Saat Memilih

Posted by
Fajar perlahan-lahan mulai menampakkan diri. Rutinitas harian akan segera dibuka, suami ke kantor dan aku? Bersih-bersih rumah, memasak, mencuci, nonton tivi dan hal lainnya yang biasa dilakukan seorang ibu rumah tangga. Kebetulan karena aku hamil muda, jadi tak banyak yang bisa kulakukan selain beristirahat. Pagi itu, aku harus segera belanja sayur untuk dimasak, terutama sarapan karena pukul 06.30 suami harus berangkat “keliling” mengambil tagihan para nasabah yang kemarin sempat tertunda. 


Pekerjaan suamiku adalah seorang Account Officer di sebuah bank perkreditan rakyat milik swasta. Aku termasuk salah satu orang yang berbahagia ketika suami diterima kerja di sini meski gaji sangat pas-pasan untuk kebutuhan harian. Maklum, tinggal di kota kebutuhan pokok pun tak ada yang murah. 

Mendapat pekerjaan yang layak tentu dambaan semua laki-laki. Terlebih suamiku yang baru saja menikah dan kini aku telah hamil, tentu membutuhkan persiapan finansial yang cukup banyak. Sebelum mendapat pekerjaan ini, suamiku memiliki kegemaran mencari lowongan pekerjaan di koran-koran. Membuat surat lamaran serta mengkoleksi segala macam piagam ataupun penghargaan semasa kuliah. Kemudian, mengirimkan ke berbagai perusahaan swasta tingkat lokal hingga nasional.  
Hujan rintik-rintik mulai turun. Tipis seperti kabut, dan ritmis seperti selendang penari. Angin terasa berdesau lebih keras. Langit semakin kelam. Ini memang sudah malam, tetapi bahkan malam pun seharusnya mengenal langit cerah. Kali ini, tidak. Tak satupun bintang yang tampak. Bulan pun tertutup awan pekat. 

“Mas, aku ingin berwirausaha,” ujarku membuka pembicaraan di saat menyantap makan malam.

“Usaha apa? Gajiku sudah cukup untuk makan sehari-hari, kan?”

“Cukup tapi nggak bisa lebih, Mas,” kataku berkilah.

Suamiku membisu sambil menikmati santapan malam lauk tempe penyet buatanku. Begitulah ia, tak pernah tergerak untuk membahas planning usaha. Pernikahan kami baru berjalan enam bulan, dan masih sedikit karakternya yang bisa kupahami. Setahuku dia hanya mementingkan karier dan pengalaman kerja. Berbeda denganku, yang terkadang semangat berwirausaha terus berapi-api. Tapi aku tak bisa berbuat banyak, karena kondisiku yang memang butuh banyak istirahat. Aku sedang hamil dan kalaupun langsung mengambil karyawan, menggaji pakai apa? Pikirku. 

Seperti halnya suamiku yang selalu berkata...

“Usaha pake modal apa?” 

“Kalau rugi siapa yang nanggung?”

“Aku sibuk ngantor, berangkat pagi pulang sore,”

Tak pernah ada kesimpulan dari pertengkaran demi pertengkaran kami. Diskusi yang kami lakukan di jam makan malam ini tak membuahkan hasil apapun. 

Namun tekadku untuk berwirausaha masih sangat besar. Diam-diam aku mulai mencoba usaha sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil. Aku membuat agar-agar yang kujual tiap pagi di toko-toko terdekat, menjual kerupuk yang bahan mentahnya kubeli dari pasar, juga menjajakan kaos kaki pada beberapa teman dekat.

Hasil penjualanku lumayan, tapi karena kurang maksimal tanpa ada yang membantu, usaha kecil-kecilanku hanya bertahan tak lebih dari dua minggu.

“Mas, bagaimana kalau menitipkan dagangan kerupuk ke warung-warung setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor? Hasilnya pasti lumayan untuk menambah uang belanja,” usulku.

Dengan dingin, suamiku menjawab singkat, “aku sibuk!”

Aku menghela nafas, dan berusaha tetap positive thinking. Jika suamiku tidak ingin membantuku sekarang, aku akan berusaha mengubah mindset-nya tentang wirausaha. Aku mulai bercerita tentang profil orang-orang sukses. Tak jarang kusodorkan buku-buku tentang “Bahagia Dengan Berwirausaha.”

