Kenapa hari ibu 22 Desember?

Posted by with 1 comment
Ucapan “Selamat Hari Ibu”, selalu booming saat kalender memasuk bulan Desember. Tanggal 22 Desember 2013, menjadi momentum bahagia bagi sebagian orang, mereka berlomba-lomba membuat bingkisan special untuk sang ibu sebagai tanda sayang.

Jujur, saat remaja saya sama sekali tidak pernah mengucapkan, “Bu…selamat hari ibu ya…” kepada ibu saya. Entahlah, apa zaman dulu saya gak perhatian banget, cuek atau malu untuk menyampaikan itu. Lha, tau sendirilah saya hidup di kampung.hehe

How Wonderful Monitor 3D LG!

Posted by
Tepat dua tahun lalu, saya berdiri ditengah antrian panjang selama 1 jam, hanya untuk menikmati film di bioskop 3D, padahal film diputar tidak lebih dari setengah jam. Bioskop 3D merupakan salah satu wahana dari objek Wisata Bahari Lamongan (WBL).

Menikmati film 3D pertama kali membuat saya terkesan, kagum dengan ‘keajaiban’ yang dihasilkan dari layar. Tampak nyata, saya seperti berada dalam adegan film. Makanya, saat film horor diputar, para penonton ikut teriak histeris, ketakutan. Hihihi…
“Lariiiii!”
“Awaaas!”
“Aaaaaww!”
Teriakan penonton menggema di gedung bioskop 3D. Saya mencoba ber andai-andai, jika film 3D ada di rumah saya, nonton bareng sama keluarga. Kayaknya serruuu…

Pemenang Kuis Mini tentang Lingkungan

Posted by with 2 comments
Salam. Semangat Berbagi, semuaaaa…
Saya sebagai Blogger pemula, seneng banget kuis ini bisa menjadi ‘wadah’ berbagi pengalaman dengan para blogger terutama tentang upaya teman-teman menjaga bumi http://bit.ly/Energi205 Semoga bermanfaat untuk saya, para blogger, dan pihak-pihak terkait. Okey, langsung yah…

Anakku Sang Juara

Posted by

“Ayoo….Zam, pake celananya sendiri, kan Azzam Juara!” Kataku merayu

Statement diatas seringkali saya ucapkan, untuk memotivasi Azzam melakukan sesuatu, ia tambah semangat melakukan, penuh percaya diri. Hasilnya cukup fantastis, ia mau maem sendiri, pakai celana sendiri, walau kadang masih ada ‘rasa manja’. Maklum usia 3 tahun, tapi  ada lho anak usia segitu sudah bisa mandiri.
Bagi saya ini adalah sebuah prestasi.

Tindakan Nyata Dan Sederhana Untuk Bumi

Posted by
Salam semangat, buat pembaca setia blog ini (hahaha…sok banget ^_^)! maksudnya yang pernah mampir. Postingan kali ini akan saya buat sedikit ‘renyah’. Bosan dengan postingan alot dan teoritis, yang pastinya bikin kamu memincingkan mata. Iya, kan? Yah, dimaklumi saja, beginilah kalau blogger pemula, semua butuh proses untuk memiliki karakter tulisan yang khas.

Hhmm...penasaran dengan judul diatas. Tindakan Nyata Dan Sederhana Untuk Bumi? Yang jelas, ini bukan postingan lebay, sekedar teori belaka, tapi saya tulis sesuai dengan pengalaman saya, nyata, dan sampai sekarang masih saya lakukan.

Wooow…Serunya Jelajah Alam dan Explorasi Kopi Sumatera Ala Terios 7 Wonders!

Posted by
            Yeaaah, ada yang suka travelling saat liburan?
Yakin, jalan-jalan itu selalu menyenangkan [ini salah satu hobiku dan suami]. Bahkan, untuk mengekspresikan ‘serunya’ saat perjalanan, ada yang menuangkannya dalam bentuk puisi, diary, cerita pendek, novel, atau sekedar kumpulan foto hasil jepretan kamu. Memang, tak ada habisnya bicara tentang travelling, menyimpan jejak petualangan sekaligus cerita-cerita lainnya bersama sahabat.

Penitipan Anak Bisa Menjadi alternatif

Posted by with 3 comments

Membaca tulisan Mb Ririn Handayani, yang berjudul “Ketika Anak Lebih Mencintai Pembantu daripada Ibunya”, lebih lengkapnya di sini, ikut terbawa ‘kegamangan’ tersendiri,  dalam mengambil solusi. Ibu bekerja, anak dititipkan siapa?

 

Memiliki pembantu yang tinggal serumah atau hanya saat si ibu bekerja, menjadi pilihan. Sang pembantu seperti menjadi bagian dari keluarga. Mengerti karakter, kebiasaan, dan pola hidup si pembantu, jadi modal seorang ibu untuk mengarahkan sekaligus membuat kesepakatan tentang kedisiplinan dalam rumah tersebut. Artinya, pembantu ‘mau’ atau ‘tidak mau’ harus menaati kesepakatan tadi termasuk pada pola asuh sang anak.

Sebagai Ibu Rumah Tangga, Apa yang bisa kita lakukan untuk Palestina?

Posted by
Kemarin, saya dapat SMS dari seorang teman, isinya :

#Save Palestine. Anda peduli?? Silahkan berbagi J
Bantuan donasi bisa dikirim ke no.rek 015430768 (BNI) a.n Wiwin Sulityowati

Antara kesibukan mempersiapkan berbagai kontes blog dan kesibukan offline di rumah, SMS ini benar-benar ‘menampar’ saya untuk segera bangun dari rutinitas. Ada saudara-saudara di Palestina yang tengah memperjuangkan Islam. 


