Perjalananku belajar dan mengajarkan Al-Qur’an

Posted by with 12 comments
        Kekagumanku pada Al-qur’an sudah ada sejak di sekolah tingkat dasar, tepatnya saat mendapat tugas Ramadhan, untuk mengisi buku panduan Ramadhan, kemudian meminta tanda tangan imam sholat. Tertulis juga pada salah satu kolom untuk memberi tanda hafalan surat. Hafalan? Saat itu aku hanya bilang pada diriku, aaahh!…tidak mungkin. Tapi lama-lama aku mulai penasaran, bagaimana caranya seorang imam bisa hafal surat yang ada dalam juz 30?? Jujur saja, di sekolah diniyah yang aku ikuti kala itu, tidak ada pelajaran tentang menghafal, tetapi hanya membaca, menulis dan memahami kitab kuning. Kalaupun menghafal, ya semampunya seperti surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas.
Aku mencoba berulang kali menghafal, tapi kenapa begitu sulit, sama halnya dengan menulis, semakin penasaran dengan bapakku, beliau guru agama tingkat SD bisa menulis arab tanpa harus melihat Mushaf. Aneh, pikirku. Aku berlatih dan dilatih oleh bapak tetap tidak bisa. Memang daya tangkapku yang payah atau cara pengajaran yang salah?*Ups, bukan bermaksud mengkritisi bapakku lho! Hehehe…

Memulai langkah awal
Semangat untuk bisa membaca, menulis, menghafal dan memahami Al-Qur’an terus berkobar hingga aku duduk di bangku SMP. Gayung pun bersambut, bapak ‘memaksaku’ melanjutkan jenjang SMA ke pesantren di Ponorogo. Yang jelas, kalau ingin memahami Al-Qur’an dan Bahasa Arab adanya yaa… mencari ilmu di sana. Setiap pilihan, selalu ada suka dan duka. Duka saat berjauhan dengan keluarga dan suka saat berkumpul dengan teman-teman seperjuangan yang kebetulan dari berbagai kota.
Sungguh perjuangan panjang, mengenal bahasa Arab yang belum pernah aku pelajari, bayangkan saja, aku lulus tingkat SMP bukan Mts. Selama satu tahun disana, kami yang lulusan SMP masuk kelas eksperiment karena kami harus melewati masa percobaan dengan pelajaran bahasa Arab dasar dan dalam berkomunikasi antar teman dan para guru selama tiga tahun ke depan, wajib berbicara bahasa Arab dan Inggris. Masya Allah…luar biasa pusingnya, setiap hari berkutat dengan 3H, apa itu? Hafalan, Hafalan dan Hafalan.
Hingga suatu ketika, aku hampir putus asa, kala itu aku telepon ke orang tua
“Bapak, aku nggak kuat belajar di sini, aku ingin pulang!?!?” Kataku dengan suara serak
“Kenapa, Nak? Sabarlah, tunggulah satu tahun” Jawab Bapak menghibur
Aku benar-benar berusaha menemukan chemistry cara belajar bahasa Arab yang cepat dan mudah. Yang kulakukan saat itu adalah:
1. Memperbanyak membaca Al-Qur’an, memahami makna, melakukan riset kecil dengan membedah nahwu-sorof dalam kalam Allah tersebut, kurang lebih seperti grammar, jadi intinya apa yang aku pelajari di sekolah aku terapkan ketika membaca Al-Qur’an.
2.  Membawa kamus kecil bahasa Arab dan buku kosa kata kecil yang pas ditaruh saku kemanapun aku pergi, terutama saat menanti antrian panjang.
3.     Tidak malu untuk bertanya dan optimis bahwa aku bisa
Seiring waktu berjalan, selama satu tahun aku mulai menikmati bacaan Al-Qur’an meski harus kuakui, ilmu dalam mempelajari Al-Qur’an sangat banyak, bukan hanya makhorijul huruf dan tajwid, tapi masih banyak lagi, apalagi metode pengajaran di pesantrenku saat itu, bukanlah fokus pada Al-Qur’an saja tapi ilmu-ilmu umum seperti matematika, geografi, sejarah, biologi dan lain-lain juga harus dikuasai. Mampukah? InsyaAllah, selagi ada kemauan untuk belajar tak kenal lelah, ‘cahaya’ akan senantiasa hadir saat menuntut ilmu. 