Aku sungguh berharap suamiku memiliki jiwa wirausaha. Karena menurutku, dengan jiwa wirausahalah pekerjaan apapun akan menghasilkan “upah” yang lebih – baik materi maupun non-materi. Bisa dibilang, upah non-materi itu berupa kemampuan lebih untuk bersedekah dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

*** 
Berbagai cara sudah kulalui untuk meminta persetujuan beriwirausaha dari suami, tapi nihil. Aku suntuk. Sejak mahasiswa aku termasuk orang yang gila kegiatan. Keinginan mencari kesibukan dengan berwirausaha tak pernah di”amin”i oleh suami. Sementara aku semakin jenuh, dan pengeluaran kami terus bertambah. Lalu sebuah keputusan kuambil. Aku mencari lowongan kerja sebagai guru. Pikirku, selain bisa menambah penghasilan, mengajar bisa menjadi kegiatan yang mengalihkan kebosananku sebagai ibu rumah tangga biasa.

Entah kabar gembira atau tidak, satu bulan kemudian aku diterima sebagai guru SD di sebuah sekolah swasta. Aku senang dan bersemangat sekali ketika berkenalan dengan banyak teman baru di sekolah, mendapatkan banyak kegiatan, dan bertemu dengan muridku. Tapi, aku juga sedih ketika aku sudah tidak bisa memasak untuk suamiku menjelang berangkat kerja. Aku dan suamiku begitu sibuk, ditambah usia kandunganku yang berumur 2 bulan membuatku tidak boleh terlalu kelelahan. 

Sejak hari itu warung-warung terdekat kami sulap menjadi dapur yang kami kunjungi setiap hari. Tak ada pilihan lain selain makan di sana. Tidak gratis. Gaji bulanan kami harus disisihkan untuk mengisi perut lapar kami, sampai membayar laundry baju setiap ada kegiatan di sekolah. Maklum, sekolah swasta yang menerapkan full day school benar-benar mandiri dalam manajemennya. Tak ayal, rapat-rapat dadakan pun bisa mulai pukul 14.00 sampai dengan 16.00.
Namun semuanya kulalui dengan gembira. Aku begitu mencintai pekerjaanku, karena dari sini aku belajar banyak hal: melatih komunikasi dan menjalin relasi. Apalagi di samping mengajar, aku juga membangun bisnis sambilan dan bisnis MLM. 

Sayangnya dewi fortuna tak kunjung datang. Aku belum memiliki “keyakinan” untuk fokus pada salah satu bisnis. Yang ada selama ini hanya main-main, coba-coba tanpa disertai keseriusan. Di rumah pun aku harus mengerjakan RPP – soal-soal ujian siswa yang dibuat oleh gurunya sendiri. Jadwal yang benar-benar padat dan waktu yang tersita habis untuk bekerja membuat bisnisku tak terurus.


Suara klakson motor SUPRA X suamiku terdengar dari dalam rumah, membuatku bersiap membukakan pintu. Menjelang sore hari, pertigaan jalan sebelum gang rumah kontrakan kecilku sangat ramai. Banyak para karyawan pabrik rokok yang hiruk pikuk turun dari mobil antar jemput. Rata-rata tetangga kami adalah karyawan seperti suamiku. Berangkat pagi, pulang sore. Tak hanya para pria saja yang bekerja. Istri-istri mereka juga bekerja. Mereka sangat sibuk. Bahkan ada juga seorang ibu yang rela menitipkan anaknya ke orang yang dipercaya seperti nenek atau pembantu yang digaji setiap bulan karena tak bisa mendengarkan.

Aku miris mengetahui kenyataan itu, tapi aku memahami kebutuhan hidup yang semakin banyak. Pasti tak akan cukup jika hanya menggantungkan pendapatan dari suami. 

Begitu juga dengan diriku. Sebenarnya aku juga tak ingin tinggal diam di rumah saja. Aku ingin membantu suami mencari penghasilan tambahan. Tapi bukan dengan bekerja, melainkan dengan berwirausaha. Aku bisa menjalankan usahaku di rumah sambil tetap bisa mencuci baju, memasak, dan pekerjaan rumah lainnya. Aku pasti memiliki waktu yang fleksibel. 

Namun, apalah daya kalau belum ada “restu” dari suami. Keinginanku pun tak mungkin terwujud. Apalagi tanpa kerjasama, kemungkinan usahaku hanya bertahan beberapa minggu saja seperti halnya pengalaman yang pernah kulakukan. 

Kusambut suami di depan pintu, mengulas senyum dan mencium punggung tangannya. “Apa pekerjaan hari ini sudah beres, Mas? Haruskah keluar lagi?” tanyaku.

