media dan mengikuti lomba-lomba menulis tingkat SMA. Hasilnya tidak mengecewakan, mendapatkan honor dan hadiah kemenangan kontes menulis membuat kedua orang tua saya tercengang.
“kok bisa sih nulis dapet duit?” begitu kata bapak.
“yaah, bapak….ini zamannya teknologi, melek dong…..!” batin saya

Beda generasi, beda zaman. Mungkin ini ada benarnya, seiring berkembangnya zaman, teknologi akan terus berkembang pesat, memberi kemudahan bagi manusia. Siapa yang gaptek (gagap teknologi), siap-siap saja, ‘mati’ gaya. Maksudnya, tidak bisa maju.

Passion can change the world

Saat kuliah, menulis jadi senjata andalan saya dalam mengerjakan tugas kuliah, semua terasa ringan tanpa beban meskipun tiap harus membuat makalah. Skripsi pun dapat nilai A, di saat semua teman bilang susahnya mengerjakan skripsi, saya hanya tersenyum riang. Menulis bisa punya value setelah saya benar-benar memaksimalkan itu dengan mengikuti kompetisi writing, selain mengasah tulisan, menambah pengalaman, dan memanfaatkan hadiah yang diberikan (jika menang). Ini kah yang dimaksud dengan passion? Hobi yang bisa jadi sumber keberuntungan, apabila dilakukan dengan maksimal dan konsisten? *satu hal lagi, karena menulis saya bisa bergabung jadi TIM WARTAWAN RADAR MALANG-JAWA POS. Meski, hanya satu bulan bergabung, banyak pengalaman yang saya dapat.  

Saya pun berfikir, jika tidak mengasah kemampuan. Menulis akan jadi kegiatan biasa. Akhirnya berkat teknologi terutama internet,  menulis jadi sumber rezeki saya. Untuk mewujudkannya, saya pun terus mengikuti perkembangan teknologi mulai dari media sosial seperti facebook, twitter, blog, dan lain-lain

Tak selamanya wong ndeso itu gaptek!

Sudah jadi emak-emak pun saya tetap menulis. Tinggal di desa bukan lagi halangan untuk bisa berkembang karena berbekal modem, jaringan internet bisa didapat.  Tanpa meninggalkan tugas utama yakni masak, nyuci, momong dua anak balita, kini saya tengah menyelesaikan buku solo saya, aktif ngeblog, mengikuti berbagai kontes menulis dan menjadi penulis artikel freelance dari salah satu agensi, artikel yang dipesan salah satu website ternama.

Menjadi ibu rumah tangga, kadang memang dipandang sebelah mata, lulus kuliah tidak bekerja itu jadi bahan pembicaraan orang-orang desa. Saya mencoba menepis statement miring, saya berusaha mencari ‘kesibukan’ yang  bisa menghasilkan rupiah tanpa harus meninggalkan anak. Lagi-lagi, berkat teknologi saya bisa menjalani hari-hari saya sebagai ibu rumah tangga bisa mendapatkan ‘gaji’ hanya dengan menulis, yaa…pekerjaan yang sesuai apa yang saya sukai.

Untuk mengasah jiwa entrepreneur, saya menjadi franchise sebuah brand minuman Es Capuccino Cincau, saya tempatkan booth di kota. Meski jauh, saya percayakan kepada karyawan yang berjualan, dengan sistem dan monitoring secara kontinyu.



Untuk menunjang kedua aktivitas ini, saya sangat membutuhkan perangkat canggih. Di bulan November 2012, saya memenangkan kontes blog dari PLN dan Blogdetik, betapa bersyukurnya saya. Saya bisa ke Jakarta gratis untuk menerima hadiah.

Orang desa ke Jakarta? WOW….‘sesuatu’ banget!
Bersyukur lagi, dari hadiah uang tunai yang saya peroleh, saya bisa membeli  smartphone. Perangkat yang lagi tren, touch-centric alias menggunakan teknologi sentuh. Meski dengan harga murah, bagi saya sudah jadi barang mewah. Setidaknya banyak aplikasi seperti WiFi and Tethering, 2MP kamera, fungsi multi-touch zoom, dan lainnya  sangat mendukung passion saya, menulis dan bisnis.  

Desa cyber, antara impian dan kenyataan
Perangkat teknologi yang pernah menemani passion saya hingga kini adalah komputer, laptop, smartphone. Ketiganya, seakan tengah mengantarkan pada impian saya. Be Writer and be Womenpreneur. Namun, saya sadar, jika semua ini hanya untuk kepuasan pribadi, ini akan sia-sia. Kecuali, jika saya mampu membawa orang-orang desa menikmati kecanggihan teknologi. Saya punya mimpi,  desa saya menjadi  desa cyber.
Namun, tak semudah membalikkan telapak tangan, saya sudah melakukan penelitian tentang hal ini, dari beberapa pengalaman teman-teman komunitas nirlaba yang sudah merintis kampung cyber. Mengajak para warga desa untuk mengenal teknologi lebih dekat, tepatnya di desa  Kaligondo Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi Propinsi Jawa Timur dan aman RT 36 Kelurahan Patehan Kecamatan Keraton, Yogyakarta.

Desa Kaligondo kini telah sukses memanfaatkan Teknologi Informasi untuk pelayanan Publik. Fasilitas Internet gratis dan hotspopt juga tersedia, dengan kelengkapan 10 unit PC , 1 server dan 1 LCD monitor besar. Pelayanan mulai tingkat dusun sudah berbasis internet, sehingga percepatan pelayanan dapat dicapai. Masyarakat yang menginginkan informasi terkait data desa, juga dilayani dengan website desa ( http://kaligondo.banyuwangikab.go.id).

Luar biasa, kan? Biasanya pelayanan dilakukan dengan manual, adanya teknologi semuanya serba cepat dan mudah. Apalagi, jika para pengusaha desa melek teknologi dan mendapat dukungan pemerintah, desa akan lebih berdaya,  warga sejahtera dan pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin cepat. Saya sebagai orang desa, saya pun juga ingin bisa membangun desa cyber.
Kalau bukan dari warga setempat, siapa lagi yang mau mengelola?

Saya pernah menulis tentang desa cyber, anda bisa baca di sini ----Desa Cyber, Selangkah Lebih Maju----


1 komentar:

  1. Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul " Teknologi, Wujudkan ‘Passion’ Menuju Desa Cyber " .
    Saya juga mempunyai artikel yang sejenis dan mungkin anda minati. Anda dapat mengunjungi di Pusat Studi Elektronika by Universitas Gunadarma

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.