Al-Qur'an yang terjemahannya B.Arab, sebagai media pembelajaran


“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain”.(Bukhari no : 4739).

          Allah SWT sudah menjamin bahwa Al-Qur’an tidak akan pernah hilang ditelan masa, sekalipun semua Al-Qur’an hangus terbakar, Al-Quran akan terus ada, karena banyak sekali umat islam yang mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Maka dari itulah, aku berfikir kepada aku tidak menjadi bagian dari mereka, meskipun ilmuku masih begitu dangkal.
          Masih di pesantren,
         Aku dan teman-teman harus mengikuti pelatihan TPA/TPQ dengan metode ‘Iqro. Saat itu, aku pertama kali mengikuti pelatihan ini, senang dan bangga tentunya, harapan besar untuk bisa mengajarkan kepada anak didikku kelak. Namun ternyata, satu tahun kemudian lulus dari pesantren, tumpukan buku pelatihan masih tersusun rapi di rak buku kamarku, sebuah sertifikat yang tertulis jelas, lulus dengan nilai “A” terlihat kusam di rak yang paling depan. Aku, masih menikmati sebuah masa yang indah bagi anak muda di jenjang pendidikannya, yakni kuliah, dengan seambrek jadwal yang padat, aku masih belum bisa mengajarkan apa yang sudah aku pelajari dalam Al-Qur’an. Miris…..

Dulu, metode Iqro' yang dipakai 








         Ditengah longgarnya waktu kuliah aku membagi waktu, mengajar adik-adik kecil di sebuah mushola yang tidak jauh dari tempat kostku, namun hanya tiga bulan saja, karena saat itu aku harus keluar masuk kampus untuk menyelesaikan tugas-tugas.
          “Eh, kamu mau ikut ngaji nggak?” ajak temanku Ifa
          “Kemana?”
          “Ke Neng Isma, itu lho seorang Hafidzah yang bacaannya baguuus banget?” bujuknya
          “Waaah…Oke, aku ikut ya!”
          Itulah aku, selalu semangat untuk mencari ilmu baru, meski kadang kala aku malu belum bisa mengajarkan ke orang lain. 
          Ternyata…oh…ternyata, di sana aku benar-benar seperti anak TK, kembali ke mata pelajaran makhorijul huruf yang harus mengulang dan mengulang, tidak boleh hafalan sebelum bacaan bagus, begitu peraturannya. Dengan metode pengajaran yang tegas dan keras, aku benar-benar dituntut untuk bisa. Subhanallah, begitu agungnya Al-Qur’an sehingga didalamnya terdapat ilmu yang begitu luas dan dalam? Apa yang kupelajari di pesantren belum lah cukup.
          Dua tahun aku belajar ke Neng Isma, seorang Hafidhah yang luar biasa. Karena tidak mudah bagiku mengatur jadwal kuliah, mendekati semester akhir. Waktu berlalu….
Menjadi guru, kenapa aku harus belajar lagi?
     SDIT BINA INSANI, sekolah swasta yang ada di kota Kediri, tengah membutuhkan tenaga pengajar, aku bergabung di sana. Karena latar belakang sekolah Islam Terpadu, maka ada mata pelajaran Al-Qur’an dan masuk kurikulum siswa yang harus ditempuh. Disana, tidak boleh  sembarang guru harus mengajar Al-Qur’an,  terlebih di sekolah ini menggunakan metode baru yakni metode UMMI, sebuah metode yang sudah tersistem mulai dari cara belajar, modul, cara mengajar dan komunitas UMMI telah terpantau di tiap daerah. Gunanya adalah dengan ‘menjaga’ kemampuan seorang guru dalam memahami Al-Qur’an mulai dari Makhorijul Huruf, Tajwid, Gharib dan lain-lain. Maka tidak jarang, ada guru yang tidak lolos tes UMMI, tidak boleh mengajar Al-Qur’an.
        Disinilah, aku kembali belajar Al-Qur’an dengan metode yang berbeda. Mengikuti training selama empat bulan, ikut tes UMMI, kemudian aku lolos sertifikasi dan bisa mengajar Al-Qur’an kepada siswa SD. Begitu mudahkah? TIDAK!?! Banyak guru yang gugur di tengah jalan karena belum lulus tes UMMI dan tidak boleh mengajar Al-Qur’an. Alhamdulillah, atas izin Allah SWT aku bisa mengajarkan Al-Qur’an dengan metode UMMI.
Sudah pernah tahu metode UMMI? Ini modulnya....

