Kampanye Anti Rokok Berbasis Komunitas

Posted by
       Beberapa bulan yang lalu saya pergi Kota Malang naik angkutan umum yaitu bus. Ada peristiwa yang sempat membuat saya tersontak. Kala itu, seorang pria remaja tengah menyalakan sebatang rokok, terlihat nikmat dan mengabaikan penumpang lainnya. Selang beberapa menit, ada pria paruh baya yang usianya lebih tua dari Si Perokok. Sesekali melihatku yang sedang bingung mencari cara supaya asap rokok tak terhirup.

       “Maaf, Mas. Ini ada penumpang yang sedang hamil. Minta tolong dimatikan rokoknya?” Kata bapak yang duduk bangku depan
Si Perokok diam seribu bahasa, sembari ‘mempermainkan’ kepulan asap rokok yang ia hirup.
      “Heh, Pak. Apa urusan bapak, ini hak saya tho, kalau nggak suka dengan asap rokok, turun saja!”  Si Perokok berkilah dengan nada tinggi
    Aku dan beberapa penumpang lain yang tidak suka dengan kepulan rokok, menatap sinis, seakan menguliti berbagai bertanyaan. Tertempel jelas di jendela dekat dengan Si Perokok stiker yang bertuliskan “DILARANG MEROKOK DALAM ANGKUTAN UMUM. APABILA KEDAPATAN MEROKOK DAPAT DIKENAI PIDANA KURUNGAN 6 BULAN, ATAU DENDA SEBANYAK-BANYAKNYA RP.50,000,000 
   “Hufh, Pelaksanaan dan peraturan ibarat jauh panggang dari api”, kataku menggerutu

********
  Rokok adalah produk yang berbahaya & adiktif (menimbulkan ketergantungan) karena didalam rokok terdapat 4000 bahan kimia berbahaya yang 69 diantaranya merupakan zat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker). Zat-zat berbahaya yang terkandung didalam rokok antara lain : tar, karbon monoksida, sianida, arsen, formalin, nitrosamine dll. Saya yakin semua orang tahu tentang bahaya rokok ( bisa dibaca di kemasan rokok )
-->. Namun, saat ini rokok malah jadi ‘obat’ bagi beberapa remaja yang sedang pusing, galau, atau kurang konsentrasi. Sebenarnya, kandungan nikotin-lah yang terdapat pada sebatang rokok memicu kecandungan. -->
“Kalau tidak merokok sehari saja, kepala saya pusing, perut mual, bahkan stress” kata paman saya yang sejak tiga puluh tahun jadi pencandu rokok.  
Pernyataan paman saya memiliki korelasi kuat pada pemaparan Dr. Benjamin dari US Surgeon General (pejabat tertinggi dari kesehatan Amerika) dalam artikel yang saya baca di situs VOA yang berjudul "Upaya Cegah Remaja AS Merokok Tak Capai Kemajuan" berisi target kampanye anti rokok ke berbagai media dengan statement "Pada usia 12 tahun saya menghisap rokok pertama saya. Pada usia 15, saya sudah kecanduan. Pada usia 40 tahun, saya akan menderita penyakit paru-paru."
Seiring waktu bergulir, pro dan kontra anti rokok tak pernah sepi dari pembahasan. Di saat pihak pemerintah menggenjot kampanye anti rokok, pabrik rokok semakin hari kian menjamur, baik dari level bawah maupun level atas. Salah satu penyebab, kenapa perokok baru terus bertambah adalah karena gencarnya iklan rokok yang beredar di masyarakat, ditambah dengan adanya image yang dibentuk oleh iklan rokok tersebut sehingga terlihat seakan orang yang merokok adalah orang yang sukses & tangguh yang dapat melalui rintangan apapun.
Iklan, promosi ataupun sponsor kegiatan yang dilakukan oleh para produsen rokok merupakan sarana yang sangat ampuh untuk mempengaruhi remaja & anak-anak. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Hamka beserta Komnas Anak pada tahun 2007 memperlihatkan bahwa sebanyak 99,7 % anak melihat iklan rokok di televisi, dimana 68 % mengatakan memiliki kesan positif terhadap iklan rokok tersebut & 50 % mengatakan menjadi lebih percaya diri seperti di iklan.
Untuk remaja, pengaruh pergaulan teman sebaya juga turut menjadi andil untuk pertumbuhan perokok baru. Terkadang remaja menjadi perokok pemula karena adanya desakan dari teman-teman mereka untuk dapat diterima dalam pergaulan ataupun supaya dapat dipandang lebih keren oleh lawan jenisnya. Para remaja tersebut tentu belum mengerti benar mengenai bahaya yang dapat disebabkan oleh rokok ataupun penyakit yang dapat timbul karena rokok. Kalau sudah demikian, siapa yang harus bertanggungjawab? Yang jelas, harapan generasi masa depan anti rokok pasti dimiliki semua negara, bukan hanya Amerika tapi juga Indonesia.