Hasil dari Impian dan MAN JADDA WAJADA

Posted by
Apa yang di benakmu, jika kamu memasuki detik-detik hari spesial tiba? Hari kelahiranmu, yang biasanya dinamakan hari ulang tahun. Semakin bertambahnya usia, semakin berkurang jatah hidup kita. Benar, kan? Lantas, saya pun urung melakukan hal-hal yang menampakkan kegembiraan yang berlebihan. Bahkan, untuk anak-anak saya yang masih balita sekalipun. Bahagia, pasti. Banyak ucapan yang berdatangan, padahal saya lupa kalau hari ini ‘hari jadi’ saya yang ke 26 tahun. Apaaaa?? 26 tahun!*semangat ibu muda menggelora ^^

Kolaborasi Pemuda Kreatif Berbasis Kearifan Lokal

Posted by

Indonesia…
Selama 67 tahun, kemerdekaan telah lama diraih. Namun ternyata, kemandirian ekonomi belum begitu merata dirasakan masyarakat, terutama yang tinggal di daerah terpencil. Gunung, sawah, dan lautan menjadi simpanan kekayaan yang tak boleh kita sia-siakan, setidaknya kekayaan inilah yang memberikan harapan buat kita menuju Indonesia lebih mandiri.

Guru, Karenamu Telah Kutemukan ‘Substansi’ Belajar

Posted by

Prolog
Tepat 6 tahun yang lalu, saya duduk dibangku SMA, di sebuah pondok pesantren modern putri Ngabar Ponorogo. Jika saya dan teman-teman ditanya soal pelajaran yang kami sukai, pilihan itu jatuh pada 2 opsi yakni IPS atau Matematika? Meski keduanya sangat penting dipelajari, kami selalu menanti hari Senin, dimana hari senin usai istirahat, ada pelajaran IPS yang selalu ‘seru’.

Padukan Kekuatan KPK dan KAK (Komunitas Anti Korupsi)

Posted by
Kini Korupsi di Indonesia sudah menjadi bagian dari life style, bukan lagi disebut membudaya, tapi lebih pada permainan seni korupsi, tak sekedar ‘mencuri’ uang negara tapi koruptor sangat ‘kreatif’ mengemas hasil korupsi, sehingga KPK sulit memberantasnya.

Dari sekian banyak tugas dan wewenang KPK, sekaligus roadmap yang telah disepakati menjadi pencerah bagi kita, bagaimana KPK berusaha semaksimal mungkin untuk membersihkan Indonesia dari para koruptor, baik kelas kakap ataupun kelas teri dengan berbagai modus. Jika saya jadi ketua KPK, adapun proses penindakan korupsi dan pencegahan yang akan saya terapkan antara lain; 

Penindaan korupsi: untuk memberikan efek jera pada koruptor kelas kakap, mereka harus dimiskinkan, sel penjara yang akan menjadi tempat mereka didesain angker dan tidak ada beda dengan narapidana lainnya, meski bukan negara islam, saya ingin hukum potong tangan bisa diaplikasikan. Saya yakin ini akan lebih efektif untuk menekan lahirnya ‘koruptor’ baru.

Pencegahan : dengan fasilitas teknologi-media sosial, saya akan memaksimalkan peran komunitas dalam setiap lini, baik secara peranan, kemampuan, atau domisili. Tiap komunitas punya target yang jelas dalam melakukan ‘pencegahan’ korupsi. Misalnya;

- Komunitas Ibu Rumah Tangga anti korupsi, senantiasa menguatkan suami untuk tidak korupsi uang atau waktu dan memberikan pendidikan kepada anak-anak, 

- Komunitas guru anti korupsi dengan menerbitkan buku, kekuatan dongeng atau teater di sekolah, yang sarat makna anti korupsi sebagai media pembelajaran.

- Komunitas PNS, karyawan, buruh, pengusaha anti korupsi.


*memaksimalkan komunitas yang terorganisir akan memberikan edukasi efektif, karena korupsi adalah ‘benalu sosial’ yang harus dicegah mulai lingkungan terkecil.













Tulisan ini diikutsertakan lomba blog KPK, 


bisa dilihat di http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/475/Nurul%20Habibah.html





Pancarkan Pesona Cantikmu Bersama Citra Night Whitening

Posted by

         Obrolan menarik bagi remaja putri masa kini

Gambar Salon pinjam dari sini
“Mama pake produk kecantikan apa sih kok bisa cantik githu? Oya, Ma… kayaknya aku hari Minggu ke salon deh, ya pengen nyoba perawatan tubuh di salon, kata temenku asyik lho! Ada paket treatment kayak Honey bath, Herbal Bath, Green Tea Bath, Spice Bath, and Fruit Bath”. Celoteh Si Cewek ABG pada mamanya

Nah, jika anda seorang ibu, pemerhati kecantikan, apa yang anda jawab saat sang buah hati tengah ‘galau’ untuk mempercantik diri? atau kamu-kamu yang masih single dan bingung untuk bisa tampil beda? Tulisan ini semoga bisa nambah informasi yah! 

Ikuti ‘gaya’ bisnisku, padukan dengan kreativitasmu!

Posted by
              

            Nggak ada modal –uang- bukan menjadi kendala untuk memulai bisnis, baik secara offline ataupun online. Berikut bisnis yang bisa aku lakukan saat si modal tak kunjung datang. *Ada beberapa yang aku tulis sesuai dengan pengalaman.

Menjelang jam 2 a.m

Posted by
Kian hari semakin beranjak usia, menghabiskan sisa-sisa jatah umur dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat. Melupakan masa lalu meski sangat sulit. Masa lalu yang terkadang menimbulkan kekecewaan akan takdir. TIDAK. Sungguh itu tidak boleh berlarut. Karena Allah telah menyediakan hadiah untuk hambaNya yang bertaqwa dan bertaubat. SEMUANYA AKAN TIBA INDAH PADA SAATNYA.