“Ndak, Dek ... Sudah selesai. Tadi para nasabah ada di rumah, jadi tak perlu keluar lagi,” jawab suamiku.

Aku gembira. Aku jadi punya waktu seharian untuk bercerita tentang kegiatanku di kantor dan rumah. Tak setiap hari kami punya quality time untuk sekadar bercerita. Kalau sedang tidak mujur, suamiku harus pulang larut malam karena harus menghadapi nasabah “nakal”. Pernah juga ketika jalan-jalan di luar jam kantor, aku diajak menemani suami ke rumah nasabah. Tapi semua memang harus dijalani dengan sabar, karena bagaimanapun juga mencari uang sangat sulit, harus telaten dalam segala hal baik bekerja maupun berwirausaha. Lalu kusadar, berwirausaha bukan hanya siap untung saja, tapi juga harus siap rugi. 

“Dek, tadi aku survey nasabah, punya usaha sayuran mentah yang transaksi keuangannya pakai komputerisasi. Keren, ya?” cerita suamiku saat menggantungkan seragam yang dipakainya.

“Hei ... sejak kapan suamiku mengajakku bicara tentang usaha?” batinku. 

“Tuh, kan! Itulah inovasi. Usaha kecil-kecilan pun akan menjadi besar asal tekun dan terus berusaha untuk maju. Pokoknya nggak rugilah kalau kita mau mulai, Mas.” 

“Iya ... Iya ... Tapi timing-nya belum tepat, Dek. Kandunganmu semakin besar. Kamu perlu banyak istirahat setelah mengajar. Aku kerja dari pagi hingga sore. Aku tak bisa berbuat banyak. Waktuku habis di jalan dan di kantor,” tukasnya. Lagi-lagi suamiku berkilah dengan bermacam alasan.

“Aku akan mengundurkan diri, Mas,” ujarku berseloroh.

“Baguslah. Aku juga tidak setuju kamu kerja di luar, terlebih dengan usia kandungan yang hampir sembilan bulan itu.”

Aku menghela nafas, membayangkan diriku yang sebentar lagi menjadi pengangguran dan hanya di rumah saja. Tapi aku juga tidak boleh egois. Calon bayi dalam rahimku yang sebentar lagi akan lahir membutuhkan perhatian ekstraku. Aku pun mengalah dan mengundurkan diri tepat dua minggu sebelum HPL. Semua “kenangan” saat bekerja dulu, mendapat gaji, bonus dan lain-lain terbayang di wajah. 

Huft ...

Tak banyak yang bisa kulakukan. Mengawali usaha juga sangat sulit bagiku. Suamiku yang kuminta menitipkan kerupuk ke toko atau warung saja tidak mau. 

“Yang namanya sukses itu mulai dari nol! Nggak langsung kaya dan punya karyawan!” seruku berseloroh. 

Sepertinya aku harus mencari celah dengan gaya komunikasi yang baik supaya suamiku mengamini semua keinginanku, yah, minimal mau diajak kerjasama membantuku.

“Begini, Mas, sudah seminggu ini aku mengambil dagangan berupa brownies cokelat dan ternyata laku sekali. Hanya dititipkan di satu tempat semuanya habis dalam tiga hari, bahkan ada yang sehari langsung habis. Bagaimana kalau itu kita tempatkan di beberapa tempat?” jelasku bersemangat.

“Memang untungnya berapa?” tanyanya tertarik. 

“Nggak perlu modal, Mas. Cukup ambil barang per kotak harga Rp 800, dijual ke warung Rp 900, sedangkan harga jual ke konsumen Rp 1.000. Nah, satu wadah ada 20 potong. Jadi untung kita Rp 2.000 per kotak. Kalau Mas bersedia bawa ke beberapa tempat maka untungnya lebih banyak. Lumayan, kan?” jawabku antusias.

Namun tak ada komentar lanjutan. 

***

Tiga hari suamiku mengikuti pelatihan di Bandung, sedangkan aku di rumah memikirkan wirausaha dan pekerjaan rumah tangga. Iya, hanya bisa memikirkannya saja. Mau usaha apa? Modalnya bagaimana? Bagaimana menjalankannya dengan kondisi seperti ini? 

Aku banyak membaca buku-buku tentang wirausaha, dan menemukan pernyataan dari bagian “Kebanyakan Akademisi Berpikir Pesimis”.

… dosen mengatakan di era globalisasi, persaingan semakin ketat dan sumber daya semakin terbatas. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri, memperbaiki kualitas SDM, bla … bla … bla ...