Buku Prestasi UMMI untuk siswa

Menjadi ibu, aku harus belajar lagi
          Selama satu tahun aku bekerja, selama itu pula aku telah mengajarkan Al-Qur'an ke anak didik. Namun, kini aku harus di rumah karena memiliki dua anak yang masih bayi dan balita, sudah mulai kuperkenalkan Al-Qur’an dengan belajar menggunakan metode UMMI.
Si Sulung hendak berangkat ngaji,*Semoga jadi anak Sholeh ya, Nak
          Hingga, aku berjumpa dengan seorang Ustadzah yang lulusan Al-Azhar, Kairo. Tempat tinggalnya tidak jauh dari rumahku. Aku diajak rembug untuk meramaikan masjid dan membentuk suatu komunitas ibu-ibu kecamatan untuk ngaji bareng, dengan tujuan mengenalkan mereka pada ilmu Al-Qur’an yang lebih dalam lagi.
          “Sebelum agenda ngaji bareng di launching, teman-teman yang ada di sini ngaji dengan saya dulu, dan nantinya akan menjadi tangan panjang saya” ujar Ustadzah Fara
          Subhanallah….saya harus belajar lagi, batinku nyeletuk
         Aku lalui masa itu dengan gembira, terkadang rasa 'jenuh' tak jarang hinggap tiba-tiba, apalagi bingung (karena ilmunya banyak versi. hehe) ada beberapa hal yang aku pelajari selama ini –keliru- kata Ustadzah Fara, 
        yaaah… aku kembali seperti anak TK untuk yang kesekian kalinya dalam hal belajar Al-Qur’an. Karena harus memulai dari Makhorijul Huruf, Tajwid, Gharib dan lain-lain. Sampai sekarang, aku masih belajar dengan Ustadzah Fara, seminggu dua kali. Sesekali kudapati pelajaran yang belum pernah aku ketahui sebelumnya seperti Riwayat para Qori’, Sifat huruf, dan Tafsir ayat Al-Qur’an.  
        Terima kasih Allah, atas kesempatan yang Engkau berikan. Bagiku, dalam perjalanan menuntut ilmu akan selalu ada hal baru dan hikmah yang bisa kupetik sehingga ringan untuk menghafal Al-Qur’an Insya Allah. Jadi, jangan pernah puas dengan ilmu yang kita miliki, belajarlah hingga akhir hayat, karena sebenarnya manusia itu lemah, namun dengan ilmu dan mengajarkannya ke orang lain kita akan kuat. Semoga menginspirasi…..


Tulisan ini diikutkan GA El-F4rizi

12 komentar:

  1. Subhanallah... sebuah perjalanan hidup yang luar biasa mbak... Selalu dekat dengan Alqur'an. Ilmu Alqur'an memang tidak ada khatamnya. Kita baru bisa dikatakan khatam mempelajari Alqur'an manakala kemtian datang.