Sharing Club yes, Tawuran No!

Posted by with No comments
Akhir-akhir ini kasus  tawuran pelajar semakin menjadi, seakan menjadi budaya tiap tahun. Keterkaitan geng, alumni dan siswa baru dianggap sebagai akar permasalahan tawuran yang belum bisa terputus. Entah, apapun sebabnya, orang tua dan pihak guru punya tugas berat. Mentalitas yang dibangun sejak kecil akan berpengaruh besar pada ranah emosional yang terkontrol ketika remaja. Masa SMA memang sangat rentan, karena memasuki masa pencarian jati diri. kalau bukan kita sebagai orang tua atau guru mereka, siapa lagi yang akan menjadi benteng pengawasan?

PLN, Cahaya untuk Indonesia

Posted by

        Hidup tanpa cahaya akan hampa, harus berjalan dan berlari, kemudian mengejar cita-cita. Butuh perjuangan keras dan semangat baja, walau kadang jalan tak semulus yang diharapkan. Bapak, dengan ‘gaya’ ceritanya yang khas selalu membakar energi semangatku mengejar cita-cita. Dalam rekam jejak pengasuhan anak-anaknya, selalu terselip kata BERSYUKUR.
          Memoriku terlempar jauh, saat aku masih duduk dibangku kelas tiga SD,

Perjalananku belajar dan mengajarkan Al-Qur’an

Posted by with 12 comments
        Kekagumanku pada Al-qur’an sudah ada sejak di sekolah tingkat dasar, tepatnya saat mendapat tugas Ramadhan, untuk mengisi buku panduan Ramadhan, kemudian meminta tanda tangan imam sholat. Tertulis juga pada salah satu kolom untuk memberi tanda hafalan surat. Hafalan? Saat itu aku hanya bilang pada diriku, aaahh!…tidak mungkin. Tapi lama-lama aku mulai penasaran, bagaimana caranya seorang imam bisa hafal surat yang ada dalam juz 30?? Jujur saja, di sekolah diniyah yang aku ikuti kala itu, tidak ada pelajaran tentang menghafal, tetapi hanya membaca, menulis dan memahami kitab kuning. Kalaupun menghafal, ya semampunya seperti surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas.

Ceria Bersama Anak Jalanan di Hari Kemerdekaan

Posted by with 3 comments
Sejak tahun 2006, saya dan teman kuliah merintis sebuah lembaga sosial di Kota Malang  yang diberi nama Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca. Memperingati hari kemerdekaan memang selalu identik dengan kemeriahan suasana, mengikuti ajang lomba-lomba, dengan tujuan akan mempererat tali persaudaraan antar warga. Begitu juga tahun 2007, saat-saat menyenangkan bersama adik-adik binaan, kami semakin akrab, kedekatan sesama teman mulai ada, karena sebelumnya selalu ada ‘pertengkaran kecil’. Maklum, profesi pengamen  di tengah kerasnya kehidupan jalanan,  kerap menjadikan emosi mereka tidak stabil.

Menang Kuis Perdana IIDN….Sik…Asiiiik ^^

Posted by
     Alhamdulillah, dapet buku Love of Mom dan manisan dragon, meski…manisannya ketinggalan. Katanya sih, The Indari lupa.  Yang lebih penting sih, adalah semangat nulis usai ikut kuis, dan nggak menang di kuis yg lain, huhuhhu….nulis di blog, kalo blognya enak dipandang mata dan rapi, itu penting.*ngomong apa sih nih ga jelas. ):

Gerabah dan Dua Tangan Kesabaran

Posted by
Tetanggaku Husnul, berumur 9 tahun. Sejak usia 2 tahun , ia sudah diasuh sang nenek. Saat itu, ibunya merantau jadi TKW di Malaysia. Meski sekarang ibunya sudah kembali ke Indonesia dan mengasuhnya, ia masih dekat dengan kakek dan nenek. Mbah Tri (nenek) bisa membuat gerabah, bahkan sang nenek juga sempat berjualan dengan mengajak Husnul.

Singkong, Kupetik daunmu ya buat suamiku?

Posted by
Memasak, kini menjadi aktivitas rutin. Pagi, siang dan malam dengan menu yang berbeda. Ehm, ribet juga sih tiga kali harus masak. Tapi nggak tiap hari kok. Kalo lagi kepengen nyobain resep-resep. Yang  jelas, menu masakanku nggak jauh beda dengan menu ibuku. Jujur aja, belajar masak ya pas udah nikah, dulu pas kuliah sukanya beli di warung pinggir jalan, urusan menu tinggal pilih dan nunjuk mana yang aku suka. Hehe

Berbagi itu…..nggak rugi!! & Berbagi itu nggak harus dengan uang

Posted by
         Kok judulnya ada dua? Hu’uh….*bingung*, saya ingin mengexpresikan isi tulisan, tertuang dalam judul itu, tulisan ini hendak saya kirimkan ke sebuah ajang lomba penulisan pengalaman pribadi dari Ruang Kata. Tapi tertunda lagi, hiks….padahal udah hampir selesai, lagi-lagi kendala klasik….-nggak ada waktu buat megang lepi-
Gpp…. yang penting nulisnya tersalurkan, baca deh! Akan anda temukan makna “DIBALIK KESULITAN ADA KEMUDAHAN”

Belajar ‘bertetangga’

Posted by
         Moms, Bersikap ‘cuek’ itu diperlukan. Cuek apa yang dikatakan orang lain tentang kita. Tak baik jika energi terus terkuras karena memikirkan apa kata tetangga. Berumah tangga itu belajar kehidupan, kepada keluarga dan para tetangga. Beda banget rasanya tinggal di kota atau di desa. Dulu, ketika aku kontrak rumah di kawasan perumahan, belum pernah aku merasakan masakan orang lain, bertukar sayur hari ini dengan tetangga samping rumah, lain halnya dengan di desa, yang masih kental dengan nuansa ‘berbagi’.

