Wanita dan Pertamax Sebagai Tiang Negara

Posted by with 14 comments
Satu bulan yang lalu, saya dibantu seorang asisten rumah tangga. Mbak Ju, panggilannya, selain bekerja sebagai pembantu, dia juga jadi tukang cuci dadakan  (kalau ada yang butuh jasanya).

“Saya pengennya bisa kerja di pabrik, bu. Tapi gimana lagi, anak-anak saya nangis kalau saya tinggal, nggak dibolehin juga sama suami” katanya suatu hari

Mbak Ju pontang-panting cari kerjaan yang lokasinya tak jauh dari rumah supaya anaknya yang masih kecil bisa diajak bekerja. Meski rejeki tak pasti, ia tetap semangat mengais lembar rupiah untuk membuat dapurnya tetap bisa mengepul karena sang suami hanyalah seorang penjual mainan di Surabaya, satu bulan sekali baru  sempat pulang.

Mbak Ju merupakan prototype wanita masa kini yang mengharap kehidupan keluarganya lebih sejahtera. Entah itu dari golongan miskin atau kaya, sebenarnya, wanita punya kodrati untuk dapat mengaktualisasikan diri, menebar kekuatan cintanya dengan cara berbeda.

A Women is like a tea bag: You cannot tell how strong she is until you put her in hot water (anonym)

Wanita adalah kekuatan. Jika ada yang bilang wanita itu lemah, dia belum tahu letak ‘kekuatan’ wanita. Karena sejatinya, dalam diri tiap wanita selalu ada kekuatan ‘cinta’ yang tersembunyi.

Saya pun sebagai wanita, pernah merasakan ‘lemah’. Namun, ketika saya merasa down, tak butuh waktu lama untuk bisa bangkit kembali.

Saya ingat betul wejangan nenek saat saya masih remaja “ jadi anak perempuan itu harus bisa ‘berdiri sendiri’. *Entahlah, apa maksudnya berdiri sendiri? Saya hanya menganggukkan kepala

Setelah saya berumah tangga, saya baru ngeh, kalau wanita memang harus berdaya bahkan bisa memberdayakan orang lain. Wanita harus kuat untuk bisa menguatkan orang lain, wanita harus terus meng- upgrade pengetahuannya agar ia bisa menebar ‘kearifan’ dan kebaikan. Karena wanita seperti inilah, yang bisa membawa keluarga dan negaranya berdiri kokoh.

Masih ingat kan dengan istilah, wanita adalah tiang negara?

Jika saja wanita Indonesia itu baik, bijaksana, sabar, lembut tapi tegas, nggak ‘neko-neko’, suka menolong, cerdas, pintar, percaya diri, ramah alias santun sama siapapun, pasti akan sangat membantu proses percepatan menuju Indonesia mandiri. Kenapa?

Karena, kalau sudah berumah tangga, ia bakalan bisa ‘mencetak’ generasi masa depan yang lebih berkualitas. Eit, kebayang betapa Indonesia jauh lebih baik dari sekarang, kan? Tak ada lagi namanya remaja tawuran, remaja suka dugem atau remaja malas, karena mereka punya ibu-ibu luar biasa.

Bukan hanya itu lho, para suami juga merasa adem ayem dirumah. Tak ada namanya perselingkuhan, perceraian. Suami semangat nyari nafkah, istri men-support suami, karir istri melejit, bisa bermanfaat bagi orang banyak. Daaaan….suami gak mau korupsi karena istrinya gak pernah menuntut macam-macam. Iya tho? Bisa jadi suami korupsi atau mencuri karena ‘disuruh’ istri atau si Istri kurang bersyukur atas rejeki suami.

