Maknai Hidup dengan Musik

Posted by with 1 comment
Saat saya nongkrong di counter lagi pilih-pilih hape. Saya amati banyak pengunjung yang keluar masuk bergantian bukan untuk beli pulsa atau hape. Eh ternyata, pada ‘minta’ file musik ditaruh di hape. Yup, tinggal copy-paste, sebelum pergi mereka bayar, sebagai tanda terima kasih. Entahlah berapa nominalnya, saya tidak tahu. Ada yang bilang seikhlasnya.

Ooohh….seikhlasnya??? *bukankah ini sama saja dengan bajakan?

Waaah, gimana denganmu?  kalau suka barang bajakan, kayaknya jiwa nasionalis kamu juga diragukan nih?  Kalau saya lebih memilih beli kaset asli dong, bisa awet bertahun-tahun, VCD nggak gampang rusak pula.

Katanya pengen memajukkan Indonesia dengan menghargai karya musik anak bangsa? Jadi, saatnya kita tinggalin kebiasaan beli barang bajakan yuk. Eh…ngomong-ngomong soal musik. Ada loh, toko musik digital namanya langitmusik.com tapi ini untuk pelanggan Telkomsel (Siip..saya juga pelanggan Telkomsel). Kalau kamu? Kalau belum kamu bisa segera ganti! Kamu bisa membeli dan menikmati musik secara legal. Yup, Legal, bro!

Asyiknya ‘unduh’ musik di langitmusik.com

Download musik secara legal, ya di sini tempatnya. LangitMusik adalah layanan terbaru dari Telkomsel yang bekerjasama dengan PT.MelOn Indonesia yang menawarkan cara baru download dan streaming lagu secara legal dan tanpa batas melalui Website, WAP, Mobile Aplication (Android dan Blackberry) serta aplikasi Desktop. Dengan mengaktifkan LangitMusik Pelanggan bisa bebas mendownload dan streaming seluruh lagu di katalog LangitMusik dengan koleksi lebih dari 800.000 lagu lokal dan internasional.

Pernah nggak sih kalian suka banget hit single yang lagi ngetop? Tapi kalau beli seluruh album, harganya mahal ya? Nah, di langitmusik.com kamu akan dapat file lagunya lewat media PC atau handset. Coba langsung aja ke TKP, klik FAQ 


Soal pembayaran? Praktis banget, bisa dilakukan dengan pulsa maupun T-Cash. Apa itu T-Cash? Silahkan klik di sini…

Tuh asyik, kan? Pilih-pilih lagu lokal atau internasional secara legal cukup dengan ‘klik-klik’. Beres! Selain itu kamu juga bakal dapat kabar terbaru dari para musisi yang lagi naik daun. Segera kunjungi deh webnya….

Pilih genre musik sesuai personalisasi

Anak-anak, tua, muda, emak, kakek, nenek….semua suka yang namanya musik. Pastinya, selera musikmereka berbeda dong, nggak bisa disamakan. Kita bisa pilih genre musik yang sesuai dengan ‘personalisasi’ kita. Genre musik ini sekarang nggak saklek, ya sebuah genre bisa sesuai dari teknik musik, gaya, konteks, atau tema. Sekarang sudah banyak jenis genre yang bisa kamu pilih, eits…lagi-lagi pilih yang benar-benar sesuai dengan kepribadian. Kenapa?

Dari sumber yang pernah saya baca, menurut Aristoteles, musik itu punya kemampuan mendamaikan hati yang gundah, bisa jadi terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Hai, sekali lagi musik itu bukan sekedar bunyi yang enak didengar lho. So, kalau memang musik pilihanmu bikin hidup jadi lebih ‘positif’, itu nggak apa-apa diputar berulang kali. Tapi kalau sebaliknya, mending segera tinggalin, jangan didengar!

Music can change the world because it can change people.
(Bono)

Seperti yang saya bilang tadi, masing-masing punya selera dalam pilih-pilih musik. Musik sangat  berpengaruh pada sistem saraf sensorik-motorik, sistem saraf sadar, dan sel saraf lain. Tiap kali dengerin musik, pastinya selalu terbawa perasaan. Nah, disinilah perlunya pilih genre yang sesuai dengan personalisasi kita. Saya pun demikian, nggak asal ikut tren, dipaksain denger. Kalau begini, bukan menikmati musik, eh malah menutup telinga rapat-rapat.