Upaya Pemerintah Cegah Warga Merokok
Cerita nyata diawal tulisan ini, benar-benar menggambarkan bahwa larangan dari pihak pemerintah sudah terabaikan dan hanya sekedar formalitas.
Sebenarnya, larangan merokok dalam angkutan umum bukan sekedar himbauan beberapa pihak yang peduli kesehatan, dan bukannya tanpa dasar hukum yang jelas. Untuk di wilayah DKI Jakarta, larangan tersebut didasarkan pada Perda DKI Jakarta No.75 thn 2001 yang bunyinya sebagai berikut:
Perda DKI Jakarta No 75 th 2001 Pasal 12
(1) Pengemudi dan/atau kondektur wajib memelihara dan meningkatkan kualitas udara yang sehat dan bersih bebas dari asap atau bau rokok di dalam kendaraannya.
(2) Penandaan atau petunjuk berupa tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, di tempat yang dinyatakan tidak boleh merokok adalah “KAWASAN DILARANG MEROKOK”, sesuai dengan contoh sebagaimana tercantum dalam lampiran I Peraturan Gubernur ini.
(3)…dst
Berbagai cara telah dilakukan oleh pihak pemerintah dalam mengkampanyekan anti rokok. Mulai dari kebijakan perda, manajemen iklan rokok, menaikkan harga rokok, peringatan berupa gambar ataupun sekedar memberi himbauan melalui stiker yang ditempel di kaca-kaca bus.
Menurut saya, ada hal lain yang menggelitik dari penawaran solusi oleh Dr. Benjamin tentang prioritas kampanye anti rokok saat ini, yakni dengan melibatkan orangtua dan guru serta mengembalikan fokus pada program anti- rokok berbasis komunitas, termasuk program-program di sekolah-sekolah.

Yuk, Ikut Berkampanye Anti Rokok dengan Komunitas!
Tahukah anda keberadaan komunitas BETARO (Becak Tanpa Rokok)? Mangkalnya di Puskesmas Kedung Waringin, Kabupaten Bekasi. Beberapa abang becak yang pro anti rokok berukumpul dan berkomitmen untuk berhenti merokok. Di sini ada terapis yang siap membantu, bagi abang becak yang butuh terapi. Karena bagaimanapun juga, untuk tidak kembali merokok butuh proses dan tiap orang berbeda. Banyak ibu-ibu senang naik becak yang dikemudikan abang becak dari komunitas BETARO.


            Belajar dari BETARO, kampanye anti rokok sebenarnya dapat berawal dari komunitas kecil. Pembentukan komunitas anti rokok dari berbagai kalangan seharusnya perlu  direalisasikan, antara lain:
1.      Rumah Tanpa Rokok 
Beranggotakan Ibu Rumah Tangga.
Ibu atau istri berperan penting dalam ‘mencegah’ adanya asap rokok dari rumah. Dengan pemahaman yang logis akan bahaya rokok bagi kesehatan serta pendampingan yang berkesinambungan pada suami atau anak. Saya yakin, jumlah pecandu rokok dapat ditekan.
2.      Muda Anti Rokok
Beranggotakan para remaja yang duduk di bangku SMP, SMA atau Universitas.
Muda berkarya, muda berprestasi adalah anak muda yang disibukkan dengan hal yang positif tanpa rokok. Kerjasama orang tua dan pihak sekolah sangat dibutuhkan. Misalnya, sekolah mendirikan organisasi yang fokus mensosialisasikan kampanye anti rokok disertai pendampingan secara intensif.
3.      Bus Tanpa Rokok
Beranggotakan Para Sopir.
Para sopir dan kondektur memberikan keteladanan bagi para penumpang,dengan tidak merokok. Ketegasan juga perlu ditegakkan bagi penumpang ‘ngeyel’ yang masih merokok di dalam bus.
4.      Warnet Bebas Rokok
Beranggotakan para pemilik warnet.
Tak sedikit dari owner-owner warnet yang sudah memiliki kebijakan ini. Semoga masih konsisten.
5.      Dan lain-lain (sesuai bidang yang ditekuni)
Mengkampanyekan hidup sehat, salah satunya anti rokok tidaklah sulit. Kita bisa memulai dari diri sendiri dan orang-orang sekitar kita. Kata orang bijak, “selama ada kemauan, pasti ada jalan”. Bagi anda yang masih merokok, seberapa kuat niat  anda untuk menghilangkan rokok dari menu hidup anda sehari-hari? Bagi anda yang tidak merokok, mari bersama-sama hidup sehat tanpa rokok!