    Smg sukses ya mbak dengan GAnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya mbak Nurul... ikut partisipasi juga ya dalam Lovely Little Garden's First Give Away...

      http://niken-bundalahfy.blogspot.com/2012/09/lovely-little-garden-first-give-away.html

      Hapus
    2. Terima kasih mbak, semangat mencari ilmu juga buat mb Niken.....insya Allah ikut, semoga bisa ^^

      Hapus
    3. Terima kasih mbak, semangat mencari ilmu juga buat mb Niken.....insya Allah ikut, semoga bisa ^^

      Hapus
  2. subhanallah..

    kl sy lebih terpacu lagi membaca al qur'an baru2 aja mbak. Sejak anak sy masuk SD islam. Krn mereka kan di tuntut utk hapal juz 30 termasuk artinya.. Jd sbg org tua mau gak mau sy harus belajar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak ada kata terlambat mb Ke2nai, intinya di semangat menuntut ilmu, kemudian perhatikan apa yang akan terjadi....*hehe, nyontek kata2 pak mario

      Hapus
  3. Subhanallah, tulisannya mencerahkan. Terima kasih, Bunda, sudah berbagi. DItunggu pengumumannya ya :)

    BalasHapus
  4. Subhanallah sungguh indah perjalan hidup mu mbak, selalu dekat dengan Alquran. bahagia rasanya punya anak2 yang saleh seperti anak2 mbak. semoga bahagia selalu

    BalasHapus
  5. Tahun 2103 Metode Ummi baru dikenalkan dibeberapa sekolah terpadu di Makassar. Saya termasuk yang paling kecewa, karena gagal mengajar al-Qur'an. apa sebeb? ternyata harus lulus sertifikasi Ummi :'( hiks
    Mampir yuk => http://aidamaruf.blogspot.com

    BalasHapus
  6. Menginspirasi
    Saya lulusan sd negri dan smp negeri sekarang kelas 1sma,tadi saya disuruh baca Alquran sama guru saya membaca saya belum lancar sekali terkesan tidak bisa lalu guru saya menyarankan ke eskul BTA disana beliau yang mengampu,hampir 99 persen teman saya bisa lancar membaca tinggal saya dan salah satu teman saya,saya malu dan dihari ini juga aku memperdalam lagi dengan kakak saya tapi dia sedang sibuk jadi tidak bisa ortu saya sedang ada rapat di dinas semua,di rumah saya nangis nggak bisa bisa, kenapa aku dulu gak masuk pondok saja biar makin tau banyak ilmu Kalam,jujur malu ketika temen temen pada bisa dan saya tidak bisa,saran nya bagaimana ya?,tapi insyaallah ibu saya akan saya bilang i kalau saya ingin les privat dirumah iqro lagi :'(

    BalasHapus
  7. Menginspirasi
    Saya lulusan sd negri dan smp negeri sekarang kelas 1sma,tadi saya disuruh baca Alquran sama guru saya membaca saya belum lancar sekali terkesan tidak bisa lalu guru saya menyarankan ke eskul BTA disana beliau yang mengampu,hampir 99 persen teman saya bisa lancar membaca tinggal saya dan salah satu teman saya,saya malu dan dihari ini juga aku memperdalam lagi dengan kakak saya tapi dia sedang sibuk jadi tidak bisa ortu saya sedang ada rapat di dinas semua,di rumah saya nangis nggak bisa bisa, kenapa aku dulu gak masuk pondok saja biar makin tau banyak ilmu Kalam,jujur malu ketika temen temen pada bisa dan saya tidak bisa,saran nya bagaimana ya?,tapi insyaallah ibu saya akan saya bilang i kalau saya ingin les privat dirumah iqro lagi :'(

    BalasHapus
  8. Mbak beli buku metode ummi dmn ya?saya mau beli yang pra buat anak saya.

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.