Selain Mbak Ju, masih banyak wanita yang menginspirasi saya untuk terus bersyukur dan berperan sebagai wanita pada umumnya, tak sekedar memahami teori kesetaraan gender yang sedang tren, tapi lebih memaksimalkan peran untuk bisa berkontribusi pada keluarga, masyarakat dan negara. *yah, meski saat ini saya hanya jadi ibu rumah tangga, saya berupaya mengaktualisasikan diri

Wanita, tak hanya doyan ‘ceriwis’ tapi juga harus eksis
Wanita itu suka banyak omong. Sudah jadi rahasia umum, kalau  wanita itu betah berlama-lama pas lagi arisan, ‘kongkow’, atau hanya sekedar ngobrol dengan sesama teman wanita. Termasuk saya, kadang tanpa disadari pembicaraan malah tak terarah. Ujung-ujungnya ceriwis macam-macam alias ngerumpi kejelekan orang lain. Apalagi, ibu rumah tangga seperti saya, ampun deh, adaaa saja obrolan dengan ibu-ibu tetangga sebelah.

Eit, supaya nggak terjerumus pada hal-hal yang tidak terpuji (baca:nge-gosip). Saya punya ‘trik’ sendiri yakni menyibukkan diri dengan beberapa kegiatan, antara lain:

Pertama, banyak baca dan latihan ‘nulis’
Gambar diambil dari sini
Cara yang paling mudah menambah wawasan adalah dengan banyak membaca. Buku, majalah, koran seperti teman saya, tahu sendiri lah ya, jadi ibu rumah tangga itu gampang-gampang susah. 
Kerjaan yang bejibun, ngurus dua balita, apalagi tak kenal jadwal kadang malah terserang virus stres. Nah, kalau sudah seperti ini, banyak baca jadi bikin hepi. Ditambah dengan aktivitas menulis, ya meski sekedar curhatan konyol, tulisan yang kental nuansa ‘mewek’ atau cerita menyenangkan tentang keluarga. Tapi…Alhamdulillah, sekarang sudah mulai nyicil buat buku, ikut kontes blog ataupun kirim ke media.

Kedua, Gabung Komunitas Online
Saat belum gabung komunitas, saya sering merasa ‘sendiri’, seakan dunia begitu sempit, yang tampak hanyalah alat-alat dapur, tumpukan cucian dan terdengar rengekan balita. Hm.. itu dulu, sekarang saya sudah punya banyak teman meski dari dunia maya.

Melalui jejaring sosial saya gabung dengan beberapa para wanita dan ternyata…mereka sangat powerfull. Yup, di sinilah saya terasa lebih hidup karena sama-sama wanita jadi ya ‘curhatannya’ gak jauh beda lah, soal anak, keluarga, passion, karir, bahkan urusan sosial, politik dan negara lho!.

Grupnya sangat banyak dan beragam visi, seperti yang saya ikuti; IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis), KEB (Kumpulan Emak Blogger), BaW (Be A Writer), IIDB (Ibu-Ibu Doyan Bisnis), Ibu Profesional dan lain-lain

Ketiga, Merintis taman baca di rumah
Pas kuliah, saya lumayan aktif di banyak kegiatan, organisasi dan kelembagaan. Sekarang saya ingin eksis lagi. Berawal rintisan perpus mini atau taman baca sederhana dari rumah saya berharap bisa berkontribusi untuk pendidikan anak-anak tetangga, terlebih merangsang minat baca masyarakat desa Kedungsari, Kediri.

Keempat, Berbisnis
Berkeluarga bukan jadi kendala mengambil kesempatan untuk sukses. Bahkan, wanita punya peranan penting dalam meningkatkan perekonomian negara. Saya berfikir, wanita harus punya ‘power’, hal ini sangat membantu psikologis wanita, menghindari tindakan pelecehan atau KDRT dalam rumah tangga.

Wanita harus punya bargaining dalam keluarga, bukan berarti mengalahkan suami, tapi agar tak disepelekan. Ranah domestik bukan jadi alasan saya untuk terus mengembangkan diri melalui bisnis waralaba produk minuman ' Ice Cappucino Cin Cau'

Saya sebagai Franchise--wanita punya kontribusi untuk membuka lapangan pekerjaan

Secara psikologis, wanita lebih tangguh dan tak gampang putus asa, wanita ibarat akar tumbuhan yang terus mencari dara untuk tumbuh dan sukses. Ketika gagal waita punya daya juang yang lebih tinggi dan lebih sabar untuk memulai segala sesuatunya dari bawah. Dari sinilah saya belajar hal tersebut.