Cemburu bukan hanya karena wanita…

Posted by
Pernah nggak sih cemburu ? ehm…gmn rasanya? Benci, jutek, atau sampai nangis2 githu? Yang jelas galau banget ya…
Cemburu bukan saja pada wanita, cemburu bisa terjadi pada hal-hal apapun yg menyebabkan kita merasa tidak diperhatikan. Sejak dua pekan terakhir, suamiku tiap sabtu dan minggu sibuk tugas di luar kota, maklum lah PNS. Hari Sabtu dan Minggu jadi hari favorit. Apalagi senin sampai Jum’at kerjaannya nglembur, berangkat pagi pulang malem. Nah lho….(apalagi anak-anak masih bayi dan balita).

Satu Saja

Posted by


Aku termakan oleh masa


Seakan tak ada lagi munajat, tak ada rindu


Aku pernak berontak, dengan cepat pula aku syukur


Aku jauh….


Merasa, takut. Rindu. Cinta. Semua rasa




Duhai, hingga kini aku menunggu bisikan-Mu


Apa yang Kau inginkan dariku?


Satu saja, aku akan berusaha semampuku tuk menyusun petak-petak terserak


Satu saja, supaya aku tak lagi bimbang 


Satu saja, supaya aku fokus


Satu saja, supaya aku yakin bisa
Hingga celotehan orang pun tak terdengar lagi oleh telingaku.

Satu saja, judul puisi yang aneh ya? Ehm, belajar nulis puisi kembali, meski di waktu bersamaan hari lagi galau. “pletaaaak!*. hari gini masih aja galau! Tak tau lah, aku masih disibukkan dengan kata # aku ingin ini, aku ingin itu, aku ingin begini, aku ingin begitu# Hallaaaaaaaah! Masalah klasik kali ya 


Memfilter informasi, fokus pada jati diri, yakin dengan kemampuan diri, itu lebih oke. Tapi tau nggak sih, aku benar2 belum ngerti banget, passion aku tuh mau kemana?eeits, aku juga masih ‘menebak-nebak’ aku tu pinter apa sih?
@ lulusan pesantren = bahasa pas-pasan, hafalan pas-pasan, ilmu eksak juga pas-pasan
@ mau kerja, kerja apa? Aku tu nggak pinter, bisaku Cuma nulis, itupun diary yang sekarang kuarsipkan di blog Tinta Unggu
@ mau bisnis, masih aja sibuk merenungi ‘nasib’ alias bingung nih. Soale belum tau tentang aku mulai dari minat, skill, hoby yang bisa dikembangin n bisa menghasilkan duit. 
@mau berkarya : karya apa? Buat kerajinan/buku/punya lembaga/punya yayasan yang bisa aku banggain Allah, yang bisa aku persembahkan buatNYA kelak. Ehm, apa ya? Yang jelas sbg wujud bentuk syukurku, aku dikasih rizki yg melimpah untuk menjalankan tugasku di muka bumi, KHALIFAH FIL ARDH. Ciyeee ^^

Puisi ‘Satu Saja’, mewakili kata hatiku yg tengah dirundu gundah gulana ttg keinginan, masa lalu vs masa depan, penyesalan vs pengharapan. 


Barangkali jawabannya juga cukup ‘satu saja’ yakni SEMANGAT. Semangat nyari ilmu, semangat ber-komunitas, semangat ngeblog, semangat nulis. Entar juga ketemu sendiri, Sstttttttttttt………..


TDA Kediri : Aku, satu-satunya peserta wanita

Posted by with 3 comments
               Nekat, mungkin kata ini yang pas buatku saat itu. Jujur, baru sekali gabung di komunitas bisnis skala nasional, aku cukup berbangga dan kadang ragu juga menghantui pikiran. Bagaimana tidak, dari 30 peserta aku satu-satunya wanita. Ciyee….ciyee…ciyee..

Kolom Jawa Pos “Gagasan” yang tertunda

Posted by with 16 comments

          Alih-alih ngebet namaku tercantum di Koran ini, dalam semalam ngebut buat tulisan sebanyak 250 kata. Apalagi, udah punya NPWP yang menjadi persyaratan nulis gagasan. Terlintas inpirasi menulis padachari minggu siang, tentang motivasi masuknya siswa usai liburan. Eng-ing-eng…..^^ dibawah ini tulisannya :
(baca dong, kritik lebih oke tuh supaya tulisanku lebih mantapz lagi kedepannya)

Perempuan dan Korupsi

Posted by with 1 comment
        KORUPSI….memang tak ada habisnya dibicarakan di dunia maya, media cetak, dan televisi. Terlebih, dalam beberapa pekan terakhir ada kasus yang melibatkan perempuan menjadi tersangka maupun terdakwa. Tak perlu saya ceritakan disini, tentunya anda sudah tahu. Saya atau anda mungkin mengelus dada mendengar berita tersebut. Attitude seorang perempuan benar-benar dipertaruhkan dalam lingkungan kerja mereka. Basically, bukan rahasia lagi kalau perempuan itu adalah makhluk memiliki perasaan halus dan peka. Bagaimana mungkin tindakan korupsi bisa dilakukan? Dimana nurani mereka, begitu tega memakai uang haram yang bukan miliknya?

