Indomie Cabe Ijo is One of Your Mood Booster

Posted by with 5 comments
Hai Sobat Blogger, pernah nggak kalian merasa kehilangan mood buat ngeblog? Males, bosen, jenuh, suntuk…ehm, suasana yang bener-bener bikin Bete.

Saya pernah lho,  apalagi saya sudah jadi emak yang tiap hari nyaris kehilangan ‘me time’ karena dua kurcil ini nggak bisa diam kalau mamanya lagi ngetik di depan netbook.

Eits, nggak mood ngeblog sih boleh saja asal jangan lama-lama ya. Sebagai blogger, kita punya tugas penting untuk membumikan internet sehat di dunia maya. Bayangin coba kalau kita melulu kehilangan mood ngeblog, konten-konten nggak berkualitas bakal memenuhi dunia kita ini. Dan, bisa berdampak buruk pada generasi setelah kita. Oi, jamannya digital githu loh, always on your mood to blog every time. *Prikitiiiww…:P

Saat Balitaku Sakit Gigi

Posted by with 1 comment
Sobat Blogger, tentu pernah merasakan sakit gigi, kan? Tak enak makan dan tak nyenyak tidur. Kemarin, seharian penuh anak saya Zam teriak-teriak karena merasakan sakit gigi. Ya, di usianya yang baru saja 4 tahun, ia sudah merasakan sakit gigi. Kasihan, ia tidak doyan makan, saya tahu sebenarnya Zam lapar, perutnya kemps, tidak semangat bermain, dan selalu rewel. 

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan Zam, karena ia suka makan makanan manis, ditambah lagi depan rumah ada warung ‘jajan’ yang jualannya produk-produk GEJE kualitasnya. Mau manyalahkan penjualnya? Pengennya sih, tapi apa daya, toh tetangga saya juga butuh uang. Serba salah, kan?

Rainbow Cake in the Circle IIDN

Posted by with No comments
Baca Rainbow Cake, ehm pasti sudah terbayang, gimana warna pelangi dalam adonan kue bisa bikin kamu hepi, tidak hanya warna, rasa cake yang beragam tentu akan menggoyang lidah siapapun yang memakannya.


Jenis cake yang satu ini cukup menorehkan sejarah di dunia cooking and backing. Siapa sih yang tidak kenal dengan Kaithlin Flannery, penemu resep Rainbow Cake yang dengan sengaja membuat kue special untuk temannya.

Eh, kue ini juga cocok banget buat merayakan ulang tahun. Tapi kalau saya disuruh bikin sih, langsung ngumpet di kamar, takut. Karena memang tak bisa buat tapi mau banget kalau suruh habisin.

Awali tulisan buruk dan tulislah cepat!

Posted by
Buku yang selama ini saya cari kini telah ada di tangan. Buku yang membeberkan trik-trik menulis dengan cara sederhana dan apa adanya. Kenapa apa adanya? Deretan kalimat dalam buku tersebut mampu saya fahami dengan baik kemudian mempraktekkan ‘apa yang penulis perintahkan’ dengan bebas. 
 
Awalnya, saya selalu penasaran dengan penulis yang satu ini, namanya kerap muncul pada kolom-kolom Koran nasional, entah itu berupa artikel, cerpen, resensi bahkan juga novel. Tema yang ia angkat selalu HOT, tulisannya enak dibaca dan santun. Tak ada bahasa alay sedikitpun. Dalam tulisan ini, mungkin kamu sering mampir ke blog ini, akan merasakan ‘suasana’ yang berbeda. Ya, saya sedang belajar menulis seperti beliau, A. S LAKSANA. 

Srikandi Blogger, Meretas Aktualisasi Perempuan Tanpa Batas

Posted by with 13 comments
Tanggal 28 April 2013, perhelatan akbar ACER Srikandi Blogger 2013 digelar. Ajang penganugerahan kepada blogger khususnya perempuan ini mendapat apresiasi banyak kalangan. Layaknya pemilihan seorang putri Indonesia, tahapan demi tahapan menuju puncak penyerahan mahkota ACER Srikandi Blogger 2013 dilalui para peserta secara selektif. Mulai dari persyaratan masa lamanya nge-blog, keunikan konten blog, tugas-tugas dari panitita, kontribusi yang diberikan sebagai blogger bahkan karya peserta kepada masyarakat di dunia nyata dan semua itu dilakukan tanpa pamrih. 

ACER Srikandi Blogger 2013 adalah bukti real bahwa ternyata perempuan juga melek internet, melalui dunia maya pula perempuan bisa berprestasi tanpa meninggalkan tugas utama dalam keluarga dan masyarakat.

Wanita dan Pertamax Sebagai Tiang Negara

Posted by with 14 comments
Satu bulan yang lalu, saya dibantu seorang asisten rumah tangga. Mbak Ju, panggilannya, selain bekerja sebagai pembantu, dia juga jadi tukang cuci dadakan  (kalau ada yang butuh jasanya).

“Saya pengennya bisa kerja di pabrik, bu. Tapi gimana lagi, anak-anak saya nangis kalau saya tinggal, nggak dibolehin juga sama suami” katanya suatu hari

Mbak Ju pontang-panting cari kerjaan yang lokasinya tak jauh dari rumah supaya anaknya yang masih kecil bisa diajak bekerja. Meski rejeki tak pasti, ia tetap semangat mengais lembar rupiah untuk membuat dapurnya tetap bisa mengepul karena sang suami hanyalah seorang penjual mainan di Surabaya, satu bulan sekali baru  sempat pulang.

Mbak Ju merupakan prototype wanita masa kini yang mengharap kehidupan keluarganya lebih sejahtera. Entah itu dari golongan miskin atau kaya, sebenarnya, wanita punya kodrati untuk dapat mengaktualisasikan diri, menebar kekuatan cintanya dengan cara berbeda.