Kelima, ikut seminar dan kursus
Selain baca buku, ikut seminar jadi cara jitu meningkatkan kapabilitis diri baik pengetahuan ataupun menjalin pertemanan. Untuk kegiatan ini, saya belum bisa maksimal karena anak-anak masih balita (nggak mungkin dong seminar sambil bawa anak?). Baru saja minggu kemarin ikut Seminar JHCI (Jari Hitung Cepat Indonesia), awalnya tujuan ikut seminar ini supaya bisa mengajarkan anak tetangga ‘suka’ Matematika. Eh, ternyata ini adalah waralaba di bidang pendidikan (Yeeaaah…ngumpulin modal untuk buka kursus matematika)

Dari kelima langkah saya diatas, mungkin terkesan multitasking kah? Pasti.. semua wanita pernah melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Beda dengan pria yang fokus pada satu pekerjaan. Dari sumber yang pernah saya baca, 60 persen otak manusia berwarna putih dan 40 persennya abu-abu. Materi putih pada wanita lebih luas yang terkait dengan intelengensi. 

Oleh karena itu, dalam hal pekerjaan wanita dapat mempertimbangkan banyak hal dan mampu menjalankan aktifitas lebih dari satu tugas atau pekerjaan. Sedangkan, materi abu-abu pada pria lebih sedikit, alhasil mereka cenderung menangani tugas hanya berfokus pada satu pekerjaan.

Gambar diambil dari sini
Meski demikian, semua aktivitas tetap butuh dukungan dari orang terdekat, manajemen diri dan waktu sesuai skala prioritas. Kalau tidak, multitasking akan berujung pada kesia-siaan. *saya bersyukur banget suami selalu memberi support, salah satunya membagi tugas dengan pekerjaan rumah dan mengasuh anak.

Wanita inspiratif (versi saya) yang mengokohkan negara
Dibalik kesuksesan wanita, pasti selalu ada motivator yang menginspirasi tiap langkahnya. Begitu juga dengan saya, ada 2 wanita terdekat dengan kehidupan saya, yang menyalurkan semangat, dan sering saya jadikan cermin untuk berkaca di saat saya tengah merasa ‘down’. Mereka adalah;

Ibu 
Ibu saya masih terlihat muda dan energik. Di usia yang ke 43 tahun sudah memiliki 2 cucu. Dari ceritanya, ibu memang menikah di usia muda, masa ‘sweet seven teen” lebih tepatnya. Menikah bukanlah pilihan ibu saat itu, ibu yang lulusan SD ingin sekali melanjutkan tingkat SMP. Namun, apa daya karena dengan 13 anak, nenek tak punya biaya untuk menyekolahkan, ibu ‘terpaksa’ menikah.

Saat itu ayah hanyalah guru honorer, ibu tak pernah mengeluh, meski dalam keadaan ekonomi yang sangat pas-pasan. Ibu berjualan jajanan sekolah, bensin, kayu bakar, alat-alat listrik dan terakhir usaha mebel. Saya salut, jiwa wirausahanya selalu meletup-letup. Tak kenal lelah untuk mencari cara supaya dapur tetap mengepul. Ibu pernah menyampaikan pesan pada saya, “Nak…jangan sering-sering kau tengadahkan tangan ke suamimu!”

Jleeeeb!
Dada saya terasa sesak, ini kadang yang membuat saya semangat untuk terus berkarya. Karena saya yakin, karya berupa apapun, entah itu tulisan, berbisnis (membuka lapangan kerja) atau sekedar mengisi les privat. semua akan bisa menambal kantong saya yang berlubang. Tanpa harus mengecek slip gaji suami, kemudian minta ditransferkan ke ATM saya.

Bagi ibu, yang paling utama adalah menerapkan sekecil ilmu yang didapat. Kini, ibu sudah menjadi JURAGAN MEBEL di desa tempat kelahiran saya. *barangkali jika ibu tak berwirausaha, saya dan adik-adik tak bisa sekolah sampai sarjana, karena semua biaya tak cukup jika hanya mengandalkan gaji.  
Ibu...engkau memang LUAR BIASA


Sulastri, kepala desa Joho, Kediri


Wanita ini hanya lulusan SMA, dengan kemampuan verbalnya Sulastri mampu menjadi motor perubahan di desa Joho, Kabupaten Kediri. Sebelum menjadi kepala desa, dia sudah memiliki koperasi yang dibentuknya dari paguyupan wanita desa Joho.