Going the extra miles

Posted by
              Judul diatas adalah kutipan dari buku “Negeri 5 Menara” yang artinya Jangan menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang berlari 1 km, dia akan berlari 3 km. Lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad, dan sebagainya dari orang lain. Ada juga resep sukses lainnya, Jangan pernah mengizinkan diri dipengaruhi unsur di luar diri. Oleh siapa pun, apapun dan suasana bagaimanapun. Artinya, jangan mau sedih, marah, kecewa, takut karena faktor lain. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian. Orang boleh menodong senapan tapi kita punya pilihan untuk takut atau tetap tegar .
Cerita buku ini, ‘aku’ banget lho!

Saat Memilih

Posted by
Fajar perlahan-lahan mulai menampakkan diri. Rutinitas harian akan segera dibuka, suami ke kantor dan aku? Bersih-bersih rumah, memasak, mencuci, nonton tivi dan hal lainnya yang biasa dilakukan seorang ibu rumah tangga. Kebetulan karena aku hamil muda, jadi tak banyak yang bisa kulakukan selain beristirahat. Pagi itu, aku harus segera belanja sayur untuk dimasak, terutama sarapan karena pukul 06.30 suami harus berangkat “keliling” mengambil tagihan para nasabah yang kemarin sempat tertunda. 


Pekerjaan suamiku adalah seorang Account Officer di sebuah bank perkreditan rakyat milik swasta. Aku termasuk salah satu orang yang berbahagia ketika suami diterima kerja di sini meski gaji sangat pas-pasan untuk kebutuhan harian. Maklum, tinggal di kota kebutuhan pokok pun tak ada yang murah. 

Mendapat pekerjaan yang layak tentu dambaan semua laki-laki. Terlebih suamiku yang baru saja menikah dan kini aku telah hamil, tentu membutuhkan persiapan finansial yang cukup banyak. Sebelum mendapat pekerjaan ini, suamiku memiliki kegemaran mencari lowongan pekerjaan di koran-koran. Membuat surat lamaran serta mengkoleksi segala macam piagam ataupun penghargaan semasa kuliah. Kemudian, mengirimkan ke berbagai perusahaan swasta tingkat lokal hingga nasional.  
Hujan rintik-rintik mulai turun. Tipis seperti kabut, dan ritmis seperti selendang penari. Angin terasa berdesau lebih keras. Langit semakin kelam. Ini memang sudah malam, tetapi bahkan malam pun seharusnya mengenal langit cerah. Kali ini, tidak. Tak satupun bintang yang tampak. Bulan pun tertutup awan pekat. 

“Mas, aku ingin berwirausaha,” ujarku membuka pembicaraan di saat menyantap makan malam.

“Usaha apa? Gajiku sudah cukup untuk makan sehari-hari, kan?”

“Cukup tapi nggak bisa lebih, Mas,” kataku berkilah.

Suamiku membisu sambil menikmati santapan malam lauk tempe penyet buatanku. Begitulah ia, tak pernah tergerak untuk membahas planning usaha. Pernikahan kami baru berjalan enam bulan, dan masih sedikit karakternya yang bisa kupahami. Setahuku dia hanya mementingkan karier dan pengalaman kerja. Berbeda denganku, yang terkadang semangat berwirausaha terus berapi-api. Tapi aku tak bisa berbuat banyak, karena kondisiku yang memang butuh banyak istirahat. Aku sedang hamil dan kalaupun langsung mengambil karyawan, menggaji pakai apa? Pikirku. 

Seperti halnya suamiku yang selalu berkata...

“Usaha pake modal apa?” 

“Kalau rugi siapa yang nanggung?”

“Aku sibuk ngantor, berangkat pagi pulang sore,”

Tak pernah ada kesimpulan dari pertengkaran demi pertengkaran kami. Diskusi yang kami lakukan di jam makan malam ini tak membuahkan hasil apapun. 

Namun tekadku untuk berwirausaha masih sangat besar. Diam-diam aku mulai mencoba usaha sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil. Aku membuat agar-agar yang kujual tiap pagi di toko-toko terdekat, menjual kerupuk yang bahan mentahnya kubeli dari pasar, juga menjajakan kaos kaki pada beberapa teman dekat.

Hasil penjualanku lumayan, tapi karena kurang maksimal tanpa ada yang membantu, usaha kecil-kecilanku hanya bertahan tak lebih dari dua minggu.

“Mas, bagaimana kalau menitipkan dagangan kerupuk ke warung-warung setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor? Hasilnya pasti lumayan untuk menambah uang belanja,” usulku.

Dengan dingin, suamiku menjawab singkat, “aku sibuk!”

Aku menghela nafas, dan berusaha tetap positive thinking. Jika suamiku tidak ingin membantuku sekarang, aku akan berusaha mengubah mindset-nya tentang wirausaha. Aku mulai bercerita tentang profil orang-orang sukses. Tak jarang kusodorkan buku-buku tentang “Bahagia Dengan Berwirausaha.”

Aku sungguh berharap suamiku memiliki jiwa wirausaha. Karena menurutku, dengan jiwa wirausahalah pekerjaan apapun akan menghasilkan “upah” yang lebih – baik materi maupun non-materi. Bisa dibilang, upah non-materi itu berupa kemampuan lebih untuk bersedekah dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

*** 
Berbagai cara sudah kulalui untuk meminta persetujuan beriwirausaha dari suami, tapi nihil. Aku suntuk. Sejak mahasiswa aku termasuk orang yang gila kegiatan. Keinginan mencari kesibukan dengan berwirausaha tak pernah di”amin”i oleh suami. Sementara aku semakin jenuh, dan pengeluaran kami terus bertambah. Lalu sebuah keputusan kuambil. Aku mencari lowongan kerja sebagai guru. Pikirku, selain bisa menambah penghasilan, mengajar bisa menjadi kegiatan yang mengalihkan kebosananku sebagai ibu rumah tangga biasa.

