Teknologi, Wujudkan ‘Passion’ Menuju Desa Cyber

Posted by with 1 comment
--Orang desa harus melek teknologi!--

Kalimat ini jadi pelecut bagi saya yang kini berdomisili di desa. Hidup di desa jauh dari sarana prasarana yang bisa menunjang passion saya. Passion yang sudah bisa saya ‘tebak’ sejak duduk dibangku sekolah dasar yakni menulis dan bisnis. Buku pelajaran saya penuh dengan curhatan, tiap jam istirahat saya mengeluarkan snack yang saya beli dari pasar dijual ke teman-teman. Karena suka menulis, saya pun kerap mencari sahabat pena, alamatnya, saya dapat dari majalah Bobo dan Mentari. Kalau urusan jualan, hasil laba yang saya dapat, jadi tambahan uang saku.


Menulis dan bisnis. Awalnya hanya suka, tapi lama-lama kedua aktivitas ini bikin saya ketagihan. Sampai  beranjak remaja, saya masih saja melakukannya tanpa arahan yang jelas dari orang-orang terdekat. Bahkan kedua orang tua juga ‘cuek’, asal anaknya naik kelas dan dapat rangking, itu sudah cukup.

Maknai Hidup dengan Musik

Posted by with 1 comment
Saat saya nongkrong di counter lagi pilih-pilih hape. Saya amati banyak pengunjung yang keluar masuk bergantian bukan untuk beli pulsa atau hape. Eh ternyata, pada ‘minta’ file musik ditaruh di hape. Yup, tinggal copy-paste, sebelum pergi mereka bayar, sebagai tanda terima kasih. Entahlah berapa nominalnya, saya tidak tahu. Ada yang bilang seikhlasnya.

Ooohh….seikhlasnya??? *bukankah ini sama saja dengan bajakan?

Waaah, gimana denganmu?  kalau suka barang bajakan, kayaknya jiwa nasionalis kamu juga diragukan nih?  Kalau saya lebih memilih beli kaset asli dong, bisa awet bertahun-tahun, VCD nggak gampang rusak pula.

Serunya ‘Kejar’ SIM Murah nan Berkah

Posted by with 12 comments
Saya suka naik motor. Tapi, sering jalan-jalan ke kota sendirian tidak pernah bawa SIM (padahal deg-degan kalau lewat pos polisi, khawatir kena semprit). Jujur ya, sampai sekarang saya belum berminat ngurus karena memang harus bayar mahal (ukuran kantong saya), kalau dipikir-pikir uang 400 ribu untuk SIM?? Bukannya gratis? 

Dengan uang tersebut, pengendara cukup punya KTP, beberapa oknum POLRI yang ngurusi perizinan SIM nggak mau tahu si pengendara bisa naik motor atau nggak. Hm, bahasa gaulnya sih ‘sogok-menyogok’. Cara seperti ini sudah jadi rahasia umum warga kabupaten Kediri. Kalau ada salah satu tetangga saya yang ingin punya SIM, ujung-ujungnya digelotorin saja kalimat, “emang udah siap duit?”