Namanya Paguyuban Perempuan Sido Rukun wanita. Kemudian, dikembangkan  fasilitas pendidikan TPQ, membentuk arisan beras, usaha ternak kambing, usaha keripik, dan terakhir koperasi simpan-pinjam untuk ibu-ibu . Tujuan berdirinya koperasi adalah memudahkan ibu-ibu, dari pada ke bank clurut yang bunganya malah membuat warga semakin miskin.  Karena itu, tidak heran jika setiap bulan anggota koperasi selalu bertambah. Sampai saat ini jumlah anggota koperasi 115 orang.

Sulastri mampu menyeimbangkan urusan keluarga dan masyarakat. Suami juga selalu memberikan support, dua anak Sulatri tak pernah merasa ‘ditinggalkan’ padahal jadwal keluar rumah lebih banyak.

Perubahan pada desa Joho sangat signifikan pasca pengangkatan Sulastri sebagai kepala desa. Bahkan Sulastri telah mendapatkan banyak penghargaan, seperti, Penghargaan She Can Tupperware tahun 2009, Penghargaan pelestarian fungsi lingkungan hidup Provinsi Jawa Timur dari Gubernur Jatim tahun 2011, Penghargaan Kalpaltaru Jatim tahun 2010, dan lain sebagainya.
 
Beberapa penghargaan Sulastri (dok.pribadi)

Bayangkan jika wanita-wanita Indonesia seperti ibu saya dan Sulastri, secara tak langsung mereka telah turut serta mengokohkan negara dengan memberikan kontribusi positif pada keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Delight in the beauty of a butterfly and remember the changes it has gone through to achieve that beauty

Peran publik wanita untuk negara
Ada istilah untuk wanita yang bikin saya nggak ‘nyaman’ mendengarnya yaitu 3M (Masak, Macak, Manak) dari bahasa jawa yang artinya masak, dandan dan melahirkan. Bahkan sebagian orang punya pendapat kalau wanita itu nggak perlu sekolah tinggi, “ngapain sekolah tinggi-tinggi, toh nanti juga pasti kembali ke dapur!”

Ehm, kayaknya yang bilang seperti itu pengetahuannya dangkal kali ya, padahal…sejak zaman prakolonial, banyak wanita sudah tampil dalam ranah politik dan pemerintahan kerajaan. Sebut saja, Ratu Sinuhun di Palembang, Dayang Lela di Kalimantan Barat, Daeng Pasuli, Adi Matanang, Siti Aisya, dan I Madina Daeng Bau dari Sulawesi Selatan Dan lain sebagainya.

Pada saat mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, tokoh wanita juga turut serta dalam membincangkan dasar negara (Pancasila) dan rancangan konstitusi (Undang-Undang Dasar 1945) di BPUPK setidaknya ada dua wakil perempuan; Ny Maria Ulfa Santoso dan Ny RSS Soenarjo Mangoenpoespito. Bukan hanya dalam dunia politik, di era teknologi wanita juga punya peran mengokohkan negara.

Kamu yang doyan berlancar di dunia maya pasti nggak asing lagi dengan 3 wanita inspiratif berikut;

Mira Sahid - Indari Mastuti - Fahira Idris

Mira Sahid, wanita inspiratif bagi saya dan para wanita Indonesia khususnya blogger. Indari Mastuti,  di bawah bendera perusahaan agensi naskah Indiscript, beliau mampu membangkitkan semangat para wanita terutama ibu rumah tangga untuk menulis buku dan berbisnis. Dan, Fahira Fahmi Idris kepedulian sosialnya yang tinggi Fahira juga dikenal pemberani. Ia dinobatkan sebagai Twitter terinspiratif sejagad. Dalam polling yang bertajuk The Most Inspiring Tweeter tahun 2010, Fahira Idris (@fahiraidris) dinyatakan sebagai juara.