Entah kabar gembira atau tidak, satu bulan kemudian aku diterima sebagai guru SD di sebuah sekolah swasta. Aku senang dan bersemangat sekali ketika berkenalan dengan banyak teman baru di sekolah, mendapatkan banyak kegiatan, dan bertemu dengan muridku. Tapi, aku juga sedih ketika aku sudah tidak bisa memasak untuk suamiku menjelang berangkat kerja. Aku dan suamiku begitu sibuk, ditambah usia kandunganku yang berumur 2 bulan membuatku tidak boleh terlalu kelelahan. 

Sejak hari itu warung-warung terdekat kami sulap menjadi dapur yang kami kunjungi setiap hari. Tak ada pilihan lain selain makan di sana. Tidak gratis. Gaji bulanan kami harus disisihkan untuk mengisi perut lapar kami, sampai membayar laundry baju setiap ada kegiatan di sekolah. Maklum, sekolah swasta yang menerapkan full day school benar-benar mandiri dalam manajemennya. Tak ayal, rapat-rapat dadakan pun bisa mulai pukul 14.00 sampai dengan 16.00.
Namun semuanya kulalui dengan gembira. Aku begitu mencintai pekerjaanku, karena dari sini aku belajar banyak hal: melatih komunikasi dan menjalin relasi. Apalagi di samping mengajar, aku juga membangun bisnis sambilan dan bisnis MLM. 

Sayangnya dewi fortuna tak kunjung datang. Aku belum memiliki “keyakinan” untuk fokus pada salah satu bisnis. Yang ada selama ini hanya main-main, coba-coba tanpa disertai keseriusan. Di rumah pun aku harus mengerjakan RPP – soal-soal ujian siswa yang dibuat oleh gurunya sendiri. Jadwal yang benar-benar padat dan waktu yang tersita habis untuk bekerja membuat bisnisku tak terurus.


Suara klakson motor SUPRA X suamiku terdengar dari dalam rumah, membuatku bersiap membukakan pintu. Menjelang sore hari, pertigaan jalan sebelum gang rumah kontrakan kecilku sangat ramai. Banyak para karyawan pabrik rokok yang hiruk pikuk turun dari mobil antar jemput. Rata-rata tetangga kami adalah karyawan seperti suamiku. Berangkat pagi, pulang sore. Tak hanya para pria saja yang bekerja. Istri-istri mereka juga bekerja. Mereka sangat sibuk. Bahkan ada juga seorang ibu yang rela menitipkan anaknya ke orang yang dipercaya seperti nenek atau pembantu yang digaji setiap bulan karena tak bisa mendengarkan.

Aku miris mengetahui kenyataan itu, tapi aku memahami kebutuhan hidup yang semakin banyak. Pasti tak akan cukup jika hanya menggantungkan pendapatan dari suami. 

Begitu juga dengan diriku. Sebenarnya aku juga tak ingin tinggal diam di rumah saja. Aku ingin membantu suami mencari penghasilan tambahan. Tapi bukan dengan bekerja, melainkan dengan berwirausaha. Aku bisa menjalankan usahaku di rumah sambil tetap bisa mencuci baju, memasak, dan pekerjaan rumah lainnya. Aku pasti memiliki waktu yang fleksibel. 

Namun, apalah daya kalau belum ada “restu” dari suami. Keinginanku pun tak mungkin terwujud. Apalagi tanpa kerjasama, kemungkinan usahaku hanya bertahan beberapa minggu saja seperti halnya pengalaman yang pernah kulakukan. 

Kusambut suami di depan pintu, mengulas senyum dan mencium punggung tangannya. “Apa pekerjaan hari ini sudah beres, Mas? Haruskah keluar lagi?” tanyaku.

“Ndak, Dek ... Sudah selesai. Tadi para nasabah ada di rumah, jadi tak perlu keluar lagi,” jawab suamiku.

Aku gembira. Aku jadi punya waktu seharian untuk bercerita tentang kegiatanku di kantor dan rumah. Tak setiap hari kami punya quality time untuk sekadar bercerita. Kalau sedang tidak mujur, suamiku harus pulang larut malam karena harus menghadapi nasabah “nakal”. Pernah juga ketika jalan-jalan di luar jam kantor, aku diajak menemani suami ke rumah nasabah. Tapi semua memang harus dijalani dengan sabar, karena bagaimanapun juga mencari uang sangat sulit, harus telaten dalam segala hal baik bekerja maupun berwirausaha. Lalu kusadar, berwirausaha bukan hanya siap untung saja, tapi juga harus siap rugi. 

“Dek, tadi aku survey nasabah, punya usaha sayuran mentah yang transaksi keuangannya pakai komputerisasi. Keren, ya?” cerita suamiku saat menggantungkan seragam yang dipakainya.

“Hei ... sejak kapan suamiku mengajakku bicara tentang usaha?” batinku. 

“Tuh, kan! Itulah inovasi. Usaha kecil-kecilan pun akan menjadi besar asal tekun dan terus berusaha untuk maju. Pokoknya nggak rugilah kalau kita mau mulai, Mas.” 

“Iya ... Iya ... Tapi timing-nya belum tepat, Dek. Kandunganmu semakin besar. Kamu perlu banyak istirahat setelah mengajar. Aku kerja dari pagi hingga sore. Aku tak bisa berbuat banyak. Waktuku habis di jalan dan di kantor,” tukasnya. Lagi-lagi suamiku berkilah dengan bermacam alasan.

“Aku akan mengundurkan diri, Mas,” ujarku berseloroh.