Lagu Anak-- Ehm, bicara soal musik. Ketika duduk di bangku kelas satu SD, saya jam enam pagi sudah nyanyi dan joget dengar lagu anak-anak, salah satunya lagu “Jangan Marah” yang dinyanyikan Trio Kwek-Kwek. Lagu ini jadi lagu yang paling berkesan, terutama saat dengerin liriknya:

Saat kecil ku ditimang-timang
Dinyanyikan lagu sayang,
sekarang aku harus belajar,
jangan bikin mama papa marah

(hiks…*elap air mata—mewek--kangen  masa itu, masa dimana lagu anak sedang hits)

Gambar dipinjam dari sini
Pagi hari selalu dengerin itu. Nggak bosan, kan saya sambil goyang sana sini sambil bawa sapu, bantuin mama. Entah kenapa saya sekolah jadi semangat, sarapan lahap dan cepat-cepat segera berangkat. Bukan karena takut dimarahi mama papa. Memang pada dasarnya, mereka nggak suka marah kok. Tapi karena efek dari unsur musik yang ada di lagu itu, bernada ceria, suka melodinya, pesan yang disampaikan cocok banget dalam kehidupan saya saat itu, senangnya bersekolah.



Lagu Remaja—masuk SMP, selain hobi baca sambil dengerin musik. Lagu yang dibawakan Sherina di tahun 1999, jadi lagu favorit, judulnya Andai Aku Besar Nanti (When I’ve Grow Up), single kedua dalam album perdana Sherina.

Gambar dipinjam dari sini

Dirilis tahun 1999. Lagu ini menceritakan ucapan terima kasih seorang anak terhadap ayah dan bundanya. Kalau dipikir-pikir saya suka musik yang bawaannya ‘melankolis’. Hehe… apa ini ya yang bikin saya cepet mewek? Lagu yang begini kadang membuat semangat saya terpacu belajar lebih giat, lama-lama jiwa emosional pun terasah dengan sendirinya.

Tiga tahun kemudian, saya mulai mengenal musik yang berbahasa inggris. Lagu tersebut juga jadi sarana saya latihan bahasa inggris, yang jadi favorit adalah lagu We are the champion, salah satu hits andalan band rock Queen. Ngefans banget semua personil band rock ini,  Freddie Mercury (vokalis, piano), Brian May (gitaris, vokal), Roger Taylor (drumer, vokal), dan John Deacon (bass). Lagu ini benar-benar membuat saya bangkit dari mimpi, saat saya ‘nyaris’ kehilangan papa karena kecelakaan. Saya sempat mogok sekolah. Akhirnya, lagu ini saya setting jadi alarm saat bangun tidur. Eh, beneran ada semangat baru lagi menyambut kehidupan. 

We are the champions, my friends,
And we'll keep on fighting 'til the end.
We are the champions.
We are the champions.
No time for losers
'Cause we are the champions.

Lagu cinta, gimana? Ehm, kalau saya ditanya soal lagu percintaan, saya nggak terlalu suka. Tembang kenangan jadi pilihan saat itu, karena papa selalu menyetel lagu ini di sore hari. Jadi kalaupun sekarang yang lagi hits Boy band, girl band, coboy band, biasa saja tuh.  karena menurutku lama-lama ia akan tenggelam tak meninggalkan kesan, ini versi saya lho. Saya kangen lagu-lagu Chrisye, Iwan Fals, Nike Ardila.

Siapa saja yang pernah hidup di zaman saya, beberapa mungkin akan sependapat dengan saya. Para musisi pun dari tahun ke tahun selalu datang silih berganti. Dan, entah kenapa lagu-lagu jadul masih selalu saya rindukan. Meski sekarang sudah emak-emak, saya tetep menjadikan musik sebagai sahabat sehari-hari, terlebih punya anak balita, lagu anak yang pernah saya suka, kembali saya nyanyikan untuk anak-anak saya. *bernostalgia*

Sejak kecil sampai sekarang, saya suka banget musik bergenre easy listening. Gampang didengar, punya lirik yang gampang pula dihafal dan nada yang slow. Ada juga, genre musik New Ages yang selalu memberikan pengalaman, entah itu positif, inspirasi, nyaman, semangat. Semuanya bikin hidup saya jadi nggak membosankan. Punya warna.


Musik lahir dari kehidupan, untuk kehidupan

"Where words fail, music speaks."

~ Hans Christian Andersen.

Saat kata tak lagi berguna, maka musiklah yang akan bicara. Begitu yang ingin disampaikan penulis kenamaan dunia Hans Christian Anderson. Perasaan hati yang paling dalam bisa terungkap dengan musik. Makanya, para musisi juga nggak asal menciptakan lagu, karena sejatinya musik yang berkualitas itu lahir dari kehidupan dan untuk kehidupan (si pendengar).

Musik nggak bisa lepas dari hari-hari kita. Apalagi buat emak-emak seperti saya. Saat nyuci, ngepel, nyapu, gendong anak sambil mendendangkan lagu, nulis, ngeblog, semua aktivitas lebih asyik kalau ada musik.




 Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes blog Musik yang Asyik yang diselenggarakan oleh LangitMusik dan KEB (Kumpulan Emak Blogger)



1 komentar:

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.