Kalimat singkat itu mengetuk hatiku. Aku sadar diri. Apa aku dan suamiku termasuk kategori pesimis? Sepertinya, otak kananku sulit diasah untuk lebih kreatif mencari solusi. Maklumlah, aku baru saja menyandang gelar sarjana dan baru memasuki dunia nyata. Seharusnya, tekanan hidup melatihku dan suami untuk bisa menjadi orang yang tangguh dan kesulitan ekonomi mendidik kami untuk berkarya. 

Tapi … ah, sudahlah …

Aku kadang merasa capek sendiri memikirkan wirausaha. Aku lebih suka langsung menjalaninya. Istilah kerennya: just do it! Not just thinking about it. Urusan masalah yang muncul biarlah kupikirkan sambil menjalani usaha. Yang penting ada pemasukan dan pengeluaran yang bisa kuhitung setiap hari.

Bukannya seperti sekarang ini, yang cuma bisa memikirkan jenis usaha dan tak segera beraksi. Kami memang pasangan muda yang masih memiliki idealisme tinggi tentang impian dan kesuksesan. Aku ingin sukses sebagai seorang enterpreneur, sedangkan suamiku ingin sukses dengan jenjang karir yang cepat di perusahaan tempatnya bekerja, entah sebagai direktur atau komisaris. Capek deeeh. Menjelang tidur, kuputar lagu dari komputer usang yang masih setia menemaniku sejak masuk kuliah hingga sekarang. 


Sejak mengikuti pelatihan, suamiku sering bercerita tentang kinerja bank pengkreditan cabang Kota Malang tempatnya bekerja. Sisi finansial maupun SDM mengalami penurunan. Padahal suamiku bekerja bukan semata-mata karena materi tapi juga karena profesionalisme yang harus dijaga secara konsisten. Ternyata, pelatihan di Bandung itu adalah evaluasi dari kinerja seluruh cabang yang ada di Indonesia. 

Suami mulai jenuh, karena manajernya sendiri tidak terlalu serius bekerja. Tiap hari kerjaannya hanya online, tidak pernah kerja lapangan. Hasilnya, si manajer buta tentang kondisi lapangan maupun perkembangan setoran nasabah. 

Suamiku tak tahan dan memutuskan resign sebulan kemudian. Aku yang dimintai suamiku pertimbangan juga bingung. Kami tak memiliki aset apapun. Uang bulanan yang pas-pasan dan modal usaha yang nyaris nol membuatku ragu. Namun, tekad resign sudah tak bisa ditawar lagi. Suami tidak ingin waktunya habis untuk perusahaan yang kembang kempis pemasukannya. 
“Aku akan mencari pekerjaan lain,” ujar suami.

“Bagaimana jika sambil menunggu panggilan kerja, kita nyoba usaha kecil-kecilan?” usulku sembari menghiburnya.

Ada keraguan yang tersirat di wajahnya, namun akhirnya ia menganggukkan kepala. Paling tidak, aku sudah menapakkan langkah awal mengejar impianku. 

Ia setuju, namun aura pesimis menggelayut di raut wajahnya. Aku berusaha memotivasinya. Sebagai Account Officer, ia menyadari kalau banyak dari nasabahnya yang sukses dengan wirausaha. Ketika survey kelayakan nasabah melakukan pinjaman, suamiku juga yang melakukannya. Aku yakin, sebenarnya mindset suamiku untuk menjadi seorang wirausahawan sudah terbentuk. 

Lalu hari itu tiba Hari pengunduran diri suamiku. Tak ada pesangon yang ia dapat karena memang kondisi finansial kantor sedang ruwet. 

Aku berusaha memutar otak untuk membuat dapurku tetap mengepul dengan membuat kue-kue kering dan kerupuk. Kami juga melakoni uji coba pembuatan susu kedelai yang bisa dititipkan ke warung-warung dengan sistem konsinyasi. Di awal penjualan tentu tidak seberuntung dengan produk yang sudah bermerek. 


Tapi kami punya kuncinya: kesabaran dan ketelatenan. Bahkan untuk menghemat, kami harus rela makan dengan lauk tahu, tempe, dan kerupuk. Jelas berbeda sekali dengan ketika suamiku masih bekerja dulu. Aku bisa belanja ayam atau ikan laut sebagai menu yang paling spesial tiap minggunya. 