“Baguslah. Aku juga tidak setuju kamu kerja di luar, terlebih dengan usia kandungan yang hampir sembilan bulan itu.”

Aku menghela nafas, membayangkan diriku yang sebentar lagi menjadi pengangguran dan hanya di rumah saja. Tapi aku juga tidak boleh egois. Calon bayi dalam rahimku yang sebentar lagi akan lahir membutuhkan perhatian ekstraku. Aku pun mengalah dan mengundurkan diri tepat dua minggu sebelum HPL. Semua “kenangan” saat bekerja dulu, mendapat gaji, bonus dan lain-lain terbayang di wajah. 

Huft ...

Tak banyak yang bisa kulakukan. Mengawali usaha juga sangat sulit bagiku. Suamiku yang kuminta menitipkan kerupuk ke toko atau warung saja tidak mau. 

“Yang namanya sukses itu mulai dari nol! Nggak langsung kaya dan punya karyawan!” seruku berseloroh. 

Sepertinya aku harus mencari celah dengan gaya komunikasi yang baik supaya suamiku mengamini semua keinginanku, yah, minimal mau diajak kerjasama membantuku.

“Begini, Mas, sudah seminggu ini aku mengambil dagangan berupa brownies cokelat dan ternyata laku sekali. Hanya dititipkan di satu tempat semuanya habis dalam tiga hari, bahkan ada yang sehari langsung habis. Bagaimana kalau itu kita tempatkan di beberapa tempat?” jelasku bersemangat.

“Memang untungnya berapa?” tanyanya tertarik. 

“Nggak perlu modal, Mas. Cukup ambil barang per kotak harga Rp 800, dijual ke warung Rp 900, sedangkan harga jual ke konsumen Rp 1.000. Nah, satu wadah ada 20 potong. Jadi untung kita Rp 2.000 per kotak. Kalau Mas bersedia bawa ke beberapa tempat maka untungnya lebih banyak. Lumayan, kan?” jawabku antusias.

Namun tak ada komentar lanjutan. 

***

Tiga hari suamiku mengikuti pelatihan di Bandung, sedangkan aku di rumah memikirkan wirausaha dan pekerjaan rumah tangga. Iya, hanya bisa memikirkannya saja. Mau usaha apa? Modalnya bagaimana? Bagaimana menjalankannya dengan kondisi seperti ini? 

Aku banyak membaca buku-buku tentang wirausaha, dan menemukan pernyataan dari bagian “Kebanyakan Akademisi Berpikir Pesimis”.

… dosen mengatakan di era globalisasi, persaingan semakin ketat dan sumber daya semakin terbatas. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri, memperbaiki kualitas SDM, bla … bla … bla ...

Kalimat singkat itu mengetuk hatiku. Aku sadar diri. Apa aku dan suamiku termasuk kategori pesimis? Sepertinya, otak kananku sulit diasah untuk lebih kreatif mencari solusi. Maklumlah, aku baru saja menyandang gelar sarjana dan baru memasuki dunia nyata. Seharusnya, tekanan hidup melatihku dan suami untuk bisa menjadi orang yang tangguh dan kesulitan ekonomi mendidik kami untuk berkarya. 

Tapi … ah, sudahlah …

Aku kadang merasa capek sendiri memikirkan wirausaha. Aku lebih suka langsung menjalaninya. Istilah kerennya: just do it! Not just thinking about it. Urusan masalah yang muncul biarlah kupikirkan sambil menjalani usaha. Yang penting ada pemasukan dan pengeluaran yang bisa kuhitung setiap hari.

Bukannya seperti sekarang ini, yang cuma bisa memikirkan jenis usaha dan tak segera beraksi. Kami memang pasangan muda yang masih memiliki idealisme tinggi tentang impian dan kesuksesan. Aku ingin sukses sebagai seorang enterpreneur, sedangkan suamiku ingin sukses dengan jenjang karir yang cepat di perusahaan tempatnya bekerja, entah sebagai direktur atau komisaris. Capek deeeh. Menjelang tidur, kuputar lagu dari komputer usang yang masih setia menemaniku sejak masuk kuliah hingga sekarang. 


Sejak mengikuti pelatihan, suamiku sering bercerita tentang kinerja bank pengkreditan cabang Kota Malang tempatnya bekerja. Sisi finansial maupun SDM mengalami penurunan. Padahal suamiku bekerja bukan semata-mata karena materi tapi juga karena profesionalisme yang harus dijaga secara konsisten. Ternyata, pelatihan di Bandung itu adalah evaluasi dari kinerja seluruh cabang yang ada di Indonesia. 

Suami mulai jenuh, karena manajernya sendiri tidak terlalu serius bekerja. Tiap hari kerjaannya hanya online, tidak pernah kerja lapangan. Hasilnya, si manajer buta tentang kondisi lapangan maupun perkembangan setoran nasabah. 

Suamiku tak tahan dan memutuskan resign sebulan kemudian. Aku yang dimintai suamiku pertimbangan juga bingung. Kami tak memiliki aset apapun. Uang bulanan yang pas-pasan dan modal usaha yang nyaris nol membuatku ragu. Namun, tekad resign sudah tak bisa ditawar lagi. Suami tidak ingin waktunya habis untuk perusahaan yang kembang kempis pemasukannya. 
“Aku akan mencari pekerjaan lain,” ujar suami.

“Bagaimana jika sambil menunggu panggilan kerja, kita nyoba usaha kecil-kecilan?” usulku sembari menghiburnya.

Ada keraguan yang tersirat di wajahnya, namun akhirnya ia menganggukkan kepala. Paling tidak, aku sudah menapakkan langkah awal mengejar impianku. 