Semangat para wanita di tanah air sangat perlu diapreasiasi dan dipertahankan, tak sekedar menuntut peran dengan harapan dapat belas kasihan dari kaum lelaki tetapi ini adalah bukti aktualisasi diri. Hingga wanita mampu melakukan perubahan-perubahan kecil dari keluarga, masyarakat dan negaranya

Wanita dan Pertamax, keduanya jadi tiang negara
Wanita bisa mengokohkan negara, begitu juga dengan Pertamax. Produk BBM non-subsidi dari PT Pertamina (Persero) ini mampu mendukung ekonomi nasional.

Pertamax, dapat menghemat pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM. Jadi, anggarannya bisa dialihkan pada pembangunan lainnya. Misalnya, pendidikan, ekonomi masyarakat atau kesehatan. Nah, semakin banyak anggaran digelontorkan ke ranah pembangunan seperti ini tentu sangat berpengaruh pada kesejahteraan masyarakatnya. Nggak ada lagi namanya pengangguran, jembatan rusak, anak-anak putus sekolah bahkan tak ada lagi kasus gizi buruk pada balita.

Jadi ya, Pertamax memang pilihan tepat masyarakat.

Wanita punya andil mengajak keluarga atau orang-orang terdekat (kelompok arisan, PKK, pengajian) untuk menggunakan Pertamax.

Saya yakin banget, wanita punya kemampuan verbal untuk mempromosikan bahwa pertamax cocok untuk kendaraan keluarga, apalagi untuk mesin kendaraan yang memang hanya cocok memakai Pertamax, yaitu kendaraan yang telah menggunakan teknologi setara dengan Electronic Fuel Injection dan Catalytic Converters. Manfaat lainnya, tarikan tambah kencang, rendah emisi (ramah lingkungan) dan mesin lebih bersih dibandingkan menggunakan Premium dimana RON-nya lebih rendah (Pertamax RON 90 lebih, Premium RON 88).

Saatnya Pertamax berlabuh di hati para wanita
Dalam struktur otak, wanita punya bagian lobus frontal, seperti korteks pre frontal yang lebih besar  dibandingkan dari pria. Daerah otak inilah yang mengontrol perencanaan, perhatian, dan penalaran, dan pengambilan keputusan pada wanita.  Soal pilih-pilih bahan bakar, wanita pun sebenarnya bisa merencanakan dengan matang. Dengan pertimbangan, kalau Pertamax punya banyak kelebihan ketimbang premium, mesin kendaraan lebih awet dan ini sangat menghemat biaya kerusakan bengkel.

Kini, wanita yang menggunakan kendaraan sendiri semakin bertambah. Sudah  bukan lagi zamannya wanita harus diantar kemana-mana, ditambah booming nya motor matic yang feminim banget lengkapi gaya hidup para wanita dalam berkendara. Sudah saatnya, pertamax berlabuh di hati para wanita, dan saya punya ide tentang ini;

1.    Beli Pertamax dapat diskon belanja
Wanita punya hobi belanja (termasuk saya), apalagi berburu diskon, kalau sudah masuk swalayan atau toko baju pasti deh nggak terasa jam berputar. Terasa cepat padahal pengennya berlama-lama. Saya masih ingat, beberapa bulan yang lalu ada salah satu produk susu yang mempromosikan tiap pembelian susu dapat potongan 50% untuk membeli brand sepatu VNC dan Charles and Keith. Aiiih..alamaaak, para wanita pun rela berdiri dalam antrian panjaaaang.

Eh faktanya lagi nih, para Therapeutic shopper (penikmat belanja dengan tujuan untuk menghilangkan stres), urban shopper (pemakai merk premium), dan bargain hunter (pemburu barang murah yang berkualitas) sangat suka potongan harga yang luar biasa sampai dengan 70%, mulai dari produk fesyen, jam tangan, perhiasan, elektronik, mainan, dan banyak lagi lainnya.

Yup, wanita punya rasa cinta pada diri sendiri, akhirnya munculah obsesi pribadi. Wanita rela menghabiskan uang dalam jumlah besar hanya demi mendapatkan kepuasan dengan barang belanjaan yang di belinya.

Tuh kan, beli tas 200juta aja mampu kok. Apalagi, beli Pertamax yang 1 liter hanya 10.400,- pasti mampu lah ya?