Dua bulan usaha kami berjalan, dan tiba-tiba suamiku kembali mencari kerja sambilan. Ternyata suamiku tak bisa hidup tanpa pekerjaan kantoran. Keluar dari zona nyaman itu sangat sulit kami lakoni. Terbayang kerja kantoran dengan gaji bulanan, insentif dan bonus mingguan. Aku mengagumi para pengusaha-pengusaha yang telah sukses mendirikan perusahaan. Dengan kreativitas, kesabaran dan ketelatenan, mereka mampu melewati masa-masa sulit di masa-masa awal berwirausaha. Dengan kondisi menjelang persalinan, aku tak mampu memberikan solusi apa-apa karena kebutuhan finansial yang juga sangat membengkak.

“Dek, untuk menambah modal aku ingin pinjam uang ke saudara. Bagaimana menurutmu?” tanya suamiku sepulang kerja. Sudah satu minggu ini ia menjadi sales furniture. 

“Boleh juga!” sahutku kegirangan. Aku terlalu sibuk dengan adonan kue dan tak begitu mempedulikan kalimat-kalimat selanjutnya. Mendengar uang pinjaman itu sudah membuatku kegirangan membayangkan stok bahan kue yang banyak, alat masak yang memadai untuk menunjang penjualan lebih meningkat.

Enam bulan adalah masa-masa memilih bagi kami – sebagai calon pengusaha atau pekerja kantoran yang terjamin kebutuhan hidup setiap bulannya. Uang pinjaman yang harus kami angsur tiap minggu – walaupun sedikit, tetap membuat kami tercekik. Pengeluaran yang carut marut membuat kami kelabakan. Keuangan pribadi dan hasil usaha tak tertata dengan rapi. Akhirnya, laba penjualan tak sesuai dengan harapan. Suami harus memenuhi target penjualan tempat ia bekerja dan usaha pribadi telah tergeser. Hingga detik ini tak ada perkembangan, dan kami belum bisa menggaji karyawan. Ternyata semua teori kesuksesan berwirausaha yang pernah kubaca kadang tidak sesuai dengan kenyataan. 


“Aku akan mengembangkan usaha kita, Dek,” ucap suamiku dengan suara parau. 

“Aku siap mas. Fokus itu sangat penting!” tegasku.

Dari sederet pengalaman wirausaha yang kami bangun, sepertinya kami melewatkan sesuatu, yaitu “guru bisnis”. Iya, sosok calon pengusaha akan selalu ditempa berbagai ujian untuk menjadi tangguh. Butuh tempat untuk sharing dan relasi yang lebih banyak. Calon pengusaha butuh wawasan luas untuk menjadikan produknya lebih inovatif dari tahun ke tahun. 

Akupun memilih mempersiapkan persalinan di rumah ibu mertua dan suami mencari komunitas bisnis, semoga dengan komunitas ini kami menemukan “solusi” untuk selalu konsisten di jalan ini. Tak tergiur lagi oleh zona nyaman, gaji bulanan, insentif dan bonus mingguan. Karena kami yakin, menjadi pengusaha akan selalu bisa mendapatkan “upah” lebih dari itu semua. Kali ini, tak ada lagi keraguan seperti yang sebelumnya! 

“Oh, ya, Mas, bagaimana kalau anak kita nanti diberi nama Zona Entreprise?” usulku riang. 

“Loh, kalau perempuan?” 
“Zenny Entreprise, intinya sama semoga menjadi pengusaha yang profesional.”

Mendengar jawaban polosku, suamiku tertawa menggelengkan kepala. Lambat laun, tercium bau gosong dari pintu dapur. Aku lupa! Ternyata adonan cake jagung pesanan Bu Eky untuk ulang tahun anaknya sudah kumasukkan oven. Dengan tergopoh-gopoh kuberjalan cepat menuju oven. Ini masih awal. Jalan kesuksesanku masihlah sangat panjang. 

* Tulisan ini telah dibukukan dalam buku antologi Bye-bye Office tahun 2012 


Kampanye Anti Rokok Berbasis Komunitas

Posted by
       Beberapa bulan yang lalu saya pergi Kota Malang naik angkutan umum yaitu bus. Ada peristiwa yang sempat membuat saya tersontak. Kala itu, seorang pria remaja tengah menyalakan sebatang rokok, terlihat nikmat dan mengabaikan penumpang lainnya. Selang beberapa menit, ada pria paruh baya yang usianya lebih tua dari Si Perokok. Sesekali melihatku yang sedang bingung mencari cara supaya asap rokok tak terhirup.