Ia setuju, namun aura pesimis menggelayut di raut wajahnya. Aku berusaha memotivasinya. Sebagai Account Officer, ia menyadari kalau banyak dari nasabahnya yang sukses dengan wirausaha. Ketika survey kelayakan nasabah melakukan pinjaman, suamiku juga yang melakukannya. Aku yakin, sebenarnya mindset suamiku untuk menjadi seorang wirausahawan sudah terbentuk. 

Lalu hari itu tiba Hari pengunduran diri suamiku. Tak ada pesangon yang ia dapat karena memang kondisi finansial kantor sedang ruwet. 

Aku berusaha memutar otak untuk membuat dapurku tetap mengepul dengan membuat kue-kue kering dan kerupuk. Kami juga melakoni uji coba pembuatan susu kedelai yang bisa dititipkan ke warung-warung dengan sistem konsinyasi. Di awal penjualan tentu tidak seberuntung dengan produk yang sudah bermerek. 


Tapi kami punya kuncinya: kesabaran dan ketelatenan. Bahkan untuk menghemat, kami harus rela makan dengan lauk tahu, tempe, dan kerupuk. Jelas berbeda sekali dengan ketika suamiku masih bekerja dulu. Aku bisa belanja ayam atau ikan laut sebagai menu yang paling spesial tiap minggunya. 

Dua bulan usaha kami berjalan, dan tiba-tiba suamiku kembali mencari kerja sambilan. Ternyata suamiku tak bisa hidup tanpa pekerjaan kantoran. Keluar dari zona nyaman itu sangat sulit kami lakoni. Terbayang kerja kantoran dengan gaji bulanan, insentif dan bonus mingguan. Aku mengagumi para pengusaha-pengusaha yang telah sukses mendirikan perusahaan. Dengan kreativitas, kesabaran dan ketelatenan, mereka mampu melewati masa-masa sulit di masa-masa awal berwirausaha. Dengan kondisi menjelang persalinan, aku tak mampu memberikan solusi apa-apa karena kebutuhan finansial yang juga sangat membengkak.

“Dek, untuk menambah modal aku ingin pinjam uang ke saudara. Bagaimana menurutmu?” tanya suamiku sepulang kerja. Sudah satu minggu ini ia menjadi sales furniture. 

“Boleh juga!” sahutku kegirangan. Aku terlalu sibuk dengan adonan kue dan tak begitu mempedulikan kalimat-kalimat selanjutnya. Mendengar uang pinjaman itu sudah membuatku kegirangan membayangkan stok bahan kue yang banyak, alat masak yang memadai untuk menunjang penjualan lebih meningkat.

Enam bulan adalah masa-masa memilih bagi kami – sebagai calon pengusaha atau pekerja kantoran yang terjamin kebutuhan hidup setiap bulannya. Uang pinjaman yang harus kami angsur tiap minggu – walaupun sedikit, tetap membuat kami tercekik. Pengeluaran yang carut marut membuat kami kelabakan. Keuangan pribadi dan hasil usaha tak tertata dengan rapi. Akhirnya, laba penjualan tak sesuai dengan harapan. Suami harus memenuhi target penjualan tempat ia bekerja dan usaha pribadi telah tergeser. Hingga detik ini tak ada perkembangan, dan kami belum bisa menggaji karyawan. Ternyata semua teori kesuksesan berwirausaha yang pernah kubaca kadang tidak sesuai dengan kenyataan. 


“Aku akan mengembangkan usaha kita, Dek,” ucap suamiku dengan suara parau. 

“Aku siap mas. Fokus itu sangat penting!” tegasku.

Dari sederet pengalaman wirausaha yang kami bangun, sepertinya kami melewatkan sesuatu, yaitu “guru bisnis”. Iya, sosok calon pengusaha akan selalu ditempa berbagai ujian untuk menjadi tangguh. Butuh tempat untuk sharing dan relasi yang lebih banyak. Calon pengusaha butuh wawasan luas untuk menjadikan produknya lebih inovatif dari tahun ke tahun. 

Akupun memilih mempersiapkan persalinan di rumah ibu mertua dan suami mencari komunitas bisnis, semoga dengan komunitas ini kami menemukan “solusi” untuk selalu konsisten di jalan ini. Tak tergiur lagi oleh zona nyaman, gaji bulanan, insentif dan bonus mingguan. Karena kami yakin, menjadi pengusaha akan selalu bisa mendapatkan “upah” lebih dari itu semua. Kali ini, tak ada lagi keraguan seperti yang sebelumnya! 

“Oh, ya, Mas, bagaimana kalau anak kita nanti diberi nama Zona Entreprise?” usulku riang. 

“Loh, kalau perempuan?” 
“Zenny Entreprise, intinya sama semoga menjadi pengusaha yang profesional.”

Mendengar jawaban polosku, suamiku tertawa menggelengkan kepala. Lambat laun, tercium bau gosong dari pintu dapur. Aku lupa! Ternyata adonan cake jagung pesanan Bu Eky untuk ulang tahun anaknya sudah kumasukkan oven. Dengan tergopoh-gopoh kuberjalan cepat menuju oven. Ini masih awal. Jalan kesuksesanku masihlah sangat panjang. 

* Tulisan ini telah dibukukan dalam buku antologi Bye-bye Office tahun 2012 


Kampanye Anti Rokok Berbasis Komunitas

Posted by
       Beberapa bulan yang lalu saya pergi Kota Malang naik angkutan umum yaitu bus. Ada peristiwa yang sempat membuat saya tersontak. Kala itu, seorang pria remaja tengah menyalakan sebatang rokok, terlihat nikmat dan mengabaikan penumpang lainnya. Selang beberapa menit, ada pria paruh baya yang usianya lebih tua dari Si Perokok. Sesekali melihatku yang sedang bingung mencari cara supaya asap rokok tak terhirup.