Nah, nggak ada salahnya Pertamax punya program khusus buat para wanita yakni dengan beli Pertamax dengan jumlah minimal, akan mendapatkan diskon belanja. Misalnya, wanita beli Pertamax minimal Rp 100.000 dapat diskon belanja di beberapa tempat yang telah ditunjuk Pertamax.

Kebayang ya, pas saya, para ladies dan emak-emak gokil pada ngantri Pertamax, setelah dari SPBU langsung wuuussshh….menuju swalayan untuk belanja. Duh, senengnyaaa

2.    Duta Pertamax Regional
Tiap wanita punya bargaining, Pertamax bisa menunjuk salah satu wanita yang ada di tiap kota menjadi duta Pertamax regional. Nggak harus wanita berbadan langsing atau punya paras cantik. Yang saya maksud adalah sosok wanita yang sekiranya punya pengaruh bagi public, misalnya Sulastri, kepala desa Joho yang ada di Kediri. Atau, wanita yang sudah lama mendedikasikan diri pada masyarakat.  

3.    Dimana ada produk wanita, di situ ada pertamax
Sudah saatnya Pertamax menyasar segmen wanita, gencar menjadi sponsor acara-acara atau seminar yang diselenggarakan khusus wanita, mencantumkan logo Pertamax pada goodie bag yang akan dibawa peserta. Misalnya, beauty class, cooking class, hijabers class, writing class dan lain sebagainya.

Dukungan seperti ini akan mengasosiasikan bahwa “apapun kendaraannya, Pertamax tetap pilihan para wanita”. 

Wanita punya ‘peran’ untuk mengedukasi keluarga, orang terdekat, masyarakat untuk lebih mengenalkan Pertamax dan menggunakannya, sebagai upaya bersama-sama mengokohkan negara. Karena sejatinya, wanita dan Pertamax sebagai Tiang Negara. 




14 komentar:

  1. waww kereen mbaaak, semangta ngontesnya.. aku karena udah liat tulisan yang keren2 jadi minder duluan hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaah, meski saya selalu dengar kata-kata keren, sy gak mau langsung GR mb Rahmi...soalnyaaa, meski kieren kadang gak menang, yeeeaaah buatnya selalu berdarah-darah eh ternyata gak menang itu rasanya menyakitkan banget. eeh...kok curhat jadinya

      Anyway, thanks banget ya doanya

      Hapus
    2. perasaan yang sama, hihihihi aku mengerti perasaanmu mak, sama seperti yang sangat sering kurasakan, sampe pengen ngelempar bata ke blog hahahaha

      Hapus
    3. Jangankan bata, semen dan pasir pun pengen segera tempel ke lepi. hehee

      Hapus
  2. Haduhh selalu kerennn.. nih :)

    sukses ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga mak Hana, keren sih tapiiii gimana ya kata juri, tau ah semoga bermanfaat tulisan ini...

      Hapus
  3. Kereeen.... moga menang ya mba Nurul.
    Sampai kapan nih lombanya? Masih keburu gak aku yaaa ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbaaa....udah telat mb, masih ada periode selanjutnya kok

      Hapus
  4. tetap semangat menjadi wanita yg kuat dan tangguh :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti dirimu mak Hanaa...you 're my inspiration for this

      Hapus
  5. mantap dah ,semoga dilirik jurinya,, dan semangat kontesnya ya mak ,, semangat menang..

    BalasHapus
  6. Nurul Habeeba : "Yaaah, meski saya selalu dengar kata-kata keren, sy gak mau langsung GR mb Rahmi...soalnyaaa, meski kieren kadang gak menang, yeeeaaah buatnya selalu berdarah-darah eh ternyata gak menang itu rasanya menyakitkan banget. eeh...kok curhat jadinya"
    Tetap semangat, Mak :) saya juga merasakan banget perasaan "itu" kadang down juga, kadang biasa aja, kadang malah tambah semangat. Semua indah pada waktunya, laaaah jadi curhat juga di sini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupz, semua indah pada waktunya...untuk jadi pemenang memang harus 'dibeli' dengan kekuatan ekstra mb, lahir batin :)


      Welleeeeh nambah curhatannya

      Hapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.